Duka itu menghampiri siapa saja. Yang kaya tidak luput, yang canggih tidak terlewatkan, yang beradabpun tidak ketinggalan. Duka adalah sesuatu yang niscaya dan menjadi bagian tak terpisahkan dari hidup. Rwa bineda, dua yang berbeda. Itulah yang menjadi pepatah tua Bali untuk menunjukkan dualisme memang berkuasa dalam segala suasana. Ada baik ada buruk, ada kuat ada lemah ada untung ada buntung. Sangut dalam wayang Cenk Blonk mengatakan, ”kalau kita membilang kangin [timur] pastilah ada kauh [barat]”.
Satu persatu peradaban di dunia diguncang oleh tindakan terorisme. London, salah satu kota dengan peradaban tertua di dunia baru saja menundukkan wajahnya, murung menangis sejadinya setelah ledakan bertubi memusnahkan nyawa dan harta. London yang telah mengenyam asam garam kehidupan relatif lebih lama dari kota lain di dunia, akhirnya harus bertekuk lutut pada kenyataan. Lantak oleh terorisme.
Kepada siapa dan siapa yang harus mengadu, tidak jelas. Jika si kecil dan sederhana Indonesia baru saja meraung oleh murka alam, London tak kalah ratapnya karena ledakan yang dibuat manusia. Begitulah alam bekerja. Tangis dan kasihan seperti tiba-tiba tidak cukup. Hanya diam dan bisu yang memberi jawaban. Jangan biarkan kami berdoa untuk terhindar dari marabahaya, tetapi untuk tabah dan tegar menghadapinya (Tagore-Gitanjali)