C.I.N.T.A


Ketika aku kecil, cinta adalah sepenuhnya tindakan. Tindakan tanpa banyak kata dari seorang ibu sederhana dengan perilaku dan mental desa yang juga sederhana. Begitulah, diterjemahkannya cinta dengan kegigihannya menuruni bukit terjal menambang batu padas yang diselesaikannya dari subuh hingga larut sore ketika matahari merah di ufuk barat. Cinta adalah keseharian menjual batu padas untuk ditukar dengan beras dan lauk sedapatnya. Cinta yang tidak sulit dilukiskan dengan kerumitan kata, tapi dasyat menghidupiku, tidak saja tubuh tetapi keseluruhan jiwa.

Ketika beranjak remaja, cinta adalah desiran perasaan tak menentu ketika gadis kecil, sang pujaan hati, melintas di depan rumah. Cinta yang kalau dipikir saat ini sangat memalukan. Tetapi itulah cinta, yang memiliki masanya sendiri. Cinta yang oleh orang dewasa disebut cinta monyet tanpa sadar kalau mereka tengah menjalani cinta kingkong, cinta yang sama memalukannya hanya dalam bentuk yang lebih besar dan lebih berani.

Saat dewasa, ketika usia telah terasa matang dan untuk membeli beras tidak perlu menjual batu padas, cinta adalah perpaduan antara gelora hati, birahi dan tanggung jawab. Cinta adalah juga sebuah kewajiban untuk memenuhi kewajiban makhluk Tuhan: meneruskan keturunan. Cinta adalah kebebasan melepas hasrat karena kesepakatan sudah direstui nilai yang dianut banyak manusia.

Saat waktu bergerak tidak berhenti, saat perubahan selalu datang dan definisi akan nilai dan anutan senantiasa baru, cinta memiliki banyak definisi berbeda. Cinta adalah cikal bakal penentuan pilihan dari jalan yang nikmat menuju jalan yang benar. Cinta adalah kesetiaan pada pekerjaan, meski tidak menjanjikan kenikmatan dunia yang memabukkan. Cinta adalah pengabdian. Cinta adalah juga pengingkaran bagi yang menginginkannya. Akhirnya, cinta terlihat seperti sesuatu yang kompleks, multi dimensi. Apakah kerumitan ini yang dinamakan cinta sesungguhnya? Aku tidak tahu. Cinta bagiku adalah memberi senyum terbaik kepada istri dan anakku yang mempercayai cintaku adalah kekuatan bagi mereka. Aku ingin menyederhanakannya, seperti kata Sapardi Djoko Damono, aku ingin mencintai dengan sederhana, dengan kata yang tak sempat diucapkan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada.

Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s