Sumur-sumur itu kini tidak seperti tiga minggu lalu yang menjadi cermin bagiku seraya membiarkan bayangkanku berenang memuaskan dahaganya. Sumur itu tidak lagi menyimpan air dingin yang disucikan bebatuan seperti ketika perkampungan pehuh berkah. Kini sumur itu menegeluarkan lumpur yang tidak saja meluas jangkauannya, tetapi juga suhu panasnya yang tidak mudah dikendalikan. Apakah ini kedatangan Sabdo Palon yang konon berjanji merebut kembali kejayaan kerajaannya setelah 500 tahun. Apakah waktunya kini telah tiba?
Sang Naga
Orang boleh saja menjelaskan dengan selebaran-selebaran yang seram akan pergerakan bumi yang menakutkan. Getaran dan gesekan selimut bumi yang menghilangkan nyawa ribuan abdi tetap menjadi ancaman dan kekaburan yang siapapun mungkin tidak akan pernah sangat jelas mengerti.
Ketika Naga Basuki bergeliat di pusar bumi dan segerombolan manusia terhambur ke langit lalu jatuh menghujam tumpukan dosa yang runcing tajam berbisa, saat itu pula kesadaran memaksa datang. Namun terlambat sudah, karena sang Naga tidak sendiri. Nini Merapi yang lama melafalkan mantra-mantra, kini sudah hilang kesabarannya. Ini yang akan menjadi sekutu Naga Basuki memberi hukuman pada kerajaanku. Oh Putri Segara, kepadamu pun kami tak lagi berhak mohon ampunan. Kemarahan ini telah juga menjadi bagianmu, sehingga kau cipratkan kebohongan tentang lidah samudera yang menjilat hingga betis daratan.
Eyang Putri
Seorang mertua bercerita tentang kehidupan masa lalu di mana eyang putri menitipkan pusaka pada generasinya. Pusaka yang katanya akan menjaga kami. Menjaga dari gigitan nyamuk yang mematikan, menjaga dari sengatan lalat yang melumpuhkan. Pusaka ini adalah ketahanan hati.
Kelak, kata eyang putri, ketika orang di kerajaan manusia tinggal setengah, bumi tenggelam, laut melahap daratan dan gunung-gunung marah menumpahkan ludah api, saat itulah yang mati akan bangkit kembali. Mereka yang mati dan belum menyelesaikan bhaktinya, akan hidup melalui tubuh-tubuh tanpa pikiran. Mereka datang meresahkan, membalikkan keyakinan orang-orang yang mapan di jamannya. Ini pasti, kata eyang putri, karena ritual leluhur telah terhinakan.
Tsunami Early Warning
taken from: http://www.guardian.co.uk/tsunami
How earthquakes happen
taken from: http://news.bbc.co.uk/1/hi/sci/tech/4126809.stm
Peta Bencana
Jurusan Teknik Geodesi UGM telah membuat dan menayangkan peta interaktif tentang korban jiwa dan bangunan akibat gempa yang terjadi di Jogja beberapa waktu lalu. Ini merupakan respon Teknik Geodesi UGM dari sisi keilmuan, sementara dari sisi kemanusiaan juga sudah mengerahkan segenap potensi yang ada untuk membantu para korban.
Peta bencana ini merupaan hasil kerja Tim Teknik Geodesi UGM bekerjasama dengan Pemda DIY sebagai penyedia data dan informasi. Dengan adanya peta ini, para pengguna bisa mendapatkan informasi yang rinci tentang jumla korban dan bangunan yang di-update setiap 6 jam sekali. Bagi yang ingin menyalurkan bantuan, peta ini juga memberikan informasi sumbangan. Gambar di atas adalah tampilan statik peta bencana yang dimaksud. Silahkan klik peta tersebut untuk mengunjungi situs peta interaktif.
Anak dan Istri yang ditinggal pergi
Aku janjikan kepadamu, malam ini adalah malam terakhir aku pulang terlambat. Kamu tahu, akupun tahu bakan anak kita tahu, aku akan mengingkarinya. Lagi dan lagi. Malam ini kupastikan bukanlah malam terakhir aku megigkari janji. Masih ada malam-malam lain engkau akan aku kecewakan.
Tetapi, aku tahu, kamu tahu dan bahkan anak kita tahu. Aku mengingkari juga karena cinta. Cinta yang berbeda dan walaupun lebih kecil tetapi sama pentingnya. Aku telah tertambat pada cinta yang lain dan membuatku menduakanmu. Cinta kepada kemanusiaan yang kita bicaraan hampir setiap malam di tempat tidur menjelang terlelap. Malam ini aku melakukannya lagi, dengan maaf yang sudah kukantongi darimu bahkan sebelum kesalahan ini kubuat. Terima kasih telah mengerti.
Surat Kepada Kawan
Dear Kawan,
Pertama saya berdoa untuk semuanya mudah-mudahan tragedi Jogja tidak menimbulkan korban bagi orang-orang yang kita cintai.
Seperti yang sudah teman-teman dengar di TV, Jogja kini sedang berduka. Rasanya baru beberapa hari lalu saya mengirimkan ucapan bela sungkawa ke teman-teman aceh, kini mereka yang giliran mengirim email dan sms untuk tujuan yang sama.
Syukurlah saya sekeluarga selamat. Memang ada pengalaman mendebarkan ketika menyelamatkan anak saya yang masih 8.5 bulan dan membawanya lari keluar rumah yang sudah gaduh. Jam dinding, lemari, lukisan, tv dan lain-lain berjatuhan menimbulkan kegaduhan dan kepanikan yang teramat sangat. Saya harus berlari menyelamatkan Lita menuju pintu yang susah dibuka (karena panik). Masih syukur saat itu kami nginep di
rumah mbahnya Lita di dekat Bandara dan tidur di ruang tamu. Akses menyelamatkan diri menjadi lebih mudah. Hal negatifnya adalah lokasi rumah mertua yang dekat selatan sehingga gempa sangat terasa. Seandainya kami tidur di rumah, mungkin tidak akan sebesar itu getaran yang dirasakan.
Seharian itu kami berada di lapangan dekat stasiun.
Saat itulah saya mengerti betul, bagaimana kecelakaan bisa terjadi karena kepanikan. Tidak satu orang pun mendapatkan informasi yang akurat. Listrik padam sehingga radio dan tv tdk berfungsi. Di saat ketidakpastian seperti itu, ada seseorang datang dengan wajah panik mengendarai sepeda motor dan mengatakan “TSUNAMI!, lari… selamatkan diri sendiri, air sudah sampai di pojok beteng”. Orang-orang yang memang panik kontan bereaksi tidak rasional. Yang memang membawa motor ke lapangan, langsung tancap tanpa tujuan yang pasti. Kecelakaan pasti tidak bisa dihindari dalam kekalutan seperti itu.
Saya sendiri, bukan karena sok tahu bahwa Jogja itu tinggi dan jaraknya yang lebih dari 30 kilo dari laut, melainkan karena pasrah, memilih untuk diam di tempat menggendong Lita. Saya minta keluarga tenang dan berdoa. Saya meyakini sekarang, kalau salah mengambil keputusan saat itu ceritanya akan lain.
Syukurlah keputusan saya tidak salah.
Setelah agak tenang, saya ingat akan radio kecil yang kami punya dan saya ambil dari dalam rumah dengan perasaan tegang takut ada gempa lagi. Radio itulah yang akhirnya kami dengarkan dengan tetangga sekampung yang secara rinci memberitakan perkembangan terakhir berdasarkan telepon masuk dari orang-orang seJogja. Semua menjadi
lebih tenang walaupun tetap tidak berani masuk rumah.
Akhirnya kami memutuskan untuk berkumpul di depan rumah masing2 hingga sore hari. Anehnya, telepon tidak mati sehingga setiap 2 menit ada telepon masuk dari keluarga jauh. Saya pun harus setiap saat masuk rumah menjawab telepon dengan perasaan was-was hanya untuk mengatakan “kami selamat, dan tolong tutup teleponyya SEKARANG”.
Demikianlah Jogja… mencekam sangat suasana hari ini.
Kini saya terlibat dalam penyaluran bantuan untuk para korban. Sangat banyak yang harus dilakukan. Kemaren kami berhasil mengumpulkan sumbangan untuk tetangga kampung yang menjadi korban. Dari hari pertama juga saya terlibah ti TIM UGM. Kepanikan terasa dan sepertinya tdak ada satu orangpun yang benar-benar tahu apa yang harus
dikerjakan. Memang tidak mudah menjadi penolong skaligus korban pada saat yang sama.
Berkali-kali keluarga di Bali dan Jakarta menghubungi dan meminta kami untuk mengungsi. Sepertinya itu bukanlah ide bagus di tengah kenyataan bahwa orang-orang sekitar memerlukan bantuan. Terima kasih atas email, sms dan telepon dari teman-teman semua. Simpatinya menambah energi saya untuk tetep bertahan.
Demikian update saya dari Jogja.
Salam damai
madeandi
Bercinta di rumah sendiri
Bercinta malam ini jelas bebeda dari sebelumnya. Bukanlah tetesan peluh yang berbeda jumlahnya, bukan juga nikmat yang tidak sama rasanya. Keringat itu berbau bahkan dari dinding dan lantainya, dari atapnya, dari debu yang berserakan di atas meja dan selimut yang kusam menutupi keterbukaan kita. Keringat sendiri yang kita teteskan untuk mewujudkan istana ini. Kecil tapi adalah milik kita.
Bercinta malam ini tanpa bayaran, yang kalau dulu, setiap malamya bisa 20 keping emas. Kini sewa tak lagi dihitung. Tagihan tak lagi datang karena alasan cinta. Pembayaran tak lagi dilakukan untuk tiap tetes kenikmatan yang kita panen setiap malamnya. Bercinta malam ini cuma-cuma karena kita lakukan di rumah sendiri.
PS. Gambar diambil dari http://www.detikportal.com/images/ikonkamasutra.gif
Para Guru
Kemaren sore aku berkumpul di ruang terhormat itu, bersama para guru. Mereka hari ini berbeda dari yang aku kenal sepuluh tahun yang lalu. Mereka kini tidak lagi bercerita tentang segitiga siku-siku yang istimewa, tidak juga tentang diagram rumit yang menggerahkan. Hari ini mereka berbicara tentang seorang murid perempuan. Murid yang selalu duduk di depan ketika kelas berlangsung dan menyingkapkan roknya sehingga terpamer keindahan. Para guru kini bercerita tentang panasnyanya ruangan kelas karena keindahan sang murid yang memang menggoda. Para guru juga manusia, pikirku.