Lalat


Lalat berdatangan di awal musim panas. Riuhnya mendengung mengikuti wajah-wajah yang nampak resah dan selalu tergesa. Tangan-tangan sibuk mengibas-ngibas seakan tak sudi bersahabat. Lalat memang menjengkelkan.

Lalat menyerbu di awal musim panas. Sayap kecilnya bising membisikkan berita tak nyaman di telinga, aku digoda dan dihantui. Lari kecilku ke belakang gedung tak kuasa menjauhkan aku dari lalat-lalat ini, seperti halnya air yang merembes, memasuki setiap lubang yang sangat kecil sekalipun. Dia meresap melalui pori hari tidak meluputkan satu celahpun untuk diusik dan digoda. Lalat di musim panas menjadi musuh siapa saja yang mencintai ketenangan. Gangguan bagi siapa saja yang menginginkan berjalan di siang hari dan hanya berurusan dengan matahari.

Tetapi, lalat adalah kenyataan. Bisingnya niscaya, pun usikannya titah, dia tidak datang dengan ijin, tidak juga pergi dengan pamit. Dia hinggap tanpa permisi dan meludah tanpa bersalah. Lalat dilahirkan dari sampah yang menjelma menjadi ulat dan kemudian menyempurna bersayap transparan.

Lalat, bagiku adalah kesetiaan. Kesetiaan yang selalu tepat waktu dan menepati janji. Dulu di akhir musim panas sekumpulan berlomba menghampiriku, berpamitan menuju goa pertapaan. Aku tidak akan kembali, sampai matahari menjanjikan panas yang sama tepat setahun kemudian, begitu dia berbisik. Dan ini benar adanya. Tidak ada satupun lalat yang berkhianat dan berkelana di musim dingin. Baru setelah panas menjelang dan keringat manusia cukup lezat untuk dihirup, dia kembali menepati janji.

Lalat adalah penjaga rahasia sejati. Bukan karena dia malas bercerita tetapi karena tidak seorangpun akan percaya dan membiarkan lalat membisikkan sesuatu ke telinganya. Kendati itu adalah maha rahasia yang didamba segenap alam. Orang terlanjur meremehkan dan merendahkan lalat hingga kata-katanya tidak lebih sebagai gumaman tak berarti. Maka dari itu aku mempercayakan rahasia kecilku pada mereka.

Pagi ini aku mengadukan perselingkuhanku dengan mesin pintar. Aku adukan kepada seekor lalat tua yang kepalanya beruban karena yakin dia tidak akan memarahiku. Siang ini kuceritakan rahasiaku tentang penolakan yang harus kuterima dengan lapang dada. Sore tadi kuceritakan rahasia yang lain, aku sesungguhnya masih berhutang pada diri sendiri dan aku terlampau terledor mengingatnya. Aku jaminkan, tak satupun rahasia itu akan sampai ke telinga yang tak pantas karena lalat adalah penjaga rahasia.

Lalat berhamburan di musim panas dan tangan-tangan itu mengibas-ngibas tak mau bersahabat. Tetapi lalat adalah kenyataan.

Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s