Opera Padas


Kemarin aku bertemu dengannya lagi, setelah hampir 20 tahun berpisah. Anak penggali padas itu kini terliat bersih, jauh lebih bersih dari masa kecilnya yang penuh ingus. Anak penggali batu padas itu, seperti dulu, tetap ramah walaupun kini sedikit berbeda. Kalau dulu keramahannya dengan membungkuk kini dia menyalamiku. Menyalami dengan badan yang tegak, senyum ramah terkembang dan dagu yang sedikitpun tidak dijatuhkannya. Dia seorang profesional. Tidak terbayang rasanya si kecil dekil ini akan menjadi dirinya yang sekarang. Seorang muda dengan senyum kemenangan yang disandangnya ke mana-mana, melewati jalan panjang perjuangannya.

Diceritakannya padaku, dia telah memenangkan berbagai sayembara. Kemenangan yang tentu saja tidak hanya membanggakan dirinya tetapi juga ibu dan bapak sederhananya yang sampai kini masih menggali padas. Meskipun, seperti kamu duga, padas itu kini berbeda. Padas yang semestinya tidak sekeras dulu dan tebingnya pun tidak seterjal dulu lagi. Padasnya kini lebih empuk dipaji.

Diam-diam aku kagum pada anak penggali padas ini. Dia telah menggali padas sampai jauh, sejauh angannya di masa kecil ketika tidur berselimut handuk kumal di atas batu padas seraya memandang langit. Langit biru membentang yang menjadi satu-satunya batas keliaran pikirannya.

Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s