Meremajakan cinta


Saya sekali waktu, bahkan sering, lupa tentang cinta. Cinta kepada istri, dan terutama cinta kepada ibu. Keseharian dan kebersamaan yang terlanjur biasa membuat semuanya seperti tidak istimewa. Ibu yang menyiapkan hidangan dengan cinta seakan melakukannya tanpa cinta karena terjadi tiga kali sehari. Istri yang menyiapkan dasi untuk ke kantor sepertinya tanpa cinta karena terjadi setiap pagi. Begitulah rutinitas kadang membuat seorang saya menjadi lupa.

Saya pernah lupa dengan cerita lama bahwa kalau tidak karena ketegaran bathin seorang ibu selama 9 bulan, seorang saya tidak akan pernah menikmati dunia. Lupa juga kalau tidak karena keringatnya menambang batu padas seorang saya tidak akan tersenyum dari lantai 7 menatap opera house di Sydney. Lupa…

Parahnya lagi, saya juga pernah lupa kalau istri adalah perempuan yang sama dengan yang pernah membuat dada saya pernah berdesir dan melihat genting rumahnya membuat saya seperti melayang. Lupa kalau dia adalah perempuan yang sama dengan yang pernah membuat saya tidak sabar menunggu rumah kos sepi sehingga bisa kami nikmati suasana yang menegangkan. Saya pernah lupa, tetapi harus selalu ingat lagi. Cinta memang perlu diremajakan.

Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s