Ide untuk Sinetron Indonesia


Saya bukan penggemar sinetron. Menonton saja jarang sekali, apalagi ketika tidak berada di tanah air. Sinetron, apa tuh?

Cukup lama saya berpikiran bahwa sinetron itu bukan tontonan ‘mutu’, tidak untuk kaum [yang sok] intelektual seperti beberapa kawan yang saya kenal. Singkat kata, sinetron bukan tontonan bergengsi untuk kalangan berpendidikan. Tapi itu dulu. Sekarang? Ya kadang-kadang masih sama he he he.

Betapapun banyaknya kawan saya yang merasa intelek meyakinkan saya bahwa sinetron itu ‘haram’ (ingat, ini pakai tanda petik lo) untuk ditonton, tetap saja sinetron menjadi keseharian saya, setidaknya waktu masih di Jogja. Hampir semua orang rumah suka sinetron. Ibu mertua adalah yang paling getol. Asti, istri saya, tidak terlalu menunjukkan kesukaannya walaupun saya tahu dia suka. Mungkin karena ‘gengsi’ mengingat saya sering tersenyum-senyum menyaksikan mereka berserah diri di depan TV 🙂

Sengaja atau tidak, sekali waktu saya menonton sinetron juga. Lupa juga kadang dengan ‘prinsip hidup’, dan tanpa terasa bisa terbawa walaupun tidak mungkin menangis karenanya 🙂 Menangis karena sinetron, tidak lah! Lebih baik menangis menyaksikan Nagabonar jadi dua yang nasionalis abis.

Apapun kualitasnya, sinetron telah menjadi tontonan laris di Indonesia. Suka atau tidak suka, dia telah memainkan peranan penting dalam membentuk karakter anak-anak muda kita. Lihatlah gaya anak sekolahan di sinetron kita. Saya tidak akan mengatakan mereka generasi bobrok, misalnya seperti dikatakan teman saya. Setidaknya saya setuju bahwa gaya hidup anak muda sekarang sangat jauh berbeda dengan kami dulu. (Kalau yang menulis ini adalah orang kelahiran 60-an, tentu akan sama juga ‘menghina’ generasi saya yang lahir taun 70-an, sama saja). Masalahnya, hampir semua yang di sinetron ini menggambarkan kehidupan di Jakarta. Gaya hidup itu menjadi ‘role model‘ bagi orang di kampung saya juga. Setiap orang bisa dengan fasih mengucapkan ‘kasihan deh lu‘. Ini pasti, salah satunya, karena sinetron. Kearifan lokal teracam mati karena semua orang berkiblat ke Jakarta.

Karena saya tidak mungkin mengatakan “hentikan sinetron dan ganti dengan tayangan ilmu pengetahuan“, maka ada kompromi yang mungkin bisa dipertimbangkan. Berikut ini beberapa gagasan untuk adegan sinetron Indonesia.

  1. Masukkan unsur pembelajaran teknologi. Caranya gampang, bikin suatu adegan pendekatan seorang cowok terhadap cewek di mana cowok mengajari ceweknya setting telkomnet instan. Bila perlu silahkan masukkan adegan pegang tangan karena harus membantu menggerakkan mouse. Tapi ingat, sampaikan cara setting internet yang detail sehingga penonton juga belajar. Saat yang sama munculkan seorang ibu/nenek yang kuper dan ngerecoki seraya bertanya, “Ini sedang apa sih?”. Biarkan cowoknya menjelaskan internet itu apa, dengan bahasa yang sederhana sehingga dimengerti orang tua yang awam. Ketika menulis ini saya teringat ibu dan ibu mertua saya. Sebagai penggemar sinetron, mereka juga harus bisa memahami internet secara umum.
  2. Masukkan unsur pelajaran sekolah. Jangan hanya menampilkan adegan pacaran yang sarat dengan perseteruan cowok dan cewek karena memperebutkan pasangan. Tambahi juga cowok yang jadi idola karena dia pintar fisika atau matematika. Sampaikan secara eksplisit penerapan fisika dalam kehidupan sehari hari. Misalnya, sampaikan adegan seorang cowok mengajari ceweknya PR fisika tentang Torsi. Untuk membuktikan bahwa T akan membesar seiring bertambahnya jarak, tunjukkan lelaki itu membuka pintu dengan menggunakan telunjukknya dan dia melakukan eksperimen di beberapa titik yang jauh dan dekat dari engsel. “Terbukti kan, kalau tangan kita jauh dari engsel, buka pintu akan lebih mudah!”, ini salah satu kalimat cowoknya.
  3. Sampaikan pesan sosial seperti kebiasaan ngantri, buang sampah pada tempatnya, tidak melanggar aturan dsb. Lihat Nagabonar jadi dua. Ini contoh yang baik.
  4. Sampaikan pesan menyangkut isu hangat. Misal tentang kasus batas maritim. Misalnya si cewek main ke tempat cowoknya yang pamannya ternyata adalah ahli hukum internasional dan hukum laut. Beri adegan di mana ahli hukum itu menjelaskan kasus Ambalat, misalnya, kepada anak-anak muda dengn bahasa yang mudah dimengerti awam.
  5. Masukkan unsur pemahaman geospasial. Kalau pergi ke mana-mana dan tersesat, tokohnya harus dibiasakan melihat peta, bukan selalu bertanya pada orang. Buat adegan sedemikian rupa biar ada penjelasan bagaimana menggunakan peta yang baik.
  6. Tunjukkan pemanfaatan Google Earth (GE) dan Google Maps (GM), menjelajah dunia secara virtual. Misalnya cowok berburu alamat cewek kenalannya, bisa menggunakan GE atau GM.
  7. dan banyak lagi…. Anda mau lagi? bayar dulu dong. Ide kan harus dihargai he he he

Selamat menonton sinetron yang memintarkan.

Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

5 thoughts on “Ide untuk Sinetron Indonesia”

  1. yah biarin aj deh, mau protes juga ngga bakal ditanggapi oleh stasiun TVnya
    Saya hampir ngga pernah nonton sinetron, jd ngga pernah tahu kayak apa…

  2. Aku nonton. Sebenarnya kalo lagi di Jakarta sih ga. Karna ga ada yg bisa ngalahin ketiga CSI (woo..hot genius cops babe, and… of course the brilliant story line too..i guess), Oprah (not crying, I swear), Seinfeld (Kramer #1 fan), Blood+ (I bet u guys have no idea what it is hehe..of course b4 googling). Intinya, aku terpaksa nonton sinetron kalo lagi di Bali. Karena Mom’s Rule. Tp, aku rasa sinetron mempunyai andil yg cukup besar bagi kerukunan rumah tangga lho. Bayangkan, ibu2 ‘wajib’ di depan TV sejak pukul 6 sore. Para Ayah senang karena ibu2 dirumah (dan sudah masak utk buang waktu nunggu jam tayang sinetron), tidak keluyuran gosip. Ayah yg sudah capek di kantor (atau ‘kantor’), mutusin leyeh2 nemenin istrinya nonton sinetron. Lalu, dibumbui adu argumen ttg betapa tidak masuk akalnya jalur cerita sinetron, tp keduanya senang sekali kalo tokoh jahatnya celaka. See guys, sinetron yg kaya sekarang, menyediakan semua kebutuhan utk keluarga harmonis: waktu utk kumpul bersama dg tujuan yg sama, makanan, dan tentu saja keterlibatan emosional. Summary: biarkan sinetron apa adanya seperti sekarang. Kalo ngikutin idemu, bisa2 kehilangan pasar lamanya, dan hanya dapat kamu sebagai fans barunya. It keeps Indonesian family at home, and forget about their nation’s problem (this will give some time for the government to make something up to say to their voters). Everybody happy (except me of course. No CSI). Cheers

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s