Pintar saja tidak cukup


//images.amazon.com/images/P/B000024PSL.01.MZZZZZZZ.jpgBandung dinobatkan sebagai Kota terkotor di Indonesia. Saya pribadi terkejut mendengar berita ini. Kalau Bandung dikatakan memiliki gadis-gadis yang cantik, saya tahu. Memang demikian adanya.

Pikiran saya langsung tertuju pada sebuah institusi pendidikan tinggi teknologi yang konon paling ampuh di negeri ini. Institut itu berada di kota kembang, Bandung. Saya membayangkan, kota yang dihuni oleh ratusan dan mungkin ribuah orang dengan kanuragan teknologi yang tidak diragukan, apa ya Bandung bisa menjadi kota terkotor se-Indonesia? Apa ya, tidak cukup ketangkasan para pakar pengolahan limbah di Teknik Lingkungan ITB atau Teknik Kimia untuk menanggulangi masalah sampah di Bandung? Apa ya juga, pakar-pakar ilmu sosial di UnPad tidak menemukan cara meningkatkan kesadaran masyarakat akan kebersihan lingkungan? Apa ya?

Saya teringat dengan rumah salah seorang senior saya di suatu kampung di Sleman Jogja. Rumahnya luar biasa menurut saya. Tertata rapi, tanaman tumbuh subur. Beberapa tanaman yang hidup di pot dekat beranda bahkan berkilauan daunnya, bersih, segar dan nampak sehat. Rambutan dan mangga yang tumbuh liar di halaman juga sangat ramah menyapa siapa saja yang datang, menggambarkan keramahan pemilik rumahnya. Luar biasa, kata saya dalam hati.

Saya tertegun mendengar istri senior saya ini bercerita di satu malam. “Saya hampir setiap hari berkomunikasi dengan redaksi majalah trubus, lewat email maupun telepon. Sedikit saja ada kelainan dengan tumbuhan di rumah ini, langsung saya konsultasikan dan lakukan saran mereka. Saya hafal semua toko tanaman hias di Jogja”, katanya. “Tiap pagi, tanaman yang di dekat beranda itu saya siram air beras. Dua kali seminggu, saya membasuh daunnya dengan susu segar sambil saya gosok dengan kain halus setiap helainya agar tetap mengkilat, susunya kemudian saya siramkan di akarnya”.

Saya tersenyum.
Keindahan itu ternyata tidak pernah muncul tiba-tiba. Seorang yang baik dan pintar tidak akan menghasilkan keindahan dengan senyumnya saja. Keidahan akan tercipta dengan tangan yang kotor, peluh yang tercecer dan kaki yang pegal menahan letih. Keindahan adalah perjuangan.

Saya ingin pergi ke Bandung, mendapati gadis-gadis penjaga toilet yang memang lebih cantik dari penjaga pesta pernikahan seorang pangeran di kampung saya.

Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

One thought on “Pintar saja tidak cukup”

  1. Kalau berkebun…ya harus kotor ndi….tapi ada beberapa hal haryus “bersih”. apa ya contohnya?.
    ya…pokoknya…bersihlah.

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s