Abdi


Made Kondang tersenyum menatap dirinya di cermin. Lelahnya sepulang kerja di ladang perlahan sirna, setelah meneguk teh panas di sore hari. Minum teh panas tentu saja bukan hal yang baru dalam hidupnya. Teh panas sore ini berbeda karena tidak seperti biasa dibuat oleh Nyoman Sumi, istrinya. Teh itu dibuat oleh mbak Nem, pembantu rumah tangganya. Hal kecil ini, bagi Kondang, sangat istimewa. Adalah tidak lazim bagi seorang petani seperti Kondang memiliki pembantu rumah tangga. Bukan saja karena penghasilannya yang tidak cukup untuk membayar gaji seorang pembantu, Kondang juga tidak dilahirkan untuk menjadi seorang majikan, apalagi bos. Tidak sama sekali. Kondang, lagi-lagi, tersenyum dalam hati.

Situasi telah berubah, seorang Kondang pun kini memiliki abdi. Menggelikan!

Kondang masih tidak terbiasa menyebut dirinya Bapak ketika berbicara kepada pembantunya. Ketika berteriak di depan rumah meminta pintu dibukakan, pembantu bertanya “siapa ya?” Kondang dengan polosnya berujar “Kondang!”. Tentu saja mbak Nem, yang memang tidak diwajibkan tahu nama majikannya itu membalas, “Kondang siapa ya?”. Kondang tersadar, hm rupanya dia harus menggunakan sebutan lain. “Ini Bapak”, katanya dengan sedikit terbata. Bergegas mbak Inem dengan wajah pucat membukakan pintu dan membungkuk mempersilahkan Kondang masuk rumah. Dengan langkah ragu Kondang melangkah masuk dan tidak kuasa menahan geli. Hidup telah berubah.

Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s