Ketika kebaikan ini berbuah penghinaan dan berujung pada pembodohan, saatnya aku berpikir untuk menghentikan kebaikanku untukmu. Ketika keikhlasanku memberi pelayanan atas nama kemanusiaan engkau perlakukan sebagai persembahan seorang abdi kepada tuannya, saatnya aku tinjau kembali makna keikhlasan itu. Ketika pemberianku yang tanpa pamerih membuatmu menggampangkan aku, dan menceritakan kepada khalayak bahwa aku adalah bawahanmu yang dengan mudah engkau perintah, maka ijinkan aku merenungi makna pemberian ini. Barangkali ini saatnya mengehentikannya dan membuatmu mengerti arti ketiadaan. Ketika kebaikan, persembahan dan ketulusanku hanya membuatmu malas, kehilangan energi untuk berusaha dan bahkan menempatkan harkatku sebagai budakmu, jangan sesali kalau ini adalah saat yang tepat untuk mengatakan “tidak” kepadamu.
Menjadi Pahlawan
Sudah terlalu lama saya tidak menyempatkan diri menulis sesuatu yang bebas, tidak dibatasi aturan jumlah kata, ketentuan referensi, footnote dan jumlah halaman. Yang terpenting, sudah lama saya tidak menulis dengan perasaan. Lelah rasanya menulis banyak hal hanya dengan kepala.
Enampuluh satu tahun sudah Indonesia menjadi bangsa yang merdeka, menentukan nasib sendiri. Lama sekali rasanya saya tidak mengikuti upacara bendera, dan telah melupakan bait-bait syair lagu kebangsaan. Bahkan, kata Iwan Fals, saya mungkin sudah lupa dengan warna bendera sendiri. Apa sih arti nasionalisme sesungguhnya? Setelah enampuluh tahun lebih merdeka, apakah nasionalisme ini masih menarik dibicarakan?
Saya adalah orang yang lahir di tanah Indonesia. Saya meyakini, saya tidak akan bisa melepaskan diri dari identitas ke-Indonesia-an saya, betapapun telah luas dunia yang saya arungi. Warna kulit, darah dan hati yang terlajur tumbuh dalam raga ini adalah penciri Indonesia bagi saya. Semua itu tidak akan bisa hilang hanya dengan mengganti passport dan pergi jauh menghindarkan diri dari Indonesia.
Bangsa saya hari ini telah kering air matanya karena terlalu banyak menangis. Dia lantak dan hampir runtuh karena saya dan kerabat yang tidak menyayanginya selama ini. Indonesia telah menjadi gumpalan rapuh yang kian hari kian nista karena saya dan teman-teman saya yang telalu sibuk menghina dina dan menumpahkan caci tiada henti.
Malam ini saya menangis dan tangisan ini adalah satu dari sangat sedikit tangisan selama setahun terakhir. Bergelut dengan dunia membuat saya tidak sempat menangis dan merenung. Saya bersyukur malam ini masih tersisa sedikit air mata dan saya tumpahkan untuk Indonesia. Saya ingin berubah! Saya tidak seharusnya menghinakan Indonesia dan menumpahkan segala murka yang tak berkesudahan.
Saya tahu, bangsa ini sedang sakit. Saya tahu bangsa ini tidak bisa saya banggakan saat ini. Tetapi saya yakin, ada nilai maha tinggi tentang Indonesia yang semestinya saya teladani dan junjung tinggi. Saya terlanjur mencampuradukkan perilaku para punggawa negeri dengan jiwa Indonesia sehingga telihat kusam, kotor dan hina. Semestinya saya bisa membedakan jiwa Indonesia tidak sama dengan pelaku kenistaan yang mengotorinya. Dan semestinya sayapun sadar, cercaan, keluh kesah, penyesalan, caci maki tiada henti yang terlontar telah menjadikan wajah Indonesia kian muram.
Saya yakin, Indonesia sedang teraniaya, tangannya melambai-lambai dengan muka yang sedihnya tak tergambarkan. Dia mencari pahlawan. Pahlawan muda seperti saya dan kawan saya. Pahlawan yang tidak sibuk menghina dan menghujat. Pahlawan yang berani memulai dan berani mencintai bangsa yang sedang sakit dan hampir binasa. Kalau bukan saya, siapa lagi. Saya ingin menjadi pahlawan Indonesia.
Yogyakarta, 15 Agustus 2006
Ketika Mbah Maridjan jadi Bintang Iklan
Mbah Maridjan kini tak seangker dulu, ketika datang Sultan Jogja memintanya turun gunung dan ditolaknya. Mbah Maridjan tidak seberwibawa dulu lagi, ketika kata-katanya diikuti oleh segerombolan orang, meskipun dengan mempertaruhkan nyawa, bertahan di lereng Merapi. Mbah Maridjan kini tidak sepingit dulu, ketika hanya turun gunung kalau ada pementasan wayang. Mbah Maridjan kini menjadi orang biasa, menari-nari di televisi dengan gerakan yang tidak istimewa sambil menjual produk minuman obat kuat. Mbah Maridjan kini tidak ubahnya dengan artis-artis yang biasa itu, menjual ketenarannya seharga sekantong uang dan membayarnya dengan menjadi orang kebanyakan.
Tetapi, coba tanyakan kepada teman saya yang orang marketing, apa yang bisa dipelajari dari Mbah Maridjan. Tanyakan kepada Bang Joko di Kota Langit, arti sebuah konsistensi yang mengantar Mbah Maridjan kepada ketenaran. Tanyakan juga Mbak Hasto di Lumbung Kuning arti “tampil beda” yang membuat Mbah Maridjan menjadi selebriti kelas tinggi. Diam-diam saya belajar kepada Mbah Maridjan, meskipun tidak untuk menari-nari menjual sebotol minuman obat kuat.
Tigabelas
Angka tigabelas tiba-tiba saja menjadi penting belakangan ini. Setidaknya begitu bagi saya pribadi. Rumah yang baru saja kami tempati bulan Mei lalu, tanpa disengaja bernomor tigabelas. “Hati-hati, rumahnya nomor tigabelas!” seorang kawan berseloroh ketika menghadiri acara mlaspas akhir April silam. Saya sendiri hanya bisa tersenyum, itupun dalam hati.
Apa benar tigabelas membawa sial? Diam-diam mitos klasik itu kembali mengusik, setelah sekian lama terlupakan. Apa ya, tigabelas dapat mendatangkan bencana seperti yang dipercaya banyak orang di muka bumi? Lepas dari benar tidaknya, saya tidak terlalu perhatian dengan ramalan dan masa depan yang tidak jelas kapan datangnya. Apa ya, tigabelas membawa sial ketika terbukti rumah ini utuh tuh tuh tidak terganggu sedikitpun ketika ratusan ribu rumah di Yogyakarta ambruk akibat gempa? Apa ya, tigabelas pertanda kerugian ketika jelas-jelas ini adalah rumah pertama yang terbeli dengan keringat sendiri?
Kalau tigabelas berarti “aneh” karena kamar mandinya memang dirancang kering, tanpa bak mandi dan toilet yang menggunakan tisu, sehingga menimbulkan protes kecil mertua, bisa jadi tigabelas memang sedikit “bermasalah”. Lebih dari itu, tigabelas baik-baik saja.
Berbicara tentang tigabelas, negeri bernama Indonesia baru saja dihebohkan oleh sesuatu yang juga bernama tigabelas, tepatnya gaji ketigabelas. Ya, PNS di kerajaan Indonesia boleh merasa lega karena “tahu-tahu” ada durian runtuh dan setiap orang harus tanda tangan berangkap-rangkap untuk menerima gaji yang besarnya sama dengan gaji sebulan dan bahkan lebih banyak karena tidak dipotong apa-apa. Tigabelas memang tidak selamanya bencana. Tigabelas kini bahkan sesuatu yang paling ditunggu, setidaknya oleh mereka yang menjadi punggawa kerajaan Indonesia. Ke mana Anda mau tigabelasan hari ini?
Kemenangan Lainnya
Rekan-rekan anggota Milis Komunitas Merapi, setelah melalui seleksi yang cukup ketat, akhirnya tim penyeleksi naskah Proyek Amal Kumpulan Cerpen Komunitas Merapi menetapkan 20 naskah yang dinyatakan lolos seleksi. Seleksi yang dilakukan tim didasarkan pada beberapa unsur, di antaranya adalah kesesuaian cerita dengan tema, gaya/bahasa, latar, alur, dan tokoh/penokohan. Adapun kedua puluh naskah yang lolos seleksi adalah sebagai berikut:
1. Aku dan Ibuku (Sri Wulandari)
2. Bulan Terang (Yohanes Prayoga)
3. Hujan dan Ea (Fina Sato)
4. Laju Kereta dan Kita Yang Menunggu (Indrian Koto)
5. Mereka Hanyalah Angka (Manunggal K Wardaya)
6. Opera Padas (I Made Andi Arsana)
7. Sayap Odin (Yeni Yuniawati)
8. Sebuah Perjalanan Empat Musim (Wa Ode Nirmala Ningrum)
9. Sepenggal Cerita untuk Nenek (Endeng Syamsul Maarif)
10. Sarapan Bersama Tuhan (Shinta Kertashari)
11. Ayah (Rio Dhana Kusuma)
12. Impian Winda (Etty Afianti H)
13. Tegar dan Si Pendek dari Rawa Busuk (Monica Dewi BP)
14. Di atas becak ayah (Abdullah Khusairi)
15. Sentuhan Sang Bidadari (Sesar Fajar Tresnanto)
16. Ngadikan (Rosidi)
17. Perempuan Pembalik Sandal (Muhammad Shofa)
18. Makasih, Bang (Panji Surya)
19. Kereta Api Merah Muda (Mindo Hutagaol)
20. Elegi Esok Pagi (Sonny Herdiana)
Sekian dan terima kasih atas partisipasi rekan sekalian. Selamat kepada para peserta yang naskahnya dinyatakan lolos dan kepada peserta yang naskahnya belum lolos, jangan patah semangat. Terus berkarya.
Salam,
Tim Penyeleksi
Opera Padas
Cerpen I Made Andi Arsana
“Teng teng teng!” dentuman paji1 beradu dengan palu besi, bisingnya akrab di telingaku. Serpihan batu padas yang berhamburan sesekali membentur tubuh kecilku yang terbungkus handuk kumal yang barangkali sudah sebulan tidak dicuci. Serpihannya menyelip diantara bulu-bulu handuk yang kian hari kian kusam, rapuh berguguran. Aku, seperti hari kemarin, tidur telentang di pojok dataran patu padas, menyaksikan dengan mata setengah terlelap, ibu yang sedang memukul paji dengan palu besarnya. Beliau, dengan tekun, menggali batu padas. Pekerjaan yang telah dilakukan entah berapa tahun sudah, sampai seakan dia tidak perlu membuka mata untuk melakukannya lagi dan lagi.
Pagi tadi, subuh entah jam berapa, aku seperti setengah sadar diraih dari tempat tidur, dibopong keluar. Napas Ibu yang terengah, seperti musik yang akrab di telinga ketika menggendong tubuh kecilku. Berjalan setengah berlari melintasi sawah menuju pinggir kali, di mana keluarga kami melakukan penambangan batu padas. Kakinya seakan bermata tajam, melintasi pematang kecil yang nyaris tidak nampak karena padi mulai berjuntai menutupi jalan. Tidak sedikitpun dia ragu melangkahkan kaki, tidak takut terpeleset dan memang tidak pernah. Kakinya seperti sudah hafal di mana ada lubang, dan kapan harus melompat agak panjang menghindari cekungan di pematang sawah. Cekungan ini adalah untuk jalan air dari satu petak sawah ke petak lain di bawahnya.
Aku hanya mendengar nafas terengah ketika kaki perkasa ibu mencapai ujung paling barat sawah yang dilaluinya. Kini saatnya langkah mulai pelan karena jalanan menurun terjal. Bukan saja setapak yang tidak nampak jelas, tapi juga jalan licin berair yang membuatnya harus ekstra hati-hati. Langkahnya dihitung satu-satu, memastikan pijakannya di tempat yang persis sama dengan yang dilaluinya kemarin. Tanah yang dipijaknya adalah sedikit saja dari jalan setapak yang agak kering dan memastikan tubuh kami tidak terpeleset ambruk. Ketika melewati tegalan Nang2 Koplar yang dialiri air, seperti biasa Ibu memindahkan tubuh kecilku dari bahunya dan ditimangnya seperti bayi. Inilah saatnya dia harus melompat agak panjang melampaui parit kecil di tengah tegalan. Aku sepertinya masih pulas, tetapi seakan menikmati semuanya, terutama semangat ibu yang memberi perlindungan.
”Wusss!” lompatan yang sama, menerbangkanku ke tepi utara parit, sempurna kaki ibu menginjak bagian kering yang membuatnya tetap tegak berdiri, tidak terpeleset. Subuh masih juga gelap, kami menyebrangi sungai kecil berair deras melalui titi3 bambu yang diikat menjadi satu. Aku masih ingat jelas, ada sekitar tujuh bambu disandingkan menjadi jembatan alami. Di sebelahnya terdapat pengancan4 dari sebilah bambu, di mana ibu selalu berpegangan ketika melintasi sungai. Dalam keterlelapanku, aku melihat semuanya.
Perjalanan setelah menyebrangi sungai ditempuh sekitar 18 menit menyusuri tepi sungai, sebelum akhirnya sampai di tempat penambangan batu padas. Aku mulai terjaga. Hari masih cukup gelap. Hanya kami berdua di tempat penambangan, aku dibaringkan di pojok yang sama, diselimuti handuk kusam yang bulu-bulunya mulai rontok. Berguguran bersama serpihan kecil batu padas yang tak terhindarkan menempel padanya. Aku memandang ke langit, menyaksikan padas yang kini menjadi tebing karena ibu sudah menggali sangat dalam. Tidak ada isu galian C, saat ini. Tidak ada razia, dan sepertinya tidak ada peraturan, apalagi perhatian terhadap lingkungan, tidak ada sama sekali. Tugas kami adalah menggali dan menukar batu padas dengan harapan hidup esok hari.
Usai membaringkanku, ibu memulai ritualnya. Dibersihkannya permukaan padas yang sudah relatif datar agar terbebas dari serpihan yang tersisa kemarin sore. Mulai ditariknya garis di atas padas, tanda di mana penggalian akan dilakukan. Untunglah hari mulai terang, garis di atas padas mulai bisa dilihat. Garis inilah yang akan dijadikan patokan untuk menggali. Diayunkannya patuk5 tepat menghujam garis yang baru saja dibuatnya hingga terbentuk lubang galian sempit memanjang ke belakang. Dia membuat galian paralel di sebelahnya berjarak kurang lebih 50 cm. Lubang galian selebar 3 cm dan dalamnya 16 cm, kurang lebih. Diantara keduanya, nampaklah lempengan padas yang siap dibelah-belah. Lubang galian yang sama, dibuat melintang untuk membentuk padas berukuran 50 cm x 20 cm x 15 cm. Lubang galian itu, kalau aku umpamakan seperti grid yang membagi belahan dunia menjadi zone-zone peta di seluruh dunia. Lempengan batu padas itu kini sudah terbentuk, tinggal satu langkah lagi, memisahkannya dengan bagian padas di bawahnya. Di sinilah paji digunakan. Paji, terbuat dari besi, berbentuk seperti obeng besar, pipih ujunya dan bulat di ujung lainya. Ujung pipihnya pun menghujam tepi padas di bagian bawah dan dengan beberapa hentakan, padas pun tergali. Perlu menggunakan paji setidaknya empat biji yang terdistribusi merata di tepi bawah batu padas untuk menghindari padas menjadi patah tak berguna. Memukul paji pun, kata Ibu, harus seimbang antara satu dengan lainnya agar padas tidak patah. Nasihatnya kepadaku sangat rinci seakan memang yakin, kelak aku akan menjadi penambang padas.
Terik matahari menyengat, jam 11 lebih barangkali, lapar mulai datang. Saat itulah bapak selalu muncul bak pahlawan, membawa rantang kecil untuk makan kami bertiga. Bapak sepagian tadi harus menyiangi sawah dan bisa bergabung di penambangan saat makan siang. Sayur terong dari kebun sendiri dan tomat hasil percobaan menempel yang baru saja berhasil bulan lalu, kami santap dengan lahapnya. ”Ini namanya terong berbuah tomat”, begitu Bapak selalu membanggakan hasil karyanya. Memang beliau kreatif, untuk ukuran orang miskin. Hanya bermodal mendengar dari radio saja, beliau sudah bisa menjadikan terong kokak di halaman rumah berbuah terong bulat dan tomat. Mengagumkan!
”Dari semua kombinasi yang pernah bapak lakukan, tempelan yang paling sesuai hanya ada satu.”
”Terong kokak dengan tomat sayur?”, aku menyela berusaha menebak.
”Bukan”, bapak membantah.
”Terus, terong kokak dengan terong bulat?”, tebakku lagi
”Bukan juga!”, katanya.
”Lalu?”, aku bertanya penasaran.
”Tomat dan ikan pindang”, begitu bapak menjelaskan sambil tertawa lebar.
Itulah saat paling aku suka dari penambangan kami sehari-hari. Bapak selalu berusaha berkelakar.
Sore tiba, matahari redup. Bapak pulang mendahului. Banyak ayam yang harus diberi makan, sapi yang harus dikembalikan ke kandang dan 17 ekor itik yang harus dipastikan ada di belakang rumah. Ibu meraih tubuh kecilku dan tak lupa menggamit dua biji padas yang sudah dihaluskan. Ditaruhnya keduanya di atas kepalanya, sementara aku dengan nyaman melingkarkan kaki di pinggangnya. Tubuhku tak akan jatuh karena sudah dibelenggu dengan handuk kusam kami. Perjalanan jauh dimulai. Kami tidak segera pulang. Dua biji batu padas ini harus ditukar dengan gula, beras dan bumbu di Buahan, desa tetangga di mana banyak warung yang bersedia menukar batu padas dengan kebutuhan sehari-hari. Begitulah setiap hari, aku hafal setiap prosesnya. Proses yang menjadikan aku besar, mungkin lebih besar dari yang pernah aku bayangkan.
Langkah ibu kembali mengalun, melintasi jalan yang sama, menghindari lubang yang sama pula. Kakinya seperti tidak menyentuh tanah, sigap melayang di atas pematang seakan tidak menginjak rumput di bawahnya. Temaram merah di ujung barat pertanda hari telah senja. Rumah tentu telah menunggu, gelap pasti menyelimuti. Lentera dan lampu teplok harus dinyalakan sebelum hari terlalu gelap. Itulah pekerjaan utama yang harus dilakukan ibu sesampainya dari penambangan. Minyak tanah yang kemarin entah masih entah tidak…
Telepon berdering, menyadarkan aku dari lamunan. ”Hello, Andi’s speaking”6, aku mengangkat telepon. Terdengar suara santun di seberang. Informasinya mengejutkan sekaligus menyenangkan. Sayup-sayup aku simak ”We finally agree to invite you for an international seminar in Monaco, Next year. You will be addressing a keynote speech together with another expert from Canada. All details will be sent to you soon, together with flight details and honorarium.”7
Aku melamun dalam senyum, sambil memperhatikan mobil yang lalu lalang di Sydney Harbour Bridge. Lengkungan jembatan paling terkenal di Australia itu terlihat perkasa dari kantorku di lantai 37. Luna Park di bawahnya nampak ceria dan Sydney Opera House di sampingnya terlihat tegar. Tegar, seperti tegarnya kaki ibuku yang tetap kuingat sampai kini menggendongku dan telah mengajakku melelawati padang ilalang kehidupan yang kadang cadas. Jika pun beliau tidak sempat menikmatinya, aku yang kini berdiri di di ruang kaca memandang alam sekitar dengan leluasa, telah menikmatinya. Kupersembahkan kebanggan ini sepehuhnya kepada ibu dan bapakku, Terima kasih Ibu.
Sydney, summer 2006
Footnote
1 Lempengan besi pipih mirip obeng, digunakan untuk memisahkan bongkahan batu badas dengan bagian di bawahnya untuk kemudian dibaluskan sehingga didapat batu padas berukuran balok.
2 Nang sama dengan Pak
3 Titi adalah istilah jembatan tradisional di Bali
4 Pengancan adalah istilah untuk pegangan ketika menyebrangi titi
5 Patuk adalah istilah Bali untuk penggali batu padas, terbuat dari besi pipih seperti pacul.
6Halo, Andi di sini
7Kami akhirnya memutuskan untuk mengundang Bapak untuk menjadi pembicara kunci di sebuah seminar internasional di Monaco tahun depan. Segala rincian akan dikirim kepada Bapak termasuk tiket pesawat dan ketentuan honor.
Living Dangerously
Boleh jadi Anda akan menganggap saya sok kebarat-baratan karena telah menulis cerita ini. Tanpa bermaksud untuk cuek dan tidak peduli, saya tidak ambil pusing dengan anggapan itu 🙂
Seorang kawan dekat saya mengatakan “kalau nyetir di Indo, harus lebih berani. Jangan semua orang dikasih kesempatan duluan, kita nggak akan gerak kalau gitu.” Memang sejak kembali pulang ke tanah air saya merasa jauh lebih canggung kalau naik motor atau nyetir mobil. Tabiat pemakai jalan yang sangat berani telah menciutkan nyali saya untuk ikutan “sradak-sruduk” di jalan. Hanya gara-gara saya memegang SIM Australia (itupun masih Learners) saya telah kehilangan kenekatan yang dulu saya miliki sebelum sempat melihat dan menikmati tertibnya jalan raya di Sydney.
Saya melihat sesuatu yang lain dari perilaku pemakai jalan di sekitar saya. Mereka adalah orang-orang yang terbiasa hidup dalam risiko tinggi. Ya, sangat tinggi bahkan. Coba Anda tanyakan seberapa bahaya menurut orang Australia, tindakan melanggar lampu merah di sebuah perempatan ramai. Tanyakan juga kepada mereka, seberapa bahaya naik motor dengan helm tipis, seberapa riskan nyalip dari kiri, seberapa bahaya melintasi zebra cross tanpa sedikitpun mengurangi kecepatan kendaraan dan seberapa berisiko menyeberang jalan bukan pada tempatnya. Tanyakanlah, Anda akan tahu jawabannya.
Kita orang Indonesia adalah orang-orang hebat yang terbiasa hidup dalam risiko. Kita tidak pernah terlalu takut akan bahaya. Kita adalah orang-orang yang tidak terlalu menyanggap penting nyawa. Nyawa murah harganya. Kita adalah orang-orang yang terbiasa living dangerously. Tidak saja dengan membahayakan fisik kita, tetapi juga membahayakan kehormatan kita dengan tetap korupsi di tengah derasnya usaha perbaikan hukum, tetap menggelapkan sumbangan gempa di tengah tajamnya sorotan internasional terhadap terhadap keseriusan kita mengelola bantuan. Kita adalah orang-orang berani yang tidak mudah menyerah pada keadaan.
Namun…
Apakah memang benar keberanian ini yang kita butuhkan? Tanyakan kepada saya, bagaimana rasanya mengendarai mobil di sebuah “bunderan” ramai di Sydney dengan hanya melirik ke kanan tanpa pernah sedikitpun khawatir akan ada orang yang menabrak Anda dari arah lain. Tanyakan juga bagaimana rasanya menyebrang jalan di zebra cross dengan tetap membaca buku karena tidak pernah khawatir akan ditabrak. Mungkin Anda akan mendapat inspirasi.
Dahaga kecil
Sore tadi kawan lama mampir ke kantor saya. Satu kalimat datarnya membuat saya berpikir “Kok blognya tidak pernah di-update?”
Dalam kesulitan dan kesibukan yang saya rasa besar dan maha penting, ternyata masih ada yang peduli hal-hal kecil seperti blog ini. Di saat saya merasa hebat karena mengerjakan hal-hal yang jauh lebih besar dari sekedar ngeblog, ternyata ada satu manusia yang tetap menunggu gumaman tak berarti saya lewat blog. Mereka tidak pernah ikut menikmati “kebesaran” yang saya rasakan, mereka tetap menginginkan hal remeh temeh di blog saya.
Nampaknya saya tidak boleh meninggalkan benih yang terlanjur tumbuh ini. Saya akan menjadi bapak yang tidak bertanggungjawab kalau saya tinggalkan ceceran benih itu. Orang memang tidak harus mengikuti kesibukan saya, dan tidak harus menahan dahaga kecilnya hanya gara-gara saya sibuk melayani sang raja dan lupa menyiramkan air melalui cerita pendek saya. Tidak boleh.
Mengapa disukai?
Seorang mahasiswa datang pada saya dengan wajah sedikit memelas. “Saya maunya Bapak yang menguji saya saat seminar skripsi”, bagitu kira-kira kalimat yang mengalir dari mulutnya. “Saya kurang sreg dengan dosen yang nguji saya sekarang”, dia menambahkan.
Saya kontan merasa senang. Mahasiswa menyenagi saya rupanya. Tidak mudah menjadi dosen yang disenangi mahasiswa, saya yakin. Jika tanda-tanda ini terjadi, bahkan ketika saya berumur masih sangat muda, maka ini ciri positif.
Dalam keriuhrendahan hari-hari bergelut di dunia pendidikan, saya sempatkan merenung. Salah satu yang saya pikirkan minggu ini adalah harapan mahasiswa yang skripsinya ingin saya uji. Saya terlanjur menganggap itu sebagai sanjungan yang menyenangkan. Sesaat kemudian saya mencoba berpikir sendiri. “Mengapa mahasiswa ini menyukai saya?”
Apakah benar karena saya memang seorang dosen yang baik, ideal sehingga bisa diharapkan menjadi pemandu dan memberi masukan yang semestinya, atau justru karena saya tidak teliti memeriksa skripsi kata per kata sehingga meraka terbebas dari revisi redaksional 😦
Saya juga curiga, mahasiswa senang karena saya bukan peneliti handal sehingga tidak bisa memberikan pertanyaan yang tajam seputar skripsi. Hal ini kadang menyenangkan mahasiswa yang tidak serius dalam meneliti.
Mengapa saya disukai? Belum tentu karena saya baik. Sangat mungkin karena saya adalah seorang pecundang yang mudah dibohongi dan dijadikan bulan-bulanan.
Pintar saja tidak cukup
Bandung dinobatkan sebagai Kota terkotor di Indonesia. Saya pribadi terkejut mendengar berita ini. Kalau Bandung dikatakan memiliki gadis-gadis yang cantik, saya tahu. Memang demikian adanya.
Pikiran saya langsung tertuju pada sebuah institusi pendidikan tinggi teknologi yang konon paling ampuh di negeri ini. Institut itu berada di kota kembang, Bandung. Saya membayangkan, kota yang dihuni oleh ratusan dan mungkin ribuah orang dengan kanuragan teknologi yang tidak diragukan, apa ya Bandung bisa menjadi kota terkotor se-Indonesia? Apa ya, tidak cukup ketangkasan para pakar pengolahan limbah di Teknik Lingkungan ITB atau Teknik Kimia untuk menanggulangi masalah sampah di Bandung? Apa ya juga, pakar-pakar ilmu sosial di UnPad tidak menemukan cara meningkatkan kesadaran masyarakat akan kebersihan lingkungan? Apa ya?
Saya teringat dengan rumah salah seorang senior saya di suatu kampung di Sleman Jogja. Rumahnya luar biasa menurut saya. Tertata rapi, tanaman tumbuh subur. Beberapa tanaman yang hidup di pot dekat beranda bahkan berkilauan daunnya, bersih, segar dan nampak sehat. Rambutan dan mangga yang tumbuh liar di halaman juga sangat ramah menyapa siapa saja yang datang, menggambarkan keramahan pemilik rumahnya. Luar biasa, kata saya dalam hati.
Saya tertegun mendengar istri senior saya ini bercerita di satu malam. “Saya hampir setiap hari berkomunikasi dengan redaksi majalah trubus, lewat email maupun telepon. Sedikit saja ada kelainan dengan tumbuhan di rumah ini, langsung saya konsultasikan dan lakukan saran mereka. Saya hafal semua toko tanaman hias di Jogja”, katanya. “Tiap pagi, tanaman yang di dekat beranda itu saya siram air beras. Dua kali seminggu, saya membasuh daunnya dengan susu segar sambil saya gosok dengan kain halus setiap helainya agar tetap mengkilat, susunya kemudian saya siramkan di akarnya”.
Saya tersenyum.
Keindahan itu ternyata tidak pernah muncul tiba-tiba. Seorang yang baik dan pintar tidak akan menghasilkan keindahan dengan senyumnya saja. Keidahan akan tercipta dengan tangan yang kotor, peluh yang tercecer dan kaki yang pegal menahan letih. Keindahan adalah perjuangan.
Saya ingin pergi ke Bandung, mendapati gadis-gadis penjaga toilet yang memang lebih cantik dari penjaga pesta pernikahan seorang pangeran di kampung saya.