Berhenti Memuja


Ketika puluhan purnama berlalu dan terjadi sebuah pertemuan yang luar biasa, aku sadari kamu tidak seperti yang dulu. Tidak saja tubuh yang berubah sedikit lebih gempal dan rambut yang mulai jarang karena rontok, senyummu kini tidak selebar dulu. Senyum itu kini tertahan beban yang sebenarnya bisa kutebak tapi aku diamkan.

Satu yang tidak akan pernah kulupa, kamu kini tidak memujaku lagi. Atau setidaknya, pujaannmu, seperti halnya senyummu, kini tidak selepas dulu lagi. Aku merindukan tatapan mata yang tiada berpaling menyemburkan kekaguman yang lugu dan tulus kepadaku. Kekaguman yang, mungkin tidak kausadari, telah menjadi bahan bakar pencapaianku sepanjang jalan. Kekaguman itu kini tak tampak lagi. Yang ada hanyalah basa-basi.

Aku mengerti, perjalananku kini telah melampaui kekagumanmu. Puja dan puji darimu bahkan tidak lagi bisa menjangkau pencapaianku. Dulu, kekagumanmu adalah permakluman yang mengukuhkan bahwa kamu masih sehebatku. Sementara kini, untuk memandang saja kamu tak punya keberanian. Semoga masih ada kemungkinan salah untukku

Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s