Bagi seorang dosen UGM., berada di Hotel Manhattan di Kuningan Jakarta mungkin tidak istimewa. Akan tetapi bagi seorang anak petani yang Bapaknya tidak sempat menyelesaikan pendidikan SD, ini bisa menjadi cerita. Saya adalah anak petani desa yang masih saja terbawa oleh perasaan rendah diri yang saya tahu sudah tidak perlu.
Menolehkan kepala ke luar jendela menyaksikan kerlip lampu di gedung-gedung tinggi Kota Jakarta selalu menyisakan kesan. Kesan indah karena memang kemilau sekaligus pilu karena di baliknya konon ada duka jutaan manusia Indonesia. Tapi cerita ini bukanlah tentang duka, tetapi tentang keberuntungan.
Keberuntungan ini hinggap pada seseorang bernama saya yang kini di lantai 29 Hotel Manhattan Jakarta. Tentu bukanlah Hotelnya yang penting, tetapi alasannya yang patut disimak. Saya berada di lantai tinggi ini untuk melanjutkan perjuangan untuk menjadi pemimpin di masa depan. Ya begitulah ‘judul’ yang diberikan pada acara ini. Apakah saya memang sehebat itu? Sang sayapun meringis malu ketika ditanyai.
Besok saya mengikuti wawancara sebagai kandidat penerima beasiswa ALA, Australian Leadership Awards untuk studi Doktor di Australia. Cerita ini bukan untuk membahas apakah saya berpeluang diterima atau tidak. Sekedar membagi kegelisahan di ruangan dingin karena AC serta keberuntungan dan ‘kebetulan’ yang menyertai ceritanya.
Saya berada di Australia ketika menyerahkan persyaratan ALA dan baru tahu kalau ternyata ada proses wawancara dalam seleksi ALA. Ini berbeda dengan yang terjadi tahun lalu. Sayapun pasrah saja dan tidak berharap banyak. Tidak mungkin saya mendapat beasiswa ini karena untuk mengikuti seleksi lengkap saja tidak mungkin. Saya ada di Australia.
Keajaiban (atau apapun namanya) memang masih terjadi. Karena alasan yang masuk akal, saya ada di Jakarta dan ditelpon oleh ALA. Saya diundang wawancara tanggal 10 September padahal tanggal 14 harus segera kembali ke Australia dan beberapa hari sesudahnya mungkin sudah ada di belahan bumi lainnya. Mobilitas saya memang tinggi belakangan ini. Wawancara ALA terjadi di Jakarta dan tepat ketika saya ada di Jakarta. Inilah yang saya maksud dengan keberuntungan dan ‘kebetulan’ tadi. Eh, sebentar! Bukankah kebetulan itu tidak ada? Pastilah ini bukan kebetulan, apalagi kesalahan. Jelas bukan. Apapun itu, ini layak sekali saya syukuri dan bagi ceritanya kepada istri, anak, orang tua dan mertua. Juga kepada Anda.
Kejadian ini tidak membuat saya menyerahkan hidup begitu saja kepada tangan tak tampak, tapi setidaknya membuat saya percaya adanya hukum yang bekerja maha sempurna.