Salah ukur


Ketika berbicara dengan seorang sahabat lama yang bahkan sudah menjadi saudara, ada kata-kata bijaksana yang diucapkan dan sempat terekam. “Yang penting adalah kemampuan kita mengukur diri”, begitu sang kawan berucap.

Dalam kesibukan dan kesombongan yang masih saja sering menghampiri, tidak mudah untuk setuju dan memahami apa yang diucapkannya ketika, sampai akhirnya saya mengerti. Saya mengerti bukan karena membaca buku tetapi, seperti biasa, dari membaca tanda jaman. Tanda jaman baru saja datang dan ternyata saya telah salah mengukur. Salah mengukur diri, dalam hal ini.

Sesuatu yang saya duga hebat melekat pada sang diri, ternyata lantak binasa dan jauh dari tegar hanya karena sapuan hujan. Sebaliknya, sesuatu yang semula saya hinakan dan saya ragukan keberadaannya, ternyata adalah penolong sejati di suatu ketika. Begitulah, saya yang adalah orang biasa kadang kala salah mengukur. Salah mengukur diri. Maafkan saya wahai sang diri, terima kasih atas pelajaran mengukur kedalaman hati hari ini.

Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s