Selamat Hari Pahlawan

Ngomong-ngomong tentang pahlawan, salah satu kebiasaan menarik selama di Sydney adalah bernostalgia tentang masa kecil. Ada beberapa kawan dengan latar belakang yang mirip dan hidup di jaman yang berdekatan. Bli Mul, dan Ode, adalah beberapa diantaranya, yang hampir selalu punya cerita sama tentang masa kecil.

Salah satu yang menarik adalah bacaan ketika SD. Soal ini, Bli Mul yang paling hebat ingatannya. “Pahlawan Kecil” adalah salah satu bacaan yang kita sukai di kelas 2 SD di buku bacaan terbitan Departemen Pendidikan & Kebudayaan. Sangat berkesan kisah Mandala yang baru berumur 9 tahun tetapi sudah memimpin perang dan jadi pahlawan bagi negaranya.

Untuk mengenang masa kecil yang ceria, berikut saya tampilkan bacaan tersebut yang secara tidak sengaja ditemukan di websitenya Northen Illinois University. Luar biasa!
http://www.seasite.niu.edu/Indonesian/Bacaan/cerita_anak_pahlawankecil.htm

Pahlawan Kecil

Ada seorang raja bernama Prabu Mandiri. Prabu Mandiri mempunyai seorang putra bernama Mandala. Mandala anak yang jujur dan berani. Umurnya baru sembilan tahun. Ia baik hati dan tidak sombong.

Kerajaan Prabu Mandiri diserang musuh. Musuh itu dari kerajaan Karanghawu. Mereka berperang berbulan-bulan. Alangkah hebatnya peperangan itu!

Prabu Mandiri berkata, “Wahai Mandala…pimpinlah rakyat kita berperang! Mintalah bantuan pamanmu…Aku sudah tua, tenagaku sudah berkurang. Aku sudah tidak berdaya lagi.”

Mendengar kata ayahnya itu, Mandala bersujud.

Mandala dan pamannya berangkat ke medan perang. Dibunyikan kentong dan canang. Rakyat berkumpul di halaman istana.

Mandala berseru, “Hai rakyatku! Musuh hampir tiba, negara kita akan direbutnya! Bawalah semua senjata…kita bela negara kita! Berani karena benar, takut karena salah!”

Seluruh rakyat bersorak-sorak, lalu menuju medan perang. Mereka membawa pedang, panah, dan tombak. Musuh dapat diusir.

Maka rakyat bersorak dan berseru…”Hidup pahlawan kecil! Hidup pahlawan kecil!”

Legalah seluruh rakyat. Mandala menggantikan ayahnya menjadi raja.

Ayah dan Anak

Ketika aku melihatmu menangis tiada henti tanpa sebab seraya memejamkan mata seakan tidak peduli dan tidak mau mendengarkan, aku ingin menghukummu. Tetapi ketika kupikir lagi, bahwa ketika kecil seumurmu, aku barangkali adalah anak yang jauh lebih menyusahkan ibuku, aku mengurungkannya. Aku membatalkan hukumanku seperti ibuku yang dulu juga tidak pernah menyesali kenakalanku.

Ketika aku menahan gelisah, kantuk, dan geram karena melihatmu yang tidak lekas tertidur di hari yang kian larut, aku ingin memberi sanksi. Ingin aku memaksamu menuruti disiplin yang aku tetapkan atas nama keangkuhan pengetahuan yang aku gamit dari ceceran ilmu di padang ilalang pendidikan. Tetapi ketika kupikir lagi, bahwa ketika aku seusiamu, aku pastilah seorang yang tidak penurut, jauh dari patuh dan menghiasi hari-hari ibuku dengan pemberontakan-pemberontakan, aku mengurungkan niatku. Aku membatalkan sanksiku, seperti ibuku dulu yang juga pasti sedih tetapi tidak pernah melampiskan kekecewaannya dengan kekerasan. Cintanya membuat aku menjadi lebih baik.

Maka seperti pendahuluku yang tidak mendidikku dengan ilmu mumpuni, pun tidak dengan ijasah sarjana, aku juga ingin mendidikmu dengan naluri dan cintaku. Cinta yang tidak seperti pengetahun akan kehilangan arah ketika tidak ada kitab pegangan. Cinta yang akan selalu mendatangkan jalan keluar di tengah kekalutan apapun. Itu karena aku ingin menjadi bagian dari hidupmu yang deritanya akan sama ketika engkau menderita dan bahagianya akan setara ketika engkau bahagia. Aku ingin menjadi bagianmu tanpa harus mendiktemu untuk menjadi ini atau itu.

Selamat Idul Fitri 1426 H


Mohon Maaf lahir batin

Kepada saudara seibu yang memilih jalan Muhammad untuk menggapai mimpi-mimpinya, kepada saudara seayah yang memilih Allah sebagai pemberi cahaya. Semoga kemenangan ini menjadi kemenangan kita bersama, tidak hanya untuk surgamu, tetapi juga surga mereka yang barangkali sedikit berbeda namun sesungguhnya, menurut nenek kita, adalah sama. Selamat idul fitri, kawan.

Lalat

Lalat berdatangan di awal musim panas. Riuhnya mendengung mengikuti wajah-wajah yang nampak resah dan selalu tergesa. Tangan-tangan sibuk mengibas-ngibas seakan tak sudi bersahabat. Lalat memang menjengkelkan.

Lalat menyerbu di awal musim panas. Sayap kecilnya bising membisikkan berita tak nyaman di telinga, aku digoda dan dihantui. Lari kecilku ke belakang gedung tak kuasa menjauhkan aku dari lalat-lalat ini, seperti halnya air yang merembes, memasuki setiap lubang yang sangat kecil sekalipun. Dia meresap melalui pori hari tidak meluputkan satu celahpun untuk diusik dan digoda. Lalat di musim panas menjadi musuh siapa saja yang mencintai ketenangan. Gangguan bagi siapa saja yang menginginkan berjalan di siang hari dan hanya berurusan dengan matahari.

Tetapi, lalat adalah kenyataan. Bisingnya niscaya, pun usikannya titah, dia tidak datang dengan ijin, tidak juga pergi dengan pamit. Dia hinggap tanpa permisi dan meludah tanpa bersalah. Lalat dilahirkan dari sampah yang menjelma menjadi ulat dan kemudian menyempurna bersayap transparan.

Lalat, bagiku adalah kesetiaan. Kesetiaan yang selalu tepat waktu dan menepati janji. Dulu di akhir musim panas sekumpulan berlomba menghampiriku, berpamitan menuju goa pertapaan. Aku tidak akan kembali, sampai matahari menjanjikan panas yang sama tepat setahun kemudian, begitu dia berbisik. Dan ini benar adanya. Tidak ada satupun lalat yang berkhianat dan berkelana di musim dingin. Baru setelah panas menjelang dan keringat manusia cukup lezat untuk dihirup, dia kembali menepati janji.

Lalat adalah penjaga rahasia sejati. Bukan karena dia malas bercerita tetapi karena tidak seorangpun akan percaya dan membiarkan lalat membisikkan sesuatu ke telinganya. Kendati itu adalah maha rahasia yang didamba segenap alam. Orang terlanjur meremehkan dan merendahkan lalat hingga kata-katanya tidak lebih sebagai gumaman tak berarti. Maka dari itu aku mempercayakan rahasia kecilku pada mereka.

Pagi ini aku mengadukan perselingkuhanku dengan mesin pintar. Aku adukan kepada seekor lalat tua yang kepalanya beruban karena yakin dia tidak akan memarahiku. Siang ini kuceritakan rahasiaku tentang penolakan yang harus kuterima dengan lapang dada. Sore tadi kuceritakan rahasia yang lain, aku sesungguhnya masih berhutang pada diri sendiri dan aku terlampau terledor mengingatnya. Aku jaminkan, tak satupun rahasia itu akan sampai ke telinga yang tak pantas karena lalat adalah penjaga rahasia.

Lalat berhamburan di musim panas dan tangan-tangan itu mengibas-ngibas tak mau bersahabat. Tetapi lalat adalah kenyataan.

Darling Hall

[sebuah cerita pendek]

Aku bergegas pindah kamar saat menyadari waktu sudah larut. Jarum jam dengan malas merangkak dan kini hampir jam satu pagi. Aku masih terjaga, persis seperti hari-hari kemarin, aku susah tidur. Sudah lebih dari 40 hari aku mengalami banyak kejadian aneh yang mungkin kamu bahkan tidak bisa percaya. Lama aku memendam sendiri karena tidak yakin kamu bisa mengerti. Setelah 40 hari dan setelah semuanya menjadi serba terlalu, aku harus menuliskannya padamu. Bahasaku pasti sedikit kacau karena aku tidak melakukan editing. Tidak seperti biasa, aku tidak menuliskan surat ini di microsoft word tetapi langsung di gmail agar bisa dikirim secepatnya.

Aku bahkan merasa perlu pindah ruangan dari kamar kerja ke ruang tidur di mana Swasti dan Ambali, putri kecilku pulas menyerahkan diri sepenuhnya pada kekuasaan sang malam. Aku benar-benar tidak mungkin menyimpan keanean ini sendiri, aku ingin membaginya denganmu, lewat email ini. Aku akan menulis sepanjang mungkin dan selengkap mungkin untuk membuatmu percaya apa yang kualami.

Oh ya, sesaat sebelum pindah ruangan aku sempat ke kamar mandi. Ragu-ragu aku nyalakan lampu dengan saklar yang aku rogoh dari luar. Seperi biasa, aku selalu merasakah ada tangan dingin menangkap tanganku sesaat sebelum telunjukku menyentuh dan mengaktifkan saklar. Genggaman tangan dingin itupun hilang begitu pijar lampu kamar mandi menerangi ruang. Ini, kutegaskan lagi, telah berlangsung lama. Namun aku tetap tidak bisa mengabarkan karena aku tahu kamu akan mencibir dan tertawa. Rasionalitasmu membuat kamu tidak punya cukup waktu dan energi untuk peduli akan hal-hal semacam ini.

Ah, nyaman rasanya aku telah terduduk di sofa tempat menyusui yang disiapkan Swasti sejak 3 minggu lalu. Aku kini bisa memandang tubuh-tubuh anak dan istriku terkulai di atas kasur seraya memperdengarkan desahan nafas teratur pertanda mereka telah pulas sempurna. Meski diam, aku merasa ada yang menemani. Ini mengusir rasa takut yang belakangan sulit diajak kompromi.

Jaka, kamarin aku lihat lagi wajah itu. Wajah putih tak berdarah yang membayang di balkoni. Samar dari dapur aku saksikan dia melirik ke arahku. Aku pejamkan mata, dia bertahan memandang dingin tak bergerak. Dia menatapku dalam, seakan sedang mengadiliku yang barangkali memang tidak terlalu ideal. Gemetar tanganku menggenggam takaran beras. Aku baru saja akan menanak nasi dengan rice cooker, seraya tak pernah melepaskan pandang dari wajah pucat di depanku. Pukul 4.17 pagi, dia bertengger di balkoni dengan tubuh yang compang camping mengenaskan. Ini adalah kali keenambelas aku menyaksikannya lagi dan lagi. Tetap saja kusimpan sendiri, tak seorang pun tahu. Untuk keenambelas kalinya pula aku tersentak kaget dan menghambur keluar melawan takut mencari wajah itu di balkoni, tak pernah ada. Hanya dingin kabut musim semi yang justru membuat ketakutanku menjadi. Aku bergegas masuk rumah meninggalkan onggokan cemara di samping gedung yang menjulang berlatar langit remang. Gerakannya yang diterpa angin musim semi seakan tarian barong landung yang memang bagiku menyeramkan.

Dua hari yang lalu, Ambali yang baru berusia 30 hari menangis sejadinya. Aku stress, Swasti pun gelisah. Kami hanya berdua di negeri orang dan karunia Tuhan berupa seorang putri telah membuat hidup kami berubah. Malam jam 2.13 tangis tak terhenti dan lagi-lagi aku melihat wajah yang sama. Kali ini berdiri di dapur, dengan jelas terlihat dari kamar kami di mana Ambali menangis seperti kesurupan. Wajah itu seperti tersenyum dingin penuh kemenangan. Wajahnya yang putih pucat diperparah oleh kulit yang nampak keriput dengan baju terusan seperti daster putih. Ujung bawahnya menyapu lantai dapur yang kebetulan bersih. Tak kulihat kaki perempuan mistirius ini.

Tetesan air dari keran yang memang tidak bisa diutup sepenuhnya membuat keangkeran itu menjadi sempurna. Dentingan bulat berirama pelan karena setiap tetesnya menimpa air dalam gelas yang tadinya digunakan untuk minum susu oleh Swasti. Aku hanya bisa memandang dari dalam kamar, menatap tak berkedip tanpa bisa berbuat apa-apa. Sementara Swasti kubiarkan tergeletak di tempat tidur berselimut lelah. Aku tunduk pada keangkeran wajahnya yang dingin. Seperti hari lainnya, dia menghilang lenyap di tengah ketakutanku sesaat setelah aku memalingkan wajah. Inipun telah terjadi berulang kali.

Semantara itu, Swasti tidak tahu apa-apa. Sengaja dia tidak aku beritahu agar kodisi psikologisnya, yang sedang tidak seimbang akibat baru saja melahirkan, tidak bertambah parah. Dia perlu ketenangan dan dukungan untuk memulihkan rasa percaya diri yang sempat lantak karena baby blues. Aku harus menjaga rahasia ini sampai nanti aku pergi dari apartemen neraka ini. Setidaknya aku masih punya kamu tempat aku bercerita.

Suatu malam sekitar jam 1.15, aku terjaga dengan berisik yang sepertinya akrab di telingaku. DVD itu menyala sendiri. Ya, itu alunan gamelan salah satu Tari Bali kesenangan Swasti. Kebetulan dia memang jarang mengeluarkannya dari DVD player. Kini DVD itu menyala sendiri dan menimbulkan brisik yang tentu saja mencekam. Swasti dan Ambali masih pulas seakan tidak mendengar berisik dari ruang tengah. Tiba-tiba tubuhku kaku dan malas bergerak. Tetapi aku tahu aku harus keluar dan memeriksa apa yang sesungguhnya terjadi. Kesadaran akan kewajiban inilah yang menghadirkan cekaman ketakutan yang semakin menjadi.

Ruang tidur hanya diterangi temaram lampu meja yang biasnya merah karena ditutup kain selimut Ambali yang kebetulan merah. Mataku yang belum terjaga sempurna menambah keresahan kian niscaya. Aku takut tak tertahankan. Lama kubiarkan berisik gamelan itu, berharap dia berhenti sendiri seperti halnya tadi hidup sendiri sehingga aku tidak perlu keluar. Harapanku tinggal harapan. Gamelan itu mengalun dengan pasti dan tidak ada tanda-tanda berhenti.

Akhirnya aku memberanikan diri. Kusingkapkan selimut dengan perlahan agar Ambali dan Swasti tidak terjaga. Aku tetap bertekad merahasiakan berbagai keanean ini kepada istriku. Terlalu banyak beban yang ditanggungnya jika ketakutan semacam inipun harus kubagi. Dengan penuh waspada kubuka pintu kamar tidur yang memang tidak pernah dikunci. Gerit daun pintu menjadi sangat jelas di sunyinya malam yang telah larut. Aku berjinjit melangkahkan kaki menuju ruang tengah dengan keraguan dan ketakutan yang tak terhitung besarnya. Mataku mencari-cari dan menyapu segenap sudut ruangan, tidak ada tanda-tanda mencurigakan kecuali alunan gamelan yang kini semakin jelas.

Kuberanikan diri mendekati DVD player yang bertengger di rak hitam pemberian seorang kawan. TV itu dengan sempurna mempertontonkan lenggak-lenggok penari Bali yang tiba-tiba gerakannya, bagiku, tidak lagi indah melainkan angker dengan lirikan mata yang tidak lagi gesit menantang tetapi sayu, dingin dan menderita. Tanpa basa-basi kusambar remote control dan dalam sekali hentak semuanya gelap. DVD dan TV telah mati menyisakan gulita yang justru kini lebih menyeramkan. Saking takutnya aku lupa menyalakan lampu ruang tengah sebelum mematikan DVD player.

Kini aku mempunyai masalah lain. Ketakutan lain setelah berisik gamelan yang menyala sendiri adalah kegelapan. Aku mencari-cari pintu masuk, untunglah tidak lama kerena samar-samar bias cahaya merah menyembul dari kamar tidur di mana lampu meja menebar cahayanya. Aku mengikuti cahaya itu dengan keresahan yang sudah tidak mungkin tergambarkan. Aku selamat, walau dengan nafas memburu layaknya habis berlari 10 km. Aku tidak bisa memejamkan mata tembus hingga esok harinya.

Aku sebenarnya sudah dinasihati penghuni sebelumnya. “Mbak yang ada di sini kadang-kadang jahil lo”, kata Yola sesaat sebelum pergi meninggalkan unit untuk kembali ke Indonesia. Aku hanya tersenyum sedikit mencibir. Di negara barat yang begini maju, kok masih percaya hantu, begitu aku berpikir dalam hati. Singkat kata, aku tidak pernah mempercayai Yola sampai akhirnya keanehan itu mulai terjadi sejak 40-an hari yang lalu.

Aku ingat belum menyelesaikan thesisku. Ini satu lagi beban lain yang membuat keresahanku menjadi. Ada beben moral yang luar biasa beratnya karena aku harus menyelesaikan pendidikan. Aku harus melawan ini semampuku. Biarlah email ini akan kusimpan dalam draft dan kukirim jika benar-benar telah kuselesaikan ceritaku.

Jaka, tadi siang sembari berjalan pulang dari kampus aku memperhatikan gedung apartemenku. Dilihat dari bentuknya, Darling Hall memang wajar disebut angker. Tingginya yang menjulang dengan warna merah darah, baru aku sadari, ternyata menyimpan aura mistis yang kuat. Kecurigaanku dan pengalaman anehku kini semakin kuat kebenarannya. Aku memang sedang menghadapi makhluk gaib yang bersarang di apartemenku. “Mbak” yang dibilang Yola memang jahil itu nampaknya benar-benar ada dan kini mengganggu kami.

Aku baru saja bertanya kepada seorang nenek di lantai 3 perihal ini. Dia hanya tersenyum sambil berkata lirih setengah berbisik “You are not the first one, dear! Be careful as she might be really bad sometimes.” Pandangan nenek itu nanar seperti berkaca-kaca. “I suggest you move from here, she is too dangerous for your little baby”, dia kembali menambahkan sambil berlalu membawa satu tas plastic penuh sampah yang akan dibuangnya di tong sampah yang berbaris di halaman belakang apartemen. Aku hanya mematung tidak sepenuhnya mengerti apa yang dimaksud perempuan sepuh ini. Keanehan yang terlalu banyak menimpaku belakangan ini membuat sifat kritisku terkikis habis. Tidak ada niat untuk bertanya lebih jauh. Aku hanya bengong sambil menyaksikan langkah tertatih sang nenek yang terlihat berat dengan sampah bawaannya. Hal begini memang biasa terjadi di Sydney di mana orang tua tinggal tanpa keluarga dan harus mengerjakan pekerjaan rumah sendiri. Berbeda dengan di Indonesia yang semuanya diambil alih oleh anak/menantu, di sini orang tua tidak memiliki kenikmatan itu. Ketakutan dan kebingunganpun telah membuat aku kehilangan kepekaan. Aku sampai lupa menawarkan bantuan kepada sang nenek.

Ini malam ke-43 sejak aku dikejutkan wajah putih pucat tak berdarah menyembul di balkoni. Bayangannya masih jelas teringat. Seperti biasa ketakutan mulai merasuk. Malam ini semua terasa lebih dasyat, aku bahkan tidak punya keberanian ke kamar mandi untuk buang air kecil. Selalu terbayang tangan dingin yang menangkap tanganku saat menyalakan lampu. Aku meras

Tulisan Suarsana berhenti sampai di sini. Tidak jelas apa yang ingin dia katakan selanjutnya. Aku hanya terpaku setelah membaca tulisan ini dari draft gmail-nya.

Swasti, istrinya, masih menangis sejadinya sementara Ambali nampak tenang di baby cot, tidak sadar ayahnya kini entah di mana. Aku sendiri tidak tahu harus berbuat apa. Masih terbawa kepanikan ketika Swasti menelponku jam 3 pagi “Bli Made, Bli Suarsana hilang”, begitu teriakan Swasti membuatku terkesyap luar biasa dan berlari ke apartemen mereka di bilangan Kensington. Tanpa pikir panjang aku meraih gagang telepon sesampainya di sana dan bersiap menekan 000, nomor darurat Australia. Aku mendengar suara berisik modem, pertanda telepon dipakai untuk internet. Akupun menuju ruang di mana laptop masih manyala dan mendapatkan gmail sedang terbuka. Aku menemukan draft emailnya yang akan dikirim ke jaka.dwiralaga@gmail.com. Aku tidak tahu siapa itu. Yang kutahu bahwa Suarsana baru saja raib dalam ketakutan maha dasyat yang dipendamnya sekian lama.

Peta Jogja Interaktif

taken from www.yogyes.com

Kontributor The Jakarta Post itu adalah [juga] seorang ayah

Sydney siang ini cukup hangat. Keceriaan musim semi mulai bergeser menuju suasana musim panas yang kian menjelang. Rumah kami di bilangan Kensington terasa sepi. Jelas saja sepi karena unit 2 kamar ini hanya dihuni oleh dua makhluk dewasa dan satu bayi kecil yang nampaknya bahkan belum kenal dirinya sendiri. Berisik suara keyboard bersahutan dengan lagu “kita”-nya Sheila on 7 di ruang sebelah. Ya, ini pertanda putri kecil kami dalam perjalanan menuju tidur. Rengekan kecil yang sesekali terdengar pertanda malaikat kecil ini belum terlelap dengan sempurna. Kegelisahaannya jelas terasa menembus tembok, mengusik ayahnya yang sedang berjuang menyelesaikan thesis. Kegalauan hati mamanya pun niscaya, terdengar dari senandung kecil “putri cening ayu” yang digumamkan disela teriakan Duta, Sheila on 7 yang memang lirih.

Belakangan ini Lita, begitu kami memanggilnya, memang kurang tenang. Dia tidak bisa tidur cepat dan tidurnya pun tidak pulas. Geritan pintu yang amat lirih bisa membuatnya terjaga dan menangis. Berisik ranjang di sebelahnya ketika orang tuanya berangkat tidur juga mengganggu lelapnya. Singkat kata, ini adalah masa-masa melelahkan dalam fase berkeluaga. Salah satu ujian yang sempurna sebagai seorang ayah dan mama adalah ketika kemelut itu datang dari seorang putri yang jelita. Tak cukup kecerdasan untuk mengatasi tantangan begadang sepanjang malam, pun tak sanggup kebiasaan berkelakar mengurai senyum ketika sang putri menangis sejadinya. Kami, ternyata, adalah seorang biasa yang harus berjuang di jalan yang sama dengan jalan yang telah ditempuh tak terhitung umat manusia di jagat raya. Pengabdian menjadi seorang ayah adalah perjuangan yang konon tanpa henti bagai kontrak mati. Namun, apapun itu, mari! Tak pernah ………

Hm sampai di mana kita tadi? Ide menulis pun seringkali terputus karena harus menunaikan kewajiban ganti popok dan menidurkan sang putri. Tidak peduli sedang menjalankan tugas maha penting, panggilan anak tetap menduduki urutan teratas dalam skala prioritas. Begitulah, kehidupan yang diwarnai kesibukan menjadi orang tua. Melelahkan tetapi sarat makna dan hikmah.

Kegelisahan siang ini dikejutkan oleh satu berita yang [seharusnya] menyenangkan. Satu tulisan lagi terbit di The Jakarta Post, Berhala: Another Sipadan and Ligitan if we’re still ignorant. Berbeda dengan tulisan-tulisan lain yang muncul di media masa, kali ini tidak ada jingkrak kegirangan, tidak ada teriakan “yes” penanda suka cita. Yang ada hanyalah senyum kecil yang keceriaannya dilibas habis oleh gulana hati yang kini menjadi. Senyum itu pun bertahan sebentar, digantikan rengekan peri kecil kami yang terganngu bahkan oleh suara angin yang mendesir di luar jendela. Kenyataan sebenarnya ada di sini, tepat di depan mata, bukan di lembaran opini The Jakarta Post.

Setelah merenung agak lama, muncul kesadaran baru. Teringat jelas bahwa tulisan ini adalah yang pertama sejak kelahiran putri kami. Sebuah prestasi yang seharusnya dibanggakan di sela kesibukan menjadi ayah. Ini jelas adalah buah kesabaran seorang mama yang menjalani kewajiban dengan kesabaran luar biasa. Kesabarannya telah memberi ruang yang cukup bagiku untuk bekreasi, menjadi diri sendiri, melupakan sejenak status ayah yang kadang sedikit membatasi. Tanpa kesabarannya, tidak akan mungkin tergerak jemari ini untuk menuangkan segumpal ide menjadi 1000 kata yang terangkai menjadi cerita. Terima kasih Asti.

Terpaku memandangi tulisan di The Jakarta Post, sambil tersenyum teringat sesuatu. Ingin rasanya membagi kenyataan ini kepada siapa saja yang membaca tulisan itu. Ingin kuingatkan pada dunia bahwa kontributor The Jakarta Post itu adalah juga seorang ayah.

Eurolish

If I ask you to read these words and then tell me what they mean, I believe most of you won’t be able to explain what they are.

Zer, vil, mor, evrivun, ezi, ech, oza, Ze, drem, urop, tru, kum

However, shortly after reading this short story bellow, I am confident you will be mastering a new language 🙂

The European Commission has just announced an agreement whereby English will be the official language of the European Union rather than German, which was the other possibility.

As part of the negotiations, the British Government conceded that English spelling had some room for improvement and has accepted a 5-year phase-in plan that would become known as “Euro-English”.

In the first year, “s” will replace the soft “c”. Sertainly, this will make the sivil servants jump with joy.The hard “c” will be dropped in favour of “k”. This should klear up konfusion, and keyboards kan have one less letter.

There will be growing publik enthusiasm in the sekond year when the troublesome “ph” will be replaced with “f”. This will make words like fotograf 20% shorter.

In the 3rd year, publik akseptanse of the new spelling kan be expekted to reach the stage where more komplikated changes are possible. Governments will enkourage the removal of double letters which have always ben a deterent to akurate speling.

Also, al wil agre that the horibl mes of the silent “e” in the languag is disgrasful and it should go away. By the 4th yer people wil be reseptiv to steps such as replasing “th” with “z” and “w” with “v”.

During ze fifz yer, ze unesesary “o” kan be dropd from vords kontaining “ou” and after ziz fifz yer, ve wil hav a reil sensibl riten styl.

Zer vil be no mor trubl or difikultis and evrivun vil find it ezi tu understand ech oza. Ze drem of a united urop vil finali kum tru.

Und efter ze fifz yer, ve vil al be speking German like zey vunted in ze forst plas.

Selamat Hari Raya Kuningan


Kami sekeluarga mengucapkan Selamat Hari Raya Kuningan, 15 Oktober 2005. Semoga Hyang Widhi melimpahkan kesentosan dan Kedirgayusan

Doa untuk Bangsa

Belakangan ini Bangsa Indonesia tidak henti-hentinya didera persoalan. Tidak saja penyelenggaraan kehidupan bernegara yang carut marut, alampun seakan tidak bersahabat. Di akhir tahun 2004, tsunami melanda dan menewaskan ratusan ribu korban di Aceh dan SUMUT. Menyusul gempa dan rangkaian bencana alam lainnya yang datang seakan berlomba, semuanya sedemikian rupa melantakkan Indonesia.
Minggu lalu, setelah 3 tahun berusaha bangkit dari keterpurukan, Bali kembali dikejutkan oleh bom yang menewaskan lebih dari 20 orang. Semua itu menjadikan penderitaan Indonesia seakan sempurna.

Masyarakat Indonesia di Sydney, atas prakarsa Konsulat Jendral yang dinakhodai Pak Wardana, kemarin sore melakukan doa bersama. Semua komponen agama diundang dan diminta memanjatkan doa untuk keselamatan dan kebagkitan Bangsa Indonesia. Meskipun menurut saya, dan bebrapa rekan lain [yang mungkin tidak mau disebut namanya – gimana De, mau disebut namanya nggak?] terdengar seperti doa politis [setidaknya ada doa yang bernada begitu], tapi ya dijalani saja. Toh doa akan dinilai oleh Tuhan, bukan manusia, apalagi oleh Konjen, nggak sama sekali. Namun demikian, usaha dari Pak Wardana dan rekan patut dihargai dan diacungi jempol.

Anyway, di sela kekhusukan, suasana juga meriah karena sekaligus sebagai ajang temu kangen masyarakat Indonesia di Sydney. Dan yang lebih penting lagi, acaranya di-pas-kan dengan buka puasa. Wah boleh juga nih, tidak ikut puasa tapi ikut buka he…he…

Di tengah kemeriahan suasana, sempat juga dilakukan foto-foto. Ima salah satu sponsornya 🙂 Kayaknya sih karena ada beberapa cowok cakep pakaian Bali, sehingga pada tertarik hi hi hi

Mau liat fotonya?


Cukup banyak yang datang, walaupun kebanyakan untuk buka puasa, bukan berdoa :). Kaya’nya cuma Ima deh yang pandangannya pas lihat kamera :)) [sekarang tahu kan, yang mana Ima! ]


Yang ini lumayan, banyak yang natap kamera 🙂 [sekarang tahu kan, mana idola, mana penggemarnya?]

PS. hak cipta foto ada pada pemilik kamera dan upload sudah melalui ijin resmi 🙂