Wisuda

Saya sudah banyak menulis tentang wisuda. Wisuda adalah keberhasilan, mungkin hampir semua orang setuju itu. Wisuda adalah saat mana ucapan selamat tidak pernah mendapat penolakan dan kesenangan mendapat tempat yang seluas-luasnya.

Dari mana seorang saya diwisuda? Dari universitas mana selembar kertas bertuliskan gelar itu saya dapatkan? Ini adalah pertanyaan lain yang kadang muncul mengiringi wisuda. Meskipun tidak selalu diperdengarkan lewat kata-kata, pertanyaan ini tetap saja menjadi salah satu yang tidak bisa dihentikan.

Seorang kawan berkeluh kesah dan tenggelam dalam ketidakbanggaannya karena perguruan tempatnya menyelesaikan pelajaran bukanlah tempat idaman. Perguruannya yang tidak memiliki nama setenar dan semegah perguruan lain yang kemudian membuatnya jadi risau. Ini adalah hal biasa, terjadi di dalam sejarah manapun kehidupan seorang cendikia. Prestasi dan prestise perguruan adalah hal yang terbawa bahkan sampai ke liang lahat, kadang.

Seorang sahabat di jalan pencarian menasihatkan kepadanya, berguru adalah sesungguhnya berguru kepada alam untuk pencapaian sang diri. Alam dan diri adalah dua hal penting yang tidak terbelenggu sekat-sekat tinggi nama perguruan. Alam ada di manapun dan tidak pernah memilih dengan siapa dia bercengkrama. Alam, jika dia dijadikan guru, adalah guru yang paling murah hati kepada siapa kita bertanya dan mengeluh pada saat yang sama dan akan selalu tersenyum. Jika benar cara kita mendengar, maka selalu pujian dan dorongan semangat yang dia tebar. Berlajarlah dari alam karena alam adalah sistem yang, kata seorang empu, sudah paripurna. Dapatkan apa saja yang diinginkan dari alam dan berhasil membaca tanda-tanda alam adalah cikal bakal pencapaian.

Di satu sisi, diri adalah pribadi yang dimiliki dan dikendalikan oleh sang aku. Untuk membuatnya mencapai sesuatu, tidak ada yang lebih baik dan lebih hebat untuk mengendalikan dan mengarahkannya kecuali sang aku. Sang aku yang lebih mengenalnya. Dalam menuntut kanuragan kepada alam, diri memegang peranan keberhasilan. Ketika Sang aku bisa mengendalikannya, maka ini adalah bibit keberhasilan.

Ketika ada yang bertanya, di perguruan mana saya diwisuda. Angin akan berbisik memberi jawaban. Saya belajar dari alam dan bertanggungjawab pada sang aku. Dengan cara inilah sang diri mendapat kanuragan. Lupakan sekat-sekat perguruan, jangan biarkan perguruan menjadi identitas diri tetapi jadikanlah diri sebagai identitas perguruan. Pertanyaan lain yang lebih penting untuk dijawab adalah “Apa yang saya torehkan setelah wisuda?”.

The Leaders

I was, as usual, lost in the world of Internet last night. I let myself travel anywhere I like in the virtual world while my body was still there, stuck in front of my laptop.

I was surfing YouTube and was attracted by the video posted by John Howard, the Australian PM, concerning global warming. Unfortunately, for an unknown reason, I could not watch the video that has been in the news for quite a while. However, I managed to read all comments left by YouTubers regarding the video. From teens of comments I read, not even one comment expressing good impression. All comments are about cursing Howard. “Howard is an embarrassment to the Australians”, one visitor wrote.

This is to me not uncommon. I have been in Australia for about three years and it is very-very familiar to me to hear people cursing the PM. Simply speaking, it seems nobody likes him. I came up with a conclusion, one day, that he is really bad and Australians do not want him to be a PM anymore. However, the last election told the opposite. Howard was for once again elected. That’s the fact.

Another different story, but similar.
Sometime in 2003, one of my lecturers who is an American told us, the students, emotionally that if you want to be a leader in America, you have to be a fan of wars or at least you have to do several sexual harassment before election. That was, of course a sarcasm. FYI, Arnold was elected to be the Governor of CA and Bush was re-elected as the President of the US at that time. In her opinion as an American, these two men do not deserve place in the American leadership. However, that was the fact. We even still have Bush in the Oval Office until now, no matter how many soldiers he has sent to IRAQ. Happy or not that is the fact.

Similar to what happen to Howard, I always find people saying that they do not like Bush. But Bush is still there.

There must be something wrong, I guess. It seems to me that I do not belong to the majority group of people on earth. I am convinced that nobody likes Howard and Bush only because I read newspapers and Internet news. If both of the leaders were elected by their people, it is then apparent that people do like them. This means that A lot of people shouting in the virtual world are not the real representation of the people. They netters and those who claim themshelf as ‘intelectuals’, in fact, the minority, who are not really able to do much. They do not even have any strength to choose a leader they like. Of course, because the leader that [ordinary] people love is not the one these guys want.

It seems to me that I belong to the minority group. No matter how many places I have visited and how many books I have read about leadership, I am not the real representation of the people. They are the majority and they have stronger power to choose whom they like to be their leader.

Internet and books are such a limited and exclusive treasure of the world. I know you might not agree to what I’ve just said.

My place in Wollongong at Wikimapia

Notes: Please click arrows to slide and [-] or [+] to zoom out and in

How to have this kind of map in your blog?

  1. Visit http://www.wikimapia.org/
  2. Go to your desired place. Use search feature if required.
  3. When you find your place of interest, click Add place menu.
  4. Resize the box to match the size and location of your place of interest. Click save.
  5. Fill the form to describe your place of interest and save.
  6. Click Wikimapia menu and select Map on your page to get the code by which you can display the specified map in you own website (blog).
  7. Ensure that the box covers all areas you want and copy the HTML code.
  8. Paste the code into your website and enjoy.

Istimewa

Menonton film jadi salah satu hobby yang selama ini memberi banyak inspirasi. Kali ini kisahnya adalah tentang Mumble, Pinguin ‘aneh’ yang ditolak keberadaannya di lingkungannya. Kalau pingun pada umumnya suka dan pintar bernyanti, Mumble tidak bisa bernyanyi dan malah dia suka tapping. Itu lo, tarian dengan hentakan telapak kaki sehingga menimbulkan bunyi 🙂 Tapping di komunitas Mumble jelas dianggap bukan keterampilan, apalagi kelebihan. Singkat kata, Mumble dikucilkan dan diusir. Dia dituduh sebagai pembawa sial yang menyebabkan berkurangnya ikan di habitatnya untuk makanan pinguin.

Dalam perngembaraan yang menyentuh, banyak hal terjadi. Dimulailah pertemanan dengan penguin lain yang dijumpai dalam perjalanan. Ini mengisyaratkan tentang adanya peluang dan adanya persahabatan di saat susah sekalipun. Jika di suatu komunitas Mumble dikucilkan maka di komunitas lain, keterampilannya mengundang pujian. Begitulah hidup, kita tidak pernah boleh menghakimi sesuatu itu jelek secara absolut.

Film ini juga mengisahkan tentang keteguhan hati, keyakinan dan semangat dalam berjuang. Mumble yakin bahwa kepergiannya dari komunitasnya adalah untuk mencari jawaban, terutama jawaban atas berkurangnya populasi ikan di habitatnya. Dia yakin, ada aliens yang menyebabkan semua itu, yang tidak lain adalah manusia. Sangat menyentuh mendengarkan pinguin berdialog tentang manusia. Manusia dideskripsikan sedemikian menyeramkan, jahat dan serakah. Dari perspektif pinguin, deskripsi itu terdengar sangat logis 🙂

Singkat cerita, keterampilan Mumble ber-tapping jua yang akhirnya menyelamatkan dia dan kaumnya sesama pinguin. Mumble yang sempat tertangkap oleh manusia dan dimasukkan ke dalam Sea World menjadi perhatian penonton karena bisa tapping. Mumble pun akhirnya dilepas dengan dipasangi tracking device sebagai bagian dari riset manusia untuk memantau pinguin. Mumble akhirnya mempertemukan manusia yang peduli lingkungan dengan komunitas pinguin. Suasana menjadi dramatis ketika Mumble memimpin ribuan pinguin melakukan tarian tapping dan memukau makhluk manusia. Videonya ditayangkan di seluruh dunia dan ini membangkitkan kepedulian manusia akan keberlangsungan hidup pinguin. Begitulah Mumble yang semula aneh dan tidak diterima, kini menjadi pahlawan yang istimewa.

Surat Dukungan

Tersebutlah seorang lelaki biasa bernama “saya”. Saya adalah wujud dari masa lalu dan pastilah bayangan bagi masa depannya. Seorang saya hari ini mendapatkan surat dukungan. Surat yang pernah dimintanya dengan tertunduk malu-malu kepada Sang Guru yang dipujanya penuh seluruh. Malu dia akan kualitas dirinya yang dirasa tak seberapa. Malu dia karena surat kali ini adalah dukungan untuk berkhianat, untuk pergi mengikuti kata hatinya yang berseberangan dengan jalan Sang Guru. Saya hendak pergi ke tanah yang ditemukannya sendiri, berguru kepada alam yang baru dan menjadikannya harapan selama 36 purnama yang segera tiba.

Surat itu telah tiba. Surat dukungan itu didapatnya dalam kotak kayu tertutup. Dibacanya perlahan, terkejut ia menyaksikan isinya. Sang guru telah mengakuinya sebagai bintang berpijar yang bahkan lebih cemerlang dari mimpinya. Saya, kata Sang Guru, adalah cahaya yang dilahirkan waktu dan akan menerobos ruang-ruang gelap di masa depan.

Terima kasih Guru. Terima kasih telah menjadikan saya Bintang Kejora, yang bahkan lebih cemerlang dari yang pernah ia kira.

Beruntung

Jika ada seorang kawan yang memuji berlebihan, saya kadang berucap “Saya adalah orang yang beruntung, tidak lebih.” Kalimat ini membuat komunikasi kami jadi nyaman. Kalimat pamungkas ini saya artikan secara bebas dan tentunya juga diartikan secara bebas oleh kawan saya. Singkatnya, apapun makna yang diberikan oleh masing-masing, istilah “beruntung” ini sering menyelamatkan saya dari banyak persoalan.

Masih tentang keberuntungan,
Seorang kawan pernah bertanya akan pencapaian saya dan saya jawab. “Anda orang yang sangat beruntung.” begitu dia berujar dan tiba-tiba membuat saya tidak nyaman. “Apa yang Anda maksud dengan beruntung?” saya bertanya, entah dalam hati entah terlontar.

Tanpa atau dengan menunggu jawaban, saya punya pendapat sendiri tentang makna ucapan kawan ini. Jika “beruntung” yang dia maksud sama dengan yang saya maksud yaitu pertemuan antara “kesempatan” dengan “kemampuan”, maka saya akan menyetujui tanpa syarat. Namun, jika “beruntung” yang dia maksud bermakna sama dengan kata “beruntung” pada kalimat “Dia sih hanya beruntung saja.“, mungkin saya harus mengatakan ketidaksetujuan saya. Saya kira Anda bisa memahami ini dan mungkin juga sepaham dengan saya. Hati-hati menggunakan istilah “beruntung”.

Salah ukur

Ketika berbicara dengan seorang sahabat lama yang bahkan sudah menjadi saudara, ada kata-kata bijaksana yang diucapkan dan sempat terekam. “Yang penting adalah kemampuan kita mengukur diri”, begitu sang kawan berucap.

Dalam kesibukan dan kesombongan yang masih saja sering menghampiri, tidak mudah untuk setuju dan memahami apa yang diucapkannya ketika, sampai akhirnya saya mengerti. Saya mengerti bukan karena membaca buku tetapi, seperti biasa, dari membaca tanda jaman. Tanda jaman baru saja datang dan ternyata saya telah salah mengukur. Salah mengukur diri, dalam hal ini.

Sesuatu yang saya duga hebat melekat pada sang diri, ternyata lantak binasa dan jauh dari tegar hanya karena sapuan hujan. Sebaliknya, sesuatu yang semula saya hinakan dan saya ragukan keberadaannya, ternyata adalah penolong sejati di suatu ketika. Begitulah, saya yang adalah orang biasa kadang kala salah mengukur. Salah mengukur diri. Maafkan saya wahai sang diri, terima kasih atas pelajaran mengukur kedalaman hati hari ini.

Iklan Buku Google di YouTube

Melawan Diri

Ketika Arjuna dihinggapi keraguan di medan laga, Shri Krishna menasihatkan kepadanya bahwa perang sesungguhnya adalah perang melawan diri, melawan keangkuhan sang diri. Musuh tidak berada jauh dari kita tetapi di dalam kita sendiri. Kemenangan sejati tentunya adalah kemenangan atas diri sendiri, atas ego dan atas amarah yang seringkali justru mengendalikan.

Godaan untuk menunjukkan keakuan datang setiap saat menghampiri. Godaan inilah yang paling sering gagal kuhindari dan kulawan. Ketika warna-warna hidup bergelora menyertai pembuktian keakuan dan kebanggaan mejadi pajangan yang menjulang tinggi, saat itulah aku sering gagal menjadi sederhana dan apa adanya. Oh sang waktu, berikan ruangmu untukku dan kali ini kuminta tidak hanya satu karena kuragukan kesetiaanku untuk menekuni sumpahku. Berikan padaku beberapa ruang karena mungkin harus aku korbankan ruang-ruang pertama untuk pengkhianatanku.