Indonesia Merdeka, Malaysia Merdeka


http://userserve-ak.last.fm/

Generasi lama bangsa ini menyebut Malaysia sebagai Adik Nusantara. Hal ini beralasan karena Malaysia memang berada di Nusantara dan berusia 12 tahun lebih muda dari Indonesia. Di tahun 70-an, konon banyak guru Indonesia yang dikirimkan ke (atau diminta oleh ) Malaysia untuk mengajar di sana. Banyak profesor yang kini ‘berkuasa’ di perguruan tinggi Malaysia konon adalah juga alumni dari Universitas Gadjah Mada. Ketika saya bertemu dengan seorang pakar dan profesional di perusahaan minyak asal Malaysia, beliau dengan tanpa canggung memuji kesaktian tim sepak bola Indonesia di awal tahun 80-an. Senada dengan itu, kapal angkatan laut Indonesia juga menjadi satu tontonan yang menakjubkan ketika beliau kecil. Sebuah kenangan yang kini entah di mana.

Indonesia kini berusia 62 tahun dan Malaysia menginjakkan kaki di usia 50 tahun. Keduanya dari dulu bertetangga dan berbagi banyak sekali kebudayaan yang sama. Namun begitu, tidak jarang keduanya juga dihadapkan pada suasana yang panas dan mencekam. Sebut saja di tahun 60-an, misalnya, perhatian dunia sempat tertuju pada Nusantara gara-gara Indonesia ingin “mengganyang Malaysia”. Ketegangan berlanjut saat adanya sengketa soal Pulau Sipadan dan Ligitan di Laut Sulawesi yang berakhir di tahun 2002 dengan “kemenangan” Malaysia. Tahun 2005, ketegangan kembali menghiasi hubungan kakak-adik ini dengan sengketa Ambalat di Laut Sulawesi yang hingga kini belum terselesaikan sempurna. Kedua tetangga ini memang berbagi banyak cerita suka dan duka.

Ketika keduanya mulai berusia, mungkin ada baiknya menilai pencapaian masing-masing sebagai indikator keberhasilan perjalanan bernegara. Banyak yang secara spontan menyatakan bahwa Malaysia telah mencapai sesuatu yang lebih tinggi dari Indonesia. Kalau yang dimaksud adalah menara kembar Petronas, tentunya tidak bisa disangkal 🙂

Tidak mudah untuk menilai secara pasti siapa yang lebih maju sesungguhnya. Kemajuan tentu saja tidak bisa dilihat hanya dari jumlah gedung tinggi dan panjangnya jalan aspal yang berhasil diwujudkan. Pembangunan harus dilihat secara lebih komprehensif.

Saya adalah orang yang tetap bangga menjadi orang Indonesia karena berbagai alasan. Perkenalan saya dengan berbagai bangsa semakin meyakinkan hal itu. Namun demikian, bukan berarti cinta ini buta. Saya juga yakin, bangsa lain telah mencapai hal yang juga bisa kita pelajari. Cinta pada tanah air bukan berarti harus ‘mengharamkan’ segalanya yang dari luar negeri. Saya pribadi mencatat berberapa hal yang terjadi di Malaysia dan semestinya bisa dijadikan cermin bagi Indonesia.

  1. Ribuan TKI kini bekerja di Malaysia sebagai pembantu rumah tangga. Saya kiri ini sangat halal dan tidak semestinya membuat malu karena kenyataannya beberapa dosen Indonesia yang bersekolah di Australia dan Amerika pun menjadi pembersih WC. Tetapi, ini juga semestinya menjadi cermin seraya melahirkan pertanyaan “mengapa?”.
  2. Banyak putra terbaik Indonesia yang kini berguru ke Malaysia. Memang benar, belajar di mana saja boleh dan kualitas pendidikan sangat tergantung dari cara belajar, bukan dari siapa yang mengajar. Pertanyaannya, “mengapa bukan mereka yang datang ke Indonesia?” meskipun saya juga tahu ada beberapa yang sekolah di UGM.
  3. Generasi Malaysia berbahasa Inggris lebih baik dari generasi Indonesia, ini pasti. Meskipun Bahasa Inggris bukan segala-galanya, penguasaan terhadapnya telah memperlebar kesempatan dan peluang pencapaian.
  4. Malaysia telah memindahkan aktivitas pemerintahannya ke Putra Jaya, tidak mengumpul di Kuala Lumpur dengan industri dan bisnis. Ini adalah langkah strategis yang jg dilakukan oleh negara-negara maju lainnya seperti Australia dan Amerika.
  5. dan banyak lagi…
Apa yang saya kemukakan di atas hanya sebagian kecil saja. Seperti kesepakatan semula, tulisan ini bukan untuk menghujat bangsa sendiri dan saya tetaplah bangga menjadi putranya. Tulisan ini sekedar untuk melihat tetangga dan menelisik adakah yang bisa kita pelajari secara bijaksana dengan tetap menjaga kebanggaan sebagai Bangsa Indonesia. Selain itu tidak ada maksud apa-apa. Setidaknya saya masih yakin kalau pada masanya Kris Dayanti lebih diminati di Malaysia dibangdingkan Siti Nurhaliza, ini pasti.
Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

3 thoughts on “Indonesia Merdeka, Malaysia Merdeka”

  1. Ya salaam dari saya. Kebetulan saya ke Bali Juli ’07. Pulau yang indah dan penduduknya berbudi-bahasa. Top marks! Komen saudara bernas dan seimbang. Dan sebenarnya saya berhadapan dengan komen sama dari saudara-saudara Indonesia yang menuntut bersama saya di Australi. semacam ada nostalgia, sesalan kenapa orang Malaysia kurang belajar di Indonesia -tidak seperti dulu. Dan kenapa ada jurang perbezaan pembangunan antara dua negara ini.

    Saudara, anda harus bangga dengan halus budaya orang Indonesia yang hanya tinggal sisa di negara saya. Sebab? Derasnya perlumbaan untuk menjadi maju dan juga konsumerisme yang semakin tidak terkawal, walaupun pengaruh agama tidak kira Islam, Kristen, Budha atau Hindu. Saya rasa jika agama dilihat sebagai kulit/pakaian luar, maka yang menang hanya konsumerisme dan sekularisme tanpa pemahaman utuh terhadap asas-asas agama.

    Satu hari, Indonesia akan maju juga seperti Malaysia. Asas ada- rakyat yang 10x ramai berbanding Malaysia, intelek/teknokrat yang ramai dan kesungguhan kerja yang tinggi. Yang cacat cuma satu- ahli politik dan daya pengurusan sumber Indonesia…they should be changed ot taken over by more dynamic people. Salam dari saya. Taib, taib.hampden1@yahoo.com.my

  2. Hai saya dari malaysia. Bagi pandangan saya malaysia dan indonesia ialah serumpun jadi apa salah kalau kita sama2 membangun negara masing2 dengan hubungan diplomatik serta sama2 kita mengeratkan silaturahim moga kemajuan di nusantara akan dikagumi di pelusuk dunia.

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s