Menjadi Pahlawan


Sudah terlalu lama saya tidak menyempatkan diri menulis sesuatu yang bebas, tidak dibatasi aturan jumlah kata, ketentuan referensi, footnote dan jumlah halaman. Yang terpenting, sudah lama saya tidak menulis dengan perasaan. Lelah rasanya menulis banyak hal hanya dengan kepala.

Enampuluh satu tahun sudah Indonesia menjadi bangsa yang merdeka, menentukan nasib sendiri. Lama sekali rasanya saya tidak mengikuti upacara bendera, dan telah melupakan bait-bait syair lagu kebangsaan. Bahkan, kata Iwan Fals, saya mungkin sudah lupa dengan warna bendera sendiri. Apa sih arti nasionalisme sesungguhnya? Setelah enampuluh tahun lebih merdeka, apakah nasionalisme ini masih menarik dibicarakan?

Saya adalah orang yang lahir di tanah Indonesia. Saya meyakini, saya tidak akan bisa melepaskan diri dari identitas ke-Indonesia-an saya, betapapun telah luas dunia yang saya arungi. Warna kulit, darah dan hati yang terlajur tumbuh dalam raga ini adalah penciri Indonesia bagi saya. Semua itu tidak akan bisa hilang hanya dengan mengganti passport dan pergi jauh menghindarkan diri dari Indonesia.

Bangsa saya hari ini telah kering air matanya karena terlalu banyak menangis. Dia lantak dan hampir runtuh karena saya dan kerabat yang tidak menyayanginya selama ini. Indonesia telah menjadi gumpalan rapuh yang kian hari kian nista karena saya dan teman-teman saya yang telalu sibuk menghina dina dan menumpahkan caci tiada henti.

Malam ini saya menangis dan tangisan ini adalah satu dari sangat sedikit tangisan selama setahun terakhir. Bergelut dengan dunia membuat saya tidak sempat menangis dan merenung. Saya bersyukur malam ini masih tersisa sedikit air mata dan saya tumpahkan untuk Indonesia. Saya ingin berubah! Saya tidak seharusnya menghinakan Indonesia dan menumpahkan segala murka yang tak berkesudahan.

Saya tahu, bangsa ini sedang sakit. Saya tahu bangsa ini tidak bisa saya banggakan saat ini. Tetapi saya yakin, ada nilai maha tinggi tentang Indonesia yang semestinya saya teladani dan junjung tinggi. Saya terlanjur mencampuradukkan perilaku para punggawa negeri dengan jiwa Indonesia sehingga telihat kusam, kotor dan hina. Semestinya saya bisa membedakan jiwa Indonesia tidak sama dengan pelaku kenistaan yang mengotorinya. Dan semestinya sayapun sadar, cercaan, keluh kesah, penyesalan, caci maki tiada henti yang terlontar telah menjadikan wajah Indonesia kian muram.

Saya yakin, Indonesia sedang teraniaya, tangannya melambai-lambai dengan muka yang sedihnya tak tergambarkan. Dia mencari pahlawan. Pahlawan muda seperti saya dan kawan saya. Pahlawan yang tidak sibuk menghina dan menghujat. Pahlawan yang berani memulai dan berani mencintai bangsa yang sedang sakit dan hampir binasa. Kalau bukan saya, siapa lagi. Saya ingin menjadi pahlawan Indonesia.

Yogyakarta, 15 Agustus 2006

Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

1 thought on “Menjadi Pahlawan”

  1. Suatu ungkapan hati yang sangat dalam, persis seperti yang saya rasakan. Salam dari perantau ilmu di ujung dunia yang dingin

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s