Cinta terakhir

Tak semestinya
Ku merasa sepi
Kau dan aku
Di tempat berbeda
Seribu satu alasan
Melemahkan , tubuh ini

Aku disini
Mengingat dirimu
Ku menangis tanpa air mata
Bagai bintang tak bersinar
Redup hati ini

Dan ku mengerti sekarang
Ternyata kita menyatu
Di dalam kasih yg suci
Kuakui kamulah cinta terakhir (cintaku)

Maaf

Saya sedang di depan kelas menghadapi sejumlah mahasiswa yang baru saja menikmati libur lebaran. Saya tahu, mereka belum sepenuhnya berkonsentrasi pada kuliah. Karena kebaikan hati dan tanggung jawab mereka sebagai mahasiswa saja, mereka berada di hadapan saya. Sebenarnya cukup “bisa diterima” juga kalaupun mereka masih ada di kampung menikmati suasana lebaran saat itu.

Melihat mahasiswa yang tidak 100% siap menyimak pelajaran, saya mengerti. Bukan hanya mahasiswa, saya pun masih menikmati liburan lebaran. Tiak adil juga kalau saya tidak mau tahu dan langsung mengguyur mereka dengan materi Batas Wilayah yang tentu tidak cukup menarik di hari pertama kuliah.

“Selamat idul fitri ya, Minal Aidin Wal Faidzin, maafkan lahir dan bathin, selamat para pemimpin, rakyatnya makmur terjamin”, begitu saya membuka kuliah yang disambut senyum mahasiswa. Senang melihat mereka tersenyum di hari pertama kuliah. Adalah kebiasaan saya, tidak langsung mulai materi serius ketika kuliah. Pasti ada saja cerita di luar kuliah yang mengisi 5 menit pertama. Film, berita di koran, gosip hangat seputar kampus, cerita lucu, kisah menyentuh atau sebangsanya adalah beberapa contoh kesukaan saya. Mahasiswa nampak menikmatinya. Kali ini saya bahkan berniat untuk tidak mengisi kuliah, sekedar ngobrol saja.

“Apa sih arti memaafkan saat lebaran?” saya memulai kisah saya dengan bertanya secara retorik. Tidak untuk dijawab. Berkembanglah obrolan khas saya dengan mahasiswa yang diselingi derai tawa. Saya merindukan saat-saat seperti ini.

Bagaimana sesungguhnya kita harus memaknai maaf? Tidak mudah menjawabnya. Persoalannya, ketika kesempatan meminta maaf pasti datang setiap tahun dan waktu “menghapus dosa” juga dengan pasti disediakan, saya khawatir maaf menjadi kehilangan maknanya. Maaf jangan-jangan jadi seperti makan nasi 3 kali sehari yang kadang dilakukan sambil mengetik tugas atau menyelesaikan pekerjaan kantor saking sibuknya. Makan menjadi tidak istimewa karena rutinitas. Akankah maaf menjadi seperti itu?

Anda dan saya pasti bersepakat bahwa dimaafkan tidaklah sama dengan diberi kesempatan untuk mengulang kesalahan. Hanya karena ada Ramadhan di tahun depan, bukan berarti kita bebas untuk berbuat salah di saat ini. Tapi seandainya seseorang memang berniat berbuat dosa dan dengan sadar menikmatinya, ini adalah perihal lain. Kita tidak sedang membicarakan hal ini.

Saya bertanya kepada mahasiswa waktu itu ”kalau saya tidak marah saat ada yang datang terlambat itu artinya saya maafkan. Apa arti maaf saya ini?” saya kemudian mencoba membagi gagasan saya bahwa maaf seperti itu adalah dalam rangka pemberian kesempatan untuk berbuat lebih baik di minggu berikutnya. Maaf adalah kesempatan, itu intinya. Akan sangat sayang jika maaf ini diartikan bahwa saya tidak bisa marah dan tidak akan marah kalau ada yang terlambat. Sangat tidak sesuai tujuannya kalau kemudian mahasiswa berpikir ”Gampang sama Pak Andi, telat gak dimarahin kok, so santai aja”. Maaf dalam konteks ini telah membuahkan petaka. Bukan kepada saya sendiri tetapi kepada mahasiswa, kepada karirnya dan kepada masa depannya. Alangkah tidak terpujinya maaf itu, kalau dia bisa menjerumuskan seorang mahasiswa pada perilaku yang tidak semestinya. Maaf tidak menemukan sasarannya. Maaf menjadi tidak bermakna.

Saya tambahkan, ”jika maaf yang saya berikan akhirnya membuat generasi muda seperti Anda menjadi lemah, tidak disiplin dan cenderung tidak serius pada diri sendiri, saatnya saya katakan “tidak” dan maaf mungkin tidak harus saya berikan.” Tentu saja saya mengucapkannya sambil tersenyum, jauh dari kesan galak karena saya memang tidak bisa galak. Pengalaman ini sangat berkesan.

Maaf yang ditebar saat Idul Fitri adalah wujud kesempatan. Bukan gratisan yang membuat seorang ”saya” bisa berkelakar dan menyiapkan tumpukan dosa untuk dilebur tahun depan dalam Ramadhan. Kalaupun ada dosa yang harus dilebur lagi, biarlah itu sisa kelupaan dan kekhilafan, bukan kesengajaan karena ”saya” berpikir cadangan maaf masih banyak untuk ”saya”.

Biarlah maaf ini menjadi sesuatu yang alami mengalir seperti air yang menembus bebatuan tanpa merusaknya. Biarlah maaf ini membuat semua orang menjadi lebih sabar dan lebih mudah tersenyum.

Selamat Idul Fitri, mohon maaf lahir dan bathin. Terima kasih telah memberi kesempatan.

Menulis buku atau cuci piring?

Menarik sekali menyimak daftar orang terkaya di Indonesia yang juga dilansir Kompas beberapa waktu lalu. Yang lebih menarik, tidak satupun dari orang terkaya itu berprofesi sebagai penulis, tidak juga guru atau dosen.

Konon untuk berhasil dalam hidup, kita harus memiliki keahlian. Kata lainnya adalah pintar. Di sisi lain, semestinya diterima cukup umum bahwa seorang dosen atau guru adalah orang pintar, setidaknya berada di jajaran menegah ke atas di angkatannya ketika bersekolah, misalnya. Begitulah umumnya walaupun anomali terhadap ini pastilah ada. Teori ini membuat daftar orang terkaya itu menjadi menarik. Orang yang dikenal pintar ternyata tidak menjadi kaya, walaupun itu jelas tidak untuk mengatakan bahwa yang termasuk dalam daftar orang terkaya itu tidaklah pintar.

Saya (sebagai dosen) tidak tertarik membahas kekayaan, mungkin juga karena sudah terlanjur merasa tidak akan bisa kaya 🙂 Atau mungkin juga karena memang tidak terlalu memaksa diri agar menjadi kaya. Tidak mudah untuk menerima argumentasi seperti ini. Apapun itu, saya lebih tertarik berbicara tentang J. K. Rowling yang adalah penulis dan menjadi salah satu orang terkaya kareana Harry Potter-nya. Penulis juga bisa kaya ternyata. Apakah penulis Indonesia juga bisa kaya? Pertanyaan ini yang kadang menggelitik saya. Saya akan bercerita sedikit tentang penulis di Indonesia, terutama dari sudut pandang penulis pemula seperti saya.

Banyak teman berkelakar, “wah jadi millioner nih sekarang. Sudah menulis buku sih!”. Saya hanya bisa tersenyum. Begini hitung-hitungannya. Penerbit umumnya memberikan 10% royalti dari harga jual buku. Untuk buku Google, misalnya penulis mendapat kira-kira 2000 rupiah per eksemplar. Sementara itu buku dicetak 2000 eksemplar, artinya saya akan mendapat 4 juta secara keseluruhan. Di awal penerbitan, royalti diberikan 25% dari total yang artinya sebesar 1 juta. Setelah dipotong pajak, tinggal 800 ribu sekian. Karena saya menulis buku tersebut bersama orang lain, maka wajar kalau royalti dibagi dua. Alhasil, saya memperoleh 400 ribu rupiah sekian di rekening saya.

Perlu diceritakan sedikit bahwa 400 ribu rupiah ini adalah hasil kerja keras selama sekitar 3 bulan yang isinya adalah begadang, sewa internet, diskusi, revisi draft, layout, komunikasi dengan pernerbit dan lain sebagainya. Singkat kata, 400 ribu itu adalah sesuatu yang sangat berharga dan mahal. Meskipun berharga, ketika saya harus membeli susu utuk Lita, tetap saja 400 ribu itu hanya berhasil ditukar dengan beberapa kotak susu yang dilahap Lita dengan sangat cepat. Ketika harus ditukar dengan realita, royalti yang berharga dan saya banggakan itu ternyata tidak banyak membantu.

Dalam kondisi yang menarik ini, saya seringkali mendapat kesempatan dan peluang yang sangat menggoda. Ketika berada di Sydney, misalnya, cuci piring semalam bisa menghasilkan 100 dolar alias hampir 800 ribu rupiah. Kalau mau ngepel lantai dan bangun pagi, bisa menghasilkan hampir dua kalinya. Kesempatan beginilah yang sering mengancam kreativitas saya dalam menghasilkan karya ideal. Apakah saya menyesal atau meratapi nasib yang tidak bisa kaya karena menulis? Saya tidak perlu menjawab ini. Mungkin Anda harus membaca seluruh tulisan dalam blog ini atau membaca biografi saya yang belum terbit (belum juga ditulis) untuk mendapat jawaban yang sebenarnya.

Satu hal yang penting, tidak selalu mudah memilih ketika menulis karya bermutu harus dibandingkan dengan cuci piring. Saya punya pilihan sendiri, tetapi akan sangat memaklumi jika ada yang memilih mencuci piring sebagai kebanggaannya.

Tidak berharap

Made Kondang yang tumben melihat dunia luar kembali ke desa dengan kecewa. “Ada apa, dari kota kok malah cemberut?” seorang tetua desa menangkap kegundahan hatinya. “Kota ternyata tidak seindah yang saya kira Pak”, Kondang menjawab tandas dan ketus. Begitulah Kondang, dia kecewa karena sebelum melihat kota dia berharap banyak. Iklan di televisi dan promosi orang-orang membuat dia percaya bahwa kota memang adalah surga.

“Kamu salah!”, seorang tetua lainnya menasihati Kondang. “Jangan berharap terlalu tinggi sebelum kamu bertemu atau berhadapan langsung dengan sesuatu. Itu kuncinya supaya kamu tidak kecewa.” Kondang berpikir, benar juga apa yang disampaikan Pak Tua ini. Kalau kita tidak berharap, kita akan lepas dari penghakiman, begitu kira-kira maksudnya seperti kata-kata tinggi yang sesekali dilihatnya di televisi. Tapi sebentar dulu, Kondang merenung lagi.

“Mengapa kita kita tidak boleh berharap Pak?” Kondang bertanya serius. Dengan ringan Sang Bapak Tua menjawab “Dengan harapan, kamu tidak akan kecewa!” Kondang tersenyum kecut dalam hati. “Apa bedanya?” gumamnya.

Percakapan

Seorang lelaki berusia 30-an akhir datang ke tempatku dan menyapa “Hi, how are you guys doing?”. Lelaki ini berkebangsaan Italia datang ke ruanganku melepaskan penatnya. “Aku sedang menyelesaikan laporan SekJen PBB tentang isu kelautan. Perlu udara segar sebelum memulai lagi”, begitu dia bercerita tentang sesuatu yang menjadi kesehariannya.

Di ruang sebelah, aku dengar seorang kolega lain berkebangsaan Perancis sedang berbicara di telepon. “Aku tidak bisa besok. Jam 10 Ban Ki Moon akan berkunjung ke sini, aku harus stand by.” Dia sedang berdiskusi dengan koleganya di telepon tentang acara besok hari. Sementara itu, seorang gadis dari Egypt melintas di luar ruangan dan dengan penuh gairah menjerit “Aku tadi satu lift dengan Angelina Jolie!” Jolie adalah duta kelaparan PBB. Tidak heran kalau dia sering berkunjung ke sini: Markas PBB.

Begitulah percakapan sehari-hari orang-orang di sekitarku. Keberadaanku di tengah-tengah mereka pastilah adalah keistimewaan karena diberinya kesempatan pada telingaku untuk mendengar hal-hal besar yang telah terasa biasa.

Night at the museum

Anda mungkin sudah menonton atau setidaknya pernah mendengar perihal film Ben Stiller: Night at the Museum. Film ini berseting di American Museum of Natural History yang berlokasi di Manhattan, New York, US. Saya mengunjungi museum tersebut minggu lalu saat akhir pekan. Lihat petanya di sini.

Seperti yang bisa dilihat di filmnya Ben Stiller, koleksi museum ini memang sangat lengkap. Koleksi berada di empat lokasi berbeda, lantai satu hingga lantai empat. Menjelajahi museum ini memerlukan waktu lama karena koleksinya sangat banyak dan menggoda untuk disimak dengan seksama. Di lantai satu misalnya, Rose Center for Earth and Space menyajikan koleksi lengkap seputar planet bumi. Berbagai koleksi batuan dan model lapisan bumi bisa dilihat lengkap dengan keterangannya. Yang menarik, lantai ini dilengkapi dengan alat monitor gempa sehingga pengunjung bisa melihat kejadian gempa di berbagai belahan bumi dari monitor, termasuk magnitudnya dan waktu kejadiannya. Selain itu, data ini juga divisualisasi pada peta digital dengan simbol kartografi yang sesuai. Hanya dengan melihat peta dan simbol kartografi berupa lingkaran, pengunjung dapat mengetahui di mana, dan kapan terjadi gempa serta berapa magnitudnya. Kalau melihat peta ini, saya teringat pelajaran kartografi, warna lingkaran menunjukkan perbedaan waktu sedangkan jari-jari lingkaran menunjukkan magnitud gempa. Semakin besar magnitudnya, semakin besar jari-jari lingkarannya. Terlihat di sana betapa Indonesia memang memiliki ‘keistimewaan’ soal gempa. Seluruh Indonesia dipenuhi lingkaran besar dan kecil dengan berbagai warna. Tidak salah kalau semua orang Indonesia seharusnya tahu lebih banyak tentang gempa.

Di lantai lain ada koleksi mamalia, mulai dari Asia, Afrika Amerika, Australia hingga Eropa. Museum ini memiliki koleksi binatang yang diawetkan sehingga ukuran binatang yang terpajang sesuai aslinya. Cukup asik menyaksikan berbagai binatang yang selama ini hanya bisa dilihat di TV. Berfoto bersama binatang-binatang ini tentu saja adalah pengalaman yang menarik.

Peradaban berbagai bangsa juga bisa dilihat di museum ini. Pakaian adat, alat masak, peralatan pertanian, senjata dan sebagainya dari berbagai suku bangsa bisa dinikmati di sini. Selain itu, tradisi adat termasuk penguburan mayat dan upacara pernikahan juga tersaji dengan apik membuat pengunjung terkesima dan betah berlama-lama menikmatinya.

Yang paling menarik bagi saya adalah koleksi fosil binatang purba. Seperti yang terlihat dalam film Ben Stiller dengan tulang-tulang dinosaurus yang berkeliaran di museum pada malam hari, museum ini memang dipenuhi koleksi serupa. Mulai dari koleksi fosil mamalia kecil hingga saurus pemakan tumbuhan (ingat Jurasic Park, ada saurus yang bersin) yang sangat amat besar. Semua dipajang dengan skala asli sehingga menakjubkan untuk disimak dan difoto tentu saja.

Bagi anak sekolah, museum ini memberikan prioritas. Ada ruangan untuk makan siang dan istrirahat karena museum ini memang dikunjungi oleh banyak siswa setiap minggunya. Koleksi mereka memang sangat berguna untuk pelajaran dan wawasan para siswa. Selain itu, diilhami oleh film Night in The Museum, ada juga acara menginap di museum bagi anak-anak. Pasti menyenangkan berkemah di dalam museum sambil menikmati lengkapnya koleksi yang tersedia.

Sayang sekali Lita tidak ikut ke sini, suatu saat pasti dia akan sampai di sini. Tunggu cerita selanjutnya.

Sydney vs New York

Banyak yang bertanya pada saya “Bagaimana New York?” atau “Dibandingkan Sydney, bagus New York nggak?”. Tidak mudah menjawab pertanyaan ini secara instan. Pertama karena saya baru seminggu di sini, kedua memang keduanya bagi saya sangat mirip. Maju, tertata. Kalau dipaksa untuk menunjukkan perbedaan atau menilai mana yang labih bagus, saya akan sampaikan laporan pandangan mata selama seminggu ini.

1. Transportasi Bus
Kalau di Sydney di setiap halte bus ada jadual, di sini tidak. Jadual dibagikan gratis berupa brosur seperti halnya di Sydney juga ada. Kalau di Sydney, toleransi waktu tibanya bus pada suatu halte berkisar kurang dari 5 menit (dan lebih sering di bawah 2 menit), di sini bisa lebih dari 10 menit. Halte di depan rumah tempat saya tinggal semestinya dikunjungi bus q38 setiap 20 menit, kenyataannya tidak demikian. Seminggu di sini membuat saya mendapat kesan bahwa bus tidak terjadual dengan baik. Jadual kereta OK, sangat bagus. Subway di sini lebih komprehensif dibandingkan Sydney saya kira.

2. Taat lalu lintas
Saya sangat amat jarang (kalau tidak mau mengatakan tidak pernah) melihat mobil melanggar lampu merah di Sydney. Di sini cukup sering, padahal baru seminggu. Di kawasan Queens, 40 menit dari Manhattan (New York City), lalu lintas lumayan semrawut. Kemacetan terutama di lampu merah dan persimpangan terlihat cukup umum. Klakson juga di sini bukan sesuatu yang ‘sakral’ seperti di Sydney. Orang cukup mudah mengklakson untuk alasan yang menurut saya tidak penting. Tapi itulah kebudayaan, tidak ada masalah sepanjang tidak ada yang teriak “f**k you man” setelah itu 🙂

3. Menyeberang jalan
Kalau di Sydney, setiap penyeberangan dilengkapi saklar sehingga penyebrang bisa ‘mengendalikan’ lalu lintas, di sini tidak ada saklar. Signal penyebrangan berfungsi otomatis. Saya kurang tahu apakan trigernya adalah waktu atau kondisi lalu lintas, yang jelas lampu tanda boleh atau tidak boleh menyebrang beroperasi otomatis. Selain itu, kalau di Sydney ada suara seperti sirine yang akan berbunyi ketika tanda boleh menyebrang sudah hidup, di sini tidak ada. Menurut saya ini tidak fair untuk teman-teman kita yang tuna netra. Seandainya penyebrang jalan tidak bisa melihat lampu, mereka tidak akan tahu kapan bisa menyeberang.

4. Orang New York lebih dingin
Secara umum saya melihat orang di sini lebih dingin ketika berinteraksi dengan orang asing. Di Sydney, apalagi di Wollongong, orang dengan antusias membantu atau menjelaskan sesuatu ketika ditanyai. Mereka juga biasanya lakukan sambil tersenyum. Di sini tidak. Mereka memang mau membantu, tetapi dengan tampang dingin. Tentu saja ini bukan berarti mereka tidak baik hati. Itulah perbedaan budaya. Mungkin juga karena di sini orang rata-rata mandiri dan ‘pintar’ sehingga agak kurang toleran kepada mereka yang ‘bego’ dan tidak tahu menentukan arah sendiri. “Masak harus tanya lagi, kan ada peta!” mungkin begitu mereka berpikir. Namun demikian, kemarin ketika saya dan Sampan, teman dari Thailand menjelajahi NYC dan berfoto bergantian, seorang perempuan muda menawarkan diri dengan ramahnya untuk memotret kami berdua. Ini tentunya adalah kesan baik, walaupun belum tentu si gadis adalah orang New York.

5. Biaya transportasi
Untuk yang satu ini, New York lebih murah. Dengan USD 76, kita bisa naik bus dan subway di New York selama sebulan penuh kapan saja dan ke mana saja. Harga ini sangat murah dibandingkan harga di Sydney.

Itu lima hal yang bisa dibandingkan antara NY dan Syd. Tentu saja ini sangat subyektif dan hanyalah hasil pengamatan singkat yang jauh dari komprehensif. Dua atau tiga bulan lagi, tulisan ini bisa saja harus direvisi.

Mengubah kebiasaan

Tinggal di New York selama beberapa hari pertama membuat saya tersadar sesuatu. Tidak mudah ternyata untuk mengubah kebiasaan. Pertama, saya mengalami jet lag yang cukup hebat. Saya tidak bisa tidur nyenyak di malam hari dan bangun terlalu cepat. Tubuh belum ‘ngeh’ kapan siang kapan malam karena tertukar dengan Indonesia. Yang kedua, saya selalu salah jalan ketika berpapasan dengan orang. Secara otomatis saya biasanya ambil jalur kiri dan di sini adalah kesalahan. Seperti halnya mobil, lintasan ada di kanan. Lagi-lagi terbalik dengan Indonesia. Seminggu di sini, saya belum bisa menjalani dengan tanpa perlu berpikir.

Mengubah kebiasaan memang tidak mudah ternyata. Jangankan untuk sesuatu yang besar dan akan menyebabkan bangsa ini menjadi maju, untuk hal kecil saja saya ternyata resisten. Pengetahuan saja memang pastilah tidak cukup. Dia tidak akan menjadi apa-apa sebelum diwujudkan dalam bentuk tindakan.

Maka ketika banyak orang berpengetahuan selalu mengeluh tentang negeri ini, saya kadang berpikir sendiri. Saya tidak mau terjebak untuk menyalahkan mereka, tidak juga ingin menjadi seperti mereka yang memenuhi hidup dengan tumpukan kekecewaan. Saya ingin melihat lebih jauh lagi ke dalam diri. Pastilah saya juga adalah bagian dari kesalahan dan kenistaan ini. Jika ada yang harus diubah untuk sesuatu yang lebih baik, maka pastilah diri ini yang pertama harus mendapatkan girilannya.

Cerita untuk Keluarga

Seperti kata banyak orang, tempat ini adalah surga dunia bagi mereka yang menyukai tantangan dan menginginkan lebih. Anak, suami dan ayahmu kini ada di sini, berkeliaran laksana mereka yang telah lebih dulu mereguk nikmatnya kota.

Tidak banyak sesungguhnya yang terlalu istimewa, tetapi memang benar kota ini menyimpan hal-hal kecil yang belum sempat diberitakan. Yang kita tahu tentangnya adalah gemerlap kehidupan, kecantikan, ketampanan, kemewahan dan kesempurnaan. Yang kita tidak tahu adalah tentang perbedaan, keragaman, ketimpangan, ketergesaan dan bahkan kekotoran yang melekat padanya. Anak, suami dan ayahmu kini menjadi saksi semuanya.

Jangan menunggu sampai besok karena hari inipun bisa kausimak. Jangan menunggu oleh-oleh dariku karena manis di sini juga bisa dinikmati di ujung sana. Ini adalah tempat bagi mereka yang berani bermimpi, bahkan di siang hari. Hari ini kutuliskan untukmu cerita tentang penembak jitu, tentang anjing yang berkeliaran dan tentang keistimewaan di tengah perbedaan.

NYPD

Polisi berseragam biru tua, tinggi tegap wajah angker dengan tulisan NYPD di seragamnya. Penampilannya menjadi lebih angker dengan beberapa senjata tergantung di pinggang dan beberapa diantaranya menuntun Anjing Herder. Mereka memeriksa setiap orang yang melintas di depan Gedung PBB di New York City karena hari ini hampir semua kepala negara di seluruh dunia ada di New York.

Melihat ke atas gedung-gedung tinggi, snipper bertengger siap membidik siapa saja yang berulah. Para secret service berkeluaran dengan ciri khas earphone di telinganya. Bush sedang di dalam gedung. Suasana sangat sibuk, setiap orang awas dan waspada.

Apakah suasana ini ada di TV? Ternyata tidak. Aku bagian dari kesibukan itu hari ini.
Sebuah posting dari Gedung Sekretariat PBB di New York City.