Tentang Gaji Dosen


Saya bekerja di Unilever ketika lulus S1 di Teknik Geodesi UGM di tahun 2001 silam. Gajinya tinggi, paling tidak menurut saya yang uang bulanannya sebagai mahasiswa berkisaran di beberapa ratus ribu ketika itu. Saat mulai bekerja, saya diberi uang tunjangan pulsa sebesar 500 ribu. Sebuah mobil Suzuki Katana jadi ‘mobil lapangan’, ketika itu. Bagi saya itu luar biasa.

Tidak sampai setahun bekerja, saya pindah ke Astra di Jakarta. Alasannya bukan gaji karena gajinya turun hingga 800 ribu rupiah. Ada alasan lain. Saya ingin lebih dekat dengan bidang ilmu yang saya pelajari di S1. Di Astra, saya menjadi seorang programmer yang dekat dengan tema skripsi saya.

Selain alasan keilmuan, sesungguhnya ada juga alasan lain, seperti perasaan ibu saya ketika tetangga bertanya “Andi kerja di mana?” Rumit situasinya ketika beliau menjelaskan kepada tetangga tentang pekerjaan saya di Unilever. Tak jarang, percakapan dengan tetangga berakhir dengan kesimpulan “oh, Andi jualan sabun, sekarang?!”. Tentu tidak ada yang salah dengan jualan sabun namun percayalah, bagi Ibu saya yang hanya lulus SD, imajinasi tentang pekerjaan seorang sarjana itu sedikit berbeda dengan jualan sabun.

Satu setengah tahun bekerja di Astra, saya memutuskan menjadi dosen di Teknik Geodesi UGM. Ini adalah Keputusan besar. Satu yang pasti, gajinya turun drastis. Jika tidak salah ingat, gaji yang dijanjikan UGM ketika itu adalah 600 ribu rupiah saja. Mendengar keputusan  tersebut, bapak saya menangis. Menangis karena merasa pilihan anaknya itu tidak masuk akal. Meski demikian, saya bersyukur, beliau dan ibu saya kemudian menjadi pendukung nomor satu saya.

Hari-hari ini, berita yang saya baca penuh dengan tuntutan peningkatan kesejahteraan dosen kepada pemerintah. Jika dicermati dengan baik, tuntutan itu tentu beragam rinciannya. Sebagian dosen ASN seperti saya yang mengajar di UGM yang merupakan Perguruan Tinggi Berbadan Hukum, mungkin ada kekhasan tersendiri. Situasi kami berbeda-beda. Tidak sedikit, karena berbagai alasan, dosen yang mungkin merasa tidak sepenuhnya ‘relate’ dengan situasi perjuangan terkait kesejahteraan ini. Meski demikian, saya merasakan energi perjuangan itu.

Fakta bahwa gaji dosen memang tidak sebesar beberapa pekerjaan lain di sektor swasta, atau bahkan ASN di kementerian lain, sudah saya sadari dari awal. Saya yang memutuskan keluar dari Astra dan jadi dosen di UGM sudah sadar akan kenyataan bahwa gaji saya pasti turun menjadi sepersekian kalinya. Maka besaran gaji sejatinya tidak mengejutkan saya. Mengenang percakapan saya dengan bapak 24 tahun silam, rasanya berjuang menuntut gaji bukanlah bagian dari nilai dan semangat yang saya janjikan kepada beliau ketika tangisnya jatuh merisaukan pilihan anaknya.

Saya sudah menjadi dosen selama hampir seperempat abad. Rasa syukur saya sangat tinggi akan profesi ini. Tentu saya jauh dari ideal sebagai dosen tetapi selalu menemukan ruang untuk bertumbuh dan menjadi lebih baik. Meski penuh syukur, saya juga menyaksikan, kian lebar jurang kesejahteraan antara dosen dan profesi lainnya. Yang lebih penting, bagi dosen muda terutama, kian tidak menarik profesi ini jika dilihat dari penghargaan material/finansial yang mereka terima. Tak heran jika kita melihat gerakan atau ajakan satir seperti #JanganJadiDosen.

Saya tahu, kalau saya mengatakan, bahwa pemerintah dan kita semua perlu memperhatikan kesejahteraan dosen karena profesi dosen itu penting, banyak pihak mungkin bisa mencibir. Semua profesi tentu akan merasa penting dan kenyataannya memang semua profesi itu memiliki peran penting. Maka, saya pikir, kesejahteraan dosen perlu diperhatikan bukan karena dosen lebih penting dari profesi lain. Kesejahteraan adalah konsekuensi logis dari peran dan kontribusi. Saya rasa, peran ideal dosen dalam bekerja untuk pendidikan bangsa belum mendapatkan imbalan yang selayaknya.

Di sisi lain, saya juga melihat berbagai sisi gelap. Tuntutan akan kesejahteraan ini sering kali membuat saya merenung. Merenung dan bertanya apakah sejatinya saya layak untuk menuntut? Dalam satu ajaran klasik, menuntut hak semestinya dilakukan setelah menjalankan kewajiban dengan baik. Apakah saya sebagai dosen telah melaksanakan kewajiban dengan baik? Adakah saya sudah berperan secara ideal sebagai seorang pendidik? Pertanyaan-pertanyaan itu muncul berkelebat-kelabat di kepala saya. Jawabannya akan pertanyaan itu menjadi pertimbangan saya dalam memilih jalur perjuangan terkait kesejahteraan dosen ini.

Satu hal yang pasti kita tidak sedang berbicara membanding-bandingkan profesi. Semestinya, kita tidak berkata “kalau sudah tahu profesi dosen bergaji kecil maka jangan jadi dosen”. Tidak juga semestinya kita berkata “dosen harus kreatif. Jika memang punya kapasitas, pasti bisa mencari penghasilan tambahan!”. Sebuah profesi yang sehat tentu tidak semestinya mengandalkan keberlangsungannya pada penghasilan tambahan. Yang utama, jika pekerjaan itu memang sedemikian penting, maka pelaku profesi itu  sudah selayaknya bisa hidup normal dan layak dengan mengerjakan profesinya secara tekun. Bukan dengan sibuk mengerjakan berbagai hal di luar profesi itu.

Bagi saya, fenomena dan diskusi ini adalah perkara yang lebih serius dari urusan profesi dan kesejahteraan. Ada hal-hal ideal yang secara serius harus dibenahi di pendidikan kita. Jika boleh menggunakan kalimat klise, kita sedang mendiskusikan nasib peradaban ini dengan pendidikan adalah fondasinya. Maka, harus ada yang menjadi pendidik. Artinya, kesejahteraan adalah sesuatu yang harus melekat padanya. Untuk kenyamanan hidup yang akan membuatnya bekerja dengan selayaknya.

Di sisi lain, saya juga sering merasa tergoda untuk mengabaikan aspek profesionalisme dan mengaitkannya dengan kesejahteraan. Ada cukup banyak dosen juga yang seperti itu. Tidak jarang saya dengar mereka merasa berhak untuk tidak bekerja dengan totalitas yang penuh karena merasa tidak dibayar layak. Saya mengerti ini. Di sisi lain, ini juga mengerikan. Maka, ketika menyaksikan begitu banyak dosen yang tetap bekerja dengan sangat baik meski sedang bertarung dengan kesejahteraannya sendiri, hormat saya untuk mereka.

Saya bisa membayangkan. Kesejahteraan dosen ini bukan perkara mudah. Sejujurnya, saya tidak punya kapasitas untuk menghitung kekayaan dan anggaran negara sehingga saya tidak tahu persis apakah sejatinya negara kita punya cukup anggaran untuk menyejahterakan dosen. Meski begitu, kita semua disuguhi berita tentang alokasi anggaran untuk berbagai proyek yang mengundang beragam pertanyaan akan urgensi dan dampaknya. Melihat triliunan uang negara digelontorkan untuk Makan Bergizi Gratis yang masih penuh pertanyaan lalu menyaksikan ketuanya digelandang ke hadapan hukum karena korupsi, rasanya pertanyaan soal alokasi dan pengelolaan anggaran masih tetap relevan untuk dikumandangkan.

Kita juga disungguhi kisah tentang berbagai kejahatan seperti korupsi dan penyalahgunaan wewenang yang berimplikasi pada keuangan. Kami tahu, ada begitu besar uang yang dikorupsi. Ada kekayaan negeri yang menggumpal dan mengumpul pada segelintir pihak. Semestinya, kesejahteraan para pendidik bisa ditingkatkan dengan pengaturan distribusi kekayaan negeri dan penegakan hukum yang lebih baik.

Semangat dan doa saya bersama para pendidik baik yang kesejahteraannya tak kunjung baik. Salut dan hormat saya kepada para dosen yang tetap konsisten untuk mendidik dengan paten meski gaji tak membuat mereka merasa keren. Dosen memang bukan produsen profit seperti Unilever yang menghasilkan segunung untung dalam neraca hitung. Dosen juga bukan penghasil laba seperti Astra yang mencipta harta yang layak masuk berita. Meski demikian, ketika bekerja dengan semestinya, dosen dapat menjadi bagian penting dari penyebab semua cerita baik tentang harta dan ekonomi itu. Negara wajib hadir untuk mendukung mereka.

Unknown's avatar

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

Bagaimana menurut Anda? What do you think?