Night at the museum

Anda mungkin sudah menonton atau setidaknya pernah mendengar perihal film Ben Stiller: Night at the Museum. Film ini berseting di American Museum of Natural History yang berlokasi di Manhattan, New York, US. Saya mengunjungi museum tersebut minggu lalu saat akhir pekan. Lihat petanya di sini.

Seperti yang bisa dilihat di filmnya Ben Stiller, koleksi museum ini memang sangat lengkap. Koleksi berada di empat lokasi berbeda, lantai satu hingga lantai empat. Menjelajahi museum ini memerlukan waktu lama karena koleksinya sangat banyak dan menggoda untuk disimak dengan seksama. Di lantai satu misalnya, Rose Center for Earth and Space menyajikan koleksi lengkap seputar planet bumi. Berbagai koleksi batuan dan model lapisan bumi bisa dilihat lengkap dengan keterangannya. Yang menarik, lantai ini dilengkapi dengan alat monitor gempa sehingga pengunjung bisa melihat kejadian gempa di berbagai belahan bumi dari monitor, termasuk magnitudnya dan waktu kejadiannya. Selain itu, data ini juga divisualisasi pada peta digital dengan simbol kartografi yang sesuai. Hanya dengan melihat peta dan simbol kartografi berupa lingkaran, pengunjung dapat mengetahui di mana, dan kapan terjadi gempa serta berapa magnitudnya. Kalau melihat peta ini, saya teringat pelajaran kartografi, warna lingkaran menunjukkan perbedaan waktu sedangkan jari-jari lingkaran menunjukkan magnitud gempa. Semakin besar magnitudnya, semakin besar jari-jari lingkarannya. Terlihat di sana betapa Indonesia memang memiliki ‘keistimewaan’ soal gempa. Seluruh Indonesia dipenuhi lingkaran besar dan kecil dengan berbagai warna. Tidak salah kalau semua orang Indonesia seharusnya tahu lebih banyak tentang gempa.

Di lantai lain ada koleksi mamalia, mulai dari Asia, Afrika Amerika, Australia hingga Eropa. Museum ini memiliki koleksi binatang yang diawetkan sehingga ukuran binatang yang terpajang sesuai aslinya. Cukup asik menyaksikan berbagai binatang yang selama ini hanya bisa dilihat di TV. Berfoto bersama binatang-binatang ini tentu saja adalah pengalaman yang menarik.

Peradaban berbagai bangsa juga bisa dilihat di museum ini. Pakaian adat, alat masak, peralatan pertanian, senjata dan sebagainya dari berbagai suku bangsa bisa dinikmati di sini. Selain itu, tradisi adat termasuk penguburan mayat dan upacara pernikahan juga tersaji dengan apik membuat pengunjung terkesima dan betah berlama-lama menikmatinya.

Yang paling menarik bagi saya adalah koleksi fosil binatang purba. Seperti yang terlihat dalam film Ben Stiller dengan tulang-tulang dinosaurus yang berkeliaran di museum pada malam hari, museum ini memang dipenuhi koleksi serupa. Mulai dari koleksi fosil mamalia kecil hingga saurus pemakan tumbuhan (ingat Jurasic Park, ada saurus yang bersin) yang sangat amat besar. Semua dipajang dengan skala asli sehingga menakjubkan untuk disimak dan difoto tentu saja.

Bagi anak sekolah, museum ini memberikan prioritas. Ada ruangan untuk makan siang dan istrirahat karena museum ini memang dikunjungi oleh banyak siswa setiap minggunya. Koleksi mereka memang sangat berguna untuk pelajaran dan wawasan para siswa. Selain itu, diilhami oleh film Night in The Museum, ada juga acara menginap di museum bagi anak-anak. Pasti menyenangkan berkemah di dalam museum sambil menikmati lengkapnya koleksi yang tersedia.

Sayang sekali Lita tidak ikut ke sini, suatu saat pasti dia akan sampai di sini. Tunggu cerita selanjutnya.

Sydney vs New York

Banyak yang bertanya pada saya “Bagaimana New York?” atau “Dibandingkan Sydney, bagus New York nggak?”. Tidak mudah menjawab pertanyaan ini secara instan. Pertama karena saya baru seminggu di sini, kedua memang keduanya bagi saya sangat mirip. Maju, tertata. Kalau dipaksa untuk menunjukkan perbedaan atau menilai mana yang labih bagus, saya akan sampaikan laporan pandangan mata selama seminggu ini.

1. Transportasi Bus
Kalau di Sydney di setiap halte bus ada jadual, di sini tidak. Jadual dibagikan gratis berupa brosur seperti halnya di Sydney juga ada. Kalau di Sydney, toleransi waktu tibanya bus pada suatu halte berkisar kurang dari 5 menit (dan lebih sering di bawah 2 menit), di sini bisa lebih dari 10 menit. Halte di depan rumah tempat saya tinggal semestinya dikunjungi bus q38 setiap 20 menit, kenyataannya tidak demikian. Seminggu di sini membuat saya mendapat kesan bahwa bus tidak terjadual dengan baik. Jadual kereta OK, sangat bagus. Subway di sini lebih komprehensif dibandingkan Sydney saya kira.

2. Taat lalu lintas
Saya sangat amat jarang (kalau tidak mau mengatakan tidak pernah) melihat mobil melanggar lampu merah di Sydney. Di sini cukup sering, padahal baru seminggu. Di kawasan Queens, 40 menit dari Manhattan (New York City), lalu lintas lumayan semrawut. Kemacetan terutama di lampu merah dan persimpangan terlihat cukup umum. Klakson juga di sini bukan sesuatu yang ‘sakral’ seperti di Sydney. Orang cukup mudah mengklakson untuk alasan yang menurut saya tidak penting. Tapi itulah kebudayaan, tidak ada masalah sepanjang tidak ada yang teriak “f**k you man” setelah itu 🙂

3. Menyeberang jalan
Kalau di Sydney, setiap penyeberangan dilengkapi saklar sehingga penyebrang bisa ‘mengendalikan’ lalu lintas, di sini tidak ada saklar. Signal penyebrangan berfungsi otomatis. Saya kurang tahu apakan trigernya adalah waktu atau kondisi lalu lintas, yang jelas lampu tanda boleh atau tidak boleh menyebrang beroperasi otomatis. Selain itu, kalau di Sydney ada suara seperti sirine yang akan berbunyi ketika tanda boleh menyebrang sudah hidup, di sini tidak ada. Menurut saya ini tidak fair untuk teman-teman kita yang tuna netra. Seandainya penyebrang jalan tidak bisa melihat lampu, mereka tidak akan tahu kapan bisa menyeberang.

4. Orang New York lebih dingin
Secara umum saya melihat orang di sini lebih dingin ketika berinteraksi dengan orang asing. Di Sydney, apalagi di Wollongong, orang dengan antusias membantu atau menjelaskan sesuatu ketika ditanyai. Mereka juga biasanya lakukan sambil tersenyum. Di sini tidak. Mereka memang mau membantu, tetapi dengan tampang dingin. Tentu saja ini bukan berarti mereka tidak baik hati. Itulah perbedaan budaya. Mungkin juga karena di sini orang rata-rata mandiri dan ‘pintar’ sehingga agak kurang toleran kepada mereka yang ‘bego’ dan tidak tahu menentukan arah sendiri. “Masak harus tanya lagi, kan ada peta!” mungkin begitu mereka berpikir. Namun demikian, kemarin ketika saya dan Sampan, teman dari Thailand menjelajahi NYC dan berfoto bergantian, seorang perempuan muda menawarkan diri dengan ramahnya untuk memotret kami berdua. Ini tentunya adalah kesan baik, walaupun belum tentu si gadis adalah orang New York.

5. Biaya transportasi
Untuk yang satu ini, New York lebih murah. Dengan USD 76, kita bisa naik bus dan subway di New York selama sebulan penuh kapan saja dan ke mana saja. Harga ini sangat murah dibandingkan harga di Sydney.

Itu lima hal yang bisa dibandingkan antara NY dan Syd. Tentu saja ini sangat subyektif dan hanyalah hasil pengamatan singkat yang jauh dari komprehensif. Dua atau tiga bulan lagi, tulisan ini bisa saja harus direvisi.

Mengubah kebiasaan

Tinggal di New York selama beberapa hari pertama membuat saya tersadar sesuatu. Tidak mudah ternyata untuk mengubah kebiasaan. Pertama, saya mengalami jet lag yang cukup hebat. Saya tidak bisa tidur nyenyak di malam hari dan bangun terlalu cepat. Tubuh belum ‘ngeh’ kapan siang kapan malam karena tertukar dengan Indonesia. Yang kedua, saya selalu salah jalan ketika berpapasan dengan orang. Secara otomatis saya biasanya ambil jalur kiri dan di sini adalah kesalahan. Seperti halnya mobil, lintasan ada di kanan. Lagi-lagi terbalik dengan Indonesia. Seminggu di sini, saya belum bisa menjalani dengan tanpa perlu berpikir.

Mengubah kebiasaan memang tidak mudah ternyata. Jangankan untuk sesuatu yang besar dan akan menyebabkan bangsa ini menjadi maju, untuk hal kecil saja saya ternyata resisten. Pengetahuan saja memang pastilah tidak cukup. Dia tidak akan menjadi apa-apa sebelum diwujudkan dalam bentuk tindakan.

Maka ketika banyak orang berpengetahuan selalu mengeluh tentang negeri ini, saya kadang berpikir sendiri. Saya tidak mau terjebak untuk menyalahkan mereka, tidak juga ingin menjadi seperti mereka yang memenuhi hidup dengan tumpukan kekecewaan. Saya ingin melihat lebih jauh lagi ke dalam diri. Pastilah saya juga adalah bagian dari kesalahan dan kenistaan ini. Jika ada yang harus diubah untuk sesuatu yang lebih baik, maka pastilah diri ini yang pertama harus mendapatkan girilannya.

Cerita untuk Keluarga

Seperti kata banyak orang, tempat ini adalah surga dunia bagi mereka yang menyukai tantangan dan menginginkan lebih. Anak, suami dan ayahmu kini ada di sini, berkeliaran laksana mereka yang telah lebih dulu mereguk nikmatnya kota.

Tidak banyak sesungguhnya yang terlalu istimewa, tetapi memang benar kota ini menyimpan hal-hal kecil yang belum sempat diberitakan. Yang kita tahu tentangnya adalah gemerlap kehidupan, kecantikan, ketampanan, kemewahan dan kesempurnaan. Yang kita tidak tahu adalah tentang perbedaan, keragaman, ketimpangan, ketergesaan dan bahkan kekotoran yang melekat padanya. Anak, suami dan ayahmu kini menjadi saksi semuanya.

Jangan menunggu sampai besok karena hari inipun bisa kausimak. Jangan menunggu oleh-oleh dariku karena manis di sini juga bisa dinikmati di ujung sana. Ini adalah tempat bagi mereka yang berani bermimpi, bahkan di siang hari. Hari ini kutuliskan untukmu cerita tentang penembak jitu, tentang anjing yang berkeliaran dan tentang keistimewaan di tengah perbedaan.

NYPD

Polisi berseragam biru tua, tinggi tegap wajah angker dengan tulisan NYPD di seragamnya. Penampilannya menjadi lebih angker dengan beberapa senjata tergantung di pinggang dan beberapa diantaranya menuntun Anjing Herder. Mereka memeriksa setiap orang yang melintas di depan Gedung PBB di New York City karena hari ini hampir semua kepala negara di seluruh dunia ada di New York.

Melihat ke atas gedung-gedung tinggi, snipper bertengger siap membidik siapa saja yang berulah. Para secret service berkeluaran dengan ciri khas earphone di telinganya. Bush sedang di dalam gedung. Suasana sangat sibuk, setiap orang awas dan waspada.

Apakah suasana ini ada di TV? Ternyata tidak. Aku bagian dari kesibukan itu hari ini.
Sebuah posting dari Gedung Sekretariat PBB di New York City.

Liberty Statue dan Tanah Lot

Saya sedang membeli SIM card di sebuah counter T-Mobile di daerah Queens, New York ketika penjaga counter bertanya tentang Bali. Nampak dari antusiasmenya, dia sangat ingin ke Bali. Sesuatu yang diimpikannya sejak lama dan masih menjadi mimpi sampai siang itu. Diam-diam saya berpikir bahwa mereka memiliki banyak hal di sini dan jutaan orang memimpikan untuk melihatnya seperti Liberty Statue, landmark of the US. Mengapa harus ke Bali?

Orang ini sibuk bertanya tentang Bali sambil matanya berbinar menandakan keinginan yang tak tertahan. Dia bahkan tidak menyadari betapa inginnya saya menyaksikan dan berfoto di depan Liberty Statue. Tentu saja Liberty tidak lebih penting dari Tanah Lot atau Pantai Kuta bagi dia saat ini.

Perjalanan cukup jauh dengan kereta bawah tanah membawa saya ke Bowling Green Statiun tempat menunggu ferry yang akan menyebrangkan saya ke Liberty Island, tempat berdirinya Putri Liberty yang terkenal itu. Saya berada di dalam barisan panjang orang-orang yang mengantri dengan tertib. Seandainya si penjaga counter T-Mobile melihat saya, mungkin dia akan tersenyum. Apa yang dicari orang Bali ini di New York? Mengapa harus rela ngantri berpanas-panas untuk Patung Liberty? Barangkali New Yorker akan berpikir begitu, seperti halnya saya yag kadang berpikir hal yang serupa ketika menyaksikan rombongan bule bermain dengan monyet di Alas Kedaton, Bali.

Setelah saya renungkan agak lama, ternyata bukanlah tempat atau obyeknya yang paling penting. Yang membuat Liberty atau Tanah Lot menjadi istimewa adalah perjuangan menuju ke sana. Seorang yang lahir dan tinggal di New York tentu tidak akan terlalu bangga berfoto di depan Liberty, seperti halnya saya yang bisa setiap hari ke Tanah Lot akan merasakan hal yang sama terhadapnya. Kami mengalami keterbalikan.

Adalah perjuangan panjang yang menjadikan sebuah momen itu istimewa. Saya telah menempuh 24 jam perjalanan dengan jet lag yang hebat sebelum akhirnya bisa menyentuh Patung Liberty. Tidak hanya itu, ada serangkaian tulisan ilmiah, proposal dan presentasi yang harus saya hasilkan sebelum mimpi itu terwujud. Setelah itu, ada ribuan dolar yang terkait dengan prosesnya dan saya adalah satu saja dari 10 orang di seluruh dunia yang beruntung ada di NY karena ‘kelihaian’. Bediri di depan Patung Liberty hari ini menjadi sedemikian istimewanya karena sejarah dan perjuangan saya yang patut dicatat.

Seandainya saya lahir di NY dan menjadi seorang penjaga counter HP, tentu saya akan bangga sekali bisa berpose di depan Pura di Tanah Lot berlatar belakang sunset nya yang terkenal itu.

Welcome to America

“A Nation of Migrants”, begitulah J. F. Kennedy menulis dalam bukunya tentang Amerika. Negara ini memang adalah rumah dari jutaan migran. Amerika memang tidak hanya berisi Angelina Jolie atau Tom Cruise tapi juga Rasyid, Muhammad, Pak Koplar dan bahkan Men Kocong. Singkat kata, lengkap. Amerika memang menjanjikan harapan sehingga tidak henti-hentinya orang datang ke negeri ini untuk hidup yang “lebih baik”.

Berdiri sambil terkantuk-kantuk di sebuah kereta bahwah tanah dari Queens ke Manhattan di New York merupakan pengalaman berkesan. Bukan saja karena bagusnya sistem transportasi yang memindahkan jutaan orang setiap hari tetapi lebih karena betapa beragamnya jenis orang di kereta itu. Yang hitam, yang tinggi, yang pedek, yang kuning, yang rapi, yang selenge’an, yang perlente, yang tak terawat semua ada. Pemandangan yang tidak mudah dibayangkan sebelum menyaksikan sendiri.

Inilah Amerika, selamat datang diriku.

Australian Leadership Awards (ALA)

Catatan: Saya adalah penerima ALA 2008 (update 07/08 )
Click here for English.
Australian Foreign Minister
Australian Foreign Minister

Beasiswa ini tergolong baru untuk Indonesia. Untuk pertama kali beasiswa ini diberikan kepada 22 orang penerima dari Indonesia pada tahun 2007. Seperti diklaim di websitenya, ALA merupakan beasiswa dengan kompetisi ketat di tingkat regional. Penentuan keputusan final tidak terjadi di Jakarta tetapi di Canberra, tempat ratusan kandidat diperbandingkan sebelum diberi beasiswa.

Seperti namanya, beasiswa ini memang disediakan untuk pemimpin dan calon pemimpin masa depan di kawasan Asia Pasifik. ALA memberikan beasiswa penuh kepada penerimanya untuk studi tingkat master dan doktor di beberapa negara, umumnya Australia. Lembar fakta tentang beasiswa ini bisa dilihat di websitenya pada ALA scholarship fact sheet.

Ketika mendengar beasiswa ini pertama kali dari seorang kawan, saya langsung tertarik. Sayapun langsung menyiapkan segala persyaratannya. Ada beberapa hal yang penting yaitu:

Continue reading “Australian Leadership Awards (ALA)”

Kang Sejo

Sudah sejak lama saya tahu kalau Mohammad Sobary adalah alumni AusAID dari Monash University, Melbourne. Saya mengikuti tulisannya sejak lama, termasuk hasil perenungan dan kreativitasnya selama berskolah di Melbourne awal tahun 90-an silam.

Salah satu karyanya yang menarik adalah ketika Sobary bercerita tentang kegundahannya saat ada yang membakar Bendera Indonesia. Menurutnya, jika ada yang menghina pemerintah atau oknum aparat keamanan Indonesia, mungkin dia akan memaklumi karena kenyataannya memang banyak kelemahan yang layak dikritik. Namun ketika bendera yang mewakili sebuah bangsa dibakar, si pembakar secara simbolis telah menyatakan permusuhannya terhadap bangsa yang memilikinya. Dalam hal Bendera Indonesia, pembakaran terhadapnya berarti berhadapan dan menyatakan ketidaksetujuan kepada lebih dari dua ratus juta orang yang jelas di dalamnya ada orang baik. Begitulah Sobary membela bangsanya dengan ketajaman pena.
Saya tidak pernah bermimpi bertemu Mohammad Sobary sekaligus juga tidak pernah berharap. Bagi saya, menikmati idenya mungkin jauh lebih baik tanpa terlalu dekat dengan penulisnya secara pribadi karena seringkali menimbulkan subyektivitas berlebihan. Namun waktu berbicara lain. Saya dipertemukan dengannya dan sempat berbagi gagasan. Sebuah kesempatan hanya gara-gara kami sama-sama alumni AusAID. Pengalaman yang menarik.

Ketika saya minta Pak Sobary untuk berfoto bersama, beliau tidak keberatan dan bahkan membuka buku saya yang baru saya hadiahkan seraya berkata “Katakan pada orang-orang kalau Sobary saja sudah membaca buku Anda.” demikian Kang Sejo berkelakar.

Selamat menunaikan ibadah puasa

Mengingat pengulangannya yang pasti setiap tahun, puasa tentu saja tidak begitu istimewa. Tidak ada kejutan karena bahkan bisa diprediksi kapan terjadinya hingga seratus tahun ke depan. Ada sahur di pagi hari, buka di sore hari dan tarawih menjadi ciri khas Ramadhan. Bagi seorang Made Kondang, semua itu biasa-biasa saja. Biasa saja karena Kondang memang tidak pernah puasa. Yang istimewa baginya hanya satu. Tidak ikut puasa tetapi selalu datang di manapun ada acara buka bersama. Ini yang selalu dinanti Kondang. Jadi, kalaupun Ramadhan menjadi istimewa baginya, pastilah karena buka bersamanya.

Meski demikian, kawan-kawan sepermainan Kondang seperti Ahmad, Zulkipli, Ali, Gaffar dan Solahudin, Ramadhan pastilah selalu istimewa. Entah apa itu, Kondang tidak ingin membahasnya. Sudah terlalu banyak ceramah di tv dan radio yang menyampaikan keagunagan dan keistimewaan Ramadhan. Kalau semua stasiun tv bisa menyiarkannya dan mempromosikan kebaikannya, pastilah Ramadhan memang baik adanya. Kondang yakin itu.

Di bale desa ada tulisan “Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankan. Bagi yang tidak menjalankan mari kita hormati yang berpuasa“. Indah sekali kata-kata itu. Tiba-tiba Kondang melihat masih ada ruang kosong di bagian bawah dan diapun dengan kreatif menambahkan kata-kata “Bagi yang berpuasa, maklumilah yang tidak puasa” dan inipun dilengkapi dengan tanda senyum di bagian akhir 🙂