Formulir Beasiswa APS 2006 format Ms. Word

Anda mau ngelamar beasiswa APS 2006, tapi males ngisi formulir manual? Mau cari yang versi Ms. Word tapi nggak ada di websitenya?
Jangan bingung, saya sudah berbaik hati dan menyulap formulir APS menjadi format Ms. Word. Silahkan download di:
http://madeandi.staff.ugm.ac.id
Klik “Downloads” di sidebar sebelah kiri.

Selamat berburu!

Suasana Jogja…

Lagu salah satu grup musik kenamaan Indonesia, KLA Project, yang berjudul “Jogjakarta” nampaknya tidak mudah mati dimakan waktu. Meskipun kelompok yank dulu pernah berkibar itu kini sudah “tiada”, lagunya masih saja hangat di telinga.

Begitulah lagu itu seperti mengiringi langkah setiap orang yang pulang kembali ke Jogja, entah karena rindu, entah karena tugas. Memang ramai kaki lima menjajakan sajian khas berselera, kata Katon Bagaskara. Bagiku ini penuh selaksa makna karena kepulangan kali ini adalah untuk “selamanya” setelah berguru di negeri orang selama lebih dari dua tahun.

Jogja, seperti dulu ketika aku tinggalkan, tidak terlalu liar berubah mengikuti jaman. Berbeda dengan kota lain seperti Denpasar misalnya, Jogja termasuk kalem. Hanya saja kali ini lebih banyak mall yang memenuhi pinggir jalan Solo. Pemandangan yang sebenarnya tidak begitu lazim di Jogja. Tapi itulah dinamika, sesuatu boleh berubah karena tuntutan. Barangkali mahasiswa sekarang memang jauh lebih gaul dan lebih mapan dibandingkan dulu sehingga memerlukan lebih banyak mall di Jogja. Oh ya, selama dua minggu di sini, belum pernah sekalipun sempat jalan-jalan ke mall. Mungkin ini tanda-tanda gaya hidup konservatif.

Apapun itu, Jogja tetap menjanjikan sejuta harapan. Harapan yang selalu besar sehingga membuat hampir setiap orang yang pernah tinggal di Jogja merasa selalu ingin untuk pulang lagi….

Ingin kugantikan sakitmu

Jika ada sakit yang ingin kurebut dan kumiliki, pastiah itu sakitmu. Bukan karena aku mencintai sakit itu tetapi karena cintaku kepadamu yang tak tertahankan. Menyaksikan lemas tubuhmu yang disarangi penyakit adalah penyakit sejatiku. Karena itu ingin kugantikan tubuhmu menjadi sarang bagi sakitmu.

Apa dayaku, aku bukanlah sang pengatur bagi hidupmu. Dengan tangis jauh di dasar hati, terpaksa harus kusaksikan juga deritamu. Menringkuk di bangsal rumah sakit serba putih, nafasmu adalah gelisahku. Setiap gerakmu adalah kekhawatiranku, karenanya ingin selalu kugantikan. Apa daya aku tak berhak. Tapi jangan ragu, aku akan mendampingimu menjalani ujian ini, hingga tamat kauselesaikan pelajaran.

Berhenti Memuja

Ketika puluhan purnama berlalu dan terjadi sebuah pertemuan yang luar biasa, aku sadari kamu tidak seperti yang dulu. Tidak saja tubuh yang berubah sedikit lebih gempal dan rambut yang mulai jarang karena rontok, senyummu kini tidak selebar dulu. Senyum itu kini tertahan beban yang sebenarnya bisa kutebak tapi aku diamkan.

Satu yang tidak akan pernah kulupa, kamu kini tidak memujaku lagi. Atau setidaknya, pujaannmu, seperti halnya senyummu, kini tidak selepas dulu lagi. Aku merindukan tatapan mata yang tiada berpaling menyemburkan kekaguman yang lugu dan tulus kepadaku. Kekaguman yang, mungkin tidak kausadari, telah menjadi bahan bakar pencapaianku sepanjang jalan. Kekaguman itu kini tak tampak lagi. Yang ada hanyalah basa-basi.

Aku mengerti, perjalananku kini telah melampaui kekagumanmu. Puja dan puji darimu bahkan tidak lagi bisa menjangkau pencapaianku. Dulu, kekagumanmu adalah permakluman yang mengukuhkan bahwa kamu masih sehebatku. Sementara kini, untuk memandang saja kamu tak punya keberanian. Semoga masih ada kemungkinan salah untukku

Opera Padas

Kemarin aku bertemu dengannya lagi, setelah hampir 20 tahun berpisah. Anak penggali padas itu kini terliat bersih, jauh lebih bersih dari masa kecilnya yang penuh ingus. Anak penggali batu padas itu, seperti dulu, tetap ramah walaupun kini sedikit berbeda. Kalau dulu keramahannya dengan membungkuk kini dia menyalamiku. Menyalami dengan badan yang tegak, senyum ramah terkembang dan dagu yang sedikitpun tidak dijatuhkannya. Dia seorang profesional. Tidak terbayang rasanya si kecil dekil ini akan menjadi dirinya yang sekarang. Seorang muda dengan senyum kemenangan yang disandangnya ke mana-mana, melewati jalan panjang perjuangannya.

Diceritakannya padaku, dia telah memenangkan berbagai sayembara. Kemenangan yang tentu saja tidak hanya membanggakan dirinya tetapi juga ibu dan bapak sederhananya yang sampai kini masih menggali padas. Meskipun, seperti kamu duga, padas itu kini berbeda. Padas yang semestinya tidak sekeras dulu dan tebingnya pun tidak seterjal dulu lagi. Padasnya kini lebih empuk dipaji.

Diam-diam aku kagum pada anak penggali padas ini. Dia telah menggali padas sampai jauh, sejauh angannya di masa kecil ketika tidur berselimut handuk kumal di atas batu padas seraya memandang langit. Langit biru membentang yang menjadi satu-satunya batas keliaran pikirannya.

Pekik merdeka ini tentu saja tidak sama dengan terikan kawan-kawan saya di Bali yang konon merasa dipinggirkan keberadaannya dari NKRI akibat RUU APP. Tidak juga sama dengan pernyataan “merdeka” saudara kita di Timor Timur pada tahun 1999 yang akhirnya menyisakan sebuah topik “perbatasan laut” untuk diteliti.

Merdeka ini adalah kebebasan. Kebebasan dari himpitan beban yang, kalau boleh jujur, sesungguhnya saya ciptakan sendiri. Tesis telah diserahkan ke Graduate Research School, University of New South Wales. Akhirnya perjuangan ini sampai pada satu tahap yang tidak terlalu buruk, walaupun jelas bukan titik akhir. Meminjam istilah orang bijak, ini adalah awal dari tantangan lain yang lebih besar, katanya.

Makan malam

Ibu, makan malam kali ini terasa istimewa. Bukan karena masakannya yang sangat enak. Sambel matah racikanmu jelas menempati urutan teratas dalam daftar kesenanganku. Bukan juga karena dilayani oleh seorang gadis bersenyum riang. Guraumu jelas tidak terkalahkan, pun oleh guyon cerdas manapun yang pernah kudengar.

Ibu, makan malam kali ini terasa berbeda. Bukan saja karena aku ditemani anak istriku yang dengan setia menunjukkan betapa mereka menikmati, sekaligus tetap khidmat layaknya para umat yang berdoa, namun karena di sebelahku ada dua orang istimewa. Dua orang ini yang aku yakini membuka jalan terang di depanku sehingga aku tidak ragu melangkah. Dua orang yang setiap ahli melihat ke atas kepadanya, menghormati dengan penuh seluruh. Dua orang ini adalah guru di padepokanku, yang memperkenalkan kanuragan yang engkau pernah ceritakan di masa kecilku.

Ibu, anakmu kini satu meja makan dengan mereka. Dua pribadi yang barangkali oleh banyak orang lain akan didewakan. Kini mereka tersenyum dan menyapaku dengan senda gurau seakan kita sebaya, sepantaran. Aku kini berkawan dengan meraka, menikmati satu ekor ikan kakap yang kami bagi dengan tangan telanjang.

Gosong Niger: Another Ambalat?

‘s Opinion and Editorial – March 16, 2006

I Made Andi Arsana and Clive Schofield, New South Wales, Australia

It seems that conflicting claims concerning international boundaries between Indonesia and Malaysia will continue unabated. One very prominent case emerged last year over the Ambalat offshore area and it led to serious tension. While negotiations on Ambalat are still underway, another issue regarding the status of something called Gosong Niger has come to the fore.

The first critical questions to raise are: where and what is Gosong Niger? It is located approximately 5.5 nautical miles off the terminus of the Indonesian (Kalimantan) and Malaysian (Sarawak) land boundary at Tanjung Datu on the South China Sea coast of the island of Borneo. Gosong Niger is, in fact, a submerged ridge of alluvial sand in shallow water, and indeed the term “Gosong” equates to the English word “sandbar”. Read…

Menjadi PNS

Ini berita kecil yang saya kira besar maknanya. Kakak perempuan saya diterima menjadi PNS sebagai guru SMP di sebuah kabupaten di Bali. Apa istimewanya? Bagi dia istimewanya jelas banyak. Pertama, jelas, karena ini adalah pekerjaan tetap pertama yang diperolehnya setelah menjadi korban bom bali jilid 1 yang membuatnya terpaksa keluar dari sebuah money changer. Kedua karena ini berarti ada kepastian bagi tiga orang anaknya yang tumbuh kian besar dan memerlukan kian banyak dukungan finansial. Ketiga, ini adalah pertanda kelangsungan rumah tangganya bisa diteruskan karena suaminya yang seorang karyawan hotel semakin tidak pasti nasibnya akibat tingkat hunian hotel yang semakin turun. Singkat kata, menjadi seorang guru yang walaupn gajinya kecil sangat istimewa bagi kakak perempuan saya ini.

Istimewanya bagi saya atau Anda apa? Istimewanya adalah karena proses menjadi PNS ini bersih dan berwibawa. Ya betul, kakak saya tidak menggunakan uang sogokan seperser pun, TIDAK seperti yang katanya masih populer di negeri kita ini. Saya tahu persis perjuangannya dan kebersihan prosesnya sehingga layak untuk dibanggakan. Saya menuai hikmah dari perjuangan kakak saya ini sekaligus melihat titik terang dalam kehidupan berbangsa kita. Walau ini secuil kejadian yang sangat tidak penting, saya merasa ini adalah tanda baik, penegakan keadilan dan kebenaran di negeri ini. Apakah memang sedahsyat itu? Anda mungkin tidak percaya, saya adalah orang yang meyakininya.

Thesis

Kepada meraka yang telah selesai, aku tundukkan kepala sedalamnya pertanda kagum dan hormat yang teramat dalam. Kepada mereka yang telah mewati lubang jarum dan keluar mejadi semakin besar, aku bungkukkan tubuh pertanda pengakuan yang tulus tak berlebih.

Saat aku menyelesaikan kewajiban serupa, teringat akan perjuangan para tetua yang barangkali tidak kalah kemasyurannya. Aku yang kini tertatih, menaruh hormat padamu wahai tetua atas kebijakan yang aku ragu akan pernah kuraih. Ketertatihanku adalah keseriusan yang barangkali tak nampak dari kaca jendela, tapi inilah dia. Yang pasti, aku ingin diberi ruang untuk menghargai. Menghargai jalan panjang yang telah mereka tempuh dan kerikil kecil yang kerap menyandung.

Kepada mereka yang telah selesai, aku benamkan kepala ke dalam dada.