Cerita di Balik Juara


Di Hari Nusantara 2017 ini, kami menerima berita terbaik. Lita dinyatakan sebagai Juara 2 dalam kompetisi penulisan “Our Ocean Story” yang diadakan oleh Delegasi Uni Eropa Indonesia dan Brunei Darussalam. Tentu saja kami gembira. Kegembiraan ini jauh melebihi keberhasilan lain yang pernah saya rasakan dalam hidup. Jika dulu saya merasa kesal karena Ibu dan Bapak saya selalu berlebihan dalam membanggakan pencapaian saya, kini sepertinya Lita merasakan hal yang sama. Maafkan ayah, Nak.

Kisahnya bermula dari sebuah pesan yang saya terima dari sahabat baik yang sedang sekolah S3 di New Zealand, Zulfa Sakkiya. Melalui pesan itu, Zulfa mengirimkan sebuah poster lomba. Seperti yang Zulfa sarankan, saya berpikir untuk memberikan kesempatan itu kepada mahasiswa saya. Di poster itu, tertulis bahwa syarat pesertanya adalah berusia maksimal 26 tahun. Saya rasa sangat ideal untuk mahasiswa saya. Beberapa orang saya kontak dan posternya saya sebar di beberapa grup.

Tiba-tiba, ide yang agak aneh muncul. Mengapa tidak saya tawarkan ke Lita, anak saya? Dalam beberapa bulan terakhir, Lita rajin menulis meskipun dengan tema yang jauh dari laut. Tulisannya belakangan ini seputar fan fiction bertema ‘warrior cats’ atau K-Pop. Yang terakhir merupakan topik yang paling digandrunginya dalam beberapa bulan terakhir. Tentu saja semua itu dipengaruhi oleh bacaan dan tontonannya.

Meskipun Lita rajin menulis, Lita bukan orang yang kompetitif. Untuk membuatnya mau mengikuti sebuah lomba adalah perihal yang rumit. Suatu malam, dalam percakapan dinner, saya mencoba melakukan pendekatan persuasif. Dimulai dari memberikan apresiasi tentang bakat menulisnya, saya mencoba membangun suasana positif. Saya juga tahu, salah pendekatan akan membuat Lita semakin tidak tertarik. Di tengah usaha itu, Asti, ibunya, melakukan pendekatan dengan cara lain. Tiba-tiba, setidaknya menurut saya, Asti memberi motivasi dengan nada yang agak negatif, berbeda yang dengan yang saya inginkan. Percakapan itu berakhir dengan perbedaan pandangan dan kebuntuan. Awkward moment segera muncul dan diskusi berakhir tanpa keputusan.

Entah apa yang Lita pikirkan, yang pasti momen seperti itu tidak sering disaksikannya. Mungkin juga dia merasa bersalah karena menjadi salah satu penyebab selisih paham orang tuanya. Atau mungkin juga dia tidak berpikir apa-apa dan hanya saya saja yang ke-GR-an menyangka dia memikirkannya, padahal tidak sama sekali. Entahlah. Belakangan saya sadar bahwa Asti punya niat baik dengan ‘nada negatif’ itu, bahwa dia ingin menantang Lita.

Yang jelas, esoknya di hari Sabtu tanggal 4 November 2017, Lita bersedia membuka percakapan. Dia mulai menunjukkan ketertarikan dan saya tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan itu. Saya meladeninya dalam percakapan yang sebenarnya tidak begitu serius. Namun, sekecil apapun isyarat itu, saya melihatnya sebagai kemajuan. Kami mulai bercakap-cakap soal tema yang mungkin ditulis. Yang pasti, di dalam poster ketentuan lomba itu ada beberapa tema. Kami juga melihat website lomba di ouroceanstory.id dan mempertimbangkan tema-tema yang mungkin.

Saya beri masukan bahwa sebaiknya tulisan itu nanti mengandung nasihat untuk menjaga laut. Pilihan jatuh pada marine pollution. Saat itu saya ingat sebuah video yang mengambarkan seekor paus yang mati dan ternyata di perutnya terdapat sampah plastik. Saking banyaknya sampah plastik di laut, pauspun menjadi korban dengan cara yang mengenaskan. Jika Anda pernah melihat video itu, mungkin perasaan sedih akan melanda, seperti halnya ketika kami menyaksikannya. Saya tunjukkan video itu kepada Lita.

Saya tahu Lita menyukai simbolisasi dan personifikasi. Dia dari dulu menyukai cerita tentang binatang dan menyukai binatang di dunia nyata. Yang menarik, dia selalu memperlakukan binatang itu seperti manusia. Dia ngobrol dengan hewan, dia bahkan punya hewan peliharaan imajiner yang sering diajaknya bercakap-cakap. Dari kecil dia punya anjing imajiner yang kadang diajaknya pergi ke mana-mana lengkap dengan tali imajinernya. Lita tidak pernah lupa menambatkan anjing imjinernya di suatu tempat lalu mengambilnya lagi jika tugasnya sudah selesai.

Tidak hanya memiliki hewan peliharaan imajiner, Lita juga suka menjadi hewan. Waktu kecil, saat saya tanya, “what do you want to be in the future?”, dia menjawab, “I want to be a puppy”. Punya anak satu-satunya yang bercita-cita menjadi anjing, tentu bukan hal yang terlalu menggembirakan. Setelah agak besar, syukurlah ada perberubahan. “I want to be a llama”, katanya mantap ketika ditanya cita-citanya. Ternyata yang berubah hanya jenis binatangnya. Bahkan hingga kelas dua SD, Lita masih sering berperan sebagai anjing di sekolah dan ditanggap oleh teman-temannya di kelas. Imajinasinya memang liar.

Mengingat semua yang telah ditunjukkannya selama ini, saya tahu, Lita tidak akan menginginkan cerita biasa. Jika dia menulis cerita tentang paus yang makan sampah plastik, dia tidak akan memilih peran jadi manusia yang bijaksana dan memberi nasihat. Apakah Lita akan jadi paus untuk mendaptkan perspektif yang lebih segar? Tiba-tiba saja saya punya ide yang lebih radikal. “Why don’t you go one step further? You can be a plastic bag!” kata saya dan disambut pandangan mata yang berbinar. Saya seperti melihat serpihan gagasan dengan bunga dan bintang berhamburan di atas kepalanya. Ya saya tahu ini lebai!

Minggu pagi tanggal 5 November 2017, Lita menghabiskan waktu di depan laptop, lengkap dengan berbagai gangguan yang ada. Setelah sekitar tiga jam bertapa, dia mengirimkan cerita yang sudah diselesaikannya ke email saya. Pukul 1.44 sore hari, saya menerima sebuah email bertajuk “story” dengan sebuah lampiran berkas docx. Email itu tanpa basa-basi, tanpa halo ataupun pengantar. Jika itu dikirim oleh mahasiswa saya, tentu akan saya koreksi tapi untuk Lita saya ampuni karena fokus urusan kami hari itu bukan soal etika menulis email. Bisa membuatnya menulis sebuah artikel 1000 kata dalam Bahasa Inggris untuk sebuah lomba saja sudah jauh melampui harapan saya.

Saya tertegun membaca tulisan itu. Seperti yang selalu saya akui, setiap orang tua akan bias ketika menyangkut perihal yang terkait anaknya. Saya tak luput dari bias itu. Meski begitu, saya coba patut-patutkan diri, membaca tulisan Lita dari kacamata yang seobyektif mungkin. Saya juga seorang penulis dan berprofesi sebagai orang yang kerap mengoreksi tulisan mahasiswa. Saya punya pengetahuan untuk menilai sebuah tulisan. Namun melihat tulisan Lita, kadang saya ragu apakah saya telah mengerahkan kemampuan saya dalam menilai atau saya sekedar menderita bias sebagaimana layaknya seorang ayah yang membaca karya anaknya.

Saya mulai telusuri tulisan itu, membaca kata demi kata secara seksama dan mencoba mencari kesalahan yang mungkin diperbaiki. Saya baca tulisan itu tak kurang dari tiga kali dan hanya berhasil menemukan lima kesalahan ketik. Saya memang sengaja tidak membiarkan diri mengintevensi esensi cerita. Apapun dan bagaimanapun ceritanya, itu harus asli karya Lita. Asti sempat mengusulkan agar ditambahi beberapa hal yang menguatkan dan saya memilih untuk membiarkan cerita itu apa adanya. Selain itu, sudah tidak mudah lagi untuk membuat Lita kembali menekuni cerita itu setelah ‘terpenjara’ selama tiga jam tanpa bisa menikmati K-Pop atau membaca fan fiction di Wattpad atau menulis fan fictionnya sendiri di akun Wattpadnya.

Setelah koreksi super minor itu, Lita saya minta untuk mengirimkan tulisan itu melalui formulir di website yang sudah tersedia. Dia harus mengisi berbagai data sebelum memasukkan tulisan itu. Prosesnya cukup kompleks tetapi Lita bisa melewati dengan baik. Saya tahu, baginya, yang penting adalah cepat selesai dan dia akan terbebas dari pertanyaan dan kejaran ayah atau ibunya.

Bagi kami, Lita bersedia mengikuti lomba itu dengan kesadaran sendiri sudah merupakan presasi tersendiri. Maka dari itu saya tidak mau mendorong terlalu jauh. Begitu karyanya dikirim, kami semua menenangkan diri. Memang ada beberapa guyon seperti, “Kalau dapat hadiah, nanti buat Ibu ya” atau “Lita boleh ikut tour ke Thailand yang diselenggarakan sekolah kalau jadi salah satu pemenang”. Semua itu kelajar belaka. Tapi diam-diam, saya dan Asti sering diskusi dan harap-harap cemas. Begitulah orang tua.

Tiba-tiba suatu sore tanggal 7 Desember 2017, saya menerima pesan dari Lita di grup keluarga kami “WE GOT FANTASTIC NEWSSSSS. I was selected as one of the best stories. Masih seleksi lagi sih 20 besar”. Sensasi itu tak terkatakan. Para orang tua pasti paham yang saya maksud.
[4:21 PM, 12/7/2017] Ayah F: Wow!!!!!!
[4:23 PM, 12/7/2017] Ayah F: Can u capture?
[4:23 PM, 12/7/2017] Lita F: Capture wat
[4:23 PM, 12/7/2017] Ayah F: The email
[4:24 PM, 12/7/2017] Lita F: It wasn’t emailed
[4:24 PM, 12/7/2017] Lita F: I was called
[4:24 PM, 12/7/2017] Ayah F: Whattttt
[4:24 PM, 12/7/2017] Lita F: Yea
[4:25 PM, 12/7/2017] Ayah F: Who called u lita?
[4:25 PM, 12/7/2017] Ayah F: English? Indonesian?

Tidak sabar, saya pun menelopon Lita dan ternyata sore itu seseorang dari Uni Eropa, panitia lomba, menelponnya. Katanya dalam Bahasa Inggris dan mereka sempat bercakap-cakap. Saya duga ini adalah proses verifikasi, mungkin juga untuk memastikan bahwa penulis cerita itu memang memiliki kemampuan Bahasa Inggris yang memadai dan sesuai dengan karya yang dikirimnya. Ini hanya dugaan saya saja karena profil Lita mungkin tidak termasuk meyakinkan. Seorang anak kelas 1 SMP usia 12 tahun memang bisa membuat ragu. Informasi yang penting, pengumuman lomba akan dilakukan tanggal 13 Desember 2017.

Selasa tanggal 12 Desember 2017 pada pukul 1.03 siang Lita mengirimkan sebuah gambar skrinsyut email. Ternyata dia menerima email pemberitahuan bahwa dia lolos ke tahap berikutnya dan kini menunggu hasil final. Email itu juga mengajukan permintaan waiver, semacam pernyataan bahwa penulis mengizinkan karyanya digunakan oleh Uni Eropa untuk berbagai publikasi. Saya mulai GR dan merasa bahwa itu tanda baik. Di akhir email itu ada kalimat “we will contact you soon on the final result and hopefully your story could make it to the 10 winning stories”. Suasana makin tegang.

Tanggal 13 Desember 2017, saya sudah gelisah dari pagi. Karena saya biasanya menerima update informasi dari grup keluarga, saya mengecek WA setiap lima menit. Jam Sembilan belum ada apa-apa, jam 10 lewat, jam 11 berlalu juga tanpa berita. Saya mulai melihat website resmi lomba dan berharap ada berita. Ternyata sampai jam 1 siang tidak ada berita apa-apa. Saya makin tegang. Untunglah saya ada cukup banyak tugas hari ini sehingga waktu berlalu agak cepat.

Pukul 4.29 sore hari saya bertanya pada Asti lewat WA “Bu… ada kabar dari Lita?” dan ternyata belum ada. Suasana makin tidak menentu dan saya makin tidak nyaman. Berusa keras menahan diri dan terlihat tenang, ternyata tidak mudah. Sayapun bergerak dari kantor menuju rumah karena sore itu harus mengantar Bapak dan Meme’ ke bandara untuk bertolak ke Bali. Kemacetan jalanan makin membuat suasana hati tak menentu. Pengumuman dijanjikan tanggal 13 dan ternyata sampai pukul 5 sore belum ada berita.

Di tengah perjalanan yang merayap pelan, saya sekali waktu mengecek WA, berharap ada berita. Pukul 5.30 pm tidak ada dan saya tetap melaju di keramaian jalan. Di lampu merah di perempatan Jalan Gejayan dan Ring Raod saya berhenti dan dengan agak leluasa bisa membaca pesan WA. Boom! Asti mengirimkan sebuah gambar yang diskrinsyut dari website ouroceanstory.id. Di sana terbaca kata CONGRATULATIONS! tertulis dengan huruf kapital semua dan di bawahnya ada sebuah nama yang saya kenal “Putu Ambalita Arsana” sebagai pemenang kedua. Belakangan saya tahu, pesertanya berjumlah 251. Saya tidak bisa tuliskan persaan saya ketika itu. Dunia cerah, malam yang remang tiba-tiba seperti pagi yang sejuk dan penuh semangat. Lita, you did it!

Bonus Kisah
Banyak yang bertanya, bagaimana Lita bisa menulis dalam Bahasa Inggris sebagus itu? Untuk sekedar informasi, Lita tidak sekolah di sekolah internasional. Di sekolah dia belajar Bahasa Inggris sebagai salah satu pelajaran saja dan tidak menggunakan Bahasa Inggris sebagai pengantar. Itu yang terjadi di SD Model Sleman.

Lita mulai belajar Bahasa Inggris ketika tinggal di Australia dan dia pulang ketika usia lima tahun. Saat itu, Bahasa Inggrisnya sudah ‘jadi’ tetapi belum bisa membaca apalagi menulis. Lita belajar membaca dan menulis di Indonesia, jadi kemampuan membaca dan menulisnya murni ‘produk Indonesia’. Dia gemar menonton Youtube dan selalu menikmati cerita tentang binatang. Video bagus tentang binatang memang lebih banyak yang berbahasa Inggris dan itulah yang menyelamatkan Bahasa Inggrisnya. Dia tidak pernah ikut kursus. Praktik Bahasa Inggris di dunia nyata hanya dengan saya. Tentu dengan kualitas Bahasa Inggris yang jauh dari natif.

Saya sempat ragu kalau-kalau Bahasa Inggrisnya hilang seperti yang terjadi pada banyak anak-anak teman kami ketika pulang dari luar negeri. Syukurlah itu tidak terjadi pada Lita dan Bahasa Inggrisnya justru membaik. Thanks to YouTube, meskipun saya pernah khawatir melihat Lita yang hanya gemar menonton, tidak terlalu gemar membaca. Saya mencoba mendorongnya dan dengan membelikan buku-buku di Gramedia.

Hingga suatu hari, dia minta dibelikan buku novel. Tanpa pikir panjang saya menyetujui. Yang tidak saya tahu adalah ternyata buku yang dimaksud Lita terdiri dari tiga seri dan masing-masing seri terdiri dari enam novel. Dia mengajukan dana untuk membeli 18 novel sekaligus di Amazon. Saya tersentak kaget melihat harganya. Sambil meringis saya bilang “ini sama dengan gaji ayah sebulan, Ta”. Tapi janji harus ditepati dan sayapun membelikannya.

Lita melahap buku itu dengan cepat dan koleksi kosakatanya bertambah drastis. Saya tantang, “kalau hanya membaca, prosesnya belum selesai. Lita juga harus menulis untuk menunjukkan Lita paham dan mengalami kemajuan dari membaca”. Bagi saya, salah satu ujung dari membaca adalah menulis. Lita menerima tantangan saya dan dia mulai menulis. Dia menulis dengan HP, bukan dengan komputer. Setiap kali saya sarankan agar menggunakan laptop, dia menolak karena katanya lebih nyaman? Dia juga betah menulis dengan tablet. Kids zaman now!

Suatu hari, saya dikejutkan dengan sebuah cerita sepanjang 2509 kata yang dibuatnya. Bahasa Inggrisnya jauh lebih bagus dari Bahasa Inggris saya sekarang. Aliran bahasanya seperti penutur asli dan dia berhasil menyelipkan jiwa pada ceritanya. Dramatisasinya terasa jelas dan simbolisasi jadi kekuatan tulisannya. Di situ saya melihat, Lita punya potensi. Namun saya juga percaya, potensi itu tidak akan pernah tumbuh subur jika tidak disirami dengan usaha.

PS. Cerita semacam ini bisa terlihat sebagai suatu kesombongan. Maafkan jika terkesan demikian. Jika ada satu orang yang terinspirasi dari cerita ini, saya menulisnya untuk satu orang itu. Semoga orang itu Anda.

Lampiran dari website:

The winners of Our Ocean Short Story Writing Contest:

1. “2117” by Gabriela Utomo

2. “Useful at First, Useless After” by Putu Ambalita Arsana

3. “Blue” by Alexa Sudarto

4. “Meeting Ms Anna” by Liliana

5. “Children of the Ocean” by Indiana Salsabila

6. “Waves of Shard” by Shera Rinaldy

7. “What happened to the kids” by Devina Heriyanto

8. “Crooked good” by Fairuza Razak

9. “Ocean’s Song of Light” by Retno Windradini

10. “Meredith, the Protector of the Sea” by Mustika Kusuma

Facts about Our Ocean Short Story Writing Contest:

  • Total submission received : 251 Stories
  • Eligible Submissions : 207 Stories (187 Stories in English, 6 in French, 3 in Spanish, and 1 in Dutch)
  • Ineligible Submissions : 44 stories (42 in English, 1 in Dutch, and 1 in German)
  • Age range of participants : between 9 to 26 years.
  • All selected stories writers are women (average 19 years old)

Thank you for participating in Our Ocean Short Story Writing Contest!

Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

24 thoughts on “Cerita di Balik Juara”

  1. Matur sukseme pak made, saya mendapatkan pesan yg berharga dan very useful untuk saya terapkan ke anak saya ( mumpung masih 21 bulan). Semoga anak saya juga bisa seperti lita someday. Bapak sekeluarga memang sangat menginspirasi saya.

  2. Wow..keren banget Lita, kamu sangat menginspirasi..so proud of you 🙂
    Memang buah jatuh ga jau dari pohonnya ya Bli..Oiya bli, apakah ada kemungkinan hasil karya Lita bisa diakses sebagai bahan bacaan sekaligus pembelajaran buat saya?
    Terima kasih sebelumnya..

  3. Saya sampai nyangkut ke tulisan Bapak gara-gara browsing kata ‘lomba menulis’ di twitter. Selamat ya Pak buat prestasi putrinya. Kok sampai ikut merinding haru selama baca tulisan Bapak. Keren bener deh Lita. Btw saya penasaran dengan pendekatan komunikasi istri Bapak ke Lita. Apa maksudnya dengan menjatuhkan mental Lita? Karena memang sih Pak, ada karakter beberapa anak yang sepertinya ‘harus dibully’ untuk cara motivasinya.

  4. Selamat buat Lita ya pak. Saya baca tulisannya di link. Narasinya tentang perjalanan dirinya yang mempersonifikasikan sebagai kantong plastik yang diperlukan manusia sampai masuk ke perut ikan paus sangat bagus. Ceritanya mengalir dan ekspresinya kuat seperti dalam novel

  5. Wow keren, selamat Lita!!..story nya sangat menginspirasi Pak Made. Menginspirasi saya buat mendorong dan memberi semangat anak saya yg masih 11 tahun untuk mulai belajar menulis bukan hanya membaca dan menonton youtube..nuhun.

  6. Selamat untuk Lita, Pak Andi, dan Bu Asti. Entah mengapa sejak beberapa hari yang lalu saya teringat dengan Pak Andi, khususnya tentang kepiawaian Bapak menyajikan “geodesi” khususnya tentang materi batas wilayah kepada semua orang dengan beragam latar belakang. Sampai kemarin, ketika salah satu personil boy band yang tidak bosan saya dengar lagunya sejak saya kuliah (Shinee) berpulang, dan Bapak membuat tulisan tentangnya. Hingga saat ini saya membaca tulisan Bapak. Dua ibu jari tangan saya rasanya belum cukup untuk memberikan apresiasi dan ucapan terima kasih atas tulisan Bapak yang menginspirasi saya, sebagai emak-emak zaman now, untuk kreatif mengarahkan anak saya (sekarang usia 10 bulan) untuk mampu menangkap lebih dari berbagai media yang digunakan, mulai dari buku hingga Youtube. Saya salut dengan Pak Andi yang membebaskan kreativitas Lita untuk menulis namun tetap mendampingi dan mengarahkan di tengah kesibukan Bapak. Selain itu, setelah membaca tulisan ini, saya sadar kalau saya sudah lama sekali tidak “menulis” dan rindu untuk “menulis” kembali.

  7. Saya menikmati membaca tulisan-tulisan Pak Made. Artikel ini menurut saya menginspirasi secara langsung maupun tidak langsung, bagi yang memiliki atau akan memiliki anak. Selamat untuk Lita.

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s