Kejujuran


[pelajaran dari seorang bapak]

Kalau ditanya apa arti kejujuran, masing-masing orang mungkin akan memberi jawaban yang berbeda-beda. Kira-kira ada yang mengartikan ‘selalu datang tepat waktu saat kerja dan tidak pernah nitip kartu presensi untuk digesekkan oleh teman lain’. Ada juga barangkali yang mengartikan kejujuran sebagai perbuatan yang tidak pernah menggelapkan penggunaan uang organisasi, walaupun jelas-jelas tidak ada yang tau. Dan pasti ada juga yang menganggap kejujuran sebagai keterusterangan seseorang kepada pasangan hidupnya. Jika saya sendiri ditanya tentang kejujuran, saya punya pendapat sendiri.

Bapak saya adalah seorang laki-laki desa yang bahkan tidak tamat Sekolah Dasar. Tapi saya bangga dengan beliau, jelas bukan karena kepintarannya, tapi akan kemampuannya untuk berpikir ke depan dan mengadaptasi tantangan jaman. Dengan paham ke-desa-annya dan ke-tidaksekolah-annya, toh beliau akhirnya memiliki dua orang anak yang sudah sarjana. Ini tentu karena pemahamamannya yang baik terhadap arti pendidikan. Ya, tentu saja disamping karena beliau dikaruniai rejeki yang cukup untuk menyekolahkan kami, anak-anaknya. Yang jelas, semua keberhasilan ini tidak lepas dari dukungan Bapak dan Ibu yang walaupun sederhana, tapi tulus.

Suatu ketika, saat saya baru saja dua sebulah bekerja di sebuah perusahaan swasta nasional di Jakarta, beliau, bapak, saya minta untuk datang ke Jakarta dari Bali. Tentu saja beliau merasa senang sekali. Walaupun jaman dulu, konon beliau sudah pernah ke Jakarta, tapi itu tahun 1972, dan itupun sebagi kuli bangunan, ketka TMII sedang dibangun. Saya ingat sekali, waktu saya kecil, bapak sering membanggakan pengalamannya ini kepada kami, keluarganya. Setiap kali bapak menceriakan ini, saya hanya terbengong. Tidak pernah waktu itu terbayang akan bekerja di kota metropolitan ini, apalagi bisa mendatangkan bapak ke Jakarta dengan ticket yang saya beli sendiri.

Selama di Jakarta, bapak saya ajak jalan-jalan dengan mobil seorang teman, yang saya pinjam plus sopirnya. Maklum saja, saya baru saja di Jakarta, sehingga untuk nyetir sendiri masih belum berani. Saya mengajaknya melintasi Tol di sepanjang Bekasi Jakarta, melewati kawasn Sudirman yang megah dengan perkantorannya, kawasan Thamrin dan bahkan tempat kediaman presiden. Bapak saya adalah seorang yang ekspresif, beliau dengan gampang mengungkapkan kekagumannya. Dan seperti layakya orang desa, kekaguman itu ditujukan kepada lebarnya jalan tol, tingginya gedung-gedung pencakar langit, lampu penerangan jalan, monumen nasinal dan semua wujud fisik yang memang tidak bisa disaksikan di Bali, daerah tempat tinggal kami.

Tidak henti-hentinya bapak berdecak kagum sambil sesekali terlotar kata-kata dari mulutnya “ini baru sorga!” dalam Bahasa Bali yang kental. Sorga?! saya kadang geli mendengarnya dan konyol saya rasa. Terlintas juga ada perasaan tidak enak pada teman saya, karena bapak saya begitu udik gayanya. Tiba-tiba saya menikmati keheranan bapak yang vulgar itu. Inilah arti kejujuran, saya kira. Bagi saya bapak begitu jujur mengungkapkan penilaiannya. Kalau senang, dia katakan, kalau mengagumkan dia akui. Saya akhirnya berpikir, seandainya semua orang bisa jujur seperti itu. Mungkin tidak perlu ada ‘kesalahan prosedur’ seperti yang saat ini sedang pupuler. Tidak akan terjadi salah sasaran dalam pemberian bantuan, misalnya, jika saja masyarakat jujur mengatakan apakah dia mampu atau tidak secara ekonomi. Dan bukankan pendidikan juga sering salah sasaran karena ketidakjujuran masyarakat dalam mengakui apa yang mereka tau dan apa yang mereka tidak tau. Saya tiba-tiba saja merasa iri dan malu, batapa seringnya saya berpura-pura dan tidak jujur hanya karena takut dibilang bodoh. Sebenarnya saya dan mungkin juga Anda (ini hanya mungkin, bisa jadi saya salah) sering berpura-pura tahu dan ‘sok biasa’ (misalnya naik lift, makan di restoran mewah dengan piring dan sendok, garpu serta pisau yang sebenarnya kita tidak mengerti pemakaiannya, teknologi komputer baru, alat pencetakan dan lain-lain) walaupun kita sama sekali belum pernah melakuannya. Mengapa? Ya karena saya tidak jujur. Karena saya terlanjur takut dengan anggapan orang.

Bapak saya tetap banyak berdecak kagum, tetap banyak bertanya dan tetap banyak berkomentar. Kejujuranya inipun disampaikannya di desa melalui rembug informal di warung, di piinggir jalan dan bahkan di Pura. Kejujuran ini mungkin tidak sepenuhnya baik, tapi kadang-kadang kita perlu menunjukkan keheranan, kekaguman, antusiasme, bahkan ketidakbisaan kita.

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s