Kakek-Nenek dari Wonosari di Kuala Lumpur


Pesawat Air Asia, 3 Oktober 2017
Dalam perjalanan ke Kuala Lumpur, di dekat saya duduk sepasang suami istri. Dari wajah yang lugu dan perilakunya yang santun malu-malu, saya tebak beliau berdua ini belum terbiasa bepergian. “Menengok cucu” kata sang ibu mengejutkan saya. Pasalnya, wajahnya masih terlihat sangat muda untuk mengaku sebagai seorang nenek. Lelaki di sebelahnya mengangguk mengiyakan. Setelah saya memulai percakapan, keduanya berani bercerita.

Saat keluar dari pesawat, sang bapak, yang kemudian saya tahu bernama Totok, berjalan di dekat saya. Dari gelagatnya, beliau memerlukan bantuan. Satu per satu pertanyaan keluar dari mulutnya. Beliau bertanya soal cara mengambil barang, cara keluar dari imigrasi, dan lain-lain. Saya segera yakin, beliau berdua itu memang belum pernah sama sekali ke luar negeri. Sambil menyelesaikan beberapa tugas, saya ladeni dengan baik. Warga Indonesia dari Wonosari yang sedang tergagap-gagap terpapar mancanegara, tentu harus didukung. “Nanti saya bantu ketika di Imigrasi, Pak” kata saya mantap dan membuat lelaki sederhana itu tersenyum tenang. Sementara itu, isterinya berjalan di sebelahnya masih penuh kecemasan. Saya bisa mengerti.

Tiba di bagian imigrasi, saya menyelesaikan proses duluan. “Saya akan tunggu Bapak di ujung sana. Kalau ada apa-apa lambaikan tangan, saya akan bantu” kata saya meyakinkan Mas Totok. Wajahnya nampak cemas, tak bisa dia bayangkan apa yang akan terjadi. “Tenang saja Pak, pasti lancar” kata saya mencoba meyakinkan lagi. Dia tersenyum getir.

Selepas mendapatkan cap imigrasi saya bergerak dan berniat menunggu tidak jauh dari loket. Seorang petugas menegur saya agar berjalan terus dan tidak menunggu di lorong karena memang mengganggu lalu lintas. Saya berjalan menjauh sambil tetap mengamati Mas Totok dari jauh. Samar-sama saya lihat beliau berhadapan dengan petugas imigrasi dan sepertinya mendapatkan pertanyaan. Tadi saya sudah ingatkan untuk menyiapkan surat yang dikirim anaknya dan berisi alamat tinggal serta nomor telepon. Entahlah apakah dokumen itu bermanfaat.

Dari kejauhan saya lihat beliau digiring untuk memasuki satu ruangan tidak jauh dari loket imigrasi. Saya ikut gelisah. Saya sudah berjanji akan membantu dia dan kini tidak bisa saya lakukan. Kepada petugas saya bertanya, katanya “itu hal biasa” dan saya diminta menunggu. Sayang sekali saya tidak bisa kembali dan menolongnya. Aturan imigrasi di bandara memang demikian, katanya. Saya pun melangkah menjauh dipenuhi keraguan dan rasa bersalah. Terbayang betapa paniknya pasangan itu saat mendapat pertanyaan yang mungkin lebih mirip interogasi.

Di lokasi pengambilan bagasi saya tunggu sambil menyempurnakan bahan presentasi yang akan saya bawakan tanggal 4 dan 7 Okbtober di Kuala Lumpur dan Putra Jaya. Hingga bahan presentasi saya selesai tuntas, belum ada tanda-tanda pasangan itu muncul. Saya tambah gelisah sementara harus bergerak meninggalkan bandara. Ada persiapan yang harus saya lakukan sebelum presentasi esok hari. Dalam keraguan itu, saya memilih untuk pergi meninggalkan bandara. Rasa bersalah bercokol tak mau pergi tapi saya harus memilih. Hanya bisa berdoa semoga Mas Totok dan isteri diberi keselamatan dan bisa bertemu anak cucunya di Kuala Lumpur.

KLIA2, 8 Oktober 2017
Saya sedang menunggu saat masuk pesawat dari Kuala Lumpur untuk kembali ke Jogja sambil asyik membalas beberapa pesan lewat HP. Tiba-tiba seorang lelaki menepuk pundak saya. “Wah Pak, ketemu lagi!” kata seorang lelaki dengan wajah cerah, sumringah dan percaya diri. Belum sempat saya sadari apa yang terjadi, di belakangnya muncul seorang perempuan dengan wajah yang tak kalah bahagia dan bercahaya. “Wah pulang bareng ya Pak?” kata perempuan itu sopan dan renyah. Mas Totok dan isterinya baru saja menyapa saya di bandara. Mereka juga pulang ke Jogja hari ini dan berlalu memasuki pesawat.

Kami ternyata duduk di deretan kursi yang sama, persis seperti tanggal 3 Oktober lalu. “Wah apa kabar Pak?” kata saya setengah kaget sekaligus senang karena mengetahui keduanya baik-baik saja. “Baik Pak, Bapak gimana?” katanya mantap sambil menjabat tangan saya erat penuh percaya diri. “Waktu itu saya tunggu lama lo” kata saya lagi. “Iya Pak, kami diiterogasi dulu” katanya disusul gelak kecil. “Maaf waktu itu belum menyampaikan terima kasih” kata Mas Totok dengan santun namun professional dan percaya diri. “Oh, tidak apa-apa Pak. Justru saya yang minta maaf karena meninggalkan Bapak dan Ibu waktu itu. Saya harus segera tiba di hotel” kata saya masih dengan rasa bersalah. Kami tertawa dan melanjutkan percakapan.

Secara bergantian kedua orang itu bercerita dengan semangat. Betapa senangnya mereka mengetahui negara lain, betapa kagumnya mereka dengan peradaban Kuala Lumpur, betapa terpesonanya mereka dengan teknologi yang canggih dan banyak lagi. Saya melihat dua orang yang benar-benar berbeda dengan yang saya ingat beberapa hari lalu. Mas Totok yang ndeso dan istrinya yang pemalu telah berubah menjadi dua orang yang bercerita dengan fasih soal perbedaan budaya dua bangsa. Mendengar mereka bercerita, ingatan saya melayang pada mahasiswa saya di Indonesia. Jika Mas Totok dan istrinya bertransformasi begitu positif karena kunjungan seminggu ke Kuala Lumpur, maka saya mendapat lebih banyak alasan untuk mendorong mahasiswa saya mengunjungi berbagai peradaban.

Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

One thought on “Kakek-Nenek dari Wonosari di Kuala Lumpur”

  1. ini seperti konsep yg diusung pak renald kasali yg nyuruh mahasiswanya bikin paspor ya Bli. memang sangat signifikan efeknya. mungkin itu juga yg saya alami dan rasakan sepulang dari korea tahun 2003 lalu, perjalanan pertama ke luar negeri. membawa banyak pencerahan, perubahan, dan inspirasi 👍 sangat setuju untuk mendorong mahasiswa untuk ‘berani’ melangkah keluar dari zona nyaman hidup di negeri sendiri. eh, jadi panjang komennya 😂

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s