Kelahiran

Satu persatu perempuan bersenyum lembut berdatangan dan kemudian pergi. Satu dua lelaki berkemeja rapi pun menghampiri. Mereka bercengkrama dan menawarkan senyum dan ketenangan, layaknya seorang pujangga yang adalah ahli puisi. Seorang dari mereka menyapa dan menanyakan keperkasaanmu pagi ini, apakah perjalanan jauh melewati jalan kelahiran akan melelahkanmu di senja nanti? Begitulah, mereka yang bersiaga menjagamu dan memastikan segala yang terbaik akan tersedia menemanimu menjalani lorong kelahiran yang entah seberapa panjangnya.

Satu pria rupawan lainya menghampiri. Dia banyak tersenyum dan sekali lagi menawarkan ketenangan kepadamu. Dia nampaknya tahu betul, jalanmu akan panjang dan berliku. Dia hanya memastikan, semuanya baik-baik saja.

Tepat senja, saat matahari mulai meliuk ke barat, tangan-tangan mereka meraih tubuhmu dan membaringkannya layaknya kamu kesukaan mereka. Dinding tenang yang sesekali dihiasi geritan roda tandumu menjadi irama. Engkau menuju sesuatu yang serius namun dinanti. Engkau akan menjalani peluruhan rasa sehingga semua terjadi dalam sekejap mata, tanpa perlu engkau derita.

Tepat ketika putaran ketigapuluh usai, mimpi mulai berdatangan dan kini engkau melambung menembus langit ketujuh. Inilah awal dari perjalan panjang melintasi lorong kelahiran itu. Ringisan yang sesekali menyembul dari bibirmu, bagi mereka adalah keniscayaan yang telah dinikmati turun temurun. Rintihan itu kini adalah lagu pengantar suka cita mereka karena dengan begitu mereka dihargai.

Aku memeluk tangan dinginmu dan membandingkannya dengan galau hatiku. Keduanya sama gelisah dengan janji kebaikan yang sesungguhnya juga tidak pernah pasti adanya. Aku bertahan memelukmu dengan satu janji alam di pagi hari “engkau akan menikmati kegelisahannya, walau kelak di saat senja” Aku terlanjur memahami dan menyetujuinya.

Empat belas putaran berlalu ketika tangis itu menyeruak dan kelahiran, ternyata telah terlewati dengan nyaris sempurna. Aku yang terpaku, tidak sadar akan kecepatan dan kesungguhan acara ini, hanya bisa mengumbar senyum yang tergantung dengan tanggung. Dunia telah menyambut dan kini kujadikan buah ragamu sebagai anakku.

Puja Malam

[doa untuk anak istri]

//www.sendflowerstomumbai.com/images/diwali_gift_1.jpgAku menghampirimu yang terlelap bersama mimpi yang mungkin tak bertepi. Sayup kudengar nafas yang menebarkan ketenangan tak berdosa tanpa prasangka. Ini adalah malam keseribu aku melakukannya lagi, mendekati dan mendaratkan kecupanku di keningmu. Saatnya Puja Malam seperti malam-malam lainnya ketika kita semestinya khusuk berdoa.

Aku mendekatkan wajah pada tubuhmu yang tetap tidak bergerak dan membiarkanku menjelajahi setiap lekuk ragamu. Seperti biasa, aku menyempatkan diri mengamati satu-persatu tarikan nafasmu dan getaran tanda-tanda kepulasan yang dalam. Aku semakin mencintaimu. Cinta yang kini tidak saja untuk satu tetapi dua, semenjak kau kabulkan nafsuku menebar benih generasiku di rahimmu. Di Puja malam kali ini, aku tidak mendoakan tetapi mengajakmu dan generasi kita berdoa bersama.

Puja malam ini, seperti juga puja hari kemarin, tidak untuk memohonkan keterhindaran dari marabahaya tetapi untuk kekuatan menghadapinya. Tidak juga Puja ini untuk menghindarkan kita dari keterpurukan tetapi untuk kebijaksanaan menyambutnya. Puja ini tentu saja tidak untuk dicintai tetapi demi kekuatan untuk mencintai. Bukan permohonan untuk dikasihi tetapi untuk ketulusan mengasihi. Begitulah puja ini seperti yang diajarkan Tagore kepada generasi manusia.

Aku membenamkan kepala dalam-dalam seakan ingin menerobos ke dalam perutmu. Ingin kulambaikan tanganku sendiri kepada generasi penerusku, mengajaknya melakukan puja malam ini. Ingin kubisikkan sendiri Mantram Gayatri ini di telinganya, seraya melantunkan lagu-lagu indah semua agama yang dipenuhi dengan cinta. Ingin kuajarkan sedari pagi manisnya perbedaan, sebelum aku menyerahkan diri, pasrah kepada kekuasaan sang malam.

Aku gagal!

[waktunya menasihati diri sendiri]

Terlalu sering rasanya mendengar bahwa kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda. Runyamnya lagi, kata-kata itu sering terlontar bahkan dari mulut sendiri ketika dengan dagu terangkat menasihati kawan yang sedang kesusahan. Sekarang, kata-kata itu tiba-tiba menjadi bumerang yang tajam, ganas menghujam hulu hati.

Ya, aku telah merasakan kegagalan itu. Dan kali ini, datang bertubi menderu seakan tak berniat memberi ampun. Menerima kegagalan, tanpa ditanya lagi, sangat menyakitkan. Kesal, dongkol, dan semua perasaan negatif lainya tumbuh dengan suburnya. Tabiat malas menjadi sangat mudah muncul, sifat iri seperti meluap dan mau tumpah tak terkendali. Dengki pun menjadi sahabat kesaharian. Keindahan serentak menjelma menjadi kekacauan, senyum tiba-tiba menjadi cibir dan belas kasihan beralih menjadi hinaan. Ketika kegagalan datang, cinta pun seakan tidak kuasa dan berubah rupa menjadi benci tak tertahankan.

Sebegitu dahsyatkah kegagalan yang memporak-porandakan kebenaran umum yang selama ini nyaris sempurna berlaku tanpa cacat cela? Ya setidaknya itu yang terjadi bagi sang aku yang tidak akrab dengan kegagalan. Jika ada orang yang terpuruk paling lama karena kegagalan kecil, orang semacam inilah yang menempati urutan pertama. Keberhasilan yang memanjakan telah membuatnya lupa belajar dan lupa menyiapkan diri menjadi hina dan terdesak.

Apa yang bisa dilakukan sekarang?
Setelah merenung cukup lama, membiarkan badan dan pikiran terbuai oleh hari yang bergerak malas, akhirnya hanya ada satu jalan yang paling tepat, bangkit! Ya benar, istilah klasik itulah yang dengan terpaksa ditemukan kembali. Jika memang benar ada nasihat paling ampuh untuk membalik kegagalan menjadi keberhasilan yang sempat tertunda, barangkali inilah saat yang tepat menasihati diri sendiri.

Tidak ada yang jatuh dari langit, semua harus diperjuangkan. Benar kata pepetah lama, tidak ada cara yang paling ampuh untuk betah di rumah selain mencoba lebih lama tinggal di dalamnya.

Keresahan itu Bernama FATWA

Memandang langit-langit kamar yang yang muram oleh debu yang terperangkap di jaring laba-laba membuat pikiran semakin penat. Berkali kupaksa mata terpejam, tetapi tidak bisa. Pikiran sedang penuh sesak oleh banyak sekali hal yang tertunda.

Aku melesat menuju alam kedua, mencoba melayangkan pertanyaanku pada sekumpulan malaikat yang sedang serius bekerja. “Pikiranku terganggu”, kataku dengan memelas. “Kenapa?” Malaikat satu bertanya. “Aku tidak tahu dan tidak yakin, apakah harus mengikui anjuran para pemuka atau tidak. Mereka baru saja mengeluarkan Fatwa”. “Eh.. Fatwa, apa pula itu?” Malaikat lain menimpali. “Ah masak malaikat tidak tahu, Fatwa itu lo yang mengharamkan ini itu”. “Oh itu, kalau itu aku tahu… tentang guyon itu, ya kan bukan pertama kali dikeluarkan. Itu namanya mati ketawa ala pemuka”. Malaikat ketiga tergelak.

“Kamu tak usah bingung lah. Sudah makan siang kau?”. Satu lagi malaikat bertanya. “Belum malaikat, belum gajian.” jawabku resah. “Weleh-weleh… makan siang saja belum, wajar kalau kau bingung soal guyon begitu. Sekarang pergi sana, tagih gajimu, terus beli makan. Besok, kalau sudah kenyang kau datang lagi ke sini. Baru kita diskusi soal Fatwa.”

Penunjuk Jalan di Dunia Maya

[peta di internet]

Internet telah menjadi bagian tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat modern. Dunia maya, begitu kerap orang menyebutnya. Di dunia maya, banyak urusan terselesaikan. Mulai dari surat menyurat, hingga hal-hal klasik seperti mendapatkan jodoh, semuannya mungkin dilakukan.

Jika Anda membutuhkan petunjuk tentang lokasi suatu tempat, di dunia maya pun ada peta atau informasi spasial (keruangan). Peta di Internet sekarang mulai populer dan banyak digunakan. Peta ini tentu saja bukan peta statis yang hanya berupa gambar di website, tetapi peta interaktif yang bisa ”ditanyai”.

Peta yang sifatnya statis berupa gambar yang dipampang di halaman web bukanlah hal baru di internet. Peta semacam ini biasanya hasil digitasi peta analog (peta kertas) melalui proses pemindaian (scanning) sehingga dihasilkan file citra (image) tertentu (JPEG, GIFF, BMP, dll.). Peta semacam ini cukup untuk memberikan informasi tentang lokasi suatu tempat dan posisi relatifnya terhadap obyek-obyek di sekitarnya tetapi tidak memungkinkan pengguna berinteraksi dan mengajukan pertanyaan (query) yang spesifik.

Yang kini semakin populer tentu saja bukan peta yang statis melainkan peta interaktif. Beberapa situs peta interaktif ini bahkan bisa memberi petunjuk jika kita ingin pergi kesuatu tempat, termasuk menentukan jalur/lintasan efektif.

Salah satu situs peta interaktif adalah Multimap.com, sebuah situs peta online paling populer di Eropa. Meski keluaran Eropa, situs ini memuat peta seluruh dunia, hanya saja dengan ketelitian yang tidak sama. Eropa dan Australia, misalnya, tentu saja jauh lebih detail dibandingkan peta Pulau Jawa. Jika untuk Sydney, kita bahkan bisa mencari sampai level gang (lane), untuk Indonesia kita hanya bisa mencari nama kota/kecamatan seperti Klaten (Jawa Tengah), atau Penebel (Tabanan, Bali). Situs ini juga menawarkan fitur pencarian alamat rinci untuk kawasan Great Britain dengan dukungan peta dari Ordnance Survey’s (semacam Badan Koordinasi Survey dan Pemetetaan Nasional kita). Sayang sekali beberapa fasilitas semacam ini hanya bisa dinikmati dengan cara berlangganan dan tidak gratis. Selain peta garis, Multimap juga menampilkan peta foto hasil pemotretan udara.

Di Indonesia, meskipun belum ada situs peta interaktif yang selengkap Multimap, ada yang sudah cukup bagus seperti Cybermap.co.id dari CBN. Cybermap memungkinkan pencarian hingga level jalan untuk beberapa kota besar di Pulau Jawa seperti Bandung, Bogor, Jakarta, Yogyakarta, Surabaya, dan Semarang. Situs ini juga dilengkapi dengan lokasi pelayanan publik seperti rumah sakit, institusi pendidikan, ATM, dll. Jika ditambahkan data peta untuk kota-kota lain di seluruh Indonesia, cybermap tentu menjadi situs peta interaktif yang sangat bermanfaat.

Selain cybermap, ada juga Indobizmaps.com. Indobizmaps adalah situs pemetaan interaktif yang diprakarsai PT Sumberdaya Komtelindotama – SDK Jakarta. Fitur gratisnya memungkinkan pengguna melakukan pencarian sampai level jalan, walaupun belum sampai alamat rinci, untuk JADETABEK dan Bali (data daerah lain belum ada). Sayang sekali cikal bakal karya yang bagus ini nampaknya tidak dikelola dengan baik sehingga beberapa fitur tidak berfungsi maksimal.

Di negara tetangga seperti Australia, ada situs peta interaktif yang sangat bagus dan lengkap. Salah satu yang sangat populer adalah Whereis.com. Whereis merupakan situs pemetaan web dan pelayan berbasis lokasi (location-based service) yang memungkinkan pencarian alamat rinci dan bahkan menentukan lintasan efektif. Jika Anda ingin tahu lokasi rumah teman Anda di Sydney atau lokasi universitas yang akan dituju, anda bisa melakukan kunjungan virtual melalui Whereis. Jika sudah ada di Australia dan ingin pergi ke suatu tempat di Australia, maka Anda bisa memanfaatkan fasilitas map and direction search dan memasukkan alamat asal dan alamat tujuan. Whereis tidak hanya menunjukkan lintasan pada peta tetapi juga keterangan tertulis rinci yang menjelaskan ”di mana harus berbelok ke mana” dan perkiraan waktu tempuh masing-masing segmen jalan. Sangat informatif. Bagusnya lagi, semua fasilitas canggih ini bisa dinikmati dengan gratis dan bahkan tanpa menjadi pelanggan (subscriber).

Situs serupa juga ada di Singapura, Streetdirectory.com.sg. Situs ini memungkinkan pencarian alamat rinci, pencarian gedung, dan bisa juga menentukan lintasan/routing dari satu tempat ke tempat lain.

Masih berhubungan dengan aplikasi spasial, beberapa bulan terakhir, google muncul dengan terobosan yang fantastis: Google Earth. Google Earth adalah aplikasi yang memadukan ketersedian data spasial (citra satelit, foto udara, peta garis) yang memadai dengan teknologi komputer grafis yang mengagumkan. Keduannya dikawinkan dengan algoritma pengelolaan database yang handal sehingga terciptalah miniatur planet bumi yang memungkinkan kita menjelajah bumi dari depan komputer. Google Earth bisa didownload dengan gratis di earth.google.com dan diinstal di komputer pribadi. Untuk menggunakan fitur Google Earth, Anda harus terhubung ke Internet dengan koneksi yang memadai. Telah dicoba, koneksi dengan dial-up cukup untuk menikmati kecanggihan Google Earth.

Anda bisa melakukan perjalanan virtual mengunjungi tempat-tempat terkenal di dunia dengan sekali klik. Animasi yang memukau akan membawa anda seakan terbang melintasi belahan bumi dan kemudian menukik turun menuju tempat yang ingin dituju. Cobalah terbang mengunjungi Sydney Opera House di Australia, kemudian melesat ke Grand Canyon, USA, lalu sekejap kemudian melayang ke Istana Kaisar Jepang di Tokyo. Semuanya seakan nyata, seperti melihat alam dari pesawat yang terbang rendah. Sangat menakjubkan.

Sayang sekali, data citra satelit untuk Indonesia tidak sedetail data Amerika atau Australia. Jika anda mencoba berkunjung ke University of New South Wales, di Sydney, Anda akan melihat dengan jelas gedung-gedung bahkan jalan setapak di dalamnya. Anda juga akan melihat dengan jelas taman-taman dan lapangan olah raga yang ada di sana. Tetapi ketika Anda mencoba melacak Universitas Gadjah Mada di Jogja, tentu saja yang Anda dapatkan tidak sedetail itu.

Siapa di balik semua itu?
Menikmati kecanggihan teknologi spasial dengan peta, citra satelit, foto udara dan sejenisnya memang sangat menyenangkan. Tetapi pernahkan Anda berpikir, siapa di balik semua itu? Ini adalah pertanyaan penting yang mengarahkan kita, bangsa Indonesia, untuk tidak saja bisa menikmati tetapi menciptakan teknologi serupa.

Adalah ilmuwan spasial (geodesi, geografi) dan jagoan-jagoan pemrograman komputer (informatika dan ilmu komputer) yang berada di balik suguhan teknologi mengagumkan itu. Ilmuwan spasial adalah mereka yang mendalami pemetaan, penginderaan jauh (remote sensing), Sistem Informasi Geografis (SIG), dan Global Positioning System (GPS) sehingga memahami dengan matang konsep penentuan posisi di permukaan bumi. Ahli permrograman komputer bertugas menerjemahkan algoritma rumit penentuan posisi, database dan sistem informasi untuk kemudian mewujudkannya menjadi aplikasi yang handal dan mudah dipakai.

Sudah cukup lama Indonesia memiliki lulusan bidang ilmu spasial dan komputer, semoga aplikasi-aplikasi spasial semacam ini akan segera kita ciptakan sendiri.

Antara Lelaki dan Perempuan

Apapun katanya, kita memang berbeda. Mari saling menghargai :)[Press F5 to play]

taken from http://www.bozzetto.com/flash/fem_male.htm

London Blast

Duka itu menghampiri siapa saja. Yang kaya tidak luput, yang canggih tidak terlewatkan, yang beradabpun tidak ketinggalan. Duka adalah sesuatu yang niscaya dan menjadi bagian tak terpisahkan dari hidup. Rwa bineda, dua yang berbeda. Itulah yang menjadi pepatah tua Bali untuk menunjukkan dualisme memang berkuasa dalam segala suasana. Ada baik ada buruk, ada kuat ada lemah ada untung ada buntung. Sangut dalam wayang Cenk Blonk mengatakan, ”kalau kita membilang kangin [timur] pastilah ada kauh [barat]”.

Satu persatu peradaban di dunia diguncang oleh tindakan terorisme. London, salah satu kota dengan peradaban tertua di dunia baru saja menundukkan wajahnya, murung menangis sejadinya setelah ledakan bertubi memusnahkan nyawa dan harta. London yang telah mengenyam asam garam kehidupan relatif lebih lama dari kota lain di dunia, akhirnya harus bertekuk lutut pada kenyataan. Lantak oleh terorisme.

Kepada siapa dan siapa yang harus mengadu, tidak jelas. Jika si kecil dan sederhana Indonesia baru saja meraung oleh murka alam, London tak kalah ratapnya karena ledakan yang dibuat manusia. Begitulah alam bekerja. Tangis dan kasihan seperti tiba-tiba tidak cukup. Hanya diam dan bisu yang memberi jawaban. Jangan biarkan kami berdoa untuk terhindar dari marabahaya, tetapi untuk tabah dan tegar menghadapinya (Tagore-Gitanjali)

It is not easy to change!

This is what happen when you at the first time using computer after using Type writer for ages 🙂
[You are supposed to see a woman typing. Still seeing windows and boxes flying? please be patient. Can’t see anything? Please let me know]

Welcome to Sydney: Continuing the Tradition of “Pay Forward”

Some are coming while some others are leaving. The new comers turn up with millions of hope and optimism while those who leaving disappear with thousands of memories and expectations. This is the rhythm of life where the comings and the leavings are tight together as two interdependent phenomena. Never can someone stop a farewell by crying, neither to be too happy for a unity. They are both there to be enjoyed and accepted as they are.

We sometimes may only expect and pray for a “forever unity” but it is just as ridiculous as stopping the sun from rising up in the morning and setting down in the afternoon. They are both destinies nobody can deny, can you?

This month, as a part of long tradition, here come to Sydney seven of the best Indonesians, funded by AusAID, to study in one of the Australian best universities, UNSW. They, like others, come with questions, uncertainties and hopes at the same time. None of them could really hide their curiosity about the new environment they’ve just faced. Cross culture studies they’ve taken in Indonesia, undoubtedly, could not really cover every single phenomenon about this new place. They, simply, face new things. Some might be too simple, much simpler that what they anticipated, but more even complex, much more complicated than what they’ve prepared for. These are, once again, also part of the traditions: curiosity, underestimations, and overestimations. It is our unity that will put most of the things into their proportions.

Meanwhile, the former Indonesian students, again as part of tradition, continue the chain of regeneration. This is the day some of them become seniors, exactly as some new comers arrive. They, instantly, turn into people who “know everything” about Sydney and about being a student in UNSW. They know how to deal with academic matters, they know where to buy cheap winter shoes, they know how to manage fortnightly stipend and they know how to deal with collecting dumped households from the streets. They know everything, once again to say.

I smile to myself in front of a mirror, staring my face, a face of a senior student. It was not so long ago when for the first time I arrived in Sydney Airport and knew nothing. I owed so much to senior students who have dedicated their time and energy to comfort us and made us feel home in Sydney. Now, I think, is a perfect time for Pay Back. But wait! No, not back but forward! Yes, what I’ve just done to the new comers was a Pay Forward, instead of a Pay Back. It might worth nothing to do a Pay Back as none of senior students need to listen to my preach about Sydney Opera House, The Red Center, Calling Card and sort of things. On the other hand, my little mumbles about the place where to buy a sachet of Indonesian “Jamu” will mean really big to those who visiting Sydney for the first time. This is why we call it Pay Forward, assisting the new generation who need the most.

Floating thousands of kilometers from home, I feel like a little tiny dust in a universe that worth nothing. A friend is the biggest thing I have. However, I try NOT to FIND a friend but TO BE A FRIEND. I expect nothing but everybody does the “Pay Forward”! Welcome to Sydney!

Pejantan itu Tersungkur

Pejantan itu tersungkur tak berkutik. Terjerembab di bawah tumpukan puing kesombongan yang diusungnya sekian lama. Bukit keangkuhan itu baru saja tumbang lantak mengenaskan dan runtuh menimpa dinding hatinya yang ternyata rapuh.
Pejantan itu tergeletak tak berdaya, lemah tak mampu bangkit karena beban yang dibuatnya sendiri membebani kepala dan hatinya. Jadilah dia seorang makhluk pucat yang rapuh oleh hembusan angin senja.
Terlalu lama Sang Pejantan terbuai di singgasana yang membuatnya lupa belajar. Terlalu lama dihabiskannya waktu dengan menuai kesejahteraan tanpa banyak berikhtiar. Dia telah dimanjakan oleh waktu yang menjadikannya kehilangan kepekaan. Tangis, ratap dan penyesalan tiba-tiba tidak terdengar dan semuanya justru mempekeruh suasana. Akhirnya dia memilih untuk diam, mengamati setiap tarikan nafas dan aliran darah dalam pembuluhnya. Semua itu mengingatkan dia tentang semangat yang semestinya tidak pernah berhenti. Biarlah tubuh ini menikmati kesunyian seraya mengumpulkan sisa kesombongan untuk sesuatu yang tidak saja lebih besar tetapi juga lebih tangguh dan lebih bijaksana di saat kelak.