Ingin Bekerja di Luar Negeri


singapuraBeberapa saat lalu saya mendapat undangan untuk hadir di acara pameran karir di Singapura yang diselenggarakan oleh Osaka University. Undangan itu ditujukan kepada Rektor UGM dan beliau menugaskan saya untuk menghadirinya karena juga terkait penjajagan kerjasama dengan mitra luar negeri. Osaka University adalah mitra potensial UGM dan berkenan menanggung semua biaya yang timbul karena partisipasi UGM. Atas instruksi itu, saya berada di Singapura pada tanggal 13 hingga 14 Februari 2015.

Dari sekian banyak pembicaraan, ada satu yang begitu menarik perhatian saya yaitu terkait kesempatan kerja di luar negeri. Seorang praktisi Pengembangan Sumberdaya Manusia dari Mitsubishi menceritakan kisah pengalamannya dalam melakukan rekruitmen di Asia Tenggara. Ada bayak fakta yang membut dahi berkerut.

Saat melakukan pameran di ITB, Bandung, dia mengatakan ada sekitar 1000 orang yang berkunjung ke stand perusahaannya namun 80 persen dari itu tidak bisa berkomunikasi dalam bahasa Inggris dengan baik. Dari sekian yang bisa berbahas Inggris, akhirnya hanya dua yang terpilih. Sangat mengejutkan, dari seribu orang lulusan perguruan tinggi Indonesia, yang sebagian besar adalah alumni ITB, hanya dua yang memenuhi syarat untuk bisa bekerja di Jepang. Fakta ini begitu menyedihkan dan membuat saya tersentak kaget.

Dalam diskusi panel, saya mengajukan sebuah komentar dan pertanyaan. Pertama, kita semua menyadari bahasa Bahasa Asing, terutama Inggris, adalah sebuah kebutuhan jika ingin berkarir global. Di sisi lain, bahasa Inggris hanya menjadi pelajaran tambahan yang kesannya tidak penting di hampir semua fakultas. Mengapa saya katakan tidak penting? Mata kuliah Bahasa Inggris hanya diberikan selama satu atau dua semester saja, itupun tanpa pendalaman dan hanya menenuhi tuntutan kurikulum formal. Bahasa Inggris seakan menjadi pelajaran terpisah karena tidak pernah digunakan secara formal di mata kuliah lain. Hal ini tentu berbeda dengan mata Kuliah Dasar lainnya seperti matematika, pemrograman komputer dll yang tetap dipakai di sepanjang perkuliahan. Kepada para Rektor Indonesia yang ada di ruangan itu saya menyampaikan bawa perguruan tinggi di Indonesia harus menyadari ini dan melakukan sesuatu.

Hal kedua, saya mengkritisi kriteria dan cara rekruitmen yang dilakukan oleh perusahaan asing di Indonesia. Standard yang kita pakai seringkali mengacu kepada standard barat atau negera maju pada umumnya. Fokusnya seringkali pada kemampuan berkomunikasi lisan, public speaking, bahasa tubuh yang meyakinkan dan sebagainya. Bagi orang Indonesia, terutama di kultur tertentu, penilaian seperti ini bisa melemahkan. Seorang alumni perguruan tinggi di Jogja yang memegang teguh adat Jawa, misalnya, tentu akan berbeda perilaku komunikasinya dibandingkan lulusan New York. Padahal, dalam hal melakukan pekerjaan teknis, belum tentu yang lulusan Jawa lebih buruk. Yang hampir pasti benar, lulusan New York akan tampil lebih meyakinkan ketika diminta meyajikan dirinya secara lisan dalam sebuah debat dalam Bahasa Inggris, misalnya. Komentar saya itu menjadi catatan.

Seorang pembicara lain dari perusahaan Jepang memberikan tiga syarat jika dia ingin merekrut seorang kandidat pekerja. Pertama, dia harus memiliki persistensi dan loyalitas. Menurut dia, loyalitas harus ditunjukkan dengan kemauan bekerja selama tiga tahun di suatu perusahaan. Tanpa itu, belum banyak hal yang dilakukan dan terutama dipelajari, katanya. Syarat kedua adalah memilki mimpi dan hasrat yang besar untuk berkontribusi pada masyarakat atau demi hal-hal yang lebih besar dibandingkan sekedar uang dan imbalan materi. Orang seperti ini meraih kepuasannya jika dia bisa menunjukkan pengabdian yang membuat perusahaan atau orang lain tertolong dan bangga. Syarat ketika dalah cinta. Seorang pekerja harus memiliki kecintaan pada perusahaan dan pekerjaannya. Rasa cinta akan menjadi alasan untuk tetap berbuat baik di luar perihal administrasi.

“Kami tidak peduli pada kewarganegaraan” kata pembicara lainnya. Saat melakukan rekruitmen, perusahaan professional akan melupakan soal kewarganegaraan. Yang menjadi pertimbangan adalah skill. Jadi, pada saat bekerja nanti, kewarganegaraan universal itu bernama skill professional. Tidak pedulu darimana asalnya, yang terpenting adalah kemampuannya dan kemauannya untuk berbenah setiap hari. Lebih jauh lagi, ditegaskan bahwa untuk bekerja di sebuah negara asing, pekerja harus mencintai negara itu terlebih dahulu. Maka kenalilah budaya, menyatulah dengan kehidupan bangsa itu dan jadilah bagian dari mereka. Sekali lagi, gemar melakukan perjalanan sejak dini akan sangat membantu.

Pemahaman terhadap karir bukanlah tanggung jawab para lulusan baru semata. Karir dan pekerjaan harus dikenalkan kepada mahasiswa tingkat satu dan tingkat dua agar mereka memiliki pemahaman yang baik sejak dini. Seorang mahasiswa tingkat satu yang tergagap-gagap dan kesal mengerjakan sebuah PR kalkulus di Fakultas Teknik perlu dicerahkan hidupnya dengan mengenalkan dia pada pekerjaan nyata yang akan memerlukan skill kalkulus di masa depan. Dan itu hanya bisa dicapai dengan cara membawanya ke dunia pekerjaan, bukan sekedar membaca dan mendengar cerita. Maka dari itu, jika anak-anak muda itu melakukan backpacking ke Malaysia, bantulah mereka untuk bisa berkunjung ke sebuah perusahaan atau instansi pemerintah yang terkait dengan bidang ilmunya. Dengan begitu, jalan-jalan itu akan berfaedah lebih besar dari sekedar hura-hura.

Hal lain yang menarik adalah adanya perubahan lokasi perusahaan yang begitu cepat. Tadinya, supply chain atau distribusi ada di Indonesia sehingga tenaga kerja Indonesia disiapkan untuk itu. Karena perkembangan ekonomi dan konstelasi politik dunia, banyak perusahaan di bidang supply chain harus direlokasi ke Myanmar atau negara lain. Sementara itu, tenaga kerja yang siap berasal dari Indonesia. Maka, jika mau bekerja di bidag supply chain, orang Indonesia harus mau bekerja di Myanmar atau negara lain di Asia Tenggara. Pertanyaannya, pernahkah mahasiswa Indonesia menyiapkan dirinya secara kultural untuk berkerja di negara tetangga bukan berbahasa Inggris seperti Myanmar? Belum lagi soal budaya yang jelas-jelas berbeda, apakah pernah terpikir bagi anak muda Indonesia untuk belajar Bahasa Myanmar?

Seorang sarjana Teknik Geodesi memang akan menggunakan alat dan metode yang sama untuk pemetaan di mana saja. Persoalannya, penduduk yang akan dihadapi saat survey di sebuah desa di pedalaman Myanmar akan berbeda dengan penduduk di sekitar pasar Sambilegi Jogja. Jika mereka hanya fokus pada sumbu satu vertikal, kesalahan penutup sudut, ukuran beda tinggi yang masuk toleransi sejak awal, maka bukan tidak mungkin mereka tidak akan siap untuk melakukan pemetaan di Myanmar. Ada faktor non teknis yang mereka tidak akan bisa atasi, yaitu budaya setempat dan bahasa lokal. Surveyor pun harus berpikir lebih jauh dari sekedar perihal teknis.

Jika kita percaya bahwa dunia kian sempit dan perpindahan orang begitu mudah dilakukan maka sedari awal kita harus sadar bahwa bersekolah di Jogja bukan hanya untuk bersiap-siap bekerja di Jakarta atau Kalimantan. Kuliah di Teknik Geodesi UGM adalah untuk menyiapkan diri memetakan Central Park di New York atau survey di atas es yang membuat kita menggigil di Antartika. Perlunya sopan santun dan mendalami budaya lokal bagi seorang surveyor bukan hanya untuk meluluhkan hati masyarakat Atambua yang gemar minum sofie tetapi juga suku Aborigin di gersangnya padang gurun di pedalaman Australia. Bahwa jika para surveyor itu memang berhasrat memetakan dunia, sedari awal mereka harus sadar bahwa cara terbaik memetakan dunia adalah dengan cara menjelajahinya dan peta terbaik adalah skala 1:1. Pernahkah kamu sadari bahwa kurus Bahasa Inggris itu mestinya sama seriusnya dengan belajar memastikan garis kontur tidak menabrak bangunan saat digambarkan di atas peta?

Lebih jauh, orang senior di Mitshubishi itu mengatakan bahwa universitas harus mendorong mahasiswa untuk melakukan perjalanan antarngera sedini mungkin. Jika sadar bahwa suatu saat nanti mereka akan berkerja di negara lain maka sejak awal mereka sudah harus terbiasa bepergian ke luar negeri. Mahasiswa Indonesia, saat liburan, harus berpikir untuk liburan di Singapura, Thailand, Vietnam atau Malaysia. Dewasa ini, perjalalan ke Singapura dari Jogja tidak lagi lebih mahal dibandingkan jalan-jalan ke Bali dari Jakarta. Semua perlu uang. Pertanyaannya adalah untuk apa tabungan yang terbatas itu? Untuk bersenang-senang di Bali atau bertualang di asingnya Kamboja yang memacu adrenalin seraya menyiapkan kehidupan setelah kuliah?

Saya sering tanyakan ke mahasiswa saya, apakah mereka sudah punya paspor. Sebagian bengong karena tidak paham maksud pertanyaan saya, sebagian lain angkat tangan. Setidaknya mahasiswa perlu punya paspor karena dengan begitu luar negeri menjadi terasa lebih dekat. Sangat mungkin kesempatan ke luar negeri datang tiba-tiba dan artinya kesempatan itu hanya akan disambut oleh mereka yang sudah punya paspor jauh-jauh hari. Mereka, para mahasiswa itu, adalah generasi millennium ketiga dengan pergaulan global. Selain karena perihal uang dan waktu, berangkat ke Klaten seharusnya tidak berbeda rasanya dengan berangkat ke Russia. Maka hasrat bekerja di luar negeri harusnya menjadi hal yang biasa saja, sebiasa keinginan bekerja di kabupaten tetangga.

Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

16 thoughts on “Ingin Bekerja di Luar Negeri”

  1. Tulisan Pak Andi selalu bisa menginspirasi, bahkan terkadang membantu merubah mindset saya..
    Jadi malu di umur yang hampir seperempat abad saya belum punya paspor dan belum pernah menginjakkan kaki di LN. Mungkin karna saya orang desa yang berpikir negeri orang itu semenyeramkan ibukota dengan banyak preman. Hehehe
    Tapi saya yakin suatu saat bisa pergi ke LN layaknya pergi ke kecamatan sebelah. 🙂 Semoga saja,, Amiinnn.

  2. Nice post Pak…
    Saya dulu berprinsip, kalau bule kerja di Indonesia maka mereka harus dapat berbahasa Indonesia bukan kita yang harus lihai berbahasa Ingris.
    Setelah masuk dunia kerja, pandangan saya tersebut berbalik 180 derajat… ternyata kesempatan untuk ke luar negeri itu datang (kerja maupun trainning) so… kelabakan sekali apabila tidak sedini mungkin untuk dapat berbasa asing (inggris khususnya) secara lihai untuk memasuki dunia kerja
    Kita (tenaga kerja Indonesia) sangat ketinggalan jauh dengan Philipina, baik jumlah, posisi dan skill bahasa (kalau skill pekerjaan, saya jamin “TKI” lebih handal) . Maka dari itu, besar harapan kami kepada Bapak untuk dapat menjadi “CEO DOSEN” yang dapat menggenjot semangat dan motivasi adik-adik kami agar dapat segera mewujutkan harapan untuk memetakan dinginnya kutub utara sampai gersangnya lokasi aborigin tersebut.

  3. Betul sekali Pak. Bahasa Inggris sering dipake di textbook pemrograman.

    Saya yg dulu mulai punya paspor juga setelah lulus dan agak menyesal.

    Saya rasa karakteristik ngabdi nya orang Jawa harusnya bisa diterapkan ketika bekerja di perusahaan Jepang.

  4. Terima kasih Pak Made, selalu menginspirasi. Tulisan ini menarik, mengingat saat ini saya adalah mahasiswa tingkat akhir dan memiliki pandangan untuk bekerja keluar negeri sebagai seorang ahli dibidang ilmu yang digeluti. Pak Made, saya ada pertanyaan, seberapa besar kesabaran dan juga keuletan dalam melalui target untuk mencapai tujuan kerja keluar negeri itu ?
    Warmest Regrads,
    Ebi

  5. Kisah Sukses TKI – Ke Jepang

    Perkenalkan Nama Saya Kurniawan Asal Temanggung Jateng.

    Disini saya akan bercerita kisah sukses yang menjadi kenyataan mimpi saya.
    KEGIATAN SEBELUM MENGIKUTI PROGRAM

    Seperti para pemuda umumnya dan dengan kondisi ekonomi orang tua saya yang pas-pasan saya ikut merasa prihatin dan menghendaki adanya perubahan ekonomi dalam keluarga saya. Saya lahir di salah satu kampung terpencil di kota Temanggung Provinsi Jawa Tengah, dimana struktur tanah tempat kelahiran saya adalah pegunungan dengan mata pencaharian masyarakat sekitar petani dan beternak.

    Dengan kondisi seperti itu saya membantu orang tua untuk mencukupi kebutuhan hidup minimal mempertahankan perekonomian keluarga kami dengan membantu orang tua bertani , beternak dan membuat tempe (sejenis makanan dari biji kedelai) yang kemudian saya jual ke warung-warung selepas pulang sekolah.

    Walau pendidikan masyarakat kami masih dibawah rata-rata tetapi keluguan, kepolosan serta kesederhanaan masyarakat di sekitar saya menjadi momen hidup yang paling indah bagi diri saya pribadi.

    Ada satu hal yang menjadi beban pikiran saya pada saat itu akankah saya mengikuti jejak orang tua saya menjadi petani dan berdagang seusai saya selesai sekolah nanti, lalu apa fungsi pendidikan formal yang saya jalani selama ini dengan biaya yang tidak sedikit bagi keluarga kami.

    Pengorbanan keluarga yang selama mendidik, membina dan membiayai hidup saya selama ini tak cukup hanya sekedar saya mengikuti jejak orang tua saya menjadi petani, saya harus membuktikan kepada keluarga untuk menjadi yang terbaik, tetapi dimana dan bagaimana…? Sisi lain saya tau saya hanya lulusan SLTA sedangkan lowongan pekerjaan hanya diperuntukan bagi lulusan Diploma dan Strata 1.

    Pada pertengahan tahun 2011 saya bertemu dengan seorang teman lama di Jalan Raya Kranggan No. 36 Temanggung Jawa Tengah. Dia memperkenalkan saya dengan salah pejabat BNP2TKI PUSAT, Beliau adalah Deputi Penempatan BNP2TKI, Agusdin Subiantoro. Alamat BNP2TKI Jalan MT Haryono Kav 52, Pancoran, Jakarta Selatan 12770.
    Saya diberikan No Kontak Hp Beliau, dan saya mencoba menghubungi tepat jam 5 sore, singkat cerita sayapun menyampaikan maksud tujuan saya, bahwa sudah lama saya mengimpikan bisa bekerja di japang. Beliaupun menyampaikan siap membantu dengan bisa meluluskan dengan beberapa prosedur , saya rasa prosedur itu tidak terlalu membebani saya. Dari sinilah saya menyetujui nya, yang sangat membuat Aku bersyukur adalah bahwa saya diminta melengkapi berkas untuk saya kirim ke akun email beliau dan sayapun disuruh menyiapkan biaya pengurusan murni sebesar Rp. 6.000.000. Inilah puncak kebahagiaan saya yang akhirnya bisa menginjakkan kaki dinegeri sakura japang.

    Akhirnya saya mendapat panggilan untuk ke jakarta untuk dibinah selama 2 minggu lamanya, saya hanya diajarkan DASAR berbahasa japang. Makna yang terkandung didalamnya sangat luar biasa dirasakan oleh saya, tanggung jawab, disiplin, berani dan sebagainya merubah total karakter saya yang dulu cengeng dan kekanak-kanakan, walau kadangkala saya masih belum begitu yakin apakah saya bisa berangkat Ke Jepang dengan baik, akhirnya saya mendapat Contrak kerja selama 3 tahun lamanya di bidang industri.

    Rasa pasrah dan khawatir menghinggapi saya saat itu, seorang anak kampung berangkat ke Jepang dengan menggunakan pesawat terbang yang sebelum belum pernah saya rasakan sebelumnya. Jangankan naik di atas pesawat melihat dari dekatpun saya belum pernah sama sekali.

    Di Bandara Soekarno Hatta kami di temani oleh petugas Depnakertrans dan IMM Japan untuk melepas keberangkatan kami, rasa haru dan air mata sedih berlinang di pipih saya pada saat di izinkan prtugas untuk pamit kepada keluarga yang kebetulan saya diantar oleh paman saya, kami saling berpelukan dan mohon salam dan restu dari orang tua dan keluarga.

    MASA MENGIKUTI
    PROGRAM KEBERANGKATAN DI JEPANG

    Setibanya di NARITA AIRPORT Jepang, kami dijemput oleh petugas IMM Japan yang ada di sana, dan kami diantar ke Training Centre Yatsuka Saitama-ken untuk mengikuti pembekalan sebelum di lepas ke perusahaan penerima magang di Jepang.

    Banyak hal-hal baru yang saya rasakan selama menjalani program pemagangan di Jepang, tetapi lama kelamaan saya mampu berdaptasi dengan baik dengan teman-teman dan karyawan perusahaan lainnya. Yang terpenting bagi saya saat itu mengikuti program dengan baik dan sungguh-sungguh untuk menunjukkkan pada keluarga dan negara Indonesia tercinta.
    dan saya sangat berterimah kasih ke pada beliau dan sudah mau membantu saya, itu adalah kisa nyata dari saya,

    jika anda ingin seperti saya anda bisa,Hubungi Bpk Deputi Penempatan BNP2TKI, Agusdin Subiantor-Pusat. Ini No Contak HP Beliau: 0857-5619-0217 siapa tahu beliau masih bisa membantu anda untuk mewujudkan impian anda menjadi sebuah kenyataan.

    TERIMA KASIH

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s