Mandul


Seperti halnya saya, Anda pasti pernah mengalami suatu masa di mana terasa tidak produktif. Sadar bahwa ada setumpuk pekerjaan yang menuntut penyelesaian, sadar juga bahwa semua itu hanya akan lenyap jika dikerjakan betapapun pelannya, tapi tetap saja kita memilih untuk menikmati kepanikan tanpa berbuat apa-apa.

Sepertinya terlalu banyak pekerjaan, kita terkapar tak berdaya ditindih tumpukan persoalan menggunung yang sepertinya tidak akan terselesaikan kapan jua. Inilah saat di mana saya dan mungkin juga Anda MANDUL. Mandul secara ide dan kreativitas, tumbang tak berdaya tanpa pencapaian. Ini adalah ciri manusia biasa.

Ketika pikiran dipenuhi segudang tuntutan penyelsaian mulai dari riset yang belum terselesaikan, tiket untuk pulang ke tanah air yang belum pasti, pengiriman barang yang masih tanda tanya, tiket untuk anak dan istri/suami yang belum jelas ketersediaannya, titipan oleh-oleh yang mulai mengganggu mimpi, email dari supervisor yang memaki-maki karena kualitas tulisan yang jauh di bawah standar Anda. Wajar, jika semua itu membuat kita pusing tujuh keliling.

Saya putus asa, ngambek, dan mogok pada diri sendiri. Setiap tindakan tiba-tiba saja terasa terlalu kecil untuk bisa meringankan jutaan persoalan yang ada. Saya dikuasai kemalasan yang menjadi. Menulis sebaris kaliamt tesis saya yakin tidak akan berarti banyak. Menulis blog sekedar barbasa-basi memenuhi rutinitas catatan harian yang telah bolong berminggu-minggu terasa tidak akan cukup menghibur Anda. Mulai mencatat daftar oleh-oleh yang jumlahnya mungkin seratus-an justru akan membuat kekhawatiran Anda menjadi. Begitulah saya melewati hari-hari terakhir di negeri orang. Semua serba terlalu, tidak tahu harus mulai dari mana.

Menulis tesis malas, melakukan pelacakan kasus perbatasan yang sedang hangat malas juga, menulis blog tidak cukup menyenangkan, menulis email malas bebasa-basi. Singkat kata, saya dihinggapi penyakit malas yang luar biasa akutnya.

Sampai akhirnya di suatu malam…
Melamun di depan komputer menghabiskan waktu dan membuangnya dengan percuma. Semua itu membuat saya merasa bersalah. Menuruti kemalasan juga ternyata menumbulkan kebosanan dan keresahan baru. Saya ngeri membayangkan kegagalan-kegagalan yang nampaknya mengintai sangat lekat…

Akhirnya saya memulai dengan melakukan sesuatu yang paling tidak membutuhkan konsentrasi. Sesuatu yang tetap bisa saya lakukan tanpa mengecek referensi, blogging!
Tidak sadar, lebih dari 300 kata terlewati. Setidaknya saya telah mencatatkan satu penuntasan yang mengurangi secuil saja kewajiban yang masih tersisa. Ini masih jauh lebih baik daripada tidak sama sekali. Kini saya merasa sedikit bangga dan percaya diri, walau setitik. Selamat berjuang, bangun dari kemandulan!

Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

3 thoughts on “Mandul”

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s