Living Dangerously


//www.umich.edu/~bhl/bhl/mhchome/detroit/images/bl004003.jpgBoleh jadi Anda akan menganggap saya sok kebarat-baratan karena telah menulis cerita ini. Tanpa bermaksud untuk cuek dan tidak peduli, saya tidak ambil pusing dengan anggapan itu đŸ™‚

Seorang kawan dekat saya mengatakan “kalau nyetir di Indo, harus lebih berani. Jangan semua orang dikasih kesempatan duluan, kita nggak akan gerak kalau gitu.” Memang sejak kembali pulang ke tanah air saya merasa jauh lebih canggung kalau naik motor atau nyetir mobil. Tabiat pemakai jalan yang sangat berani telah menciutkan nyali saya untuk ikutan “sradak-sruduk” di jalan. Hanya gara-gara saya memegang SIM Australia (itupun masih Learners) saya telah kehilangan kenekatan yang dulu saya miliki sebelum sempat melihat dan menikmati tertibnya jalan raya di Sydney.

Saya melihat sesuatu yang lain dari perilaku pemakai jalan di sekitar saya. Mereka adalah orang-orang yang terbiasa hidup dalam risiko tinggi. Ya, sangat tinggi bahkan. Coba Anda tanyakan seberapa bahaya menurut orang Australia, tindakan melanggar lampu merah di sebuah perempatan ramai. Tanyakan juga kepada mereka, seberapa bahaya naik motor dengan helm tipis, seberapa riskan nyalip dari kiri, seberapa bahaya melintasi zebra cross tanpa sedikitpun mengurangi kecepatan kendaraan dan seberapa berisiko menyeberang jalan bukan pada tempatnya. Tanyakanlah, Anda akan tahu jawabannya.

Kita orang Indonesia adalah orang-orang hebat yang terbiasa hidup dalam risiko. Kita tidak pernah terlalu takut akan bahaya. Kita adalah orang-orang yang tidak terlalu menyanggap penting nyawa. Nyawa murah harganya. Kita adalah orang-orang yang terbiasa living dangerously. Tidak saja dengan membahayakan fisik kita, tetapi juga membahayakan kehormatan kita dengan tetap korupsi di tengah derasnya usaha perbaikan hukum, tetap menggelapkan sumbangan gempa di tengah tajamnya sorotan internasional terhadap terhadap keseriusan kita mengelola bantuan. Kita adalah orang-orang berani yang tidak mudah menyerah pada keadaan.

Namun…
Apakah memang benar keberanian ini yang kita butuhkan? Tanyakan kepada saya, bagaimana rasanya mengendarai mobil di sebuah “bunderan” ramai di Sydney dengan hanya melirik ke kanan tanpa pernah sedikitpun khawatir akan ada orang yang menabrak Anda dari arah lain. Tanyakan juga bagaimana rasanya menyebrang jalan di zebra cross dengan tetap membaca buku karena tidak pernah khawatir akan ditabrak. Mungkin Anda akan mendapat inspirasi.

Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

2 thoughts on “Living Dangerously”

  1. iya mas Andi, di jogja emang udah beringas. katanya hidup di jogja tuh santai, tapi kok naik motor/mobil pada kesusu kenapa ya… seakan gak bisa berhenti sejenak ngasih tempat buat yang mau nyebrang.
    Nyebrang kalo gak maksa langsung ke tengah, gak akan bisa nyebrang. Sedihnya…

  2. setahun gak naik sepeda motor kemarin aku jadi sempat tertib mengendarai motor dengan extra hati2… tapi hari kelima di jogja, adikku mengajarkan aku kembali cara nya zig zag, ngegas, dan berusaha tidak berhenti. (tapi bukan melanggar lampu merah)

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s