Lagu salah satu grup musik kenamaan Indonesia, KLA Project, yang berjudul “Jogjakarta” nampaknya tidak mudah mati dimakan waktu. Meskipun kelompok yank dulu pernah berkibar itu kini sudah “tiada”, lagunya masih saja hangat di telinga.
Begitulah lagu itu seperti mengiringi langkah setiap orang yang pulang kembali ke Jogja, entah karena rindu, entah karena tugas. Memang ramai kaki lima menjajakan sajian khas berselera, kata Katon Bagaskara. Bagiku ini penuh selaksa makna karena kepulangan kali ini adalah untuk “selamanya” setelah berguru di negeri orang selama lebih dari dua tahun.
Jogja, seperti dulu ketika aku tinggalkan, tidak terlalu liar berubah mengikuti jaman. Berbeda dengan kota lain seperti Denpasar misalnya, Jogja termasuk kalem. Hanya saja kali ini lebih banyak mall yang memenuhi pinggir jalan Solo. Pemandangan yang sebenarnya tidak begitu lazim di Jogja. Tapi itulah dinamika, sesuatu boleh berubah karena tuntutan. Barangkali mahasiswa sekarang memang jauh lebih gaul dan lebih mapan dibandingkan dulu sehingga memerlukan lebih banyak mall di Jogja. Oh ya, selama dua minggu di sini, belum pernah sekalipun sempat jalan-jalan ke mall. Mungkin ini tanda-tanda gaya hidup konservatif.
Apapun itu, Jogja tetap menjanjikan sejuta harapan. Harapan yang selalu besar sehingga membuat hampir setiap orang yang pernah tinggal di Jogja merasa selalu ingin untuk pulang lagi….