Wisuda


Saya sudah banyak menulis tentang wisuda. Wisuda adalah keberhasilan, mungkin hampir semua orang setuju itu. Wisuda adalah saat mana ucapan selamat tidak pernah mendapat penolakan dan kesenangan mendapat tempat yang seluas-luasnya.

Dari mana seorang saya diwisuda? Dari universitas mana selembar kertas bertuliskan gelar itu saya dapatkan? Ini adalah pertanyaan lain yang kadang muncul mengiringi wisuda. Meskipun tidak selalu diperdengarkan lewat kata-kata, pertanyaan ini tetap saja menjadi salah satu yang tidak bisa dihentikan.

Seorang kawan berkeluh kesah dan tenggelam dalam ketidakbanggaannya karena perguruan tempatnya menyelesaikan pelajaran bukanlah tempat idaman. Perguruannya yang tidak memiliki nama setenar dan semegah perguruan lain yang kemudian membuatnya jadi risau. Ini adalah hal biasa, terjadi di dalam sejarah manapun kehidupan seorang cendikia. Prestasi dan prestise perguruan adalah hal yang terbawa bahkan sampai ke liang lahat, kadang.

Seorang sahabat di jalan pencarian menasihatkan kepadanya, berguru adalah sesungguhnya berguru kepada alam untuk pencapaian sang diri. Alam dan diri adalah dua hal penting yang tidak terbelenggu sekat-sekat tinggi nama perguruan. Alam ada di manapun dan tidak pernah memilih dengan siapa dia bercengkrama. Alam, jika dia dijadikan guru, adalah guru yang paling murah hati kepada siapa kita bertanya dan mengeluh pada saat yang sama dan akan selalu tersenyum. Jika benar cara kita mendengar, maka selalu pujian dan dorongan semangat yang dia tebar. Berlajarlah dari alam karena alam adalah sistem yang, kata seorang empu, sudah paripurna. Dapatkan apa saja yang diinginkan dari alam dan berhasil membaca tanda-tanda alam adalah cikal bakal pencapaian.

Di satu sisi, diri adalah pribadi yang dimiliki dan dikendalikan oleh sang aku. Untuk membuatnya mencapai sesuatu, tidak ada yang lebih baik dan lebih hebat untuk mengendalikan dan mengarahkannya kecuali sang aku. Sang aku yang lebih mengenalnya. Dalam menuntut kanuragan kepada alam, diri memegang peranan keberhasilan. Ketika Sang aku bisa mengendalikannya, maka ini adalah bibit keberhasilan.

Ketika ada yang bertanya, di perguruan mana saya diwisuda. Angin akan berbisik memberi jawaban. Saya belajar dari alam dan bertanggungjawab pada sang aku. Dengan cara inilah sang diri mendapat kanuragan. Lupakan sekat-sekat perguruan, jangan biarkan perguruan menjadi identitas diri tetapi jadikanlah diri sebagai identitas perguruan. Pertanyaan lain yang lebih penting untuk dijawab adalah “Apa yang saya torehkan setelah wisuda?”.

Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s