SMS Gratis – FreeSMS

Orang-orang gelap

Pak Ujang asal Majalengka, bergumam sambil mengais-ngais sampah di riuhnya Manhattan. Di pojok lainnya Mas Jumono menggerakkan alat pel dengan tangkasnya. Mereka berdua bekerja untuk orang-orang yang menikmati keindahan kunang-kungan di Manhattan. Mereka adalah orang-orang gelap yang ketika kauinjak hak dan harga dirinya mereka memilih diam saja.

Made Sungkrug memainkan gitar tua di sebuah apartemen sederhana. Dihisapnya rokok sambil mendendangkan satu dua lagu tentang tanah kelahirannya. Made adalah satu saja dari orang-orang gelap, yang bila kautanya kapan pulang, akan menjawab dengan senyum getir. Mereka adalah orang-orang gelap yang entah kapan sempat kembali pulang. Bernyanyi dan menghisap rokok adalah hiburannya di sela kerja yang melelahkan.

Tengku Imam tertunduk dan tak berani mendongak tatkala tak sengaja menang lotre. Bukan lantaran agama yang melarangnya berjudi tetapi karena uangnya tak bisa dibelanjakannya. Tengku Imam adalah orang-orang gelap yang ketika ditanya social security number akan meringis. Orang-orang gelap ini berpakaian rapi, berpenghasilan tidak kurang tetapi tidak pernah ada. Tidak pernah tercatat dan tidak pernah dianggap dalam buku penting kehidupan negeri ini. Merekalah orang-orang gelap yang tidak penting tetapi penting.

Belajar Bahasa Inggris

Entah apa alasannya, banyak kawan yang bertanya pada saya, bagaimana cara belajar Bahasa Inggris. Seringkali saya tidak bisa menjawab dengan gamblang pertanyaan semacam ini karena memang tidak mudah. Belajar adalah seni, saya masih menganut kepercayaan ini.

Posting ini bukanlah tentang bagaimana cara belajar Bahasa Inggris tetapi kisah seorang Andi belajar Bahasa Inggris 17 tahun yang lalu di bangku SMP. Berbeda dengan anak sekarang yang belajar Bahasa Inggris sejak pra-TK, saya yang berasal dan besar di desa terpencil di Tabanan mulai belajar Bahasa Inggris di kelas 1 SMP. Sebelum itu, tidak ada satupun orang yang mengajarkan Bahasa Inggris pada saya walaupun sejak awal saya merasa suka dengan bahasa ini. Setidaknya melalui film kartun yang ditonton di rumah Pak Wayan Sukantra, guru agama kami, saya belajar satu dua tiga kata seperti yes, no, dan danger. Kata “danger” paling sering terlihat di film kartun, terutama di pesawat yang hampir jatuh :))

Layaknya belajar bahasa di Indonesia pada umumnya, mengenal abjad adalah langkah pertama. Hari itu adalah hari pertama kelas Bahasa Inggris. Guru saya bernama Ni Made Astini, guru favorit saya hingga hari ini. Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang saya masih sering mengunjungi beliau di Sekolah SMP dan beberapa kali menemani beliau mengajar di kelas. Sebuah pengalaman yang sangat menyenangkan bagi kami berdua.

“Sekarang kita belajar mengenal abjad dalam Bahasa Inggris”, begitu Ibu Astini memulai setelah menuliskan 26 abjad di papan tulis. “Ibu akan mengucapkan terlebih dahulu dan kalian mengikuti, ya?!” Muridpun menjawab serempak dan lantang “Ya Bu…”. Mulailah Bu Astini beraksi “ei, bi, si, di, i” dan seterusnya yang diikuti dengan cukup mudah oleh kami di kelas itu. Perlahan-lahan saya membangun pemahaman sendiri bahwa pengucapan abjad Bahasa Inggris mirip sekali dengan Bahasa Indonesia, cuma memang diucapkan dengan cara yang lebih “nggaya”. Semakin “nggaya” kita mengucapkan, semakin baiklah dia terdengar. Begitu saya berpendapat. Teman-teman sayapun nampak menikmati.

Namun kelancaran itu tidak belangsung lama, kesulitan mulai muncul ketika Ibu Astini sampai pada huruf “W”. Tentu saja semua orang berharap huruf “w” dibaca “wi” seperti halnya “d” dibaca “di”, “t” dibaca “ti”, “p” dibaca “pi” dan sebagainya. Kalaupun ada penyimpangan sedikit, pastilah tidak terlalu jauh, seperti “q” yang dibaca “qyu”, dan “r” yang dibaca “ar”. Tentu saja kami keliru karena kemudian Bu Astini menyebutkan “dabelyu”. Kontan saja anak-anak terdiam, tidak yakin kalau “w” benar-benar harus dibaca “dabelyu”. Ibu Astini rupanya mengerti dan mengulangnya sekali lagi sambil menghentakkan penggarisnya di papan, tepat mengenai huruf “w”. Kamipun mengerti dan menirukan “dabelyu”. Ibu Astini mengulang lagi dengan menyebut “dabelyu” karena mungkin menurut beliau kami masih kurang yakin sehingga tidak kompak. Kamipun dengan sangat yakin dan percaya diri berteriak “dabelyu”.

Ibu Astini tersenyum dan mengucapkan “wans egin” [once again]” sambil memandang kami. Dalam situasi seperti itu entah apa yang ada dalam pikiran kami, dengan yakin dan penuh percaya diri kami berujar “wans egin” yang membuat ibu guru tersentak kaget dan beberapa detik kemudian terpingkal-pingkal di kelas tidak kuasa menahan tawa. Kami yang di depannya terpana dan tidak mengerti apa yang terjadi. Nampak beberapa kawan saling pandang. Tidak satupun dari kami yang bersuara, apalagi tertawa. Semua diam, tidak mengerti mengapa guru kami terpingkal-pingkal di ruang kelas.

Dalam analisis kritis saya yang baru berusia 12 tahun saat itu, saya mengganggap apa yang kami katakan sudah persis seperti apa yang dikatakan Ibu Astini. Mengapa beliau tertawa? Yang saya sadari adalah bahwa pengucapan huruf-huruf terakhir dalam urutan abjad memang aneh, tidak sama atau tidak mirip dengan Bahasa Indonesia. Kalau huruf-huruf awal masih diucapkan mirip dengan Bahasa Indonesia, maka huruf-huruf di urutan terakhir sangatlah berbeda. Saya berpikir, kalau “w” saja bisa menjadi “dabelyu”, tentu saja “x” bisa jadi “wans egin”. Lama kami tidak mengerti sampai akhirnya Ibu Astini menjelaskan yang disambut riuh tawa saya dan teman-teman. Begitulan seorang Andi 17 tahun yang lalu.

Kalau saja dibiarkan pemahaman kami seperti itu, sangat mungkin “y” akan dibaca “kam on” dan “z” bisa menjadi “yu ar so fani”

Setelah Bercinta di Manhattan

Biarlah hanya saya yang mengerti makna tersembunyi di balik judul posting ini. Yang ingin saya sampaikan, Manhattan bukanlah Manhattan di New York, US walaupun saya memang sedang termenung di sebuah kamar di Queens, 40 menit dari Manhattan, New York. Manhattan dalam tulisan ini adalah Hotel Manhattan di Jakarta. Tanggal 10 September lalu saya memang dibawa oleh cinta menghabiskan malam di sebuah kamar di lantai 29 hotel itu. Ada pergulatan cinta juga memang, karena semua memang karena cinta. Cinta adalah satu-satunya alasan. Sebelum melanjutkan membaca cerita di bawah, kabar sebelumnya wajib Anda simak. Saya pernah bercerita tentang ALA dan Hotel Manhattan. Tanpanya, cerita saya ini tak kan bermakna.

Hari ini, setelah satu setengah bulan peristiwa itu, saya mendapat kabar baik. Saya dinyatakan sebagai salah satu penerima beasiswa ALA. Rasanya tidak henti-hentinya saya harus bersyukur karena kesempatan baik datang silih berganti. Tuhan memberi saya kesempatan yang bahkan tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Ini luar biasa dan harus saya syukuri dengan ketulusan hati.

Pencapaian ini tentu saja tidak akan lepas dari bantuan dan doa banyak sekali orang baik di sekitar saya. Istri dan anak adalah pendukung utama keliaran pikiran dan gagasan saya yang dengan sabar membiarkan saya terbang sangat tinggi dan tetap tersenyum, pun ketika saya jatuh terhempas. Tiga pemberi rekomendasi: Subaryono, PhD, Prof. Chris Rizos dan Dr. Clive Schofield adalah pahlawan saya yang meberi dukungan luar biasa. Seorang kawan baik yang membantu saya menyelesaikan pendaftaran ‘jarak jauh’, Ruli Andaru, di Teknik Geodesi UGM adalah orang yang layak mendapat terima kasih saya. Begitulah, dalam sebuah pencapaian, selalu ada banyak orang yang terlibat. Tentu saja tidak hanya nama-nama di atas yang membantu saya. Ada banyak yang lain yang tidak mungkin saya sebut satu per satu. Meski tidak disebut, kepahlawanan mereka tidak akan pernah berkurang maknanya.

Selanjutnya adalah perjuangan sesungguhnya. Selamat berjuang diriku.

Sendiri

Ketika masih berumur belasan tahun bahkan hingga awal 20-an, saya sering terheran-heran dengan beberapa orang yang saya kenal telah berkelana ke berbagai negara. Ada kawan SMA yang ikut pertukaran pelajar dan ada seorang kenalan lain di awal tahun 1998 telah berkeliling dunia karena menjadi ‘sales’ perangkat lunak GIS. Saya mengatakan pada ibu saya “Mungkin anak pedagang pasir ini akan pernah ke luar negeri suatu saat” yang disambut senyum beliau yang entah apa maknanya saat itu.

Berjalan menyusuri 44th Street di Manhattan dari Grand Central menuju United Nations Plaza sering menenggelamkan saya dalam lamunan mendalam. Lamunan itu bisa berkunjung justru di tengah kebisingan kota dan ramainya lalu lalang pejalan kaki yang berangkat kerja. Kesepian perasaan itu memang bisa saja datang di tengah keriuhan. Hal yang sama bisa terasa ketika melewati Fifth Avenue di sebelah Central Park yang terkenal itu atau Time Square yang ketika malam bermandikan gemerlap lampu. Belantara gedung tinggi yang mengangkasa, tata ruang kota yang seperti lukisan dan ramainya kendaraan kadang tidak bisa mengusir rasa sepi.

Saya tidak sedang bersedih, tetapi sedang mengalami kesepian yang mendalam. Keindahan dunia ternyata tidak berarti apa-apa ketika saya tidak bisa membagi ceritanya kepada siapapun. Menikmati gemerlap lampu sendirian dan angkuhnya New York tanpa teman tidaklah memberi kesan berarti. Saya semakin sadar, dilahirkan sebagai orang dengan sifat buruk suka memamerkan sesuatu. Saya tidak pernah merasa bahagia sebelum menunjukkan kegembiraan, kegundahan dan bahkan kegelisahan kepada orang-orang yang dekat di hati. Istri dan anak yang jauh di belahan dunia lainnya membuat hidup menjadi sepi. Penemuan demi penemuan yang tersusun sebagai pengalaman individu tidak memberi banyak makna dalam perjalanan.

Ternyata, yang penting bukanlah ke mana saya melangkah. Jauh di atas itu adalah seberapa banyak yang bisa saya bagi dengan orang-orang yang yang dengan antusias menyimak pergulatan batin saya. Kepada orang-orang tercinta di belahan dunia lainnya, saya mengajak bayangan mereka untuk membunuh kesendirian ini agar menjadi bermakna. Kini saya memahami makna senyum ibu saya di masa lalu. Anak pedagang pasir itu telah melangkah jauh, tetapi tercecer hatinya di damainya desa dan riuhnya tawa mereka yang suka menyimak cerita.

Cinta terakhir

Tak semestinya
Ku merasa sepi
Kau dan aku
Di tempat berbeda
Seribu satu alasan
Melemahkan , tubuh ini

Aku disini
Mengingat dirimu
Ku menangis tanpa air mata
Bagai bintang tak bersinar
Redup hati ini

Dan ku mengerti sekarang
Ternyata kita menyatu
Di dalam kasih yg suci
Kuakui kamulah cinta terakhir (cintaku)

Maaf

Saya sedang di depan kelas menghadapi sejumlah mahasiswa yang baru saja menikmati libur lebaran. Saya tahu, mereka belum sepenuhnya berkonsentrasi pada kuliah. Karena kebaikan hati dan tanggung jawab mereka sebagai mahasiswa saja, mereka berada di hadapan saya. Sebenarnya cukup “bisa diterima” juga kalaupun mereka masih ada di kampung menikmati suasana lebaran saat itu.

Melihat mahasiswa yang tidak 100% siap menyimak pelajaran, saya mengerti. Bukan hanya mahasiswa, saya pun masih menikmati liburan lebaran. Tiak adil juga kalau saya tidak mau tahu dan langsung mengguyur mereka dengan materi Batas Wilayah yang tentu tidak cukup menarik di hari pertama kuliah.

“Selamat idul fitri ya, Minal Aidin Wal Faidzin, maafkan lahir dan bathin, selamat para pemimpin, rakyatnya makmur terjamin”, begitu saya membuka kuliah yang disambut senyum mahasiswa. Senang melihat mereka tersenyum di hari pertama kuliah. Adalah kebiasaan saya, tidak langsung mulai materi serius ketika kuliah. Pasti ada saja cerita di luar kuliah yang mengisi 5 menit pertama. Film, berita di koran, gosip hangat seputar kampus, cerita lucu, kisah menyentuh atau sebangsanya adalah beberapa contoh kesukaan saya. Mahasiswa nampak menikmatinya. Kali ini saya bahkan berniat untuk tidak mengisi kuliah, sekedar ngobrol saja.

“Apa sih arti memaafkan saat lebaran?” saya memulai kisah saya dengan bertanya secara retorik. Tidak untuk dijawab. Berkembanglah obrolan khas saya dengan mahasiswa yang diselingi derai tawa. Saya merindukan saat-saat seperti ini.

Bagaimana sesungguhnya kita harus memaknai maaf? Tidak mudah menjawabnya. Persoalannya, ketika kesempatan meminta maaf pasti datang setiap tahun dan waktu “menghapus dosa” juga dengan pasti disediakan, saya khawatir maaf menjadi kehilangan maknanya. Maaf jangan-jangan jadi seperti makan nasi 3 kali sehari yang kadang dilakukan sambil mengetik tugas atau menyelesaikan pekerjaan kantor saking sibuknya. Makan menjadi tidak istimewa karena rutinitas. Akankah maaf menjadi seperti itu?

Anda dan saya pasti bersepakat bahwa dimaafkan tidaklah sama dengan diberi kesempatan untuk mengulang kesalahan. Hanya karena ada Ramadhan di tahun depan, bukan berarti kita bebas untuk berbuat salah di saat ini. Tapi seandainya seseorang memang berniat berbuat dosa dan dengan sadar menikmatinya, ini adalah perihal lain. Kita tidak sedang membicarakan hal ini.

Saya bertanya kepada mahasiswa waktu itu ”kalau saya tidak marah saat ada yang datang terlambat itu artinya saya maafkan. Apa arti maaf saya ini?” saya kemudian mencoba membagi gagasan saya bahwa maaf seperti itu adalah dalam rangka pemberian kesempatan untuk berbuat lebih baik di minggu berikutnya. Maaf adalah kesempatan, itu intinya. Akan sangat sayang jika maaf ini diartikan bahwa saya tidak bisa marah dan tidak akan marah kalau ada yang terlambat. Sangat tidak sesuai tujuannya kalau kemudian mahasiswa berpikir ”Gampang sama Pak Andi, telat gak dimarahin kok, so santai aja”. Maaf dalam konteks ini telah membuahkan petaka. Bukan kepada saya sendiri tetapi kepada mahasiswa, kepada karirnya dan kepada masa depannya. Alangkah tidak terpujinya maaf itu, kalau dia bisa menjerumuskan seorang mahasiswa pada perilaku yang tidak semestinya. Maaf tidak menemukan sasarannya. Maaf menjadi tidak bermakna.

Saya tambahkan, ”jika maaf yang saya berikan akhirnya membuat generasi muda seperti Anda menjadi lemah, tidak disiplin dan cenderung tidak serius pada diri sendiri, saatnya saya katakan “tidak” dan maaf mungkin tidak harus saya berikan.” Tentu saja saya mengucapkannya sambil tersenyum, jauh dari kesan galak karena saya memang tidak bisa galak. Pengalaman ini sangat berkesan.

Maaf yang ditebar saat Idul Fitri adalah wujud kesempatan. Bukan gratisan yang membuat seorang ”saya” bisa berkelakar dan menyiapkan tumpukan dosa untuk dilebur tahun depan dalam Ramadhan. Kalaupun ada dosa yang harus dilebur lagi, biarlah itu sisa kelupaan dan kekhilafan, bukan kesengajaan karena ”saya” berpikir cadangan maaf masih banyak untuk ”saya”.

Biarlah maaf ini menjadi sesuatu yang alami mengalir seperti air yang menembus bebatuan tanpa merusaknya. Biarlah maaf ini membuat semua orang menjadi lebih sabar dan lebih mudah tersenyum.

Selamat Idul Fitri, mohon maaf lahir dan bathin. Terima kasih telah memberi kesempatan.

Menulis buku atau cuci piring?

Menarik sekali menyimak daftar orang terkaya di Indonesia yang juga dilansir Kompas beberapa waktu lalu. Yang lebih menarik, tidak satupun dari orang terkaya itu berprofesi sebagai penulis, tidak juga guru atau dosen.

Konon untuk berhasil dalam hidup, kita harus memiliki keahlian. Kata lainnya adalah pintar. Di sisi lain, semestinya diterima cukup umum bahwa seorang dosen atau guru adalah orang pintar, setidaknya berada di jajaran menegah ke atas di angkatannya ketika bersekolah, misalnya. Begitulah umumnya walaupun anomali terhadap ini pastilah ada. Teori ini membuat daftar orang terkaya itu menjadi menarik. Orang yang dikenal pintar ternyata tidak menjadi kaya, walaupun itu jelas tidak untuk mengatakan bahwa yang termasuk dalam daftar orang terkaya itu tidaklah pintar.

Saya (sebagai dosen) tidak tertarik membahas kekayaan, mungkin juga karena sudah terlanjur merasa tidak akan bisa kaya 🙂 Atau mungkin juga karena memang tidak terlalu memaksa diri agar menjadi kaya. Tidak mudah untuk menerima argumentasi seperti ini. Apapun itu, saya lebih tertarik berbicara tentang J. K. Rowling yang adalah penulis dan menjadi salah satu orang terkaya kareana Harry Potter-nya. Penulis juga bisa kaya ternyata. Apakah penulis Indonesia juga bisa kaya? Pertanyaan ini yang kadang menggelitik saya. Saya akan bercerita sedikit tentang penulis di Indonesia, terutama dari sudut pandang penulis pemula seperti saya.

Banyak teman berkelakar, “wah jadi millioner nih sekarang. Sudah menulis buku sih!”. Saya hanya bisa tersenyum. Begini hitung-hitungannya. Penerbit umumnya memberikan 10% royalti dari harga jual buku. Untuk buku Google, misalnya penulis mendapat kira-kira 2000 rupiah per eksemplar. Sementara itu buku dicetak 2000 eksemplar, artinya saya akan mendapat 4 juta secara keseluruhan. Di awal penerbitan, royalti diberikan 25% dari total yang artinya sebesar 1 juta. Setelah dipotong pajak, tinggal 800 ribu sekian. Karena saya menulis buku tersebut bersama orang lain, maka wajar kalau royalti dibagi dua. Alhasil, saya memperoleh 400 ribu rupiah sekian di rekening saya.

Perlu diceritakan sedikit bahwa 400 ribu rupiah ini adalah hasil kerja keras selama sekitar 3 bulan yang isinya adalah begadang, sewa internet, diskusi, revisi draft, layout, komunikasi dengan pernerbit dan lain sebagainya. Singkat kata, 400 ribu itu adalah sesuatu yang sangat berharga dan mahal. Meskipun berharga, ketika saya harus membeli susu utuk Lita, tetap saja 400 ribu itu hanya berhasil ditukar dengan beberapa kotak susu yang dilahap Lita dengan sangat cepat. Ketika harus ditukar dengan realita, royalti yang berharga dan saya banggakan itu ternyata tidak banyak membantu.

Dalam kondisi yang menarik ini, saya seringkali mendapat kesempatan dan peluang yang sangat menggoda. Ketika berada di Sydney, misalnya, cuci piring semalam bisa menghasilkan 100 dolar alias hampir 800 ribu rupiah. Kalau mau ngepel lantai dan bangun pagi, bisa menghasilkan hampir dua kalinya. Kesempatan beginilah yang sering mengancam kreativitas saya dalam menghasilkan karya ideal. Apakah saya menyesal atau meratapi nasib yang tidak bisa kaya karena menulis? Saya tidak perlu menjawab ini. Mungkin Anda harus membaca seluruh tulisan dalam blog ini atau membaca biografi saya yang belum terbit (belum juga ditulis) untuk mendapat jawaban yang sebenarnya.

Satu hal yang penting, tidak selalu mudah memilih ketika menulis karya bermutu harus dibandingkan dengan cuci piring. Saya punya pilihan sendiri, tetapi akan sangat memaklumi jika ada yang memilih mencuci piring sebagai kebanggaannya.

Tidak berharap

Made Kondang yang tumben melihat dunia luar kembali ke desa dengan kecewa. “Ada apa, dari kota kok malah cemberut?” seorang tetua desa menangkap kegundahan hatinya. “Kota ternyata tidak seindah yang saya kira Pak”, Kondang menjawab tandas dan ketus. Begitulah Kondang, dia kecewa karena sebelum melihat kota dia berharap banyak. Iklan di televisi dan promosi orang-orang membuat dia percaya bahwa kota memang adalah surga.

“Kamu salah!”, seorang tetua lainnya menasihati Kondang. “Jangan berharap terlalu tinggi sebelum kamu bertemu atau berhadapan langsung dengan sesuatu. Itu kuncinya supaya kamu tidak kecewa.” Kondang berpikir, benar juga apa yang disampaikan Pak Tua ini. Kalau kita tidak berharap, kita akan lepas dari penghakiman, begitu kira-kira maksudnya seperti kata-kata tinggi yang sesekali dilihatnya di televisi. Tapi sebentar dulu, Kondang merenung lagi.

“Mengapa kita kita tidak boleh berharap Pak?” Kondang bertanya serius. Dengan ringan Sang Bapak Tua menjawab “Dengan harapan, kamu tidak akan kecewa!” Kondang tersenyum kecut dalam hati. “Apa bedanya?” gumamnya.

Percakapan

Seorang lelaki berusia 30-an akhir datang ke tempatku dan menyapa “Hi, how are you guys doing?”. Lelaki ini berkebangsaan Italia datang ke ruanganku melepaskan penatnya. “Aku sedang menyelesaikan laporan SekJen PBB tentang isu kelautan. Perlu udara segar sebelum memulai lagi”, begitu dia bercerita tentang sesuatu yang menjadi kesehariannya.

Di ruang sebelah, aku dengar seorang kolega lain berkebangsaan Perancis sedang berbicara di telepon. “Aku tidak bisa besok. Jam 10 Ban Ki Moon akan berkunjung ke sini, aku harus stand by.” Dia sedang berdiskusi dengan koleganya di telepon tentang acara besok hari. Sementara itu, seorang gadis dari Egypt melintas di luar ruangan dan dengan penuh gairah menjerit “Aku tadi satu lift dengan Angelina Jolie!” Jolie adalah duta kelaparan PBB. Tidak heran kalau dia sering berkunjung ke sini: Markas PBB.

Begitulah percakapan sehari-hari orang-orang di sekitarku. Keberadaanku di tengah-tengah mereka pastilah adalah keistimewaan karena diberinya kesempatan pada telingaku untuk mendengar hal-hal besar yang telah terasa biasa.