Sydney vs New York

Banyak yang bertanya pada saya “Bagaimana New York?” atau “Dibandingkan Sydney, bagus New York nggak?”. Tidak mudah menjawab pertanyaan ini secara instan. Pertama karena saya baru seminggu di sini, kedua memang keduanya bagi saya sangat mirip. Maju, tertata. Kalau dipaksa untuk menunjukkan perbedaan atau menilai mana yang labih bagus, saya akan sampaikan laporan pandangan mata selama seminggu ini.

1. Transportasi Bus
Kalau di Sydney di setiap halte bus ada jadual, di sini tidak. Jadual dibagikan gratis berupa brosur seperti halnya di Sydney juga ada. Kalau di Sydney, toleransi waktu tibanya bus pada suatu halte berkisar kurang dari 5 menit (dan lebih sering di bawah 2 menit), di sini bisa lebih dari 10 menit. Halte di depan rumah tempat saya tinggal semestinya dikunjungi bus q38 setiap 20 menit, kenyataannya tidak demikian. Seminggu di sini membuat saya mendapat kesan bahwa bus tidak terjadual dengan baik. Jadual kereta OK, sangat bagus. Subway di sini lebih komprehensif dibandingkan Sydney saya kira.

2. Taat lalu lintas
Saya sangat amat jarang (kalau tidak mau mengatakan tidak pernah) melihat mobil melanggar lampu merah di Sydney. Di sini cukup sering, padahal baru seminggu. Di kawasan Queens, 40 menit dari Manhattan (New York City), lalu lintas lumayan semrawut. Kemacetan terutama di lampu merah dan persimpangan terlihat cukup umum. Klakson juga di sini bukan sesuatu yang ‘sakral’ seperti di Sydney. Orang cukup mudah mengklakson untuk alasan yang menurut saya tidak penting. Tapi itulah kebudayaan, tidak ada masalah sepanjang tidak ada yang teriak “f**k you man” setelah itu 🙂

3. Menyeberang jalan
Kalau di Sydney, setiap penyeberangan dilengkapi saklar sehingga penyebrang bisa ‘mengendalikan’ lalu lintas, di sini tidak ada saklar. Signal penyebrangan berfungsi otomatis. Saya kurang tahu apakan trigernya adalah waktu atau kondisi lalu lintas, yang jelas lampu tanda boleh atau tidak boleh menyebrang beroperasi otomatis. Selain itu, kalau di Sydney ada suara seperti sirine yang akan berbunyi ketika tanda boleh menyebrang sudah hidup, di sini tidak ada. Menurut saya ini tidak fair untuk teman-teman kita yang tuna netra. Seandainya penyebrang jalan tidak bisa melihat lampu, mereka tidak akan tahu kapan bisa menyeberang.

4. Orang New York lebih dingin
Secara umum saya melihat orang di sini lebih dingin ketika berinteraksi dengan orang asing. Di Sydney, apalagi di Wollongong, orang dengan antusias membantu atau menjelaskan sesuatu ketika ditanyai. Mereka juga biasanya lakukan sambil tersenyum. Di sini tidak. Mereka memang mau membantu, tetapi dengan tampang dingin. Tentu saja ini bukan berarti mereka tidak baik hati. Itulah perbedaan budaya. Mungkin juga karena di sini orang rata-rata mandiri dan ‘pintar’ sehingga agak kurang toleran kepada mereka yang ‘bego’ dan tidak tahu menentukan arah sendiri. “Masak harus tanya lagi, kan ada peta!” mungkin begitu mereka berpikir. Namun demikian, kemarin ketika saya dan Sampan, teman dari Thailand menjelajahi NYC dan berfoto bergantian, seorang perempuan muda menawarkan diri dengan ramahnya untuk memotret kami berdua. Ini tentunya adalah kesan baik, walaupun belum tentu si gadis adalah orang New York.

5. Biaya transportasi
Untuk yang satu ini, New York lebih murah. Dengan USD 76, kita bisa naik bus dan subway di New York selama sebulan penuh kapan saja dan ke mana saja. Harga ini sangat murah dibandingkan harga di Sydney.

Itu lima hal yang bisa dibandingkan antara NY dan Syd. Tentu saja ini sangat subyektif dan hanyalah hasil pengamatan singkat yang jauh dari komprehensif. Dua atau tiga bulan lagi, tulisan ini bisa saja harus direvisi.

Mengubah kebiasaan

Tinggal di New York selama beberapa hari pertama membuat saya tersadar sesuatu. Tidak mudah ternyata untuk mengubah kebiasaan. Pertama, saya mengalami jet lag yang cukup hebat. Saya tidak bisa tidur nyenyak di malam hari dan bangun terlalu cepat. Tubuh belum ‘ngeh’ kapan siang kapan malam karena tertukar dengan Indonesia. Yang kedua, saya selalu salah jalan ketika berpapasan dengan orang. Secara otomatis saya biasanya ambil jalur kiri dan di sini adalah kesalahan. Seperti halnya mobil, lintasan ada di kanan. Lagi-lagi terbalik dengan Indonesia. Seminggu di sini, saya belum bisa menjalani dengan tanpa perlu berpikir.

Mengubah kebiasaan memang tidak mudah ternyata. Jangankan untuk sesuatu yang besar dan akan menyebabkan bangsa ini menjadi maju, untuk hal kecil saja saya ternyata resisten. Pengetahuan saja memang pastilah tidak cukup. Dia tidak akan menjadi apa-apa sebelum diwujudkan dalam bentuk tindakan.

Maka ketika banyak orang berpengetahuan selalu mengeluh tentang negeri ini, saya kadang berpikir sendiri. Saya tidak mau terjebak untuk menyalahkan mereka, tidak juga ingin menjadi seperti mereka yang memenuhi hidup dengan tumpukan kekecewaan. Saya ingin melihat lebih jauh lagi ke dalam diri. Pastilah saya juga adalah bagian dari kesalahan dan kenistaan ini. Jika ada yang harus diubah untuk sesuatu yang lebih baik, maka pastilah diri ini yang pertama harus mendapatkan girilannya.

Cerita untuk Keluarga

Seperti kata banyak orang, tempat ini adalah surga dunia bagi mereka yang menyukai tantangan dan menginginkan lebih. Anak, suami dan ayahmu kini ada di sini, berkeliaran laksana mereka yang telah lebih dulu mereguk nikmatnya kota.

Tidak banyak sesungguhnya yang terlalu istimewa, tetapi memang benar kota ini menyimpan hal-hal kecil yang belum sempat diberitakan. Yang kita tahu tentangnya adalah gemerlap kehidupan, kecantikan, ketampanan, kemewahan dan kesempurnaan. Yang kita tidak tahu adalah tentang perbedaan, keragaman, ketimpangan, ketergesaan dan bahkan kekotoran yang melekat padanya. Anak, suami dan ayahmu kini menjadi saksi semuanya.

Jangan menunggu sampai besok karena hari inipun bisa kausimak. Jangan menunggu oleh-oleh dariku karena manis di sini juga bisa dinikmati di ujung sana. Ini adalah tempat bagi mereka yang berani bermimpi, bahkan di siang hari. Hari ini kutuliskan untukmu cerita tentang penembak jitu, tentang anjing yang berkeliaran dan tentang keistimewaan di tengah perbedaan.

NYPD

Polisi berseragam biru tua, tinggi tegap wajah angker dengan tulisan NYPD di seragamnya. Penampilannya menjadi lebih angker dengan beberapa senjata tergantung di pinggang dan beberapa diantaranya menuntun Anjing Herder. Mereka memeriksa setiap orang yang melintas di depan Gedung PBB di New York City karena hari ini hampir semua kepala negara di seluruh dunia ada di New York.

Melihat ke atas gedung-gedung tinggi, snipper bertengger siap membidik siapa saja yang berulah. Para secret service berkeluaran dengan ciri khas earphone di telinganya. Bush sedang di dalam gedung. Suasana sangat sibuk, setiap orang awas dan waspada.

Apakah suasana ini ada di TV? Ternyata tidak. Aku bagian dari kesibukan itu hari ini.
Sebuah posting dari Gedung Sekretariat PBB di New York City.

Liberty Statue dan Tanah Lot

Saya sedang membeli SIM card di sebuah counter T-Mobile di daerah Queens, New York ketika penjaga counter bertanya tentang Bali. Nampak dari antusiasmenya, dia sangat ingin ke Bali. Sesuatu yang diimpikannya sejak lama dan masih menjadi mimpi sampai siang itu. Diam-diam saya berpikir bahwa mereka memiliki banyak hal di sini dan jutaan orang memimpikan untuk melihatnya seperti Liberty Statue, landmark of the US. Mengapa harus ke Bali?

Orang ini sibuk bertanya tentang Bali sambil matanya berbinar menandakan keinginan yang tak tertahan. Dia bahkan tidak menyadari betapa inginnya saya menyaksikan dan berfoto di depan Liberty Statue. Tentu saja Liberty tidak lebih penting dari Tanah Lot atau Pantai Kuta bagi dia saat ini.

Perjalanan cukup jauh dengan kereta bawah tanah membawa saya ke Bowling Green Statiun tempat menunggu ferry yang akan menyebrangkan saya ke Liberty Island, tempat berdirinya Putri Liberty yang terkenal itu. Saya berada di dalam barisan panjang orang-orang yang mengantri dengan tertib. Seandainya si penjaga counter T-Mobile melihat saya, mungkin dia akan tersenyum. Apa yang dicari orang Bali ini di New York? Mengapa harus rela ngantri berpanas-panas untuk Patung Liberty? Barangkali New Yorker akan berpikir begitu, seperti halnya saya yag kadang berpikir hal yang serupa ketika menyaksikan rombongan bule bermain dengan monyet di Alas Kedaton, Bali.

Setelah saya renungkan agak lama, ternyata bukanlah tempat atau obyeknya yang paling penting. Yang membuat Liberty atau Tanah Lot menjadi istimewa adalah perjuangan menuju ke sana. Seorang yang lahir dan tinggal di New York tentu tidak akan terlalu bangga berfoto di depan Liberty, seperti halnya saya yang bisa setiap hari ke Tanah Lot akan merasakan hal yang sama terhadapnya. Kami mengalami keterbalikan.

Adalah perjuangan panjang yang menjadikan sebuah momen itu istimewa. Saya telah menempuh 24 jam perjalanan dengan jet lag yang hebat sebelum akhirnya bisa menyentuh Patung Liberty. Tidak hanya itu, ada serangkaian tulisan ilmiah, proposal dan presentasi yang harus saya hasilkan sebelum mimpi itu terwujud. Setelah itu, ada ribuan dolar yang terkait dengan prosesnya dan saya adalah satu saja dari 10 orang di seluruh dunia yang beruntung ada di NY karena ‘kelihaian’. Bediri di depan Patung Liberty hari ini menjadi sedemikian istimewanya karena sejarah dan perjuangan saya yang patut dicatat.

Seandainya saya lahir di NY dan menjadi seorang penjaga counter HP, tentu saya akan bangga sekali bisa berpose di depan Pura di Tanah Lot berlatar belakang sunset nya yang terkenal itu.

Welcome to America

“A Nation of Migrants”, begitulah J. F. Kennedy menulis dalam bukunya tentang Amerika. Negara ini memang adalah rumah dari jutaan migran. Amerika memang tidak hanya berisi Angelina Jolie atau Tom Cruise tapi juga Rasyid, Muhammad, Pak Koplar dan bahkan Men Kocong. Singkat kata, lengkap. Amerika memang menjanjikan harapan sehingga tidak henti-hentinya orang datang ke negeri ini untuk hidup yang “lebih baik”.

Berdiri sambil terkantuk-kantuk di sebuah kereta bahwah tanah dari Queens ke Manhattan di New York merupakan pengalaman berkesan. Bukan saja karena bagusnya sistem transportasi yang memindahkan jutaan orang setiap hari tetapi lebih karena betapa beragamnya jenis orang di kereta itu. Yang hitam, yang tinggi, yang pedek, yang kuning, yang rapi, yang selenge’an, yang perlente, yang tak terawat semua ada. Pemandangan yang tidak mudah dibayangkan sebelum menyaksikan sendiri.

Inilah Amerika, selamat datang diriku.

Australian Leadership Awards (ALA)

Catatan: Saya adalah penerima ALA 2008 (update 07/08 )
Click here for English.
Australian Foreign Minister
Australian Foreign Minister

Beasiswa ini tergolong baru untuk Indonesia. Untuk pertama kali beasiswa ini diberikan kepada 22 orang penerima dari Indonesia pada tahun 2007. Seperti diklaim di websitenya, ALA merupakan beasiswa dengan kompetisi ketat di tingkat regional. Penentuan keputusan final tidak terjadi di Jakarta tetapi di Canberra, tempat ratusan kandidat diperbandingkan sebelum diberi beasiswa.

Seperti namanya, beasiswa ini memang disediakan untuk pemimpin dan calon pemimpin masa depan di kawasan Asia Pasifik. ALA memberikan beasiswa penuh kepada penerimanya untuk studi tingkat master dan doktor di beberapa negara, umumnya Australia. Lembar fakta tentang beasiswa ini bisa dilihat di websitenya pada ALA scholarship fact sheet.

Ketika mendengar beasiswa ini pertama kali dari seorang kawan, saya langsung tertarik. Sayapun langsung menyiapkan segala persyaratannya. Ada beberapa hal yang penting yaitu:

Continue reading “Australian Leadership Awards (ALA)”

Kang Sejo

Sudah sejak lama saya tahu kalau Mohammad Sobary adalah alumni AusAID dari Monash University, Melbourne. Saya mengikuti tulisannya sejak lama, termasuk hasil perenungan dan kreativitasnya selama berskolah di Melbourne awal tahun 90-an silam.

Salah satu karyanya yang menarik adalah ketika Sobary bercerita tentang kegundahannya saat ada yang membakar Bendera Indonesia. Menurutnya, jika ada yang menghina pemerintah atau oknum aparat keamanan Indonesia, mungkin dia akan memaklumi karena kenyataannya memang banyak kelemahan yang layak dikritik. Namun ketika bendera yang mewakili sebuah bangsa dibakar, si pembakar secara simbolis telah menyatakan permusuhannya terhadap bangsa yang memilikinya. Dalam hal Bendera Indonesia, pembakaran terhadapnya berarti berhadapan dan menyatakan ketidaksetujuan kepada lebih dari dua ratus juta orang yang jelas di dalamnya ada orang baik. Begitulah Sobary membela bangsanya dengan ketajaman pena.
Saya tidak pernah bermimpi bertemu Mohammad Sobary sekaligus juga tidak pernah berharap. Bagi saya, menikmati idenya mungkin jauh lebih baik tanpa terlalu dekat dengan penulisnya secara pribadi karena seringkali menimbulkan subyektivitas berlebihan. Namun waktu berbicara lain. Saya dipertemukan dengannya dan sempat berbagi gagasan. Sebuah kesempatan hanya gara-gara kami sama-sama alumni AusAID. Pengalaman yang menarik.

Ketika saya minta Pak Sobary untuk berfoto bersama, beliau tidak keberatan dan bahkan membuka buku saya yang baru saya hadiahkan seraya berkata “Katakan pada orang-orang kalau Sobary saja sudah membaca buku Anda.” demikian Kang Sejo berkelakar.

Selamat menunaikan ibadah puasa

Mengingat pengulangannya yang pasti setiap tahun, puasa tentu saja tidak begitu istimewa. Tidak ada kejutan karena bahkan bisa diprediksi kapan terjadinya hingga seratus tahun ke depan. Ada sahur di pagi hari, buka di sore hari dan tarawih menjadi ciri khas Ramadhan. Bagi seorang Made Kondang, semua itu biasa-biasa saja. Biasa saja karena Kondang memang tidak pernah puasa. Yang istimewa baginya hanya satu. Tidak ikut puasa tetapi selalu datang di manapun ada acara buka bersama. Ini yang selalu dinanti Kondang. Jadi, kalaupun Ramadhan menjadi istimewa baginya, pastilah karena buka bersamanya.

Meski demikian, kawan-kawan sepermainan Kondang seperti Ahmad, Zulkipli, Ali, Gaffar dan Solahudin, Ramadhan pastilah selalu istimewa. Entah apa itu, Kondang tidak ingin membahasnya. Sudah terlalu banyak ceramah di tv dan radio yang menyampaikan keagunagan dan keistimewaan Ramadhan. Kalau semua stasiun tv bisa menyiarkannya dan mempromosikan kebaikannya, pastilah Ramadhan memang baik adanya. Kondang yakin itu.

Di bale desa ada tulisan “Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankan. Bagi yang tidak menjalankan mari kita hormati yang berpuasa“. Indah sekali kata-kata itu. Tiba-tiba Kondang melihat masih ada ruang kosong di bagian bawah dan diapun dengan kreatif menambahkan kata-kata “Bagi yang berpuasa, maklumilah yang tidak puasa” dan inipun dilengkapi dengan tanda senyum di bagian akhir 🙂

AusAID Alumni Conference and Dinner: An Epilogue

You are currently reading a personal subjective opinion of mine. Anything expressed here are of my own and therefore are not aimed at representing the AusAID alumni’s. This is merely my personal impression concerning the conference and dinner we had on 6 September 2007.

Dinner is a tradition, which I do not know when was initiated. Dinner, in my personal opinion, is an interesting annual program, with the most important part: reunion. Reunion is with IALF classmates, with colleagues from the same university in Australia, or with friends from other Australian universities, who have kindly provided cheap (if not free of charge) accommodation for summer brake. Visiting different states in Australia during study was always an exciting experience, especially because there were always AusAID students with cheap or even free accommodation for the ‘poor’ travellers. But wait there is another interesting part of dinner: vote of thanks from a new alumnus. This is always able to come up with surprises, something fun or even touching. I usually could not wait to hear a vote of thanks.

Unlike the other dinners, the one on 6 September 2007 at Gran Melia Hotel, Jakarta was a bit different. To me, the conference made it special. If I am not mistaken, this kind of conference is a newly-established program. To me, this is a real breakthrough. However, this might be considered as a ‘business as usual’ conference and was merely a formality. If one comes up with that scepticism and ignorance, it is inevitable that the conference would be merely a formality. A conference, no matter how serious the preparation is, will be meaningless when it is ignored and is not listened to.

Considering that, I tried to put my attention quite seriously to the conference. Thank God, I was jobless so that I had more that enough time to sit and listen to conference speakers from 9 am to 4.30 pm. The fact that there are now around 10 thousands AusAID alumni in Indonesia indicates that the power of AusAID Alumni cannot be ignored. If Anand Krishna is convinced that 300 conscious people can ignite and develop consciousness all over the archipelago, then the figure of 10 thousands is more than enough for a good hope. This AusAID alumni conference, with around 10 thousands top-notch generation of Indonesia, undoubtedly offered something better that just ritual.

A warm welcome speech from Dr. Bob Mosse as an MC resulted in friendly situation in a family environment, but still with professional impression. HE Mr. Bill Falmer, the Australian Ambassador to Indonesia, then delivered a calming but impressive speech to the audiences. A peaceful, advanced, and prosperous Indonesia is the one Australia is also aiming for. This was one of the important points he mentioned in his speech. This might seem to be cliché and could be judged as merely a ‘lip service’. Once again, this article is a subjective one, and coincidently, I am not in the mood for a negative judgment. At the day, I was trying to believe what I heard, not what lies beneath. It seems to me that Indonesian people have been spending too much energy for suspicions. I do not want to waste my energy.

The keynote speaker was Dr. Carunia MH Firdausyi, a PhD holder in economics from the University of Queensland, who is currently a deputy for State Minister for Research and Technology (Ristek). He informed Ristek’s activities, particularly, those concerning research focuses and collaboration with Australia. He noted an important point that even though Indonesia-Australia political relationship is currently up and down, scientific collaboration is pretty much unaffected.

Mr. Falmer and Dr Firdausyi were enthusiastically responded by audiences with questions. Audiences were critical and could never accept something without questioning. The moderator had to refuse few other questions from being discussed openly in the forum due to lack of time. Interestingly, an AusAID alumnus suggested AusAID provide free journal and other electronic resource access for alumni. This is, responsively answered by AusAID people in the room indicating their good intention. However, we might need to put the dream aside as nothing will fall from the sky easily. Everything takes time and serious consideration.

The most interesting part to me is the fact that we discussed in English. I though only very few people in the room who could not speak Bahasa Indonesia well and almost all of them (ideally) understand it. It may be because most of the people in the room are Australian Alumni with minimal IELTS score of 6.5, so the discussion was in English. I could only guess.

The two speakers in Session I were Prof Sri Moertiningsih and Dr. Darni Daud (Rector of Syah Kuala University). Prof Moertiningsih delivered a topic of demography in a casual, interesting yet smart manner. She, with no hesitation, perfectly combined Bahasa Indonesia and English that often sparked laughter. Her funny and casual style of presentation brought a friendly and warm situation. Meanwhile, Dr. Daud asserted the need for investing in people. He neatly quoted a Chinese proverb “If you want months of prosperity, grow grain. If you want years of prosperity, grow coconut. If you want an ever lasting prosperity, grow people.” Both speakers were also bombarded by questions from the audiences. Few questions were stopped by the moderator for time reason.

Personally, the speaker of Session II was the one I waited for. I am a big fan of Mohammad Sobary. I never met him in person previously but enjoyed his works very much. He is one of my favourite writers. Should I be granted talent and chance for writing, I do not mind to be ‘just’ like Pak Sobary. I intentionally write this statement here without smile icon or other emoticon indicating that I am kidding because I AM not kidding, really. At least I am in the position to convince myself that to be like or to be more than Sobary is NOT impossible. [Honestly, I smile this time but only in my hearth].

Pak Sobary was the first speaker, who without hesitation delivered his presentation in Bahasa Indonesia. With personal capacity, which everybody in the room recognizes, using Bahasa Indonesia did not make him look bad. His decision to use Bahasa Indonesia positively drew admiration and I personally saw this as a representation of his character, which is very Indonesian. One important point Sobary marked in his presentation was that knowledge, to some extents, has nothing to do with behaviour. One might be knowledgeable, but she/he could be an evil and do corruption at the same time because the problem is in his/her hearth. Having knowledge only surely is not enough. To some extents, I do agree with this. This reminded me of a philosophical quote that I could not remember from where. Data should be processed to be information and then formulated into knowledge. Knowledge will be meaningless if it stops its journey in the stage of knowledge where it is ‘only’ taught and told. It has to be shifted into a higher stage called wisdom and ultimately completed the metamorphosis in the stage of enlightenment.

Sobary’s presentation in Bahasa Indonesia was followed by Dr. Amir Imbaruddin, a lecturer of STIA LAN Makassar. He too presented in Bahasa Indonesia delivering a very interesting topic. He highlighted the issue of human resource in local government. He stated the amount of money one should illegally spend to be a civil servant, for instance. This was not that surprising, but was really interesting when it was openly declared in an AusAID alumni forum.

These two speakers, just like the other speakers, were also bombarded with questions. It was quite obvious that enthusiasm of the audiences was maintained until late in the afternoon. This indicated their seriousness. The organizers, whoever they are, deserve positive appreciation for this. I can give my two thumbs up for a conference with such enthusiastic audiences.

Before lunch break, I took the chance to see Pak Sobary for a small chat. I too gave him my newly released book: “International Maritime Boundaries – A Technical and Legal Perspective” (in Bahasa Indonesia). For Pak Sobary, I am sure the book is not directly useful, considering that he has nothing to do with maritime boundaries. However, I did not really care about usefulness. I wanted to present my work to Sobary, that’s all. A photo of us was taken with Pak Sobary holding my book. I believe it should be an excellent endorsement.

During the exciting conference, I met some fellow alumni of the same batch and we shared a lot. We talked about many things ranging from something funny and unnecessary to something seriously philosophical that causing tears. But this is another story.

The next speakers are the Mayor of Banda Aceh, Mawardi Nurdin, and Agus Sumule, PhD, senior adviser of Papua Governor. An interesting issue that I got to record from the mayor’s speech was the serious effort of the mayor to listen to women’s opinion in Banda Aceh. This, undoubtedly, brought positive attention from the audiences.

Meanwhile, the presentation by Pak Agus, to me, was amazing. Data and facts he presented showed how rich our Papua is but it is now known as one of the poorest provinces in Indonesia. It is unbelievable seeing how primitive the way our brothers and sisters live their life in some villages in Papua, while Papua has with it great amount of natural resources. Pak Agus ended his presentation with conclusion that was worth noting. He presented to the audiences current condition of Papua, followed by efforts that have been done and about to be done to achieve an ideally more prosperous Papua. However, should the efforts be failed, something unpleasant might happen. The claim for independence and other forms of separatism will remain in the history of the nation called Indonesia, he asserted.

The three last speakers were from WWF (Fitrian Ardiansyah), from Andalas University (Prof. Dachriyanus) and from the National Committee for Transportation Safety, KNKT (Ruth Hanna Simatupang). Bapak Fitrian presented such a popular and interesting topic of climate change and global warming and their impacts to man kind. The impact would be borderless and it applies to every single place on Planet Earth. The danger is coming to mankind as a group of civilization, which therefore requires unity of people on Earth to fight. Fitrian asserted that Earth is the only place where human can live; therefore we, together, need to save the planet.

After Fitrian’s presentation, Professor Dachriyanus from Andalas University presented his idea concerning the possibility to obtain natural medicine from Indonesian rain forest. Unlike Pak Agus from Papua who emphasized the utilisation of wood from forest, Prof Dachriyanus offered a different perspective to get as much advantages as possible from the forest by discovering natural medicine. Apart from his excellent presentation, the way he spoke, which sounded like Kuala Lumpur Malay brought different yet funny and casual situation.

Ibu Ruth, presenting after Prof. Dachriyanus, delivered something actual and hot: air transportation safety. The issue has been one of the most famous concerns in Indonesia lately. As you might guess, the topic drew enthusiastic response from the audiences. Some questions were addressed and some other delivered comments and suggestions only. It can be concluded from the discussion how important it is to enhance our concerns toward better air transportation.

As highlighted by Pak Sobary, it is not the time to ask ”do you know it?” but ”have you done something?”. ”Know” and “do” are two completely different things.

Dinner started at 7 pm. Dinner participants seemed to be more than those who came for conference. This is not uncommon, I guess. Something worth noting was the touching speech by Mr. Falmer, especially when he talked about Ibu Alison Sudrajat, one of the casualties in Garuda accident, in Yogyakarta, early this year. It is unquestionable how great her contribution to Indonesia and Australia is. This motivates an idea for the Australian Government to establish an award in her name. The best four Australian Leadership Award (ALA) grantees of this year will automatically be granted Alison Sudrajat Awards. These four grantees will receive additional facilities that the other grantees do not, such as being involved in Australian government activities, Australian research centre, etc.

A touching speech was also delivered by Prof Roem, a cancer warrior of Indonesia. She is an alumnus of Colombo Plan in 1975 and has been devoting her live and energy to fight cancer in Indonesia. She is surely in her late age, but her toughness and achievements are amazing. These inspire me personally to achieve better in life. This is to me an ideal profile of an AusAID scholar: tough, persistent and wise at the same time.

The one I waited for with impatience was the vote of thanks by Novi, an alumnus of Flinders University. Coincidently, we are from the same institution Gadjah Mada University, Yogyakarta and had a chance to meet up in Adelaide back in 2005 for a conference. The speech was touching and funny at the same time. It was touching since it reminded us of difficult struggle in Australia but also funny as the speech accurately described small unimportant yet impressive facts and phenomena during our study in Australia. Those small things, frankly speaking, were those that developed image and impression about Australia, making it unforgettable.

I do not want to be a flatterer, but I must say that the organizer deserve my appreciation. The conference went well and it seems to me that it met its objective. However we are waiting for relevant follow ups. On the other hand, the dinner was really impressive. If you think there are people who devote so much energy and time for all of the success, they must be those from IDP and all other institutions that I do not know. No matter whom the great people are, their hard work and dedication deserve our appreciation.

See you in a better conference and dinner next year.