Dahaga kecil

https://i0.wp.com/www.beritajakarta.com/images/foto/air_minum.jpgSore tadi kawan lama mampir ke kantor saya. Satu kalimat datarnya membuat saya berpikir “Kok blognya tidak pernah di-update?”

Dalam kesulitan dan kesibukan yang saya rasa besar dan maha penting, ternyata masih ada yang peduli hal-hal kecil seperti blog ini. Di saat saya merasa hebat karena mengerjakan hal-hal yang jauh lebih besar dari sekedar ngeblog, ternyata ada satu manusia yang tetap menunggu gumaman tak berarti saya lewat blog. Mereka tidak pernah ikut menikmati “kebesaran” yang saya rasakan, mereka tetap menginginkan hal remeh temeh di blog saya.

Nampaknya saya tidak boleh meninggalkan benih yang terlanjur tumbuh ini. Saya akan menjadi bapak yang tidak bertanggungjawab kalau saya tinggalkan ceceran benih itu. Orang memang tidak harus mengikuti kesibukan saya, dan tidak harus menahan dahaga kecilnya hanya gara-gara saya sibuk melayani sang raja dan lupa menyiramkan air melalui cerita pendek saya. Tidak boleh.

Mengapa disukai?

Seorang mahasiswa datang pada saya dengan wajah sedikit memelas. “Saya maunya Bapak yang menguji saya saat seminar skripsi”, bagitu kira-kira kalimat yang mengalir dari mulutnya. “Saya kurang sreg dengan dosen yang nguji saya sekarang”, dia menambahkan.

Saya kontan merasa senang. Mahasiswa menyenagi saya rupanya. Tidak mudah menjadi dosen yang disenangi mahasiswa, saya yakin. Jika tanda-tanda ini terjadi, bahkan ketika saya berumur masih sangat muda, maka ini ciri positif.

Dalam keriuhrendahan hari-hari bergelut di dunia pendidikan, saya sempatkan merenung. Salah satu yang saya pikirkan minggu ini adalah harapan mahasiswa yang skripsinya ingin saya uji. Saya terlanjur menganggap itu sebagai sanjungan yang menyenangkan. Sesaat kemudian saya mencoba berpikir sendiri. “Mengapa mahasiswa ini menyukai saya?”

Apakah benar karena saya memang seorang dosen yang baik, ideal sehingga bisa diharapkan menjadi pemandu dan memberi masukan yang semestinya, atau justru karena saya tidak teliti memeriksa skripsi kata per kata sehingga meraka terbebas dari revisi redaksional 😦

Saya juga curiga, mahasiswa senang karena saya bukan peneliti handal sehingga tidak bisa memberikan pertanyaan yang tajam seputar skripsi. Hal ini kadang menyenangkan mahasiswa yang tidak serius dalam meneliti.

Mengapa saya disukai? Belum tentu karena saya baik. Sangat mungkin karena saya adalah seorang pecundang yang mudah dibohongi dan dijadikan bulan-bulanan.

Pintar saja tidak cukup

//images.amazon.com/images/P/B000024PSL.01.MZZZZZZZ.jpgBandung dinobatkan sebagai Kota terkotor di Indonesia. Saya pribadi terkejut mendengar berita ini. Kalau Bandung dikatakan memiliki gadis-gadis yang cantik, saya tahu. Memang demikian adanya.

Pikiran saya langsung tertuju pada sebuah institusi pendidikan tinggi teknologi yang konon paling ampuh di negeri ini. Institut itu berada di kota kembang, Bandung. Saya membayangkan, kota yang dihuni oleh ratusan dan mungkin ribuah orang dengan kanuragan teknologi yang tidak diragukan, apa ya Bandung bisa menjadi kota terkotor se-Indonesia? Apa ya, tidak cukup ketangkasan para pakar pengolahan limbah di Teknik Lingkungan ITB atau Teknik Kimia untuk menanggulangi masalah sampah di Bandung? Apa ya juga, pakar-pakar ilmu sosial di UnPad tidak menemukan cara meningkatkan kesadaran masyarakat akan kebersihan lingkungan? Apa ya?

Saya teringat dengan rumah salah seorang senior saya di suatu kampung di Sleman Jogja. Rumahnya luar biasa menurut saya. Tertata rapi, tanaman tumbuh subur. Beberapa tanaman yang hidup di pot dekat beranda bahkan berkilauan daunnya, bersih, segar dan nampak sehat. Rambutan dan mangga yang tumbuh liar di halaman juga sangat ramah menyapa siapa saja yang datang, menggambarkan keramahan pemilik rumahnya. Luar biasa, kata saya dalam hati.

Saya tertegun mendengar istri senior saya ini bercerita di satu malam. “Saya hampir setiap hari berkomunikasi dengan redaksi majalah trubus, lewat email maupun telepon. Sedikit saja ada kelainan dengan tumbuhan di rumah ini, langsung saya konsultasikan dan lakukan saran mereka. Saya hafal semua toko tanaman hias di Jogja”, katanya. “Tiap pagi, tanaman yang di dekat beranda itu saya siram air beras. Dua kali seminggu, saya membasuh daunnya dengan susu segar sambil saya gosok dengan kain halus setiap helainya agar tetap mengkilat, susunya kemudian saya siramkan di akarnya”.

Saya tersenyum.
Keindahan itu ternyata tidak pernah muncul tiba-tiba. Seorang yang baik dan pintar tidak akan menghasilkan keindahan dengan senyumnya saja. Keidahan akan tercipta dengan tangan yang kotor, peluh yang tercecer dan kaki yang pegal menahan letih. Keindahan adalah perjuangan.

Saya ingin pergi ke Bandung, mendapati gadis-gadis penjaga toilet yang memang lebih cantik dari penjaga pesta pernikahan seorang pangeran di kampung saya.

Lumpur Panas

Sumur-sumur itu kini tidak seperti tiga minggu lalu yang menjadi cermin bagiku seraya membiarkan bayangkanku berenang memuaskan dahaganya. Sumur itu tidak lagi menyimpan air dingin yang disucikan bebatuan seperti ketika perkampungan pehuh berkah. Kini sumur itu menegeluarkan lumpur yang tidak saja meluas jangkauannya, tetapi juga suhu panasnya yang tidak mudah dikendalikan. Apakah ini kedatangan Sabdo Palon yang konon berjanji merebut kembali kejayaan kerajaannya setelah 500 tahun. Apakah waktunya kini telah tiba?

Sang Naga

https://i0.wp.com/www.sudakayoga.com/images/naga.gifOrang boleh saja menjelaskan dengan selebaran-selebaran yang seram akan pergerakan bumi yang menakutkan. Getaran dan gesekan selimut bumi yang menghilangkan nyawa ribuan abdi tetap menjadi ancaman dan kekaburan yang siapapun mungkin tidak akan pernah sangat jelas mengerti.
Ketika Naga Basuki bergeliat di pusar bumi dan segerombolan manusia terhambur ke langit lalu jatuh menghujam tumpukan dosa yang runcing tajam berbisa, saat itu pula kesadaran memaksa datang. Namun terlambat sudah, karena sang Naga tidak sendiri. Nini Merapi yang lama melafalkan mantra-mantra, kini sudah hilang kesabarannya. Ini yang akan menjadi sekutu Naga Basuki memberi hukuman pada kerajaanku. Oh Putri Segara, kepadamu pun kami tak lagi berhak mohon ampunan. Kemarahan ini telah juga menjadi bagianmu, sehingga kau cipratkan kebohongan tentang lidah samudera yang menjilat hingga betis daratan.

Eyang Putri

https://i0.wp.com/ac2vault.ign.com/site_images/multimedia/player_art/ritual.jpgSeorang mertua bercerita tentang kehidupan masa lalu di mana eyang putri menitipkan pusaka pada generasinya. Pusaka yang katanya akan menjaga kami. Menjaga dari gigitan nyamuk yang mematikan, menjaga dari sengatan lalat yang melumpuhkan. Pusaka ini adalah ketahanan hati.
Kelak, kata eyang putri, ketika orang di kerajaan manusia tinggal setengah, bumi tenggelam, laut melahap daratan dan gunung-gunung marah menumpahkan ludah api, saat itulah yang mati akan bangkit kembali. Mereka yang mati dan belum menyelesaikan bhaktinya, akan hidup melalui tubuh-tubuh tanpa pikiran. Mereka datang meresahkan, membalikkan keyakinan orang-orang yang mapan di jamannya. Ini pasti, kata eyang putri, karena ritual leluhur telah terhinakan.

Tsunami Early Warning

taken from: http://www.guardian.co.uk/tsunami

How earthquakes happen

taken from: http://news.bbc.co.uk/1/hi/sci/tech/4126809.stm

Peta Bencana

Jurusan Teknik Geodesi UGM telah membuat dan menayangkan peta interaktif tentang korban jiwa dan bangunan akibat gempa yang terjadi di Jogja beberapa waktu lalu. Ini merupakan respon Teknik Geodesi UGM dari sisi keilmuan, sementara dari sisi kemanusiaan juga sudah mengerahkan segenap potensi yang ada untuk membantu para korban.

Peta bencana ini merupaan hasil kerja Tim Teknik Geodesi UGM bekerjasama dengan Pemda DIY sebagai penyedia data dan informasi. Dengan adanya peta ini, para pengguna bisa mendapatkan informasi yang rinci tentang jumla korban dan bangunan yang di-update setiap 6 jam sekali. Bagi yang ingin menyalurkan bantuan, peta ini juga memberikan informasi sumbangan. Gambar di atas adalah tampilan statik peta bencana yang dimaksud. Silahkan klik peta tersebut untuk mengunjungi situs peta interaktif.

Anak dan Istri yang ditinggal pergi

Aku janjikan kepadamu, malam ini adalah malam terakhir aku pulang terlambat. Kamu tahu, akupun tahu bakan anak kita tahu, aku akan mengingkarinya. Lagi dan lagi. Malam ini kupastikan bukanlah malam terakhir aku megigkari janji. Masih ada malam-malam lain engkau akan aku kecewakan.

Tetapi, aku tahu, kamu tahu dan bahkan anak kita tahu. Aku mengingkari juga karena cinta. Cinta yang berbeda dan walaupun lebih kecil tetapi sama pentingnya. Aku telah tertambat pada cinta yang lain dan membuatku menduakanmu. Cinta kepada kemanusiaan yang kita bicaraan hampir setiap malam di tempat tidur menjelang terlelap. Malam ini aku melakukannya lagi, dengan maaf yang sudah kukantongi darimu bahkan sebelum kesalahan ini kubuat. Terima kasih telah mengerti.