Suara Adzan

Aku terjaga dari kelelapan tidur di sebuah kamar hotel di Jakarta Selatan. Aktivitas yang penuh ketegangan beberapa hari ini membuat aku selalu terkapar di tempat tidur, lelap sebelum waktunya dan bahkan tanpa mimpi. Terjaga di pagi buta oleh gelegar suara yang cukup asing tentulah bukan pengalaman yang menggembirakan. Adzan subuh tengah berkumandang, aku mengusap-usap mataku yang belum terjaga sempurna. Aku terduduk di tempat tidur dan memandang kosong dalam kamar yang gelap. Perlahan-lahan aku menyadari keadaan. Adzan subuh sedang berkumandang. Aku kini meyakini apa yang terjadi.

Aku tidak pernah sholat subuh dan memang tidak harus sholat subuh. Meski begitu, Adzan berlaku sama bagi siapa saja yang mendengarnya. Gelegarnya yang sekian desibel memang mampu membangunkan siapa saja, termasuk aku yang tidak harus sholat subuh. Dalam keterjagaan yang tidak sempurna aku berpikir. Apa yang harus aku lakukan sepagi ini? Tidak ada. Pertanyaanku aku reduksi menjadi “apa yang harus aku katakan pagi ini?” Ternyata juga tidak ada. Apa yang harus aku pikirkan mendengar Adzan ini?

Entah dari mana bisikan itu, aku harus memikirkan toleransi. Toleransi yang sempurna, karena ini adalah toleransi yang tidak dilihat orang, tidak ditonton siapapun dan tidak ditujukan kepada orang-orang yang aku kenal, apalagi kepada atasan. Aku memilih untuk tersenyum sambil mendokan mereka yang sholat subuh agar diberi senyum yang paling indah pagi ini. Dalam mantram Gayatri-ku pagi ini, aku beri ruang untuk kumandang Adzan yang tidak lagi memekakkan telinga, tetapi merdu mendayu-dayu. Begitulah indahnya toleransi.

Pelajaran Moral

Kenakalan Ikal di Laskar Pelangi adalah kreativitas yang mengejutkan. Caranya menarik pelajaran moral dari sebuah kejadian seringkali ganjil, tidak biasa tetapi tak diragukan, kreatif dan “out of the box“. Ketika Ibu Mus, guru kesayangannya, bercerita bahwa orang yang tidak rajin sholat nanti akan diterjang banjir bandang, Ikal menarik pelajaran moral yang istimewa. Saat Ibu Mus, hampir dipastikan, ingin agar anak didiknya rajin sholat, Ikal menyimpulkan bahwa kalau dia tidak rajin sholat maka harus pandai berenang.

Menjadi seorang guru, dosen atau mentor kadang penuh risiko. Mereka kadang percaya pada niat baik dan sedikit naif. Merasa apa yang diajarkan atau diceritakan adalah kebaikan, para pendidik ini umumnya percaya bahwa para siswanya menerima itu sebagai kebaikan. Padahal kenyataan kadang berbeda. Murid memiliki sudut pandang sendiri, pemahaman sendiri, dan bahkan harapan sendiri. Tidak jarang interpretasi yang dilakukan anak didik didasarkan pada ekspektasinya terhadap sebuah pelajaran atau kejadian. Ikal yang dalam jiwanya terdapat naluri petualangan yang liar, tidak memandang cerita Bu Mus sebagai ajakan untuk rajin sholat, tetapi justru untuk belajar berenang. Salahkan Ikal? Mungkin saja tidak.

Kesimpulannya, memang penting seberapa baik niat seorang guru, yang lebih penting lagi adalah bagaimana mengkomunikasikan niat itu dan menjamin murid bisa menerima persis seperti yang diinginkan guru. Menerima makna, tentu saja tidak serta merta berarti menjalankan. Tidak semua hal yang dikatakan guru, dosen, pendidik itu harus dilaksanakan tanpa dikaji terlebih dulu. Kalau murid jadi rajin sholat, semoga sholatnya karena kesadaran. Jika memilih untuk belajar berenang, semoga berenangnya gagah berani dan tanpa rasa takut.

Laskar Pelangi

Bagi banyak orang, buku yang akan saya ulas ini sama sekali tidak baru. Buku ini telah diterbitkan lama dan menjadi pembicaraan di mana-mana. Dia bahkan disebut sebagai Indonesia’s most powerfull book. Sangar sekali.

Seperti biasa, saya bukanlah orang yang gandrung membaca buku. Tidak mudah mencari motivasi untuk membuka lembaran-lembaran buku, apalagi yang setebal Laskar Pelangi (LP) tanpa alasan yang sangat kuat. Adalah Kick Andy yang akhirnya mengantarkan saya kepada LP. Saya juga harus berterima kasih kepada Gede Prama yang memang secara tidak langsung merekomendasikan buku itu dalam acara tersebut. Sayapun memulai pengembaraan dalam lorong-lorong sastra realita yang disuguhkan Andrea Hirata dalam Laskar Pelangi. Tidak seperti biasanya, buku setebal itu saya habiskan dalam waktu kurang dari seminggu tanpa pernah merasa mengantuk. Sekedar informasi, saya sangat mudah tertidur membaca buku, betatapun seriusnya buku itu, dan betapapun pentingnya 🙂

Membaca LP dan tetraloginya bagi saya adalah seperti membaca kisah sendiri. Kehidupan kampung yang sederhana, sekolah yang memprihatinkan dan kemiskinan yang sangat akrab adalah pantulan masa lalu yang bahkan mungkin belum tuntas berakhir. Kekuatan LP ada pada kejujurannya. Menulis sesuatu yang jujur jauh lebih mudah dan lebih memikat dibandingkan khayalan, itu keyakinan saya pribadi. Kekuatan lain tentu saja adalah kekayaan informasinya. Sebagai orang yang senang menulis, saya mendapatkan diri tenggelam di lautan dalam ciptaan Andrea Hirata yang bertabur informasi tak bertepi. Karya ini adalah sebuah ciptaan serius yang telah membuat pengarangnya menjelajahi banyak tempat, menembus waktu dan menggali informasi hingga titik dalam yang bahkan mungkin tidak dikunjungi orang lain. Kefasihannya mengungkapkan nama latin setiap tumbuhan yang dideskripsikannya dalam novel tersebut, misalnya, adalah pertanda keseriusannya dalam berkarya.

Karya yang besar memang adalah karya yang dibuat sepenuh hati, dengan pengabdian yang tulus dan idealnya tanpa dibelenggu oleh batasan-batasan imbalan, apalagi komersialisasi yang menuntut. Saya menduga, LP diciptakan dalam nuansa hati seperti ini. Gede Prama menegaskan, ini adalah perwujudan cinta. Cinta seorang murid pada gurunya.

LP saya lahap dengan tawa geli seperti tersindir oleh masa lalu, dengan uraian air mata karena kesedihan mengaru biru, dan dengan getar hati yang menggelora karena tebaran semangat yang membuncah perasaan. Membaca LP memang seperti menyaksikan diri sendiri walaupun dalam banyak hal sangatlah berbeda. Saya, seperti halnya saya, tidak akan mengatakan buku ini sangat bagus, tidak juga merekomendasikannya kepada siapapun. Jika kebetulan ada, cobalah tengok 5 atau 10 halaman pertamanya. Selanjutnya adalah kekuasaan Anda yang kemudian memutuskan apakah Anda akan berenang dalam lautan sastra realita yang memikat seperti yang saya alami atau berkata “terima kasih, saya tidak tertarik”. Selamat memutuskan.

Mengumbar cinta

Ada orang yang dilahirkan dengan bakat mampu menyatakan cinta dengan kata-kata. Saat cinta diperingati di hari valentine seperti sekarang, orang sekelas ini akan bangun di pagi hari dengan puisi-puisi cinta. Atau setidaknya mereka akan menyenandungkan musikalisasi puisi tenar seperti “Aku ingin”-nya Sapardi Djoko Damono di kamar mandi. Berbahagialah orang yang bisa bercerita tentang cinta karena cerita adalah hal paling eksplisit yang sering kali tidak memerlukan kemampuan menebak untuk memahaminya.

Sementara itu, ada sebagian orang yang tidak dilahirkan dengan bakat verbal tentang cinta. Jangankan untuk mengungkapkan cinta yang sudah mulai tua umurnya, untuk mengungkapkan cinta pertama yang akan mengubah hidup pun, orang seperti ini bisa kehilangan kata. Begitulah manusia, berbeda-beda bakat dan kemampuannya. Meski demikian, dinyatakan ataupun tidak, cinta selalu ada. Dia seperti angin, tak terlihat tapi terasa, seperti gula yang manisnya tak kasat mata tetapi diyakini. Seperti Tuhan, dia tidak memerlukan kepercayaan untuk membuat hukumNya bekerja sempurna. Hukum digdayanya yang tanpa cela, berlaku kepada yang percaya maupun kepada yang tidak, kepada yang memuja maupun memaki. Demikianlah juga cinta.

Apakah itu artinya cinta tidak perlu dinyatakan? Aku adalah orang yang selalu setuju bahwa cinta harus dikatakan, lagi dan lagi. Memang harus diakui bahwa getaran yang terasa ketika bertemu pertama kali dengan perempuan pujaan berbeda dengan getaran yang menjelma setelah anak dua dan kontrakan rumah sudah jatuh tempo sementara uang di tabungan tak lagi menjanjikan. Kenyataan hidup yang tidak selalu seindah mimpi, membuat pernyataan cinta sering kali tidak lagi menempati urutan tertinggi. Meski demikian, tidak menyatakan bukan berarti lupa dan kehilangan rasa cinta. Cinta yang kuat dan kepada siapa saja, ada meski dalam kebisuan yang dalam.

Genjo yang surveyor tetap memiliki cinta pada teodolit tua dalam kebisuannya. Yan Koplar yang minder menyimpan cinta dalam langkah hidupnya yang penuh keraguan. Made Kondang yang pengumbar cinta menyatakan cinta kepada istri dan anak dalam puisinya yang kadang singkat karena kesibukan. Nyoman Sumi berlinang air mata dalam diamnya untuk menyatakan cinta pada ibu tuanya. Ayah, Ibu, Saudara dan semua orang di muka bumi, saling mencintai dengan diam, kata mapun tindakan. Selamat hari Valentine.

Bersimpati pada tetangga

Juli tahun 2004 silam, saya bercakap-cakap singkat dengan Jose Ramos Horta di sebuah gedung besar nan berwibawa di salah satu sudut Kota Sydney. Delimitasi batas maritim antara Indonesia dan Timor Leste adalah topik yang mendominasi ketika itu. Tiga setengah tahun kemudian, surat kabar, televisi, internet dan radio diriuhkan oleh berita tertembaknya Sang Presiden negeri muda ini. Tiga peluru tak tanggung-tanggung merobek tubuhnya dan terutama mengoyak dan nyaris menumbangkan keperkasaan pendirian politiknya. Dendam dan pembalasan adalah motif di balik kebengisan ini yang justru berbuah tewasnya Reinado sang pendendam. Dunia tertegun sejenak, semua melirik Timor Leste yang muda, ringkih, sekarat dan hampir binasa dalam sejarah bangsa-bangsa.

Tertembaknya Horta bukanlah hanya satu yang mencirikan ancaman atas negeri panas ini. Perdana Mentri Gusmao juga tak luput dari keberingasan timah-timah panas. Masih bersyukur, tubuhnya terlindung logam mobilnya yang menyelamatkan. Singkat kata, keresahan dan kegelisahan serta ancaman adalah keseharian yang menjadi sahabat tak terelakkan bagi Timor Leste. Di usia yang belum cukup untuk masuk SD, si kecil Timor Leste bagaikan bocah miskin kelaparan yang jangankan untuk sekolah, untuk minum seteguk air keruhpun harus berjuang.

Sejak memisahkan diri dari Indonesia, negara teranyar ini berharap banyak pada Laut Timor, tepatnya Celah Timor, untuk menghidupi dan menyejahterakan rakyatnya. Minyak dan gas bumi yang bersembungi di dasar Laut Timor menjadi satu dari sedikit harapan hidupnya. Menguasai dan mengusahakannya secara leluasa tentu saja harapan yang tidak berlebihan. Apa daya, negara kecil miskin sumberdaya manusia ini tak punya kuasa. Australia dengan “niat baik”, yang selalu berusaha diyakinkan oleh Perdana Menteri Howard, menyudutkan Timor Leste pada ruang tanpa pilihan. Batas maritim yang oleh Timor Leste diinginkan menganut prinsip garis tengah (median line), sehingga sebagian besar ladang minyak dan gas berada dalam yurisdiksi Timor Leste, ditolak pewujudannya oleh Australa. Alih-alih, diwujudkan kawasan pengusahaan petrolium bersama (Joint Petroleum Development Area, JPDA) di Laut Timor. Kedua tetangga ini berbagi hasil tambang di Laut Timor.

Masih bersyukur, tekanan dunia internasional dapat melahirkan suatu kompromi pembagian hasil yang tidak terlalu mengecewakan untuk keseluruhan kawasan JPDA dan sekitarnya. Pembagian 90% untuk Timor Leste dan 10% untuk Australia pada JPDA dan 50:50 untuk kawasan tertentu lainnya dianggap cukup layak dan adil bagi Timor Leste. Meski demikian, ada juga yang mengatakan bahwa bahwa pembagian itu masih terlalu banyak untuk Australia yang sesungguhnya “tidak berhak”.

Beberapa buah Sydney Buses yang disumbangkan pemerintah New South Wales, Australia dalam waktu yang tidak terlalu lama menjadi onggokan besi tua sarang nyamuk di bumi Timor Leste yang merana. Ketidakmampuannya yang terlalu, bahkan membuatnya tidak bertahan memelihara beberapa buah bus. Ekonomi yang tak kunjung baik dan pemakaian dolar sebagai alat tukar rupanya tidak menciptakan keadaan yang menyejahterakan. Sedemikian tragiskah konsekuensi kemerdekaan yang diperoleh dengan dramatis tahun 1999 silam dari seorang Ibu bernama Indonesia?

Dalam keterbaringan Horta, resahnya Gusmao dan tersingkirnya Al-Katiri, Timor Leste tetap hanya sebuah negara kecil yang muda, ringkih dan lemah. Bepalingnya dunia pada urusan yang lebih seru di Iran dan Irak membuat perhatian tak lagi selayaknya. Sang anak yang lapar dan dahaga kehilangan santunan dari malaikat dunia dan telah membuatnya terhempas ke sudut kegelapan masa depan yang pekat mengiris-iris perasaan.

Sementara itu, Indonesia adalah kini tetangga terdekat. Lepas dari suka dan duka yang pernah terjadi dan menjadi lembaran hitam atau emas dalam sejarah keduanya, Indonesia adalah negara, kepada siapa Timor Leste selayaknya menoleh. Indonesia adalah bangsa santun tak terkira dan meyakini bahwa dendam adalah kesalahan dalam hidup. Oleh karenanya Indonesia sudah sepatutnya bersimpati dan berempati kepada tetangga ringkihnya. Mengingat keadaannya yang sekarat, banyak yang mungkin bisa dilakukan Indonesia untuk Timor Leste yang pastilah, beberapa diantaranya, sudah diwujudkan.

Meski demikian, gundah dan gelisahnya Timor Leste tentu saja adalah juga ancaman tersendiri bagi Inonesia yang berbagi pulau dengannya. Letak geografis yang sangat dekat menjadikan Indonesia berpotensi sebagai penampung segala dampak kekacauan di Timor Leste. Sebagai bangsa yang awas, hal ini tentu sudah menjadi perhatian sejak lama dan membuat Indonesia berhati-hati. Selain itu, harus disadari bahwa Indonesia saat ini sedang menghadapi persoalannya sendiri yang sepertinya juga tak kunjung usai. Kekacauan politik, ganguan keamanan sosial dan beruntunnya bencana alam menjadikan Indonesia juga luluh lantak dan kelelahan. Tidak banyak sepertinya yang bisa disumbangkan bangsa yang besar tapi masih “flu” ini. Meski demikian, bukan berarti Indonesia tidak berbuat sesuatu. Sembari memerhatikan kesehatan sendiri yang semoga membaik, setidaknya Indonesia bisa bersimpati, mengatakan di dalam hati bahwa kita bersaudara. Bahwa kesejahteraanmu adalah doa bagiku. Semoga lekas Sembuh Timor Leste.

No plastic bag please :)

Ketika membayar sebuah novel di kasir Gramedia, saya menolak dikasih tas plastik. Alasannya sederhana saja, saya ingin langsung membacanya. Kali ini bukan karena saya tidak mau seperti orang lain yang membaca di Gramedia tanpa mau membeli bukunya, semata-mata karena tidak satupun novel yang saya inginkan itu bisa ditemui dalam keadaan terbuka. Maklum novel tersebut tidak ada di rak biasa tetapi di meja bundar dekat kasir karena konon termasuk buku best seller. Ada juga yang menyebutnya the most powerful book in Indonesia. Tapi posting ini bukan tentang novelnya, melainkan tentang tas plastiknya.

Mas penjaga kasir memandang bengong agak bingung. Apakah memang aneh tidak meminta tas plastik ketika berbelanja? Saya jadi ingat tulisannya Dewi Lestari beberapa waktu lalu, betapa tidak efisiennya hidup kita dan betapa banyaknya sampah yang kita hasilkan dari kegiatan harian kita. Walaupun bukan termasuk “a big fan of climate change issue” rasanya ada hal kecil yang bisa saya lakukan. Menolak satu tas plastik dari Gramedia tentu tidak bisa serta merta menghentikan derasnya laju perubahan iklim, tetapi memang itu yang bisa dilakukan saat ini.

Saya jadi ingat puisi Taufik Ismail yang pernah dikirimkan Astri pada saya. Memang ada kalanya kita tidak bisa menjadi beringin. Setidaknya kita bisa menjadi belukar yang tumbuh di tepi danau atau bahkan rumput, tetapi rumput yang menguatkan tanggul jalan. Meski tidak bisa seperti Andrew Shepherd di American President yang dengan lantang mengatakan bahwa Gedung Putih akan mengirim Resolusi 455 kepada Kongres yang mensyaratkan pengurangan 20% emisi minyak fosil dalam 10 tahun, setidaknya saya bisa katakan “No plastic bag please.”

Suasana hati

Dalam sebuah perhentian setelah didera hujan badai, saya bercakap-cakap dengan Asti, istri saya. Saya berkelakar tentang apa yang baru saja terjadi. Kalau sepuluh tahuh yang lalu, saya termasuk menyukai hujan. Bukan karena hujan membawa kesuburan tetapi karena itu artinya saya akan menjemput pacar dari kampus dan harus menggunakan satu jas hujan berdua. Saya mengendarai motor satu tangan sementara satu tangan lagi bertugas entah di mana 🙂 Bagi pemuda penyandang status mahasiswa tak kaya, tidak ada momen yang lebih romantis dari ini. Berkendara berdua menembus hujan dengan satu jas hujan adalah saat-saat yang tidak mudah dihilangkan dari ingatan. Istri saya tersenyum geli ketika mendengar kisah itu diputar ulang.
Kini, saya tanya, apakah hujan masih menghadirkan sensasi yang sama? Kami termenung sesaat dan tertawa lebar. Sambil bergurau saya katakan, kalau dulu hujan membawa sensasi romantika, sekarang hujan mengingatkan kita bahwa motor ternyata tidak cukup, terutama di musim hujan. Ketika saya tanyakan apakah kebahagiaannya berkurang dengan suasana ini, beginilah kira-kira jawabannya yang saya bahasakan ulang.

Yang terpenting ternyata adalah pikiran kita. Saat kita tidak merasa miskin, pikiran kita memang tidak gelisah. Situasi ini adalah satu persinggahan hidup kita yang tidak akan selamanya seperti ini. Ini adalah soal kapan kita mau berhenti dan hidup “layak” seperti yang diinginkan lingkungan kita. Pertanyaannya adalah apakah kita memang akan berhenti di sini dan hidup ‘makmur’ atau masih meneruskan perjalanan dan rela bersahabat dengan perjuangan yang memang hampir selalu tidak nyaman. Saat ini kita merasa cukup. Memang seperti inilah semestinya hidup kita sekarang. Berkendara di tengah hujan yang mengguyur tetap terasa menyenangkan karena pikiran kita telah dibius oleh keyakinan bahwa hidup kita sesungguhnya lebih dari ini. Kaya atau miskin ternyata adalah persoalan pikiran juga. Seandainya saja kita hidup tanpa harapan, berkendara di derasnya hujan dengan satu mantel seperti ini memang bisa jadi menimbulkan kegelisahan.

Seperti kata Gede Prama, sesungguhnya kita bisa hidup sejahtera selamanya dan menemukan kedamaian di setiap kejadian. Begitulah hidup itu semestinya.

Dimensi Tiga

Cerpen I Made Andi Arsana

“Tit tit tit tit tit tit”, suara berisik itu membangunkanku dari tidur yang sesungguhnya tidak lelap. Sudah setahun ini tidurku mudah terjaga karena memang tidak pernah pulas. Dering yang jauh dari merdu itu mengalir dari weker tua di atas meja di sebelah dipanku. Aku amati dengan mata yang belum awas sempurna, jam 5.30 pagi dan hari masih gelap. Ada keengganan mengangkat tubuhku dari tempat tidur, tetapi tetap harus kulakukan. Ini bukan hari libur.

Tanganku dengan pasti meraih sebatang besi bediameter 1 cm dengan panjang tidak kurang dari 70 cm. Handuk sudah melilit di leher dan ember berisi sabun aku tenteng di tangan kiri. Aku pastikan anjing yang selalu menggangu ritual pagiku tidak berkutik hari ini. Aku melangkah pelan melintasi jalan setapak di sawah yang kering. Meskipun gelap, kakiku seperti bermata, tidak pernah salah langkah. Sepertinya aku tahu kapan saat melompat, kapan saat berjinjit pelan dan kapan berlari kecil meski tidak ada senter menerangi kegelapan subuh.

Melintasi halaman rumah gubuk Pan Koplar, aku melangkah pelan agar tidak berisik. Aku malas berurusan dengan anjingnya yang lamis, gemar menggonggong. Tidak hanya itu, anjing hitam besar itu juga tidak segan mengejarku dan dengan bernafsu ingin menggigit. Insiden ini rutin setiap subuh, membuatku benci ritual mandi pagi di Sungai Ayung. Apa daya, sepertinya aku tidak memiliki pilihan yang lebih baik.

“Guk guk guk”, aku terkejut, sadar dari keliaran pikiranku yang sempat berkelana entah ke mana. Belum sempat aku bersiap-siap, anjing yang selalu menjadi trauma pagiku menghambur mendekat, menyalak seperti tidak ingin memberi ampun. Dua bulan lalu, aku pasti sudah lari terbirit-birit mengindar, tetapi tidak untuk pagi ini. Aku menghadapinya dan tidak bergerak. Hanya tanganku yang dengan pasti menggenggam sebatang besi siap diayunkan. Jika si anjing tak tahu diri ini lebih dari sekedar menyalak, tak ayal lagi besi dingin ini akan menghantam badannya. Entah apa yang akan terjadi setelah itu dan entah apa yang akan dilakukan Pan Koplar kepadaku. Entahlah.

Anjing besar itu rupanya tahu apa yang aku siapkan. Sekitar satu meter di depanku dia berhenti tetapi tetap menggonggong beringas. Aku menatapnya tanpa lengah sedikitpun. Monster itu bergerak memutar, akupun mengikutinya. Aku berotasi dan menjadikan kakiku sebagai poros mengikuti gerakan anjing ini. Sedikitpun tak kulepaskan tatapanku dari matanya. Aku tahu ini tidak akan berlangsung lama, dia akan segera pergi karena Pan Koplar akan segera keluar dari rumah gubuknya dan menyelamatkan aku.

Gerit daun pintu melegakanku. Suara parau Pan Koplar yang berteriak memanggil Joni, anjing sialan ini, menjadi satu-satunya penyelamatku, seperti biasa. Selalu begitu setiap pagi, aku diselamatkan pak tua ini dengan mudahnya. Joni, anjing besar yang galak itu, tunduk oleh perintah majikannya, Pan Koplar. Memang sudah menjadi kecenderungan, nama anjing di Bali bahkan lebih bagus dari nama majikannya. Di desaku di Tabanan, ada anjing yang dinamai Reagen, Rony, Pussy dan sebagainya, sementara majikannya adalah Kocong, Bagong, Toblo atau Lecir. Itulah ”fenomena”, kata salah satu tokoh di Wayang Kulit Ceng Blonk yang populer itu.

Aku bergegas ke sungai setelah selamat dari ancaman anjing galak itu. Mandi, dan segala ritual lain dilakukan tanpa kesan istimewa. Yang ada dalam pikiranku adalah tiba di sekolah tanpa terlambat karena terlambat berarti push up di depan Pak Semar, sang kepala sekolah. Aku harus cepat-cepat.

”Kapan kita belajar di tempatmu? Sudah tiga bulan belajar kelompok, masa nggak pernah di tempatmu sih?” Oming mendesakku saat akan memutuskan tempat belajar kelompok sore itu. Suasana inilah yang paling aku benci. Aku selalu benci ketika teman-temanku ingin datang ke rumah untuk alasan apapun. Aku tidak pernah menginginkan mereka ada di rumahku yang tua, reot dan tak berlistrik. Berdindingkan gedeg yang ditutup koran Wiyata Mandala dan lantai yang berdebu adalah kesempurnaan sebuah rumah yang meruntuhkan rasa percaya diriku. Maka dari itu aku selalu menghindar ketika seorang teman ingin menemuiku di rumah. Aku tidak pernah mengijinkan mereka.

”Nanti saja, masih banyak kesibukan di rumah, nggak enak untuk belajar. Takutnya kita tidak bisa konsentrasi nanti.” begitu aku selalu menjawab, yang aku tahu tidak pernah memuaskan rasa penasaran mereka. Mereka tentu tidak mengerti. Tidak mudah menjadi anak yang hidup di rumah gedeg di jalur hijau Padang Galak, tak berlistrik, tanpa kamar mandi dan harus bersekolah di salah satu SMA terbaik di Bali. Situasi menjadi lebih sulit ketika ini terjadi di penghujung abad ke-20 saat anak SMA bahkan sudah mengendarai mobil untuk apel ke rumah pacarnya. Sama sekali tidak mudah. Jika ada yang tidak tahu persis bagaimana rasanya, tanyakanlah kepadaku.

”Kamu sombong amat sih, gak mau didatangi di rumah. Payah nih Andi!” seperti biasa Oming mengakhiri negosiasinya dengan putus asa dan aku sambut dengan diam. Aku memang cenderung mengindari diskusi soal rumah, pesta, ngumpul-ngumpul, bersenang-senang dan segala sesuatu yang terkait menikmati hidup ala remaja. Bukannya tidak mau, aku selalu merasa berada di tempat yang salah jika harus melakukan kegiatan semacam itu. Singkat kata, aku menderita penyakit minder yang akut. Bukan karena aku bodoh tetapi karena aku miskin. Sangat miskin. Pastilah tidak mudah menemukan seorang anak SMA di Denpasar yang belajar dengan lampu sentir dan mandi di sungai setiap pagi di penghujung milenium II. Aku yakin sekali bahwa hanya ada satu orang seperti itu di muka bumi ini dan akulah orangnya. Betapa istimewanya aku, dalam arti yang sangat mengenaskan.

”Sudahlah, kamu istirahat saja dulu di rumah. Badanmu panas sekali.” Ibuku berusaha meyakinkanku untuk tidak masuk sekolah. Bukannya aku anti membolos, aku tidak ingin teman-temanku mendengar aku sakit dan kemudian mencari-cariku. Jika ini terjadi, tidak sulit bagi mereka untuk muncul di kamarku yang sama sekali tidak layak untuk dipertontonkan ini. Aku bersikeras bangun dan bersiap melesat ke sekolah. Sayang sekali, sakitku rupanya tidak ringan. Aku terhuyung dan terhempas kembali di tempat tidurku yang kumal. Ibuku semakin yakin dengan nasihatnya dan akupun terkulai tak berdaya. Sepanjang hari aku tidak bisa memejamkan mataku walaupun sudah kupaksa. Aku gelisah. Gelisah membayangkan 15 orang sahabat baikku akan muncul di pintu kamarku yang kusam dan menyaksikan hidupku yang lusuh dan lantak tanpa harapan. Apa yang akan mereka pikirkan setelah itu? Masihkah mereka akan menerimaku sebagai bagian dari mereka? Berbagai pertanyaan itu membebani kepalaku dan menjadikan hari ini sangat panjang.

”Gus…gus… ada teman-temanmu datang” di tengah ketenggelamanku dalam lamunan yang dipenuhi kekhawatiran, rupanya aku tertidur sekaligus berpikir. Aku tersentak mendengar bisikan ibuku dan berharap itu hanyalah mimpi. Belum sempat aku menyadari apa yang terjadi, wajah cantik Oming menyembul dari pintu. ”Mati aku!” aku panik bukan kepalang dan mengumpat dalam hati. Tetapi terlambat sudah semuanya. Yus, Wulan, Cok, Ryan dan Ayu mengikuti di belakangnya dan menebarkan senyum termanisnya membuat hatiku kian miris. Dhar, Pre, Eddy, Iwan, Gung, Wahyu, Agus, Oka dan Victor bermunculan satu satu memenuhi kamarku yang tidak luas. Aku hanya menyambut dengan senyum getir. Mereka tentulah mengerti apa yang kurasakan siang itu.

Basa-basi yang sangat kaku pun terjadi. Adalah Oming yang selalu paling bisa memecah kebekuan. Dialah satu-satunya yang sepertinya tidak terpengaruh dengan suasana kamarku yang mengenaskan. Sementara itu, yang lain masih sesekali terpana dengan tempelan koran Wiyata Mandala di dinding kamarku. Tanpa sadar mereka bahkan mengamati dengan seksama wajah-wajah yang bertebaran di koran yang tertempel tak rapi di gedeg tua itu. Apa yang kurisaukan terjadi juga. Teman-temanku datang tanpa diundang dan mengungkap aib yang selama ini kurahasiakan. Kemiskinanku tertelanjangi sudah dan kini pasti menjadi konsumsi publik untuk dihina dan direndahkan. Itulah yang ada dalam pikiranku. Kedatangan mereka untuk menyemangatiku agar sembuh dari sakit sama sekali tidak mencapai tujuannya. Aku bertambah sakit. Sakit hati dan lantak oleh penyesalan karena dilahirkan sebagai orang miskin.

Aku terbayang rumah Oming yang seperti rumah sakit bersalin, putih, besar dan megah. Belajar berkelompok di rumahnya adalah aktivitas kesukaanku. Belum lagi habis teh hangat manis di poci keramik mahal yang boleh kami minum sepuasnya, Mbok Dek, pembantunya, sudah datang dengan sirup dingin rasa strawberi di siang yang panas. Aku merasa seperti putra-putra kerajaan Hastina Pura yang belajar dan disuguhi apa saja yang mereka mau. Alangkah kontrasnya situasi di rumah yang mirip rumah bersalin ini dengan gubuk reotku yang tua, lusuh dan jauh dari wibawa.

”Ndi, nanti sore aku ke rumah ya. Ajarin aku Dimensi Tiga.” Oming menodongku suatu pagi di sekolah. Selama ini aku selalu ke rumahnya untuk belajar (atau mungkin lebih tepat disebut mengajari) Matematika, Fisika, Bahasa Inggris dan bahkan Bahasa Indonesia. “Di tempatmu aja Ming, kan sekalian pulang sekolah” aku menolak bukan karena alasan efisiensi tetapi lagi-lagi karena aku masih tidak pe-de membiarkan gadis cantik ini memasuki rumahku. “Nggak ah, males di rumah terus. Pokoknya aku yang ke sana ya.” Biarpun cantik dan kelihatan keibuan, perempuan ini keras kepala kalau ada maunya. Aku tidak akan bisa menolaknya.

“Yang terpenting dalam belajar Dimensi Tiga adalah imajinasi, Ming. Pikiranmu harus liar, dan kuat dalam membayangkan yang tidak nampak.” aku mulai membuka kuliahku meskipun agak kaku. Tentu saja kaku, hari ini adalah saat pertama aku menerima Oming di kamarku untuk belajar Matematika. Sulit aku bayangkan hal ini sebelumnya. Teman baikku datang ke rumah rapuhku dan menyaksikan semua keterbatasanku secara ekonomi sementara aku harus mengajarinya Matematika. Apakah aku sedang bermimpi? Diam-diam aku memandang wajah seriusnya yang tidak lepas dari buku Matematika di depannya. Dia seperti bergumamam…

Excuse me… excuse me… could you please take my picture?” aku tersentak dari lamunan panjangku. Seorang gadis cantik Amerika Latin berdiri di depanku. “could you please do me a big favor? I really need my picture with the lady.” Gadis ini mengulangi permintaannya seraya menunjuk Patung Lady Liberty yang berdiri megah tidak jauh dariku. “Oh sure, no problem!” Aku menjawab cepat seraya meraih kamera digital yang disodorkannya padaku. Akupun memotret gadis cantik ini bersama patung kebanggaan Bangsa Amerika itu. Lady Liberty memang telah menjadi ciri khas tidak saja New York tetapi juga seluruh Negeri Paman Sam ini. Sangat tepat Prancis menghadiahkan ‘gadis’ ini kepada publik Amerika di penghujung abad ke-19.

Aku memandang jauh ke Manhattan menyaksikan pencakar langit yang angkuh namun anggun berebut memenuhi langit kota yang kian temaram. Berdiri di Liberty Island sore ini melambungkan ingatanku pada masa SMA yang penuh kekhawatiran. Aku ingat Oming yang rumahnya seperti rumah bersalin itu. Aku merindukan belajar Dimensi Tiga bersamanya.

ADS 2008: LIST OF SUCCESSFULL AWARDEES

Hampir 300 wajah generasi muda terbaik Indonesia hari ini boleh berseri karena berhasil mendapatkan beasiwa Australian Development Scholarship (ADS). Sementara itu, mungkin ada tidak kurang dari 4000 wajah harus sedikit murung karena belum berhasil tahun ini. Ada yang bahkan hingga 12 kali mendaftar baru lolos, jadi jangan pernah menyerah. Kata orang yang agak bijaksana, kita tidak tahu berapa kali kita akan jatuh. Yang terpenting adalah berapa kali kita bisa bangun. Adalah ketika kita bangun akan menjadi sejarah yang dibicarakan.

Selamat kepada para pemanang tahun ini. Dapatkan informasinya dari:

  1. Situs ADS Jakarta
  2. Server UGM
  3. WordPress
  4. Rapidshare

Semoga bermanfaat 🙂

Perjalanan

Ada perjalanan terencana, ada juga yang tidak. Yang pertama kata orang bijaksana lebih baik karena hasilnya terukur dan terantisipasi. Begitulah pendapat, bisa saja beragam dan tidak harus disetujui.

Betapapun terencananya, selalu saja dalam perjalanan ada sesuatu yang tidak terduga. Ada kesedihan, ada juga kejutan yang memacu adrenalin. Ada kegembiraan yang tak terduga, ada juga bahkan bibit kemakmuran dan kemasyuran yang bertumbuh subur dalam sebuah perjalanan. Bagiku semua itu istimwa. Perjalanan kali ini bahkan adalah penemua sang diri yang telah lama dicari dan sedikit dikesampingkan. Selamat bertemu kembali diriku.