Indonesia Merdeka, Malaysia Merdeka

http://userserve-ak.last.fm/

Generasi lama bangsa ini menyebut Malaysia sebagai Adik Nusantara. Hal ini beralasan karena Malaysia memang berada di Nusantara dan berusia 12 tahun lebih muda dari Indonesia. Di tahun 70-an, konon banyak guru Indonesia yang dikirimkan ke (atau diminta oleh ) Malaysia untuk mengajar di sana. Banyak profesor yang kini ‘berkuasa’ di perguruan tinggi Malaysia konon adalah juga alumni dari Universitas Gadjah Mada. Ketika saya bertemu dengan seorang pakar dan profesional di perusahaan minyak asal Malaysia, beliau dengan tanpa canggung memuji kesaktian tim sepak bola Indonesia di awal tahun 80-an. Senada dengan itu, kapal angkatan laut Indonesia juga menjadi satu tontonan yang menakjubkan ketika beliau kecil. Sebuah kenangan yang kini entah di mana.

Indonesia kini berusia 62 tahun dan Malaysia menginjakkan kaki di usia 50 tahun. Keduanya dari dulu bertetangga dan berbagi banyak sekali kebudayaan yang sama. Namun begitu, tidak jarang keduanya juga dihadapkan pada suasana yang panas dan mencekam. Sebut saja di tahun 60-an, misalnya, perhatian dunia sempat tertuju pada Nusantara gara-gara Indonesia ingin “mengganyang Malaysia”. Ketegangan berlanjut saat adanya sengketa soal Pulau Sipadan dan Ligitan di Laut Sulawesi yang berakhir di tahun 2002 dengan “kemenangan” Malaysia. Tahun 2005, ketegangan kembali menghiasi hubungan kakak-adik ini dengan sengketa Ambalat di Laut Sulawesi yang hingga kini belum terselesaikan sempurna. Kedua tetangga ini memang berbagi banyak cerita suka dan duka.

Ketika keduanya mulai berusia, mungkin ada baiknya menilai pencapaian masing-masing sebagai indikator keberhasilan perjalanan bernegara. Banyak yang secara spontan menyatakan bahwa Malaysia telah mencapai sesuatu yang lebih tinggi dari Indonesia. Kalau yang dimaksud adalah menara kembar Petronas, tentunya tidak bisa disangkal 🙂

Tidak mudah untuk menilai secara pasti siapa yang lebih maju sesungguhnya. Kemajuan tentu saja tidak bisa dilihat hanya dari jumlah gedung tinggi dan panjangnya jalan aspal yang berhasil diwujudkan. Pembangunan harus dilihat secara lebih komprehensif.

Continue reading “Indonesia Merdeka, Malaysia Merdeka”

Mengintip dari tetangga

Tidak sering ada kesempatan melihat gemulai tubuh milik sendiri dari rumah tetangga. Maka darinya, ketika ada waktu, aku gunakan sebaik-baiknya. Hari ini aku mengintip keindahan itu dari rumah tetangga, dari mana dapat aku saksikan setiap lekuk dan liku yang kini nampak asing.

Mengintip keindahan bahkan kesemrawutan sendiri dari rumah tetangga perlu dilakukan, setidaknya untuk melihat sesuatu dengan mata yang lebih jauh dan lebih jernih.

Mengiris bawang

[Satu alasan mensyukuri Indonesia]

Banyak yang berucap pada saya, alangkah senangnya tinggal di luar negeri. Bertemu salju, lalu lintas teratur dan tanpa korupsi. Masyarakat juga tertib, meraka terbiasa antri, tidak main serobot ketika menunggu kendaran umum atau beli sayur di pasar. Singkat kata, banyak yang ‘melihat ke atas’ ketika berbicara tentang luar negeri. Tentu saja yang dimaksud luar negeri adalah negara maju, tidak termasuk Timor Leste, misalnya, yang mungkin tidak sebaik bangsa kita situasinya.

Mendapat komentar seperti itu, saya umumnya setuju. Memang banyak hal yang positif dan lebih baik di luar negeri. Namun begitu, kenikmatan itu bukanlah sesuatu yang tidak perlu dibayar. Banyak kompensasi lain yang harus dijadikan penukar kenikmatan.

Malam ini saya mengupas bawang. Besok ada acara makan-makan kecil bersama beberapa kawan yang tinggal di Sydney dan Wollongong. Seperti orang yang mengupas bawang umumnya, saya bercucuran air mata. Setelah itu masih harus menggoreng bawang merah dan putih untuk dijadikan sambal. Besok kami akan membuat lawar, sayur khas Bali. Jujur saja, menggoreng bawang bukan pekerjaan mudah untuk seorang saya. Nyala api harus pas, jumlah minyak tepat dan terutama observasi waktu tidak boleh meleset. Salah sedikit bisa bubar. Sedikit saja saya lengah, bawang pasti gosong dan itu artinya harus membeli bawang lagi. Bawang merah bukan sesuatu yang murah di Australia.

Di tengah cucuran air mata dan ketegangan saat memantau teflon berisi irisan bawang yang menari di genangan minyak yang berisik, saya berpikir tentang Indonesia kita. Alangkah nyamannya hidup di Indonesia, saya pikir. Saya bukanlah orang berpenghasilan tinggi, tetapi setidaknya saya tidak harus mengiris dan menggoreng bawang sendiri kalau mau menikmati lawar sehingga saya bisa bermain dengan anak atau menyelesaikan satu dua artikel untuk publikasi. Saya juga sebenarnya bukan orang yang sangat malas, tetapi harga bawang iris per-kilo memang di bawah 10 ribu sehingga saya memang tidak perlu sok rajin mengiris sendiri. Sepuluh ribu ini sama dengan AUD 1.3, sementara bawang di sini harganya selangit.

Satu batang sere saja bisa berharga 1.5 dolar (12 ribu rupiah). Ingat ini satu batang, bukan satu ikat 😦 Setelah membeli satu batang sere, saya harus memanfaatkannya hingga lapisan terluar agar irit dan masih harus mengiris meracik dan menggoreng sendiri ketika ingin menikmati sambal sere. Ini adalah hal yang barangkali tidak akan terjadi kalau saya di Indonesia. Ini bukan karena saya sok priyayi tetapi karena ada alasan ‘mulia’ sehingga ‘Mbak Nem’ bisa mengerjakan semuanya dengan senang hati. Ketika tidak harus menggoreng sambal, saya tentu saja bisa menyapa tetangga atau membaca lebih banyak buku. Setidaknya teorinya begitu.

Saya tidak menyangkal di luar negeri memang banyak baiknya dan di negeri kita banyak jeleknya. Saya hanya mencoba melihat dari sisi lain. Pengalaman hidup setelah tinggal di negeri orang membuat saya bersyukur menjadi orang Indonesia. Bersyukur dalam konteks ini adalah dalam rangka membangun kepercayaan diri sebagai anak bangsa yang tidak semestinya selalu mengeluh, kecewa dan mengumpat. Indonesia adalah juga tempat yang layak dihuni dengan senyum syukur. Bawang hanyalah satu saja contoh sederhana.

Ide untuk Sinetron Indonesia

Saya bukan penggemar sinetron. Menonton saja jarang sekali, apalagi ketika tidak berada di tanah air. Sinetron, apa tuh?

Cukup lama saya berpikiran bahwa sinetron itu bukan tontonan ‘mutu’, tidak untuk kaum [yang sok] intelektual seperti beberapa kawan yang saya kenal. Singkat kata, sinetron bukan tontonan bergengsi untuk kalangan berpendidikan. Tapi itu dulu. Sekarang? Ya kadang-kadang masih sama he he he.

Betapapun banyaknya kawan saya yang merasa intelek meyakinkan saya bahwa sinetron itu ‘haram’ (ingat, ini pakai tanda petik lo) untuk ditonton, tetap saja sinetron menjadi keseharian saya, setidaknya waktu masih di Jogja. Hampir semua orang rumah suka sinetron. Ibu mertua adalah yang paling getol. Asti, istri saya, tidak terlalu menunjukkan kesukaannya walaupun saya tahu dia suka. Mungkin karena ‘gengsi’ mengingat saya sering tersenyum-senyum menyaksikan mereka berserah diri di depan TV 🙂

Sengaja atau tidak, sekali waktu saya menonton sinetron juga. Lupa juga kadang dengan ‘prinsip hidup’, dan tanpa terasa bisa terbawa walaupun tidak mungkin menangis karenanya 🙂 Menangis karena sinetron, tidak lah! Lebih baik menangis menyaksikan Nagabonar jadi dua yang nasionalis abis.

Apapun kualitasnya, sinetron telah menjadi tontonan laris di Indonesia. Suka atau tidak suka, dia telah memainkan peranan penting dalam membentuk karakter anak-anak muda kita. Lihatlah gaya anak sekolahan di sinetron kita. Saya tidak akan mengatakan mereka generasi bobrok, misalnya seperti dikatakan teman saya. Setidaknya saya setuju bahwa gaya hidup anak muda sekarang sangat jauh berbeda dengan kami dulu. (Kalau yang menulis ini adalah orang kelahiran 60-an, tentu akan sama juga ‘menghina’ generasi saya yang lahir taun 70-an, sama saja). Masalahnya, hampir semua yang di sinetron ini menggambarkan kehidupan di Jakarta. Gaya hidup itu menjadi ‘role model‘ bagi orang di kampung saya juga. Setiap orang bisa dengan fasih mengucapkan ‘kasihan deh lu‘. Ini pasti, salah satunya, karena sinetron. Kearifan lokal teracam mati karena semua orang berkiblat ke Jakarta.

Karena saya tidak mungkin mengatakan “hentikan sinetron dan ganti dengan tayangan ilmu pengetahuan“, maka ada kompromi yang mungkin bisa dipertimbangkan. Berikut ini beberapa gagasan untuk adegan sinetron Indonesia.

  1. Masukkan unsur pembelajaran teknologi. Caranya gampang, bikin suatu adegan pendekatan seorang cowok terhadap cewek di mana cowok mengajari ceweknya setting telkomnet instan. Bila perlu silahkan masukkan adegan pegang tangan karena harus membantu menggerakkan mouse. Tapi ingat, sampaikan cara setting internet yang detail sehingga penonton juga belajar. Saat yang sama munculkan seorang ibu/nenek yang kuper dan ngerecoki seraya bertanya, “Ini sedang apa sih?”. Biarkan cowoknya menjelaskan internet itu apa, dengan bahasa yang sederhana sehingga dimengerti orang tua yang awam. Ketika menulis ini saya teringat ibu dan ibu mertua saya. Sebagai penggemar sinetron, mereka juga harus bisa memahami internet secara umum.
  2. Masukkan unsur pelajaran sekolah. Jangan hanya menampilkan adegan pacaran yang sarat dengan perseteruan cowok dan cewek karena memperebutkan pasangan. Tambahi juga cowok yang jadi idola karena dia pintar fisika atau matematika. Sampaikan secara eksplisit penerapan fisika dalam kehidupan sehari hari. Misalnya, sampaikan adegan seorang cowok mengajari ceweknya PR fisika tentang Torsi. Untuk membuktikan bahwa T akan membesar seiring bertambahnya jarak, tunjukkan lelaki itu membuka pintu dengan menggunakan telunjukknya dan dia melakukan eksperimen di beberapa titik yang jauh dan dekat dari engsel. “Terbukti kan, kalau tangan kita jauh dari engsel, buka pintu akan lebih mudah!”, ini salah satu kalimat cowoknya.
  3. Sampaikan pesan sosial seperti kebiasaan ngantri, buang sampah pada tempatnya, tidak melanggar aturan dsb. Lihat Nagabonar jadi dua. Ini contoh yang baik.
  4. Sampaikan pesan menyangkut isu hangat. Misal tentang kasus batas maritim. Misalnya si cewek main ke tempat cowoknya yang pamannya ternyata adalah ahli hukum internasional dan hukum laut. Beri adegan di mana ahli hukum itu menjelaskan kasus Ambalat, misalnya, kepada anak-anak muda dengn bahasa yang mudah dimengerti awam.
  5. Masukkan unsur pemahaman geospasial. Kalau pergi ke mana-mana dan tersesat, tokohnya harus dibiasakan melihat peta, bukan selalu bertanya pada orang. Buat adegan sedemikian rupa biar ada penjelasan bagaimana menggunakan peta yang baik.
  6. Tunjukkan pemanfaatan Google Earth (GE) dan Google Maps (GM), menjelajah dunia secara virtual. Misalnya cowok berburu alamat cewek kenalannya, bisa menggunakan GE atau GM.
  7. dan banyak lagi…. Anda mau lagi? bayar dulu dong. Ide kan harus dihargai he he he

Selamat menonton sinetron yang memintarkan.

Wikimapia: Mendeskripsikan Bumi dan Membumikan Deskripsi

Dalam pemanfaatan dan penjelajahan informasi, posisi memegang peranan yang sangat penting. Sebuah berita umumnya mengandung satu komponen penting yaitu lokasi (Where) selain 4 W dan 1 H lainnya (What/Who, When, Why, How). Komponen lokasi (Where) akan dibahas lebih jauh dalam tulisan ini. Berita tentang kejadian tertentu seperti bencana, kejahatan, pementasan, rencana event dan sebagainya akan mensyaratkan lokasi sebagai unsur penting.

Dengan apa lokasi dijelaskan? Yang umum digunakan adalah penjelasan deskriptif. Dalam sebuah berita atau informasi posisi dijelaskan dengan kata-kata yang mendeskripsikan daerah administrative (nama desa, kecamatan, kabupaten), atau tanda geografi khusus (land mark) seperti nama jalan, monumen, gedung terkenal dan lain sebagainya. Tempat kejadian dalam suatu berita biasanya diasosiasikan dengan daerah administrasi atau land mark tersebut.

Cara lain untuk menyatakan lokasi tentu saja adalah dengan peta. Koran atau majalah, misalnya, sering melengkapi berita dengan peta yang menggambarkan lokasi terjadinya sesuatu. Demikian pula dengan berita online, peta juga sering digunakan. Persoalannya, peta yang ditampilkan pada media online seringkali bersifat statis karena hanya berupa gambar (jpeg, bmp, png, gif, dll) yang disisipkan bersama teks. Masalah lain, bagi penyedia berita non-profesional, misalnya penulis blog, menggambar peta tentu saja bukan sesuatu yang mudah. Jikapun bisa, banyak yang tidak memiliki waktu untuk menggambar peta untuk setiap kejadian yang ingin diberitakan. Kalaupun bisa mendapatkan gambar peta di internet, seringkali gambar tersebut tidak secara tepat menggambarkan lokasi penting yang diinginkan. Bagaimana bisa melengkapi berita dengan peta secara mudah, gratis dan interaktif? Mari kita simak.

Salah satu solusi untuk ini adalah http://www.wikimapia.org/, sebuah situs pemetaan menggunakan data Google Maps (GM), yang diluncurkan bulan Mei 2006. GM (http://maps.google.com) sendiri hadir dengan cara pandang baru terhadap data keruangan bumi (geospasial). Dia memungkin pengguna internet menjelajah dunia secara virtual dengan citra satelit yang menggambarkan permukaan bumi sesungguhnya. Anda bisa terbang dari atas Prambanan melesat menuju Sydney Opera House dan sekejap kemudian melintasi Eifel Tower di Perancis. Semuanya mudah, menyenangkan dan yang paling menarik: gratis!

Mari kita kembali ke Wikimapia. Karena menggunakan data GM, Wikimapia memiliki data untuk seluruh dunia berupa peta dan citra satelit. Dengan Wikimapia, Simpang Lima Semarang, misalnya, akan terlihat dengan sangat jelas. Dengan Wikimapia, pengguna internet bisa memberi label untuk setiap tempat di permukaan bumi. Karena itulah Wikimapia mengusung slogan ”Mari deskripsikan seluruh dunia”, ”let’s describe the whole world”. Melalui Wikmapia, setiap orang bisa berkontribusi memberi keterangan untuk setiap tempat di seluruh dunia, mulai dari yang monumental seperti tujuh keajaiban dunia versi baru yang kontroversial, hingga tempat kos Paijo di Pogung Kidul Yogyakarta atau rumah Pak Wayan di Desa Tegaljadi yang terpencil di Bali. Sepanjang data tersebut ada di Google Maps, semuanya bisa. Inilah yang saya sebut dengan mendeskripsikan bumi.

Selain untuk mendeskripsikan bumi, Wikimapia juga bisa digunakan untuk melengkapi berita degan informasi kebumian, dalam hal ini keterangan lokasi. Jika Anda seorang blogger atau penglola website profesional, Anda pasti sering bercerita tentang tempat, baik itu tempat penting lokasi penelitian, negosiasi internasional atau sekedar tempat Anda bertemu pertama kali dengan kekasih hati. Apapun itu, places do matter. Semua tempat itu penting, tergantung konteks sejarahnya.

Anda bisa menampilkan peta yang sudah Anda deskripsikan melalui Wikimapia di website atau blog Anda dengan mudah. Misalnya Anda sedang bercerita tentang tempat piknik kantor minggu lalu, lokasi pusat gempa dan bencana lainnya, atau lokasi demonstrasi mahasiswa atau sekedar lokasi yang menurut Anda romantis, Anda bisa menunjukkannya di Wikimapia dan kemudian menampilkannya di website atau blog. Inilah yang saya sebut sebagai membumikan deskripsi, deskripsi tekstual yang dilengkapi dengan informasi geospasial. Bagaimana caranya?

  1. Kunjungi http://www.Wikimapia.org sehingga anda melihat tampilah citra satelit dunia.
  2. Jika perlu, Anda bisa registrasi untuk mendapat hak yang lebih dari pengunjung biasa, misalnya mengubah deskripsi tempat yang sudah dibuat orang lain. Klik menu Wikimapia dan pilih Login/Register
  3. Cari tempat yang Anda inginkan. Bisa juga menggunakan fasilitas ”search” untuk mencari kota atau propinsi tempat yang Anda maksud.
  4. Tentukan tingkat kedetailan tampilan dengan mengatur perbesaran (zoom in atau out) menggunakan tanada [-] atau [+] di kiri atas.
  5. Tambahkan deskripsi dengan terlebih dulu menandai tempat yang Anda inginkan dengan menu Add Place sehingga akan muncul segi empat. Geser dan sesuaikan ukurannya sedemikian rupa sehingga melingkupi lokasi yang diinginkan. Klik save untuk menuliskan deskripsi. Tentukan bahasa, kategori lokasi dan tulis keterangan lain yang kira-kira berguna bagi pengunjung lainnya. Klik save untuk menyimpan. Anda baru saja mendeskripsikan satu tempat di permukaan bumi.
  6. Geser tampilan citra satelit sedekimian rupa sehingga tempat yang sudah Anda deskripsikan berada tepat di pusat layar, ditandai dengan tanda ”tambah” [+].
  7. Untuk menampilkannya di website atau blog, klik menu Wikimapia dan pilih Map on your page sehingga muncul segi empat agak besar. Apa yang akan muncul di website Anda adalah yang di dalam kotak tersebut. Geser dan sesuaikan ukuran kotak sehingga melingkupi daerah yang Anda maksud.
  8. Selain muncul kotak, akan muncul juga kode HTML untuk menampilkan peta ini di website Anda. Kode ini akan nampak seperti
    <iframe src=”http://wikimapia.org/s/…frameborder=”&gt;</iframe>
  9. Salin kode tersebut dan tempelkan di website/blog sebagai kode HTML. Biasanya kode ini untuk melengkapi berita/informasi teks yang sudah ditulis sebelumnya.
  10. Kini Anda memiliki suatu berita di website/blog yang dilengkapi lokasi kejadian dalam bentuk citra satelit interaktif. Pengunjung bisa memperbesar dan memperkecil tampilan, termasuk bisa menggeser menuju tempat yang inginkan. Gambar dalam artikel ini, misalnya, menunjukkan Wikimapia yang menampilkan Simpang Lima Semarang.

Meskipun memiliki banyak keistimewaan, Wikimapia juga memiliki kelemahan. Adanya banyak segi empat tumpang tindih akibat banyaknya orang yang mendeskripsikan tempat menyebabkan tampilan yang kurang cantik. Masalah lain adalah keterangan teks akan muncul kalau diklik dan itu akan menyebabkan browser ‘lari’ menuju website Wikimapia, meninggalkan website/blog tempat peta itu dipasang.

Meski demikian, ada banyak jalan menuju Roma. Dalam artikel lain akan kita lihat alternatif lain untuk menampilkan peta tanpa kedua masalah tersebut. Tunggu saja 🙂

Google Maps API

Interested in making this kind of map in your website?
Ask me
how! 🙂 Free tutorial for you 🙂

Menghafalkan dialog film

Entah sejak kapan, menghafalkan dialog film-film yang saya tonton menjadi kebiasaan. Kalau ada lomba menghafalkan dialog film Ada Apa dengan Cinta, misalnya, mungkin saya mau mendaftar dan bisa jadi menang 🙂 Cerita ini tentu saja bukan tentang AADC, tapi tentang kebiasaan menghafalkan dialog film. Saya akan mencoba menghafalkan, secara alami, bagian dialog yang saya anggap menarik dan memiliki pesan moral yang penting.

Ketika menonton, Independence day, misalnya, saya pasti tertarik menghafalkan pidato motivasi Presiden Amerika di atas truk ketika menyemangati para pilot yang akan bertempur. Adegan itu bagi saya mengandung pesan semangat yang luar biasa. Maka dari itu saya menghafalkannya. Hal yang sama terjadi untuk The American President ketika Prsiden Shepard memberikan tanggapan di sebuah konferensi pers. Pidatonya sangat menyentuh dan merupakan adegan pamungkas yang berkesan. Nothing can stop me from menghafalkan dialog itu. Yang lain adalah di A Few Good Men, ketika Caffey menginterogasi Kolonel Jessup dan sang kolonel melakukan pembelaan.

Untuk apa menghafalkan dialog-dialog itu?
Saya juga tidak tahu persis untuk apa. Yang jelas ketika saya bersepeda ke kampus, saya akan mengucapkan dialog itu sambil bersepeda. Lumayan untuk membunuh waktu, abis satu adegan, saya sampai di kampus tanpa terasa. Ketika ngajar di kelas, misalnya, saya bisa meniru sempurna pidato Presiden Amerika di Independence day, untuk membuat mahasiswa terbebas dari rasa ngantuk. Selain itu, saya percaya bahwa kuliah saya jadi lebih menarik dengan hal-hal yang tidak ada kaitannya dengan pelajaran.

Lord of the Gmail: One email to rule them all

Suara Merdeka, 23 Juli 2007

Membaca judul tulisan ini, saya harap pembaca akan teringat dengan salah satu buku dan film terlaris beberapa tahun belakangan ini: Lord of the Rings. Tidak banyak kaitannya dengan email, kata-kata dalam film tersebut “One ring to rule them all”, satu cincin untuk mengendalikan semuanya, saya rasa adalah predikat yang tepat diberikan pada Gmail yang akan saya bicarakan dalam tulisan ini.

Gmail, barangkali sebagian besar orang sudah tahu. Meskipun usianya belum lima tahun, Gmail telah mensejajarkan diri dan mungkin bahkan melampaui pamor kakak-kakak pendahulunya seperti Yahoo, Hotmail dan Eudora. Salah satu gebrakan email adalah dengan memberi kuota hingga hampir 3 GB untuk satu akun. Kuota itu bahkan terus bertambah setiap saat menjadi seakan tidak terbatas. Hal lain adalah kemampuan Gmail untuk mengelompokkan email dengan topik (subyek) sama menjadi satu email dan disusun dalam bentuk percakapan dengan kronologi yang teratur. Untuk pembicaraan di milis, metode pengelompokan seperti ini sangat efektif karena akan membuat seorang anggota milis terhindar dari pemberian komentar yang ‘tidak nyambung’ atau mengulang komentar yang tidak perlu. Hal ini karena satu subyek terkelompok jadi satu email sehingga memudahkan dalam menyimak alur pembicaraan anggota milis lainnya berdasarkan urutan waktu.

Tulisan saya ini tentu saja bukan iklan Gmail karena memang saya tidak dibayar oleh Google sebagai pemilik Gmail. Ini adalah catatan seorang pengguna yang telah memakai Gmail selama lebih dari 3 tahun. Dari pengalaman, banyak hal-hal menarik seperti kemampuan Gmail untuk memangkas spam yang sangat baik dan adanya iklan relevan dengan isi email. Kalau seorang pengguna mendapatkan email dari kawannya tentang Global Positioning System (GPS), misalnya, maka iklan teks (kalaupun ada) yang menyertai email itu juga terkait GPS. Itupun diposisikan dengan rapi tanpa mengganggu email utama.

Meski demikian, free email tetap saja free email. Banyak pengguna yang tidak mau menggunakan Gmail karena free email. Hal ini tentu saja memang tidak baik dilihat dari segi citra, terutama ketika komunikasi dilakukan atas nama suatu institusi. Tentu saja kurang patas kalau seorang dosen UGM, misalnya, berkomunikasi perihal kerjasama riset dengan professor di luar Negeri menggunakan Gmail. Di satu sisi, email institusi seperti email universitas atau kantor swasta kadang memiliki dua masalah utama yaitu kuota yang tidak besar dan kemampuan mengelola spam yang tidak handal. Tentu saja tidak semuanya seperti itu, tetapi ini menjadi masalah yang umum terjadi. Dalam situasi seperti ini, rasanya akan sangat melegakan jika ada suatu solusi yang memungkinkan kita menggunakan email dengan akun institusi resmi (universitas, perusahaan, organisasi, dll) tetapi sekaligus memiliki kuota yang sangat besar dan mampu mengelola spam seperti halnya Gmail. Sementara itu, kita juga tidak ingin mengelola banyak akun sekaligus karena tidak praktis. Ada empat isu utama yang kita hadapi: kuota, spam, identitas dan kepraktisan.

Untuk mengatasi keempat masalah inilah artikel ini ditulis. Ini adalah tentang menjadikan Gmail sebagai email universal kita. “One email to rule them all.”

Gmail memungkinkan penggunanya untuk mengirimkan email, seolah-olah dari sebuah akun tertentu. Dalam hal ini Anda bisa mengirim email dari Gmail tetapi penerima akan MELIHAT email tersebut dari akun kantor/universitas Anda (misal ugm.ac.id) termasuk me-reply ke email Anda tersebut. Isu identitas,TERATASI. Selain itu, Gmail juga mampu berfungsi sebagai POP3 client layaknya outlook dan kawan-kawan sehingga email di akun lain (perusahaan/universitas/organisasi atau email gratis lainnya seperti telkomnet atau akun lain yang mendukung POP3) bisa ditarik ke Gmail. Dengan ditariknya semua email ke Gmail maka semua yang berbau spam akan dibabat oleh Gmail, ditempatkan di folder spam. Dengan ini pula isu kuota secara otomatis tidak ada karena kuota Gmail hampir 3 GB.

Pertanyaan teknisnya adalah bagaimana Caranya? Silahkah simak penjelasan berikut.

Mendaftarkan akun Anda di Gmail dan mengirimkan email.

  1. Tentunya Anda harus memiliki akun Gmail terlebih dulu. Dapatkan dengan cuma-cuma di http://www.gmail.com.
  2. Lakukan login kemudian klik Settings (pojok kanan atas)
  3. Klik tab Accounts
  4. Ada dua pilihan utama yaitu ‘ Send mail as:‘ dan ‘Get mail from other accounts:’
  5. Pada pilihan ‘Send mail as:‘ klik “Add another email address” untuk menambahkan akun lain sehingga dikenal oleh Gmail. Akan diminta memasukkan nama dan alamat email yang akan didaftarkan (misal yahoo.com, ugm.ac.id, atau lainnya) kemudian melakukan verifikasi.
  6. Pada akun email yang didaftarkan, akan ada email masuk untuk verifikasi. Lakukan verifikasi.
  7. Akun Anda kini sudah dikenal oleh Gmail.
  8. Pada saat mengirim email dari Gmail akan ada pilihan untuk “from”. Anda bisa memilih dari mana email itu dikirim. Pilih akun yang diinginkan, misal madeandi@ugm.ac.id. Selanjutnya caranya sama, mengisi “to” dan “subject.”

Menarik semua email di akun lain ke Gmail

  1. Klik Setting dan kemudian pilih tab Accounts
  2. Sekarang gunakan pilian kedua yaitu Get mail from other accounts:
  3. Klik “Add another mail account”,
  4. Masukkan email misal: madeandi@ugm.ac.id >> Next step
  5. Masukkan username dan password serta POP server: misal mail.ugm.ac.id
  6. Bisa juga ditambahi pilihan apakah meninggalkan salinan (copy) di server asli atau tidak dan beberapa pilihan lain sesuai selera termasuk mengumpulkan semua email yang dari akun tersebut pada forlder (pada Gmail dikenal istilah label) tertentu.
  7. Jika email yang dimaksud tidak mendukung POP3 tetapi mempunyai fitur forward, bisa juga setting dilakukan pada email yang bersangkutan dan semua email masuk diforwad ke Gmail.
  8. Selesai dan beres.

Kini Gmail bisa menjadi akun universal Anda. Praktis, satu akun untuk semua. One email to rule them all. Empat isu penting akan teratasi dengan ini: IDENTITAS, KUOTA, SPAM dan KEPRAKTISAN.

Masih terkait dengan identitas, bagaimana jika Anda memiliki domain dan email sendiri. Katakan misalnya Anda memiliki perusahaan atau organisasi dengan domain sendiri serta memberi jatah untuk akun email. Tentu bisa diduga, kuota yang disediakan tidak besar. Di sisi lain, misalnya, Anda tetap ingin menggunakan akun pada domain tersebut karena alasan identitas. Selain dengan cara di atas, Anda juga bisa menjadikan Gmail sebagai hosting email Anda. Dengan kata lain, Anda tetap menggunakan email perusahaan Anda tetapi sesungguhnya pengelolaannya dengan Gmail sehingga mendapat semua fasilitas/fitur gmail. Caranya, Anda harus mendaftarkan di Google Apps (https://www.google.com/a/Home). Fasilitas ini memang masih beta dan dalam pengujian. Jika memenuhi kriteria, Google akan menghubungi Anda dan Anda bisa memulai membuat akun email untuk orang-orang di institusi Anda dengan domain sendiri tetapi memiliki fasilitas/fitur Gmail.

Tanpa bermaksud mempromosikan satu produk tertentu karena memang tidak ada kesepakatan apapun dengan Google, Gmail saya kira layak untuk dicoba. Jadikan dia akun universal Anda, seperti judul tulisan ini, one email to rule them all.

Meremajakan cinta

Saya sekali waktu, bahkan sering, lupa tentang cinta. Cinta kepada istri, dan terutama cinta kepada ibu. Keseharian dan kebersamaan yang terlanjur biasa membuat semuanya seperti tidak istimewa. Ibu yang menyiapkan hidangan dengan cinta seakan melakukannya tanpa cinta karena terjadi tiga kali sehari. Istri yang menyiapkan dasi untuk ke kantor sepertinya tanpa cinta karena terjadi setiap pagi. Begitulah rutinitas kadang membuat seorang saya menjadi lupa.

Saya pernah lupa dengan cerita lama bahwa kalau tidak karena ketegaran bathin seorang ibu selama 9 bulan, seorang saya tidak akan pernah menikmati dunia. Lupa juga kalau tidak karena keringatnya menambang batu padas seorang saya tidak akan tersenyum dari lantai 7 menatap opera house di Sydney. Lupa…

Parahnya lagi, saya juga pernah lupa kalau istri adalah perempuan yang sama dengan yang pernah membuat dada saya pernah berdesir dan melihat genting rumahnya membuat saya seperti melayang. Lupa kalau dia adalah perempuan yang sama dengan yang pernah membuat saya tidak sabar menunggu rumah kos sepi sehingga bisa kami nikmati suasana yang menegangkan. Saya pernah lupa, tetapi harus selalu ingat lagi. Cinta memang perlu diremajakan.

Kembalinya si HP hilang

Seorang kawan kehilangan HP-nya entah di mana di sekitar Wollongong. Kehilangan HP tentu saja merepotkan terutama karena “harta karun” yang disimpannya. Saya yang pernah mengalami hal yang sama langsung menasihatkan sesuatu. HP-nya kini telah kembali.

Kalau Anda ingin tahu apa yang saya nasihatkan ke kawan ini, Anda perlu membaca cerita saya hampir 3 tahun yang lalu. Silahkan baca Many good men.