Cerita Saya Sekolah S2 #4 Ambalat, Menulis di Koran dan Ribut dengan Supervisor


dari bagian 3

Sampai hampir setahun saya menjalani kuliah S2 di UNSW, Sydney, saya belum menemukan satu pencerahan apakah bidang yang saya tekuni ini benar dan bermanfaat. Belum ada senior saya di Teknik Geodesi UGM yang menekuni bidang batas maritim jadi saya seperti tidak punya cermin atau panutan. Hari-hari di Sydney saya isi dengan membaca di tengah kegamangan sambil berharap akan menemukan kesenangan sehingga bisa ‘tenggelam’ dalam penelitian. Tanpa kesenangan, mustahil seorang peneliti bisa menemukan pencerahan.

Kasus Ambalat meledak di bulan Februari 2005. Indonesia geger dan itu adalah titik terendah hubungan Indonesia-Malaysia yang saya tahu. Perang antara dua negara sepertinya benar-benar bisa terjadi. Setidaknya itu yang saya rasakan. Pasalnya, terjadi perseteruan antara dua negara di Laut Sulawesi terkait blok migas yang jadi rebutan. Indonesia menyebut itu sebagai Blok Ambalat. Yang saya tahu sepintas, itu adalah blok migas yang sudah diklaim dan diusahakan oleh Indonesia tapi kemudian diklaim dan diusahakan oleh Malaysia. Itu yang membuat geger dan seteru yang tidak berkesudahan.

Itulah titik awal saya menemukan alasan yang saya cari selama ini. Inti dari kasus Ambalat adalah ketiadaan batas maritim antara Indonesia dan Malaysia di Laut Sulawesi. Batas maritim yang tadinya saya pikir sangat teknis dan terkait erat dengan koordinat, ternyata mengandung dimensi hukum dan politik yang kental. Perihal teknis itu ternyata bisa menentukan apakah dua negara berseteru atau berdamai. Apa yang saya pelajari ternyata memiliki implikasi besar dalam hubungan internasional. Ada perdamaian dunia yang tersangkut paut dengan titik, garis dan koordinat yang saya tekuni. Ini dia alasannya. Saya telah menemukan signifikansi bidang yang saya tekuni.

Saya kemudian mulai menulis soal Ambalat. Diawali dengan tulisan di blog lalu diminta untuk berbagi di forum mahasiswa Indonesia di UNSW. Dengan cepat saya merasakan ‘keasyikan’ karena apa yang saya pelajari ternyata menjadi urusan negara dan banyak orang. Tulisan di blog berubah menjadi paper sederhana lalu bertransformasi menjadi opini Bahasa Inggris. Inilah yang saya kirim untuk pertama kalinya ke The Jakarta Post. Sebuah proses uji nyali dan ternyata memang ditolak. Saya kecewa tapi tidak terkejut. Siapalah saya ini, berani-beraninya menulis untuk The Jakarta Post?!

Agak lama saya diamkan penolakan itu. Ada rasa mutung alias ngambul alias kecewa sehingga saya tidak teruskan perjuangan. Setelah agak lama, saya akhirnya melihat kembali penolakan itu. Setelah saya perhatikan, ternyata penolakan terjadi, salah satunya, karena jumlah katanya lebih dari 1000. Saya coba kurangi dan kirimkan lagi meskipun tidak yakin. Saya tunggu tidak ada jawaban dari redaksi. Maka saya sudah pasrahkan saja. Ternyata beberapa hari kemudian tulisan itu terbit di The Jakarta Post. Tanggal 12 April 2005 menjadi hari yang bersejarah. Maka sejak itulah sejarah penulisan saya di media ilmiah populer dimulai.

Menulis menjadi keasyikan tersendiri akhirnya. Maka ketika ada konferensi di Adelaide, yang sebenarnya bukan bidang teknis, saya mencoba peruntungan. Itu adalah Indonesia Council Open Conference yang merupakan forum ilmuwan sosial. Ternyata tugas kita memang hanya mencoba, bukan menghakimi. Usulan presentasi saya diterima dan perjuangan ilmiah di forum-forum internasional lintas disiplin dimulai. Itu merupakan titik awal ketika saya menyadari bahwa kolaborasi lintas disiplin adalah kewajiban. Di situ juga saya menyadari bahwa ‘kehebatan’ kita bisa ditemukan justeru ketika bertemu orang di luar bidang ilmu kita. hal sederhana yang kita lakukan di dalam bidang kita bisa jadi ‘luar biasa’ di mata orang lain.

Yang menarik, paper yang saya tulis ketika itu hanya melibatkan satu dari dua supervisor saya. Hal buruk terjadi kemudian. Supervisor yang tidak saya libatkan itu ‘tidak terima’ dan menyatakan kekecewaannya. Saya mau amblas bumi. Pengen menghilang karena rasa bersalah. Pertimbangan saya, supervisor itu sudah ‘level dewa’ dan dia tidak akan merasa apa-apa jika tidak dilibatkan dalam tulisan yang ‘sederhana’. Ternyata saya salah.

Saya menulis panjang di email untuk minta maaf dan menjelaskan kekeliruan saya. Selepas menulis email saya degdegan luar biasa dan rasanya sangat lama menunggu balasan. Itu adalah salah satu momen di mana waktu bergerak paling lambat dalam hidup. Setelah menungu, akhirnya saya menerima sebuah balasan. “No worries, Andi, we are good!” demikian dia balas. Yang mengharukan, selanjutnya ditambahi komitmen untuk membayari perjalanan saya ke Adelaide. Dari titik terendah, meloncat ke titik tertinggi. Demikianlah hidup sekolah, laksana berkedara dalam roller coaster.

bersambung …

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s