Surat Kepada Kawan

Dear Kawan,


Pertama saya berdoa untuk semuanya mudah-mudahan tragedi Jogja tidak menimbulkan korban bagi orang-orang yang kita cintai.

Seperti yang sudah teman-teman dengar di TV, Jogja kini sedang berduka. Rasanya baru beberapa hari lalu saya mengirimkan ucapan bela sungkawa ke teman-teman aceh, kini mereka yang giliran mengirim email dan sms untuk tujuan yang sama.

Syukurlah saya sekeluarga selamat. Memang ada pengalaman mendebarkan ketika menyelamatkan anak saya yang masih 8.5 bulan dan membawanya lari keluar rumah yang sudah gaduh. Jam dinding, lemari, lukisan, tv dan lain-lain berjatuhan menimbulkan kegaduhan dan kepanikan yang teramat sangat. Saya harus berlari menyelamatkan Lita menuju pintu yang susah dibuka (karena panik). Masih syukur saat itu kami nginep di
rumah mbahnya Lita di dekat Bandara dan tidur di ruang tamu. Akses menyelamatkan diri menjadi lebih mudah. Hal negatifnya adalah lokasi rumah mertua yang dekat selatan sehingga gempa sangat terasa. Seandainya kami tidur di rumah, mungkin tidak akan sebesar itu getaran yang dirasakan.

Seharian itu kami berada di lapangan dekat stasiun.
Saat itulah saya mengerti betul, bagaimana kecelakaan bisa terjadi karena kepanikan. Tidak satu orang pun mendapatkan informasi yang akurat. Listrik padam sehingga radio dan tv tdk berfungsi. Di saat ketidakpastian seperti itu, ada seseorang datang dengan wajah panik mengendarai sepeda motor dan mengatakan “TSUNAMI!, lari… selamatkan diri sendiri, air sudah sampai di pojok beteng”. Orang-orang yang memang panik kontan bereaksi tidak rasional. Yang memang membawa motor ke lapangan, langsung tancap tanpa tujuan yang pasti. Kecelakaan pasti tidak bisa dihindari dalam kekalutan seperti itu.

Saya sendiri, bukan karena sok tahu bahwa Jogja itu tinggi dan jaraknya yang lebih dari 30 kilo dari laut, melainkan karena pasrah, memilih untuk diam di tempat menggendong Lita. Saya minta keluarga tenang dan berdoa. Saya meyakini sekarang, kalau salah mengambil keputusan saat itu ceritanya akan lain.

Syukurlah keputusan saya tidak salah.
Setelah agak tenang, saya ingat akan radio kecil yang kami punya dan saya ambil dari dalam rumah dengan perasaan tegang takut ada gempa lagi. Radio itulah yang akhirnya kami dengarkan dengan tetangga sekampung yang secara rinci memberitakan perkembangan terakhir berdasarkan telepon masuk dari orang-orang seJogja. Semua menjadi
lebih tenang walaupun tetap tidak berani masuk rumah.

Akhirnya kami memutuskan untuk berkumpul di depan rumah masing2 hingga sore hari. Anehnya, telepon tidak mati sehingga setiap 2 menit ada telepon masuk dari keluarga jauh. Saya pun harus setiap saat masuk rumah menjawab telepon dengan perasaan was-was hanya untuk mengatakan “kami selamat, dan tolong tutup teleponyya SEKARANG”.

Demikianlah Jogja… mencekam sangat suasana hari ini.

Kini saya terlibat dalam penyaluran bantuan untuk para korban. Sangat banyak yang harus dilakukan. Kemaren kami berhasil mengumpulkan sumbangan untuk tetangga kampung yang menjadi korban. Dari hari pertama juga saya terlibah ti TIM UGM. Kepanikan terasa dan sepertinya tdak ada satu orangpun yang benar-benar tahu apa yang harus
dikerjakan. Memang tidak mudah menjadi penolong skaligus korban pada saat yang sama.

Berkali-kali keluarga di Bali dan Jakarta menghubungi dan meminta kami untuk mengungsi. Sepertinya itu bukanlah ide bagus di tengah kenyataan bahwa orang-orang sekitar memerlukan bantuan. Terima kasih atas email, sms dan telepon dari teman-teman semua. Simpatinya menambah energi saya untuk tetep bertahan.

Demikian update saya dari Jogja.

Salam damai
madeandi

Bercinta di rumah sendiri

Bercinta malam ini jelas bebeda dari sebelumnya. Bukanlah tetesan peluh yang berbeda jumlahnya, bukan juga nikmat yang tidak sama rasanya. Keringat itu berbau bahkan dari dinding dan lantainya, dari atapnya, dari debu yang berserakan di atas meja dan selimut yang kusam menutupi keterbukaan kita. Keringat sendiri yang kita teteskan untuk mewujudkan istana ini. Kecil tapi adalah milik kita.

Bercinta malam ini tanpa bayaran, yang kalau dulu, setiap malamya bisa 20 keping emas. Kini sewa tak lagi dihitung. Tagihan tak lagi datang karena alasan cinta. Pembayaran tak lagi dilakukan untuk tiap tetes kenikmatan yang kita panen setiap malamnya. Bercinta malam ini cuma-cuma karena kita lakukan di rumah sendiri.

PS. Gambar diambil dari http://www.detikportal.com/images/ikonkamasutra.gif

Para Guru

Kemaren sore aku berkumpul di ruang terhormat itu, bersama para guru. Mereka hari ini berbeda dari yang aku kenal sepuluh tahun yang lalu. Mereka kini tidak lagi bercerita tentang segitiga siku-siku yang istimewa, tidak juga tentang diagram rumit yang menggerahkan. Hari ini mereka berbicara tentang seorang murid perempuan. Murid yang selalu duduk di depan ketika kelas berlangsung dan menyingkapkan roknya sehingga terpamer keindahan. Para guru kini bercerita tentang panasnyanya ruangan kelas karena keindahan sang murid yang memang menggoda. Para guru juga manusia, pikirku.

Formulir Beasiswa APS 2006 format Ms. Word

Anda mau ngelamar beasiswa APS 2006, tapi males ngisi formulir manual? Mau cari yang versi Ms. Word tapi nggak ada di websitenya?
Jangan bingung, saya sudah berbaik hati dan menyulap formulir APS menjadi format Ms. Word. Silahkan download di:
http://madeandi.staff.ugm.ac.id
Klik “Downloads” di sidebar sebelah kiri.

Selamat berburu!

Suasana Jogja…

Lagu salah satu grup musik kenamaan Indonesia, KLA Project, yang berjudul “Jogjakarta” nampaknya tidak mudah mati dimakan waktu. Meskipun kelompok yank dulu pernah berkibar itu kini sudah “tiada”, lagunya masih saja hangat di telinga.

Begitulah lagu itu seperti mengiringi langkah setiap orang yang pulang kembali ke Jogja, entah karena rindu, entah karena tugas. Memang ramai kaki lima menjajakan sajian khas berselera, kata Katon Bagaskara. Bagiku ini penuh selaksa makna karena kepulangan kali ini adalah untuk “selamanya” setelah berguru di negeri orang selama lebih dari dua tahun.

Jogja, seperti dulu ketika aku tinggalkan, tidak terlalu liar berubah mengikuti jaman. Berbeda dengan kota lain seperti Denpasar misalnya, Jogja termasuk kalem. Hanya saja kali ini lebih banyak mall yang memenuhi pinggir jalan Solo. Pemandangan yang sebenarnya tidak begitu lazim di Jogja. Tapi itulah dinamika, sesuatu boleh berubah karena tuntutan. Barangkali mahasiswa sekarang memang jauh lebih gaul dan lebih mapan dibandingkan dulu sehingga memerlukan lebih banyak mall di Jogja. Oh ya, selama dua minggu di sini, belum pernah sekalipun sempat jalan-jalan ke mall. Mungkin ini tanda-tanda gaya hidup konservatif.

Apapun itu, Jogja tetap menjanjikan sejuta harapan. Harapan yang selalu besar sehingga membuat hampir setiap orang yang pernah tinggal di Jogja merasa selalu ingin untuk pulang lagi….

Ingin kugantikan sakitmu

Jika ada sakit yang ingin kurebut dan kumiliki, pastiah itu sakitmu. Bukan karena aku mencintai sakit itu tetapi karena cintaku kepadamu yang tak tertahankan. Menyaksikan lemas tubuhmu yang disarangi penyakit adalah penyakit sejatiku. Karena itu ingin kugantikan tubuhmu menjadi sarang bagi sakitmu.

Apa dayaku, aku bukanlah sang pengatur bagi hidupmu. Dengan tangis jauh di dasar hati, terpaksa harus kusaksikan juga deritamu. Menringkuk di bangsal rumah sakit serba putih, nafasmu adalah gelisahku. Setiap gerakmu adalah kekhawatiranku, karenanya ingin selalu kugantikan. Apa daya aku tak berhak. Tapi jangan ragu, aku akan mendampingimu menjalani ujian ini, hingga tamat kauselesaikan pelajaran.

Berhenti Memuja

Ketika puluhan purnama berlalu dan terjadi sebuah pertemuan yang luar biasa, aku sadari kamu tidak seperti yang dulu. Tidak saja tubuh yang berubah sedikit lebih gempal dan rambut yang mulai jarang karena rontok, senyummu kini tidak selebar dulu. Senyum itu kini tertahan beban yang sebenarnya bisa kutebak tapi aku diamkan.

Satu yang tidak akan pernah kulupa, kamu kini tidak memujaku lagi. Atau setidaknya, pujaannmu, seperti halnya senyummu, kini tidak selepas dulu lagi. Aku merindukan tatapan mata yang tiada berpaling menyemburkan kekaguman yang lugu dan tulus kepadaku. Kekaguman yang, mungkin tidak kausadari, telah menjadi bahan bakar pencapaianku sepanjang jalan. Kekaguman itu kini tak tampak lagi. Yang ada hanyalah basa-basi.

Aku mengerti, perjalananku kini telah melampaui kekagumanmu. Puja dan puji darimu bahkan tidak lagi bisa menjangkau pencapaianku. Dulu, kekagumanmu adalah permakluman yang mengukuhkan bahwa kamu masih sehebatku. Sementara kini, untuk memandang saja kamu tak punya keberanian. Semoga masih ada kemungkinan salah untukku

Opera Padas

Kemarin aku bertemu dengannya lagi, setelah hampir 20 tahun berpisah. Anak penggali padas itu kini terliat bersih, jauh lebih bersih dari masa kecilnya yang penuh ingus. Anak penggali batu padas itu, seperti dulu, tetap ramah walaupun kini sedikit berbeda. Kalau dulu keramahannya dengan membungkuk kini dia menyalamiku. Menyalami dengan badan yang tegak, senyum ramah terkembang dan dagu yang sedikitpun tidak dijatuhkannya. Dia seorang profesional. Tidak terbayang rasanya si kecil dekil ini akan menjadi dirinya yang sekarang. Seorang muda dengan senyum kemenangan yang disandangnya ke mana-mana, melewati jalan panjang perjuangannya.

Diceritakannya padaku, dia telah memenangkan berbagai sayembara. Kemenangan yang tentu saja tidak hanya membanggakan dirinya tetapi juga ibu dan bapak sederhananya yang sampai kini masih menggali padas. Meskipun, seperti kamu duga, padas itu kini berbeda. Padas yang semestinya tidak sekeras dulu dan tebingnya pun tidak seterjal dulu lagi. Padasnya kini lebih empuk dipaji.

Diam-diam aku kagum pada anak penggali padas ini. Dia telah menggali padas sampai jauh, sejauh angannya di masa kecil ketika tidur berselimut handuk kumal di atas batu padas seraya memandang langit. Langit biru membentang yang menjadi satu-satunya batas keliaran pikirannya.

Pekik merdeka ini tentu saja tidak sama dengan terikan kawan-kawan saya di Bali yang konon merasa dipinggirkan keberadaannya dari NKRI akibat RUU APP. Tidak juga sama dengan pernyataan “merdeka” saudara kita di Timor Timur pada tahun 1999 yang akhirnya menyisakan sebuah topik “perbatasan laut” untuk diteliti.

Merdeka ini adalah kebebasan. Kebebasan dari himpitan beban yang, kalau boleh jujur, sesungguhnya saya ciptakan sendiri. Tesis telah diserahkan ke Graduate Research School, University of New South Wales. Akhirnya perjuangan ini sampai pada satu tahap yang tidak terlalu buruk, walaupun jelas bukan titik akhir. Meminjam istilah orang bijak, ini adalah awal dari tantangan lain yang lebih besar, katanya.

Makan malam

Ibu, makan malam kali ini terasa istimewa. Bukan karena masakannya yang sangat enak. Sambel matah racikanmu jelas menempati urutan teratas dalam daftar kesenanganku. Bukan juga karena dilayani oleh seorang gadis bersenyum riang. Guraumu jelas tidak terkalahkan, pun oleh guyon cerdas manapun yang pernah kudengar.

Ibu, makan malam kali ini terasa berbeda. Bukan saja karena aku ditemani anak istriku yang dengan setia menunjukkan betapa mereka menikmati, sekaligus tetap khidmat layaknya para umat yang berdoa, namun karena di sebelahku ada dua orang istimewa. Dua orang ini yang aku yakini membuka jalan terang di depanku sehingga aku tidak ragu melangkah. Dua orang yang setiap ahli melihat ke atas kepadanya, menghormati dengan penuh seluruh. Dua orang ini adalah guru di padepokanku, yang memperkenalkan kanuragan yang engkau pernah ceritakan di masa kecilku.

Ibu, anakmu kini satu meja makan dengan mereka. Dua pribadi yang barangkali oleh banyak orang lain akan didewakan. Kini mereka tersenyum dan menyapaku dengan senda gurau seakan kita sebaya, sepantaran. Aku kini berkawan dengan meraka, menikmati satu ekor ikan kakap yang kami bagi dengan tangan telanjang.