Berkemas

Matahari tidak beristirahat sedikitpun. Ketekunannya berurai tak berhenti, menyisakan ketergesaan bagi siapa saja yang mudah terlena. Matahari tidak menunggu siapun, termasuk mereka yang rajin berdoa. Matahari akan berangkat sendiri, pun jika kamu tidak lambaikan tanggan. Dia tidak berhenti untuk menyapa, apalagi menunggu. Tidak!

Dalam kesempitan masa yang ditinggalkan, aku berkelebat layaknya perca-perca angin yang mengibas keringnya siang di musim panas. Melompat dari satu pintu ke jendela berikutnya, meliuk di sela-sela kekalutan yang tak urung menghampiri. Sambil menuliskan catatan perjalanan, aku sisakan senyum. Sambil membungkus perbekalan, aku sampaikan kegundahan pada ranting yang patah di belakang rumah. Aku gamit pelajaran, dan kutinggalkan budi baik yang semoga akan bermekaran suatu ketika. Aku akan pulang, mengejar matahari yang memang tidak pernah berhenti.

Translate yourself

The more languages you speak, the better. This is undoubtedly true. However, learning to speak different language is not easy. Further more people say that language is a matter of talent. You can’t really force yourself to learn many languages as you have your own capacity. Do you agree with that? Up to you!

Anyway, if you happen to be just like me, not really good in speaking languages other than English and your mother tongue don’t worry! There is a website that can help you translate from some other languages into English and vice versa.

Please visit: http://babelfish.altavista.com/

It can translate either a paragraph or a webpage (URL). I’ve tried it myself and it works well. Have it a go, mate!

Everything lies inside

When almost everybody read the book of R. Kiyosaki, WHO MOVED MY CHEESE? I did the same. After a while the book had been a best seller, I started reading it with millions of questions. I wondered how such a book became a phenomenon. As I suspected, I was disappointed. The book did not really give me something special. I doubted my friend’s claim, saying that it was the best book he had ever seen. “This will bring you to the new stage”, he said someday. Unfortunately, the book is not as great as he described. It was, to me, just a compilation of “ordinary” ideas I had been thinking for quite a while, I believe.

What Kiyosaki had done was to pack the ideas in simple language so everybody can easily understand. He did not invent something big, I am sure. When I carefully asked myself while reading the book, whether the ideas Kiyosaki suggested were surprising? I found myself with “no” answer.

Similarly, whenever I listened to a spiritual speech or whatever similar, I almost always realised that the contents of the speech were just usual. Almost none of them were something really new. It sounded more like a reiteration or repetition to me. It seems to me that the ideas are something I am familiar with. The same ideas I had here inside my head or heart. It was long time before I heard it for the first time.

What happen?
Nothing serious happen. This indicates that everything lies in me. Everything lies in you. The problems are how open-minded you are, how ready you are to something new, and how high you value yourself. Everything lies in you. Don’t search anywhere else as you are knocking the door from inside.

Penerima Australian Development Scholarship 2006

Pengumuman berikut diambil dari situs resmi ADS Jakarta. Ditampilkan di sini agar bisa dilihat langsung tanpa perlu mendownload. Jika ingin mendapatkan file aslinya, silahkan download dari website ADS Jakarta dalam format EXCEL.


[satu][dua][tiga][empat][lima][enam][tujuh][delapan][sembilan][sepuluh][top]


[satu][dua][tiga][empat][lima][enam][tujuh][delapan][sembilan][sepuluh][top]


[satu][dua][tiga][empat][lima][enam][tujuh][delapan][sembilan][sepuluh][top]


[satu][dua][tiga][empat][lima][enam][tujuh][delapan][sembilan][sepuluh][top]


[satu][dua][tiga][empat][lima][enam][tujuh][delapan][sembilan][sepuluh][top]


[satu][dua][tiga][empat][lima][enam][tujuh][delapan][sembilan][sepuluh][top]


[satu][dua][tiga][empat][lima][enam][tujuh][delapan][sembilan][sepuluh][top]


[satu][dua][tiga][empat][lima][enam][tujuh][delapan][sembilan][sepuluh][top]


[satu][dua][tiga][empat][lima][enam][tujuh][delapan][sembilan][sepuluh][top]


[satu][dua][tiga][empat][lima][enam][tujuh][delapan][sembilan][sepuluh][top]

C.I.N.T.A

Ketika aku kecil, cinta adalah sepenuhnya tindakan. Tindakan tanpa banyak kata dari seorang ibu sederhana dengan perilaku dan mental desa yang juga sederhana. Begitulah, diterjemahkannya cinta dengan kegigihannya menuruni bukit terjal menambang batu padas yang diselesaikannya dari subuh hingga larut sore ketika matahari merah di ufuk barat. Cinta adalah keseharian menjual batu padas untuk ditukar dengan beras dan lauk sedapatnya. Cinta yang tidak sulit dilukiskan dengan kerumitan kata, tapi dasyat menghidupiku, tidak saja tubuh tetapi keseluruhan jiwa.

Ketika beranjak remaja, cinta adalah desiran perasaan tak menentu ketika gadis kecil, sang pujaan hati, melintas di depan rumah. Cinta yang kalau dipikir saat ini sangat memalukan. Tetapi itulah cinta, yang memiliki masanya sendiri. Cinta yang oleh orang dewasa disebut cinta monyet tanpa sadar kalau mereka tengah menjalani cinta kingkong, cinta yang sama memalukannya hanya dalam bentuk yang lebih besar dan lebih berani.

Saat dewasa, ketika usia telah terasa matang dan untuk membeli beras tidak perlu menjual batu padas, cinta adalah perpaduan antara gelora hati, birahi dan tanggung jawab. Cinta adalah juga sebuah kewajiban untuk memenuhi kewajiban makhluk Tuhan: meneruskan keturunan. Cinta adalah kebebasan melepas hasrat karena kesepakatan sudah direstui nilai yang dianut banyak manusia.

Saat waktu bergerak tidak berhenti, saat perubahan selalu datang dan definisi akan nilai dan anutan senantiasa baru, cinta memiliki banyak definisi berbeda. Cinta adalah cikal bakal penentuan pilihan dari jalan yang nikmat menuju jalan yang benar. Cinta adalah kesetiaan pada pekerjaan, meski tidak menjanjikan kenikmatan dunia yang memabukkan. Cinta adalah pengabdian. Cinta adalah juga pengingkaran bagi yang menginginkannya. Akhirnya, cinta terlihat seperti sesuatu yang kompleks, multi dimensi. Apakah kerumitan ini yang dinamakan cinta sesungguhnya? Aku tidak tahu. Cinta bagiku adalah memberi senyum terbaik kepada istri dan anakku yang mempercayai cintaku adalah kekuatan bagi mereka. Aku ingin menyederhanakannya, seperti kata Sapardi Djoko Damono, aku ingin mencintai dengan sederhana, dengan kata yang tak sempat diucapkan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada.

Mandul

Seperti halnya saya, Anda pasti pernah mengalami suatu masa di mana terasa tidak produktif. Sadar bahwa ada setumpuk pekerjaan yang menuntut penyelesaian, sadar juga bahwa semua itu hanya akan lenyap jika dikerjakan betapapun pelannya, tapi tetap saja kita memilih untuk menikmati kepanikan tanpa berbuat apa-apa.

Sepertinya terlalu banyak pekerjaan, kita terkapar tak berdaya ditindih tumpukan persoalan menggunung yang sepertinya tidak akan terselesaikan kapan jua. Inilah saat di mana saya dan mungkin juga Anda MANDUL. Mandul secara ide dan kreativitas, tumbang tak berdaya tanpa pencapaian. Ini adalah ciri manusia biasa.

Ketika pikiran dipenuhi segudang tuntutan penyelsaian mulai dari riset yang belum terselesaikan, tiket untuk pulang ke tanah air yang belum pasti, pengiriman barang yang masih tanda tanya, tiket untuk anak dan istri/suami yang belum jelas ketersediaannya, titipan oleh-oleh yang mulai mengganggu mimpi, email dari supervisor yang memaki-maki karena kualitas tulisan yang jauh di bawah standar Anda. Wajar, jika semua itu membuat kita pusing tujuh keliling.

Saya putus asa, ngambek, dan mogok pada diri sendiri. Setiap tindakan tiba-tiba saja terasa terlalu kecil untuk bisa meringankan jutaan persoalan yang ada. Saya dikuasai kemalasan yang menjadi. Menulis sebaris kaliamt tesis saya yakin tidak akan berarti banyak. Menulis blog sekedar barbasa-basi memenuhi rutinitas catatan harian yang telah bolong berminggu-minggu terasa tidak akan cukup menghibur Anda. Mulai mencatat daftar oleh-oleh yang jumlahnya mungkin seratus-an justru akan membuat kekhawatiran Anda menjadi. Begitulah saya melewati hari-hari terakhir di negeri orang. Semua serba terlalu, tidak tahu harus mulai dari mana.

Menulis tesis malas, melakukan pelacakan kasus perbatasan yang sedang hangat malas juga, menulis blog tidak cukup menyenangkan, menulis email malas bebasa-basi. Singkat kata, saya dihinggapi penyakit malas yang luar biasa akutnya.

Sampai akhirnya di suatu malam…
Melamun di depan komputer menghabiskan waktu dan membuangnya dengan percuma. Semua itu membuat saya merasa bersalah. Menuruti kemalasan juga ternyata menumbulkan kebosanan dan keresahan baru. Saya ngeri membayangkan kegagalan-kegagalan yang nampaknya mengintai sangat lekat…

Akhirnya saya memulai dengan melakukan sesuatu yang paling tidak membutuhkan konsentrasi. Sesuatu yang tetap bisa saya lakukan tanpa mengecek referensi, blogging!
Tidak sadar, lebih dari 300 kata terlewati. Setidaknya saya telah mencatatkan satu penuntasan yang mengurangi secuil saja kewajiban yang masih tersisa. Ini masih jauh lebih baik daripada tidak sama sekali. Kini saya merasa sedikit bangga dan percaya diri, walau setitik. Selamat berjuang, bangun dari kemandulan!

PLAGIAT!!!

Dalam sebuah penjelajahan di dunia maya, saya menemukan artikel menarik dari Saudara Hasrul Sani Siregar MA di Riau Pos Online. Saudara Siregar membahas sengketa blok Ambalat, sebuah kasus yang sudah lama menjadi perhatian saya.

Yang menarik dari tulisan Saudara Siregar adalah adanya paragraf yang hampir verbatim sama dengan paragraf yang pernah saya tulis hampir setahun yang lalu di blog ini tentang kasus yang sama: Ambalat.

Mari saya tunjukkan bagian yang menarik tersebut.

Coba Anda perhatikan gambar berikut yang saya ambil dari posting saya setahun lalu di blog ini. Tulisan lengkap bisa Anda lihat di http://madeandi.blogspot.com/2005/03/ada-apa-dengan-ambalat.html. Perhatikan bagian yang diblok warna biru.

Sekarang silahkan Anda perhatikan gambar berikut yang saya ambil dari tulisan saudara Siregar di http://www.riaupos.com/web/content/view/6299/7. Sama seperti gambar sebelumnya, silahkan perhatikan bagian yang diblok biru.

Nampaknya tidak terlalu sulit untuk melihat bahwa tulisan saudara Siregar ini mengutip tulisan saya setahun yang lalu. Mengutip dalam kaidah ilmiah tentu saja dibenarkan dan sah adanya. Yang menjadikannya menarik adalah ketika pengutipan itu tidak disertai dengan penyebutan sumber sebagai rujukan secara eksplisit.

Jika Anda membaca tulisan saudara Siregar di Riau Pos Online, memang nama saya disebutkan tetapi tidak untuk bagian yang di-blok biru di atas. Hal ini tentu saja tidak bisa dibenarkan karena jelas-jelas pendapat yang diblok biru tersebut juga diambil dari tulisan saya. Seberapa kecilpun kita mengutip pendapat orang lain, semestinya sumbernya disebutkan dengan jelas. Ini yang dinamakan kode etik ilmiah.

Lebih parah lagi, saya meyakini pendapat Clive Schofield yang ditulis oleh saudara Siregar tersebut tidak pernah didapatkan langsung dari Clive Schofield melainkan dari tulisan saya juga. Saya yakin hal ini karena Clive Schofield adalah kolega baik sekaligus pembimbing tesis saya. Pendapat ini disampaikannya kepada saya secara pribadi dan tidak pernah dipublikasikannya di manapun sehingga hampir tidak mungkin saudara Siregar membacanya dari sumber lain kecuali tulisan saya.

Singkat kata, saya sangat menyesalkan terjadinya pengutipan tanpa menyebutkan sumber yang dilakukan oleh saudara Siregar, terlebih tulisan ini dipublikasikan dalam Riau Pos yang adalah media massa umum. Hal ini saya anggap sebagai tindakan PLAGIAT.

Dengan ini saya mohon kesediaan saudara Siregar untuk mengkalirifikasi kesalahan ini dan mempublikasikannya di Riau Pos. Kepada Riau Pos, saya mohonkan untuk lebih berhati-hati dalam menyeleksi tulisan sehingga tidak membiarkan praktik penjiplakan ini terjadi di kemudian hari. Selanjutnya mohon mengambil langkah yang dipandang perlu seperti layaknya sebuah media massa dalam menyikapi tindakan plagiarisme.

Jika Saudara Siregar atau Riau Pos merasa tulisan ini tidak mengandung kebenaran, saya terbuka untuk diskusi dan penyangkalan yang disertai bukti yang kuat. Saya tunggu tanggapannya.

Melbourne, 23 Januari 2006
I Made Andi Arsana

gambar diambil dari http://studweb.euv-frankfurt-o.de/~euv-2519/Bilder/Plagiarism.jpg

Tanggapan dari Hasrul Sani Siregar MA, dikirim melalui email pada tanggal 30 Januari 2006 pk. 15.14 Waktu Sydney

Terima kasih atas mailnya.

Salam hormat untuk Bapak I Made, kalau Bapak merasa tulisan itu Plagiat saya mohon maaf. Memang tulisan tersebut, saya dapatkan ketika saya ada Lokakarya di Yogyakarta tentang Hukum Laut Internasional yang diadakan Departemen Luar Negeri. Kalau Bapak merasa dirugikan dengan tulisan tersebut saya mohon maaf dan lain kali saya akan berhati-hati dalam mengutif pendapat. Yang jelas, saya tidak ada niat untuk mengutif tanpa menyebutkan sumbernya dan nama Bapak sebagai penulis sudah saya sebutkan. Demikian klarifikasi saya.

Terima kasih,

Hasrul Sani Siregar, MA
Ph.D Student UKM, Malaysia

Sekali Lagi Tentang Beasiswa

Mengikuti milis beasiswa sekaligus menerima banyak sekali pertanyaan seputar beasiswa mengingatkan saya betapa informasi tentang beasiswa luar negeri untuk pasca sarjana (S2 dan S3) sebenarnya masih sangat minim (sekaligus berharga) bagi banyak sekali orang Indonesia.

Saya tentu saja bukanlah seorang pakar dalam hal beasiswa, hanya sebagai salah satu saja dari sedikit orang Indonesia yang beruntung. Saya pernah menulis tentang beasiswa di blog ini dan mendapat cukup banyak tanggapan. Seiring perkembangan dan respon dari kawan-kawan pemburu beasiswa saya akan tuliskan beberapa hal lain yang mudah-mudahan bisa membantu.

Continue reading “Sekali Lagi Tentang Beasiswa”

Pindah Partai

Seorang kawan dari partai “kecil” pernah mengadu pada saya. Seorang kawan kami, sebut saja namanya X, yang pada awalnya memihak partai “besar” kini memutuskan untuk bergabung dengan partai “kecil”. Yang menjadi keresahaan kawan saya adalah reaksi dari teman-teman separtai X yang sama sekali tidak bisa menerima keputusan X dan bahkan menuduhnya telah murtad dan berkhianat. Dengan bijak, kawan saya ini berujar “Aku kira itu adalah hak asasi yang paling hakiki untuk menentukan partai mana yang terbaik. Tidak seharusnya kawannya ini kecewa dan menghalangi. Kita harus menghormati keputusan orang dalam memilih partai sesuai dengan hati nuraninya. Semua itu sah dan baik sepanjang tidak mengganggu orang lain”. Di telinga saya, ucapan ini terdengar sangat damai dan bijaksana. Negeri ini harus dipenuhi lebih banyak orang seperti ini, begitu saya berpikir.

Beberapa menit setelah kalimat bijaksananya tuntas, saya teringat satu kejadian lain. Si Anu, kawan kami yang selama ini dikenal partisipan di partai “kecil” baru saja menikah dengan Si Apa dari partai lain. “Hey, Si Anu menikah dengan pacarnya dan memututuskan untuk pindah partai”, saya melontarkan tanpa beban berita ringan ini. Tanpa tedeng aling-aling, kawan saya terbelalak. “What?!!! sudah kena pelet rupanya si Anu tuh.. mau-mau nya pindah partai karena seorang laki-laki!”

Selamat Tahun Baru

Made Kondang termenung menyadari tahun 2005 hampir tuntas dalam hitungan jam. Kurang dari 24 jam, tahun baru 2006 akan datang.

Pikirannya secara acak melayang meningat berbagai kejadian mulai dari program televisi yang menjanjikan pesta akbar akhir tahun, iklan-iklan koran yang menawarkan kesenangan di tahun baru hingga tawaran paket wisata penghujung tahun yang sangat menggoda. Bagi Kondang yang cuma petani penggarap, semua itu lewat begitu saja tanpa pernah mampu membuatnya tertarik. Atau mungkin, lebih parah lagi, Kondang tidak berani untuk tertarik?

Tiba-tiba Kondang melambungkan ingatannya ke akhir tahun 2004 lalu ketika salah satu kawan dekatnya terenggut nyawanya oleh tsunami di Aceh. Kawannya adalah satu dari ratusan ribu korban yang tidak berdaya melawan kekuasaan alam. Kondang sedih tak tertahankan. Ingatannya akan hal-hal suram akhirnya menjadi. Jelas dalam ingatannya berita di TV yang mengisahkan Bom di London, sebuah tempat yang hanya diketahuinya di TV dan mungkin tidak akan pernah diijaknya hingga kepergiannya ke liang lahat. Kota setua dan semapan London pun tidak lepas dari terorisme, begitu Kondang mengingat kata-kata penyiar sebuah TV swasta.

Tidak berselang berapa lama, Bali kembali dikejutkan oleh bom yang sangat dahsyat. Belum sembuh sempurna luka akibat bom tahun 2002 lalu, kini Bali kembali tertunduk sedih. Inilah pertanda robohnya Indonesia kami, begitu Kondang menirukan dalam hati ucapan seorang pujangga dadakan. Kondang yang tidak berhubungan langsung dengan para turis yang datang ke Bali, lambat-laun juga merasakan kesusahaan akibat bom ini. Pendek kata, orang kecil seperti Kondang juga menderita. Tidak habis pikir Kondang, ada orang yang mengatasnamakan agama dan Tuhan untuk menyengsarakan orang kecil seperti dirinya.

Bencana lain berseliweran di kepalanya yang terjadi selama setahun terakhir. Katrina di Amerika, Flu Burung yang menyerang hampir seluruh dunia dan kerusuhan rasial yang terjadi di Sydney adalah sebagian saja yang berhasil diingatnya dari siaran TV yang ditontonnya jarang-jarang. Musibah ternyata milik semua orang, begitu Kondang berpikir. Menyadari hal ini, setidaknya membuat Kondang sedikit terhibur, tidak sendiri meratapi kenyataan yang memang sedang tidak berpihak padanya.

Lalu apa pentingnya pesta akhir tahun? Apa enaknya berwisata di tengah kekalutan yang seakan tak berujung? Kodang tidak menemukan alasan untuk bersenang-senang menyambut tahun 2006. Sepertinya terlalu banyak kesusahan yang harus direnungkan dan kelemahan yang harus diperbaiki di tahun yang baru. Masih banyak pekerjaan rumah yang menunggu dan pesta bukanlah pilihan yang bijaksana menurut Kodang.

Di tengah lamunannya, Nyoman Sumi, istrinya lewat dan memergokinya yang sedang tenggelam dalam diam. ”Selamat tahun baru”, begitu Kondang berucap lirih dan berat yang disambut senyum ringan Sumi.