Bercinta malam ini jelas bebeda dari sebelumnya. Bukanlah tetesan peluh yang berbeda jumlahnya, bukan juga nikmat yang tidak sama rasanya. Keringat itu berbau bahkan dari dinding dan lantainya, dari atapnya, dari debu yang berserakan di atas meja dan selimut yang kusam menutupi keterbukaan kita. Keringat sendiri yang kita teteskan untuk mewujudkan istana ini. Kecil tapi adalah milik kita.
Bercinta malam ini tanpa bayaran, yang kalau dulu, setiap malamya bisa 20 keping emas. Kini sewa tak lagi dihitung. Tagihan tak lagi datang karena alasan cinta. Pembayaran tak lagi dilakukan untuk tiap tetes kenikmatan yang kita panen setiap malamnya. Bercinta malam ini cuma-cuma karena kita lakukan di rumah sendiri.
PS. Gambar diambil dari http://www.detikportal.com/images/ikonkamasutra.gif
Anda mau ngelamar beasiswa APS 2006, tapi males ngisi formulir manual? Mau cari yang versi Ms. Word tapi nggak ada di websitenya?
Lagu salah satu grup musik kenamaan Indonesia, KLA Project, yang berjudul “Jogjakarta” nampaknya tidak mudah mati dimakan waktu. Meskipun kelompok yank dulu pernah berkibar itu kini sudah “tiada”, lagunya masih saja hangat di telinga.
Ibu, makan malam kali ini terasa istimewa. Bukan karena masakannya yang sangat enak. Sambel matah racikanmu jelas menempati urutan teratas dalam daftar kesenanganku. Bukan juga karena dilayani oleh seorang gadis bersenyum riang. Guraumu jelas tidak terkalahkan, pun oleh guyon cerdas manapun yang pernah kudengar.
‘s Opinion and Editorial – March 16, 2006