Makan malam


Ibu, makan malam kali ini terasa istimewa. Bukan karena masakannya yang sangat enak. Sambel matah racikanmu jelas menempati urutan teratas dalam daftar kesenanganku. Bukan juga karena dilayani oleh seorang gadis bersenyum riang. Guraumu jelas tidak terkalahkan, pun oleh guyon cerdas manapun yang pernah kudengar.

Ibu, makan malam kali ini terasa berbeda. Bukan saja karena aku ditemani anak istriku yang dengan setia menunjukkan betapa mereka menikmati, sekaligus tetap khidmat layaknya para umat yang berdoa, namun karena di sebelahku ada dua orang istimewa. Dua orang ini yang aku yakini membuka jalan terang di depanku sehingga aku tidak ragu melangkah. Dua orang yang setiap ahli melihat ke atas kepadanya, menghormati dengan penuh seluruh. Dua orang ini adalah guru di padepokanku, yang memperkenalkan kanuragan yang engkau pernah ceritakan di masa kecilku.

Ibu, anakmu kini satu meja makan dengan mereka. Dua pribadi yang barangkali oleh banyak orang lain akan didewakan. Kini mereka tersenyum dan menyapaku dengan senda gurau seakan kita sebaya, sepantaran. Aku kini berkawan dengan meraka, menikmati satu ekor ikan kakap yang kami bagi dengan tangan telanjang.

Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s