Tanganku masih belepotan belum sempat dicuci setelah makan ketika telepon berdering. Sudah menjadi kebiasaan [buruk], keasikan bercerita mengalahkan niat untuk cuci tangan setelah makan. Tradisi ini berulang dan berulang lagi, terutama ketika aku pulang mendapati orang tua di desa. Aku lihat layar telepon yang seperti tak mau bertoleransi dan menyaksikan tidak ada nama yang tertera. “Call”, hanya itu yang muncul di layar, pertanda ada telepn dari luar negeri. Mungkinkah ini telepon dari University of Wollongong yang aku tunggu-tunggu?
Category: Law of the Sea
Berani bermimpi, tekun mencoba
Sekitar tiga tahun yang lalu, saya menulis sebuah renungan dengan judul “Tentang sebuah Dendam“. Tulisan ini berkisah tentang dendam saya kepada Kompas yang akhirnya terbalaskan. Setelah bertahun-tahun menunggu, untuk pertama kalinya ketika itu tulisan saya dimuat oleh kompas, dalam rubrik Ilmu Pengetahuan. Itu adalah tulisan pertama setelah sekian kali ditolak.
100 tahun bangsa bahari
“Nenek moyangku orang pelaut/Gemar mengarung luas samudera/Menerjang ombak tiada takut/Menempuh badai sudah biasa ….”
(Our ancestors were sailors/ They sailed across the oceans/ Challenged the waves fearlessly/Surfed the storm familiarly.)
In the early 1990s or before, the above song was popular in Indonesia. I wonder whether Indonesian children nowadays still sing this song. One thing for sure, children seem to be more interested in drawing mountain views rather than seas. Does it indicate a degradation of the maritime spirit? Let us go back a while.