Kontributor The Jakarta Post itu adalah [juga] seorang ayah


Sydney siang ini cukup hangat. Keceriaan musim semi mulai bergeser menuju suasana musim panas yang kian menjelang. Rumah kami di bilangan Kensington terasa sepi. Jelas saja sepi karena unit 2 kamar ini hanya dihuni oleh dua makhluk dewasa dan satu bayi kecil yang nampaknya bahkan belum kenal dirinya sendiri. Berisik suara keyboard bersahutan dengan lagu “kita”-nya Sheila on 7 di ruang sebelah. Ya, ini pertanda putri kecil kami dalam perjalanan menuju tidur. Rengekan kecil yang sesekali terdengar pertanda malaikat kecil ini belum terlelap dengan sempurna. Kegelisahaannya jelas terasa menembus tembok, mengusik ayahnya yang sedang berjuang menyelesaikan thesis. Kegalauan hati mamanya pun niscaya, terdengar dari senandung kecil “putri cening ayu” yang digumamkan disela teriakan Duta, Sheila on 7 yang memang lirih.

Belakangan ini Lita, begitu kami memanggilnya, memang kurang tenang. Dia tidak bisa tidur cepat dan tidurnya pun tidak pulas. Geritan pintu yang amat lirih bisa membuatnya terjaga dan menangis. Berisik ranjang di sebelahnya ketika orang tuanya berangkat tidur juga mengganggu lelapnya. Singkat kata, ini adalah masa-masa melelahkan dalam fase berkeluaga. Salah satu ujian yang sempurna sebagai seorang ayah dan mama adalah ketika kemelut itu datang dari seorang putri yang jelita. Tak cukup kecerdasan untuk mengatasi tantangan begadang sepanjang malam, pun tak sanggup kebiasaan berkelakar mengurai senyum ketika sang putri menangis sejadinya. Kami, ternyata, adalah seorang biasa yang harus berjuang di jalan yang sama dengan jalan yang telah ditempuh tak terhitung umat manusia di jagat raya. Pengabdian menjadi seorang ayah adalah perjuangan yang konon tanpa henti bagai kontrak mati. Namun, apapun itu, mari! Tak pernah ………

Hm sampai di mana kita tadi? Ide menulis pun seringkali terputus karena harus menunaikan kewajiban ganti popok dan menidurkan sang putri. Tidak peduli sedang menjalankan tugas maha penting, panggilan anak tetap menduduki urutan teratas dalam skala prioritas. Begitulah, kehidupan yang diwarnai kesibukan menjadi orang tua. Melelahkan tetapi sarat makna dan hikmah.

Kegelisahan siang ini dikejutkan oleh satu berita yang [seharusnya] menyenangkan. Satu tulisan lagi terbit di The Jakarta Post, Berhala: Another Sipadan and Ligitan if we’re still ignorant. Berbeda dengan tulisan-tulisan lain yang muncul di media masa, kali ini tidak ada jingkrak kegirangan, tidak ada teriakan “yes” penanda suka cita. Yang ada hanyalah senyum kecil yang keceriaannya dilibas habis oleh gulana hati yang kini menjadi. Senyum itu pun bertahan sebentar, digantikan rengekan peri kecil kami yang terganngu bahkan oleh suara angin yang mendesir di luar jendela. Kenyataan sebenarnya ada di sini, tepat di depan mata, bukan di lembaran opini The Jakarta Post.

Setelah merenung agak lama, muncul kesadaran baru. Teringat jelas bahwa tulisan ini adalah yang pertama sejak kelahiran putri kami. Sebuah prestasi yang seharusnya dibanggakan di sela kesibukan menjadi ayah. Ini jelas adalah buah kesabaran seorang mama yang menjalani kewajiban dengan kesabaran luar biasa. Kesabarannya telah memberi ruang yang cukup bagiku untuk bekreasi, menjadi diri sendiri, melupakan sejenak status ayah yang kadang sedikit membatasi. Tanpa kesabarannya, tidak akan mungkin tergerak jemari ini untuk menuangkan segumpal ide menjadi 1000 kata yang terangkai menjadi cerita. Terima kasih Asti.

Terpaku memandangi tulisan di The Jakarta Post, sambil tersenyum teringat sesuatu. Ingin rasanya membagi kenyataan ini kepada siapa saja yang membaca tulisan itu. Ingin kuingatkan pada dunia bahwa kontributor The Jakarta Post itu adalah juga seorang ayah.

Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s