Perempuan

Duduk menghadapi hidangan yang jelas bukan yang biasa dimakan bersama keluarga di desa dan merasakan dinginnya AC yang semilir pelan tapi merasuk sampai tulang, membuat percakapan sore itu menyisakan kesan. Berkesan bukan karena makanan di atas meja yang sesungguhnya terasa aneh, tetapi aliran percakapan yang sepertinya liar, menembuh sekat-sekat yang oleh para leluhur terlalnjut dibuat dan dipercaya.

Sore itu aku mendengar suara perempuan yang diucapkan dengan kedalaman hati dan kejujuran yang tidak akan pernah bisa lebih telanjang dari itu. “Kalau aku dan kamu sudah saling mengerti bahwa kita hidup di jaman yang sama, sekolah di sistem pendidikan yang sama, sama-sama bekerja di dunia swasta, dengan umur yang tidak terlalu jauh berbeda, mengapa aku harus lebih tahu alasan anak kita menangis daripada kamu? Kalau kamu yang dengan kecerdasan yang tidak jauh beda denganku tidak mengerti apa yang terjadi pada anak kita, mengapa aku harus tahu?

Begitulah perempuan-perempuan jujur berucap pada belahan jiwanya yang oleh kaum adam mungkin terdengar seperti halilintar. Tapi sore itu, aku tidak mendengarnya seperti itu. Aku mendengar suara itu sebagai kejujuran paling polos dan adalah hak suara dari makhluk Tuhan bernama perempuan. Apakah aku yang bijaksana atau semata-mata karena dia bukan istriku? Aku tidak tahu…

Najwa Shihab

Bagi yang mengikuti Metro TV seharusnya tahu Today’s Dialogue dan pastinya tahu siapa Najwa Shihab. Nana, begitu dia dipanggil, memang seorang presenter top di Indonesia. Kesempatan bertemu dan berdiskusi dengannya pastilah bukan sesuatu yang biasa. karena itulah aku tuliskan di sini, seperti halnya aku mendokumentasikan pertemuan dengan tokoh populer lainnya seperti Marty Natalegawa, Hasjim Djalal, Mohamad Sobary, dan bahkan Ramos Horta. Meskipun kesemua tokoh itu akhirnya mungkin lupa pernah bertemu denganku, setidaknya bagiku ada pelajaran dan kesan tersediri.

Harus diakui, Nana, selain cantik, juga pintar. Being a very prominent presenter, kemampuan komunikasi oralnya mumpuni. Seorang kawan berkomentar, itulah bedanya menghadapi Najwa Shihab dan Dewi Persik. Kesan yang timbul akan berbeda setelah berbicara 🙂

Lepas dari urusan akan ke Australia bareng karena mendapatkan beasiswa yang sama, sore itu aku tetap merasa menjadi seorang fans biasa. Tentu saja foto ini adalah gagasanku. Gagasan seorang fans he he eh. Tak mugkinlah seorang Najwa Shihab meminta foto denganku 😦 Atau kalaupun dia ingin, pastilah akan ditahannya [bener gak Na?]. Pertemuan singkat itu bagiku berkesan. Sayang buku Batas Maritim Antarnegara tidak ada di tangan waktu itu. Seharusnya satu eksemplar aku hadiahkan dan ada fotonya memegang buku biru itu, seperti beberapa tokoh terkenal lainya.

Btw, penggemar Najwa Shihab mungkin akan kehilangannya untuk beberapa saat karena sang presenter kini sedang di Australia menyelesaikan master di University of Melbourne dengan beasiswa ALA dan ASA. Kita tunggu saja apakah Dewi Talk Show ini akan kembali untuk PilPres tahun 2009 ke layar kaca 🙂

Ke Jakarta Aku Kembali

Berdesakan di kendaraan umum Jakarta dan aroma keringat yang memusingkan selalu memunculkan kegelisahan dan bahkan penyesalan, mengapa harus kembali [lagi] ke Jakarta? Walaupun selalu ada sesal, kembali ke Jakarta adalah kenyataan yang selalu terjadi. Tidak sulit mencari alasan untuk kembali ke Jakarta. Cinta adalah salah satu saja yang selama ini mendominasi. Bahkan sekedar “visiting a friend is a good reason,” kata seorang kawan.
Aku ke Jakarta lagi, menyaksikan hiruk pikuk kehidupan ibu kota yang konon lebih kejam dari ibu tiri. Untuk ini aku berani membenarkan dan bahkan mendukungnya dengan data empirik 🙂 Ke Jakarta kali ini adalah untuk perhelatan besar yang mungkin bahkan akan turut menentukan arah kehidupanku hingga usia 65 tahun nanti. Selain itu, adalah untuk persahabatan dan pertemanan yang baik. Membangun dan menjaga jaringan yang kokoh tidak pernah salah tempat dan waktu. Jakarta mungkin adalah salah satu tempat yang baik untuk ini. Seperti kata Jerry Maguire, “If this is where it has to happen, then this is where it has to happen“.

Pulang ke Kotamu

Pulang ke Jogja, memang selalu ada setangkup haru dalam rindu…

Suasana desa…

Kembali ke desa adalah kembali ke masa lalu yang tidak pernah hilang indahnya. Desa yang entah berapa tahun sudah ditinggalkan tidak banyak berubah, ternyata. Kunjunganku kali ini bukan kunjungan biasa karena kali ini aku datang dari tempat yang jauh. Tempat yang bahkan malam di sini menjadi siang dan terang di sini menjadi gelap di sana.

Menyusuri pematang sawah menuju Pura atau meniyisiri kali menuju muara yang tak pernah dijumpai adalah pengalaman yang sesungguhnya tidak baru. Kali ini terasa berbeda. Berbeda karena teman-teman yang dulu kecil kini sudah menggendong anaknya. Berbeda karena jalanan yang dulu berlumpur kini rapi berlapiskan beton. Inilah manifestasi kemajuan, kata mereka. Danau kecil di sebelah desa yang dulu dicapai dengan kaki telanjang, kini dengan kuda besi. Sang kuda yang dibeli dari Jepang, akrab dengan jalan yang sudah berlapiskan beton. Apakah hidup di desa sudah berubah? Tentu saja berubah. Bukankah perubahan adalah satu-satunya yang tetap dalam hidup ini?

Yang Koplar kini bermobil kijang, setelah bebrapa saat menjadi pemborong bangunan style Bali. Dia memiliki banyak karyawan dan tubuhnya pun gemuk, tidak sekurus dulu. Nang Cubling kini bersandal Carvil, tidak lagi bertelanjang kaki seperti dulu. Mereka yang ke Pura sumringah karena di tangan kanannya ada jam tangan merek Citizen, bukan lagi gelang akar bahar seperti jaman dulu. Kehidupan memang telah berubah. Semoga saja ini pertanda kemajuan dan pencerahan.

Dewata

Asap dupa itu, seperti yang pernah aku kenal, sore tadi mengantarkan puja dan puji kepada Dia yang hanya untuk dipuja. Aroma cempaka yang pernah akrab kini tercium lagi, memberi warna tegas akan sakralnya hari ini. Aku mendatangi Dewata berbekal lilin yang sinarnya malu-malu menerangi. Ingin kupamerkan kepadamu, aku kembali ke pangkuan ibuku.

Gema genta bertalu menyambutku, aku labuhkan rindu yang lama tak tersirami. Seperti itulah aku yang kembali pulang, air sucimu menjadi pelipur lara yang lama dan perih. Kidung suci yang terdengar sayup membangkitkan kisah masa kecil saat pemujaan menjadi kenikmatan yang ditunggu 210 hari lamanya. Aku yang memuja di waktu kecil dengan gairah, kini pulang mencoba membangun hasrat dari puing-puing kegelisahan di masa lalu.

Para leluhurku, saksikanlah kepulanganku yang berbuah tangan penuh seperti doa ibu dalam setiap otonanku. Aku yang pergi dengan tangan hampa kini pulang menyangkil menyuwun, persis seperti harapan para tetua yang ketika itu menyentuhkan sampian di pundak dan kepalaku. Doa mereka nampaknya mendekati keterkabulannya, aku pulang berbuah tangan penuh seluruh. Kubawakan untukmu ilmu, harta, tahta, dan yang terutama harapan untukmu bangun di pagi hari yang tersenyum.

Sayup kudengar mantra Gayatri, persis seperti yang pernah kupelajari sambil bermain di masa silam. Kini mantra itu terdengar lagi, tetap menggugah dan masih berbisa seperti sedia kala. Gemanya menyambutku untuk memetik bunga kenanga dan menyelipkannya di rambut kekasihku yang sabar menunggu sembilan purnama.

Selamat Tahun Baru

Tahun baru menjadi hal yang menarik untuk dikisahkan. Meskipun berulang setiap tahun dan cenderung menjadi rutinitas, tahun baru selalu istimewa. Seperti itulah saya yang selalu bertekad menuliskan sesuatu di tahun baru. Sesuatu yang istimewa. Ucapan selamat tahun baru yang istimewa, kartu ucapan yang khusus, tulisan yang menyentuh dan menggugah, semua itu senantiasa menjadi cita-cita.

Tidak pernah berhenti bercita-cita, sekaligus tidak pernah berhenti saya merasa gagal. Membuat sesuatu yang istimewa di akhir tahun selalu menemui kegagalannya, menurut saya. Ketika terompet telah bergema, kembang api berhamburan menghiasi langit dan disiarkan ke seluruh penjuru negeri, saya masih termenung dan tidak berbuat apa-apa. Kartu, seperti halnya tahun lalu, belum terbeli dan bahkan kini emailpun tidak sempat ditulis. Kebiasaan saya membuat kartu ucapan sendiri dengan foto seadanya, kini bahkan tidak kesampaian. Apakah hidup sudah benar-benar berubah? Barangkali harus disadari dan diakui begitu.

Dengan persiapan yang mengenaskan, ucapan ini tetap harus saya utarakan. Seperti seorang murid di padepokan silat yang tidak bisa menghindarkan kesehariannya dari latihan, betapapun dibencinya, seperti itulah seorang blogger seperti saya selalu terpanggil menuliskan sesuatu.

Selamat tahun baru 2008.
Ucapan ini pastilah tidak terdengar istimewa sama sekali. Apa yang ada di dalamnya juga pastilah tidak istimewa karena diucapkan dengan persiapan seadanya. Namun begitu, ucapan ini adalah yang terbaik yang masih tersisa di tengah ketidakmungkinan yang saya alami saat ini. Semoga sesuatu yang sederhana namun tulus ini menghadirkan yang istimewa bagi pembaca sekalian. Tahun mendatang, seperti juga pagi yang pasti terjadi, adalah saat yang segera akan menjadi masa lalu ketika kita lewati dan waktu melesat seperti angin. Pertanyaannya adalah, bagaimana kita akan menjadikannya bermakna?

Sunyi di belakang rumah

Dahannya yang tua gemetar menahan tirani sang dingin yang tak pernah memberinya ampun. Jakaranda tua itu melenguh menghela nafas panjang menyaksikan aku yang termangu di dekat jendela memandang jauh ke langit yang muram. Hujan masih setia meneteskan air yang seperti tak kan berhenti walau tak juga beranjak lebat. Semua terasa segan menunjukkan jati diri dan kesepian menjadi pilihan paling tepat untuk mengindarkan diri dari perhatian. Jakaranda yang hanya merintih lirih, hujan yang bahkan mengurangi desahnya dan salju yang malu-malu tak mau lepas dari batang pohon adalah pertanda kesedihan. Tapi mereka tak mau menyuarakan kegelisahannya.
Aku yang masih melamun, disaksikan langit yang muram mendendangkan lagu perpisahan dalam hati kepada sahabat-sahabat bisu di belakang rumah. Sunyi hari ini adalah jati diri yang paling mewakili rasa yang gundah gulana. Sunyi di belakang rumah tiba-tiba meneteskan air mata, melambaikan tangan menandai kepergianku. Itulah yang kutakutkan selama tiga purnama ini, ketika bahkan mereka yang bisu ingin berbisik menyampaikan salam. Aku yang pergi dan mereka yang tertinggal adalah kenyataan yang sedih. Tak satupun mampu melawannya, walau ketakutan dan kebijaksanaan dinikahkan dalam puri cinta di malam purnama. Akan terjadi, sayangku. Aku tak kuasa menolaknya.

Kepada sunyi di belakang rumah, aku titipkan senyumku yang pernah tertinggal untuk siapa saja yang mengerti arti persahabatan, perjuangan, pemujaan dan juga cinta. Di dalam misteri waktumu, ijinkan aku mencari persinggahan lain tanpa melupakanmu.

Queens, hari terakhir

Selamat Hari Ibu

Ibu
By Iwan Fals

Ribuan kilo jalan yang kau tempuh
Lewati rintang untuk aku anakmu
Ibuku sayang masih terus berjalan
Walau tapak kaki, penuh darah… penuh nanah

Seperti udara… kasih yang engkau berikan
Tak mampu ku membalas…ibu…ibu

Ingin kudekat dan menangis di pangkuanmu
Sampai aku tertidur, bagai masa kecil dulu
Lalu doa-doa baluri sekujur tubuhku
Dengan apa membalas…ibu…ibu….

Seperti udara… kasih yang engkau berikan
Tak mampu ku membalas…ibu…ibu

Malam terakhir

Kata-kata tua dalam peradaban melayu menasihatkan, bukanlah perpisahan yang kita tangisi tetapi pertemuanlah yang semestinya kita sesali. Saya sejak lama tidak setuju ini karena pertemuan dan perpisahaan adalah dua hal niscaya yang pasti terjadi. Jika ada pertemuan, pasti ada perpisahan. Keduanya biasa saja dan keduanya harus diterima.
Memiliki pemahaman seperti ini ternyata tidak cukup untuk menghindarkan saya dari kesedihan akan perpisahan. Ini adalah malam terakhir saya ada di Gedung PBB, New York, setelah tiga bulan menjalani berbagai proses. Tiga bulan itu telah berakhir dan saatnya megucapkan kalimat perpisahan. Seperti diduga, saya sama sekali tidak sedih meninggalkan Amerika, tidak juga gedung PBB. Yang membuat sedikit berat adalah momen yang terlewatkan selama tiga bulan ini membekas dengan sangat baik. Kejadian buruk dan baik terangkum menjadi satu dan bermanifestasi menjadi kenangan yang ternyata sangat sulit diabaikan di saat terakhir.
Argumentasi, perbedaan pendapat, perselisihan paham, persahabatan yang tulus dan benturan budaya telah menjadikan semuanya sempurna. Betul memang kata Gede Prama, kesempurnaan tercipta dari serpihan ketidaksempurnaan. Malam terakhir ini menjadi sedemikian berarti dan berkesan. Jika waktu bisa ditunda, saat inilah rasanya momen yang paling tepat untuk melakukannya.

Lelaki berkebangsaan Filipina datang mengulurkan tangannya dan berkata “I have been relying on you for this last three months for anything technical. Thank you Amigo.” Tentu saja apresiasi seperti ini membuat akhir perjalanan terasa paripurna. Di belakangnya muncul gadis manis asal Colombia dengan wajah sahdu dan mata berkaca-kaca. Tidak banyak yang bisa diucapkannya kecuali berterima kasih dan berharap kebaikan untuk saya dan keluarga. Dua orang ini menghabiskan waktu beberapa saat mengulang-ulang cerita yang sama pertanda memang perpisahaan ini menyisakan ketidaknyamanan.

Saya sendiri di ruangan, memandang ke luar jendela yang mulai gelap. Dingin musim salju terasa masuk walaupun ruangan kedap pengaruh luar. Dalam terawanan ini, muncul kawan lain dari Benin dengan ucapannya yang sangat menyentuh. “It is not the people you’ve helped who will pay you back but the hand of your creator that will choose you and make you the best you can be.” Bahasa Inggris terbata berlogat Perancis terasa sangat bermakna karena nampaknya kawan ini memang mengucapkannya dengan sungguh-sungguh. Saya sangat tersentuh.

Sebelum itu datang juga teman dari Comoros. Dia yang tidak berbahasa Inggris dan saya yang tidak berbahasa Perancis menggunakan bahasa “saling mengerti” dan ada pelukan persahabatan yang mengakhiri komunikasi bisu itu. “Send email”. Itu sepatah kalimatnya dalam bahasa yang saya mengerti. Saya pun menjawab dengan membungkukkan badan dan mencakupkan tangan dengan tangan kanan mengepal dan tangan kiri meggenggamnnya. Saya tahu dia akan mengerti maksudnya.

Teman dari Brazil datang terakhir. Dia yang tidak terbiasa berbasa basi hanya tersenyum. “I can go home with you toninght. Take your time… as long as you want and then we can go together.” Lelaki ini berkata tegas tetapi tersirat kesedihan di balik kalimatnya. Kesediaannya membantu mengumpulkan file dan foto serta menuliskannya dalam DVD hingga larut malam mebuat saya terharu. Persahabatan memperoleh maknanya malam ini.

Dalam perjalanan pulang, saya menemui rekan dari Kenya di ruangannya. Rekan ini beberapa kali datang ke ruangan saya sebelumnya dan berpesan agar “mampir” ke ruangannya ketika pulang nanti. “This is your last day, my friend. I don’t wanna miss it” katanya. Kawan ini memang termasuk baru bergabung tetapi telah menjadi bagian dari kelompok yang telah lama solid dan kompak. “I will not forget that you assisted me really during my first few days here in New York” dia kembali mengulang kalimat yang sudah sering diucapkannya. Saya hanya tersenyum seraya membungkukkan badan sambil tetap menjabat tangannya.

Ketika sampai rumah, terjadi percakapan santai dengan rekan lain dari Cameroon. “Yes, I know. It is sad to leave this country huh. I want to be here for two years more.”

Jadi teringat beberapa hari yang lalu. Kawan perempuan dari Thailand telah meninggalkan Ney York lebih dulu. Ketika berpisah, nampak sekali kesedihihan di wajahnya dan ada yang tidak bisa diungkapkannya ketika bersalaman terakhir. Dia salah satu teman paling sabar dan paling cekatan menjadi event organizer.

Malam ini, ketika dingin menyelimuti New York, saya harus mengucapkan kalimat perpisahan.
Kebekuan ini menjadi karena tidak mudah ternyata menghentikan sesuatu yang mulai terjalin dengan baik. Tapi semua ini akan pulih segera karena saya pulang ke rumah, mendapati kehangatan dari orang-orang yang dicintai. Mendapati keramahan Indonesia.