Obrolan Geodet #3 Dari Golf ke Geohub.


Di kursi yang Nampak vintage di sebuah pendopo, saya melihat seorang lelaki dengan senyum khas. Muslim Syamsuis Darwis adalah orang yang sama dengan yang saya kenal sejak 1998 silam. Kini, dia menjadi orang nomor satu dan sekaligus pendiri sebuah perusahaan berbasis geospasial dengan kantor yang keren: Geohub. Sore itu kami janjian untuk bertemu, sekedar bercerita.

Obrolan diisi dengan cerita lampau ketika saya mengenalnya pertama kali. Waktu itu saya mahasiswa tingkat tiga dan membantu kampus untuk menyelenggarakan suatu acara konferensi. Kami perlu relawan mahasiswa untuk membantu suatu mata acara. Tentu mencari mahasiswa di kampus biasanya tidak sulit tetapi waktu itu beda. Pasalnya, relawan yang diharapkan adalah yang bisa main golf. Sebelum berusaha pun saya sudah putus asa. Mana lah mungkin mencari mahasiswa Geodesi UGM yang biasa main golf di tahun 1990an.

Adalah Muslim, seorang anak baru angkatan 1998 yang ternyata memenuhi syarat itu. Sejak itu, saya melihatnya istimewa. Bukan karena akademis atau lainnya tetapi karena dia bisa bermain golf. Kami pun berkelakar mengenang kisah itu. Muslim lalu bercerita bahwa ketika kecil hingga remaja dia tinggal di lingkungan perumahan dengan fasilitas yang baik karena disediakan perusahaan tempat ayahnya bekerja. Yang menarik, ayahnya ‘memaksa’ dia untuk memanfaatkan fasilitas itu dengan baik, termasuk untuk bermain golf. Tanpa disadarinya, itu yang menjadi salah satu pintu pembuka bagi banyak kesempatan di masa depan.

Setelah lulus dan bekerja di Jakarta, Muslim sempat ‘nekat’ bersekolah S2 di Stuttgart Jerman dengan tabungan sendiri dan ‘mengais’ peluang beasiswa dari berbagai pihak. Dia juga berhasil merayu dosennya untuk memberinya pekerjaan sebagai asisten yang kemudian bisa membantunya menyambung hidup di negeri orang. Muslim memilih Jerman karena reputasi keilmuan dan harga pendidikan yang terjangkau. Di Jerman juga akhirnya dia mulai berkarya di perusahaan terkemuka seperti Rapid Eye, sebuah perusahaan satelit penginderaan jauh yang ketika itu baru mulai beroperasi. Tak berhenti di situ, dia sempat pindah ke perusahan lain yang memasarkan drone.

Yang menarik, Muslim menyukai tantangan untuk masuk ke perusahaan yang belum begitu ‘well-established’. Dengan begitu dia memiliki kesempatan belajar banyak hal dari awal hingga akhir. Konon ini juga yang kemudian menjadi bekal baginya untuk mendirikan perusahaannya sendiri yang kini dikenal dengan nama beken Geohub. Berkantor di kawasan yang tenang di Jogja utara, Geohub adalah sebuah kantor dengan konsep santai modern dengan gaya vintage. Saya juga diajak naik ke rooftop untuk merasakan sensasi di ketinggian sambil menikmati suasana sore.

Bergaul dengan berbagai pihak membuat mata kita terbuka dengan berbagai peluang. Itu prinsip yang dipercaya seorang Muslim dalam menjalankan hidup dan usahanya. Tak heran, Sekarang dia mengelola banyak proyek yang tidak melulu hanya terkait bidang geodesi. Dia juga merangkul 30 lebih orang dari berbagai disiplin ilmu untuk menyelesaikan tugas-tugas profesionalnya. Dia percaya, selain membuka kesempatan, pergaulan dengan orang lain juga mendatangkan solusi bagi persoalan yang dihadapinya.

Melihat seorang Muslim adalah melihat seorang pembelajar. Tidak saja secara formal melalui kuliah, Muslim terbuka belajar dari orang lain. Konon dia tetap belajar dari ayahnya tentang cara presentasi meskipun dia sudah melakukan itu di mana-mana di berbagai benua. Dalam pertemuan singkat itupun kami sempat diskusi tentang beberapa bahan paparan saya tentang berbagai hal. Muslim takzim menyimak, semata-mata karena dia memang mau belajar.

Sore itu, sambil bekelakar di kursi klasik di pendopo Geohub yang asyik, saya melihat seperangkat peralatan golf. Itu melambungkan ingatan saya pada 22 tahun silam. Seorang Muslim telah bertransformasi jauh dan tinggi. Dari golf hingga Geohub. Namun hal itu tak membuatnya tinggi hati. Dia tetap seperti bola golf yang kerap memang melayang tinggi tapi tak lama kemudian kembali membumi, bersahabat dengan hijau rumput dan keramahan akarnya.

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s