Euthanasia

Ngaben

Saya memacu mobil sekencang mungkin. Akhir pekan ini jalanan tidak ramai tetapi batas maksimal kecepatan tetap berlaku. Meskipun tidak ada polisi, rambu lalu lintas di tepi jalan yang dengan tegas memamerkan angka 60 berlaku sama dengan kehadiran seorang polisi. Tidak seorang pun berani melanggarnya. Saya pastikan kecepatan mobil saya hampir 60 kilometer per jam, kecepatan maksimal yang diperbolehkan di Crown Street. Sesekali saya melirik tubuhnya yang lemas di sebelah kiri saya. matanya terpejam, tutuhnya bergerak lemah dan nafasnya turun naik sangat halus. Mulutnya sesekali ternganga, nampak jelas dia sedang sekarat.

Continue reading “Euthanasia”

Ketika Gagal Meraih Beasiswa: Sebuah Pelajaran Kejujuran

Ada hal yang belum pernah saya kisahkan di blog ini. Ketika saya dipanggil untuk ujian wawancara Australian Development Scholarship (ADS) pada bulan November 2002 silam, saya dalam keadaan tidak bersemangat. Mungkin berbeda dengan kebanyakan orang, saya tidak terlalu bergembira. Biasa saja. Bukan karena saya meremehkan Australian Development Scholarship dan telah yakin akan dipanggil, semata-mata karena saya tidak menjadikan Australia sebagai tujuan utama pendidikan lanjut saya. Eropa adalah satu-satunya tempat yang terbersit di benak saya ketika itu. Belanda menjadi negara yang lebih spesifik lagi. Semetara itu, ADS ketika itu adalah sebuah kisah sambil lalu bagi saya. Kalau dapat, bagus, tidak dapat juga tidak masalah. Gejolak jiwa muda, Eropa adalah mimpi.

Continue reading “Ketika Gagal Meraih Beasiswa: Sebuah Pelajaran Kejujuran”

Dari KML ke Ceper – Pergulatan Akademisi Bali

Juni 2011 lalu saya berlibur di Bali di sela menghadiri sebuah konferensi dan kuliah umum. Desa Tegaljadi, tempat kelahiran saya, terletak di bagian yang cukup terpencil di Kabupaten Tabanan. Meski terpencil, tempat itu selalu berkesan dan membuat saya selalu ingin pulang lagi dan lagi. Saya menikmati mandi di pancuran yang kata kakek saya memang tidak pernah surut airnya sejak beliau ingat. Saat selesai membasuh badan, kadang tangan saya reflek mencari-cari keran untuk menghentikan aliran air. Kerabat saya yang tahu ini pasti tergelak.

Continue reading “Dari KML ke Ceper – Pergulatan Akademisi Bali”

Galoongan