Ngajar di Singapura Tanpa Dibayar


“Ngajar” kata saya singkat ketika ibu saya bertanya tujuan saya ke Singapura. Kami bercakap-cakap di dapur, ritual lama yang masih selalu terjadi setiap kali saya pulang ke Bali. Ngobrol sambil dan setelah makan sampai lupa cuci tangan hingga lebih dari sejam adalah kebiasaan buruk yang tetap bertahan. Ini yang membuat saya rindu pulang. Selalu.

“Wah, hebat, bisa diundang untuk mengajar di Singapura” kata ibu saya mengapresiasi. Ini bukan kali pertama diminta mengajar di Singapura tapi ucapan ibu saya itu seperti memberi rasa baru. Kebanggan baru. Dari perspektifnya, sangatlah membanggakan ketika seorang anak penambang batu padas yang ibunya hanya lulus SD dan bapaknya yang bahkan tidak sempat lulus SD bisa diundang untuk mengajar di sebuah negara semaju Singapura. Saya bahkan belum menjelaskan bahwa peserta kuliah saya berasal dari Asia Pasifik, dan mereka adalah orang-orang penting di negaranya.

Tentu saja saya bangga. Terutama, bangga ketika melihat air muka ibu saya cerah sumringah karena bahagia. Bangga karena bapak saya tersenyum senang mendengarkan cerita saya, meskipun mungkin beliau tak sepenuhnya paham. Yang tidak dipahaminya adalah bahwa saya tidak dibayar, hanya diberi tiket, hotel dan segala pengeluaran saya ditanggung oleh mereka. “Tidak dapat honor?” tanya beliau dan saya bilang “tidak”. Untunglah rasa penasaran dan tak paham itu segera sirna saat membayangkan anaknya berdiri di depan orang-orang berbagai warna kulit dan berbagi ilmu. Ke manapun saya pergi, di belakang kepala saya ada ada wajah mereka berdua dan saya tak bisa melenyapkan suatu rasa yang tak mudah di jelaskan.

Ketika terbang dari Jogja ke Singapura, saya melihat ke bawah. Hamparan alam yang hijau, laut yang luas membentang mengingatkan saya akan Indonesia. Negeri ini, jarak dari ujung barat ke ujung timurnya lebih lebar dibandingkan daratan utama Amerika Serikat. Itu yang selalu saya ceritakan kepada mahasiswa saya. Kita memiliki 34 provinsi, 516 kapupaten/kota, 80 ribu lebih desa dan 260 juta manusia. Kita hidup di sebuah bangsa yang besar tiada tara dan kompleks luar biasa.

Menyadari besar dan kompeksnya Indonesia juga mengingatkan saya akan kehebatannya. McKinsey & Company memperkirakan Indonesia akan menjadi satu dari tujuh kekuatan besar ekonomi dunia secara GDP di tahun 2030. Ramalan terkini Price Waterhouse Cooper bahkan menyebut Indonesia akan menduduki posisi keempat di tahun 2050. Di ASEAN, Indonesia adalah negara terbesar. Tak ada yang membantah, Indonesia adalah kakak dan ibukota ASEAN.

Tiba-tiba saja saya berpikir ulang tentang kebanggan yang dihembuskan ibu saya. Negara saya begitu penting maknanya, tidak saja di kawasan tetapi juga di dunia. Jika negaranya hebat dan besar, tentu orangnya juga harus besar dan hebat. Lalu apa anehnya dan apa istimewanya ketika ada seorang warga negara besar diundang untuk mengajar warga negara lain, apalagi negara lain itu lebih kecil ukurannya? Apa istimewanya ketika seorang warga sebuah negara penting di G20 diminta untuk mengajar warga negara lain yang bahkan mungkin tidak masuk G20? Apa anehnya ketika seorang dosen perguruan tinggi terbaik di sebuah negara terbesar di ASEAN diminta memberi kuliah di depan orang-orang dari Asia Pasifik? Tiba-tiba rasa bangga itu lenyap dan berganti perasaan tentang kewajiban dan kontribusi yang wajar. Rasa bangga sirna, niat sombong tak berani mampir.

Beberapa menit setelah menuntaskan pemaparan bahan kuliah di sebuah ruangan di Pan Pacific di Orchard, Singapura, saya melihat wajah-wajah di depan saya. Saya bisa merasakan atau setidaknya menebak apa yang mereka rasakan setelah mendengar kuliah itu. Ketika seorang diplomat perempuan dari Australia datang mendekat, saya sambut dengan jabat tangan hangat. Saat dia tergopoh-gopoh mengeluarkan kartu nama dan berterima kasih, saya balas dengan membungkuk takzim sambil tersenyum tenang penuh hormat.

Dalam hati saya tegaskan, kita sesama bangsa besar. Sekali waktu saya belajar darimu, di kesempatan lain saya dengan senang hati berbagi untukmu. Kami bangsa dengan jumlah penduduk 10 kali lipat dari bangsamu, dengan persoalan yang mungkin 100 kali lebih kompleks dari yang bisa kamu bayangkan. Kami telah melalui banyak hal dan kami belajar. Pengalaman itu bisa kami bagi. Di kesempatan lain, tentu kami perlu belajar dari bangsamu. Sekali lagi saya membungkuk hormat katika perempuan itu mengakhiri dengan kalimat “I might invite you one day”.

Jika Bapak saya bertanya lagi “mengapa mau mengajar tanpa dibayar?” maka saya akan jelaskan duduk perkaranya. Bagi seorang guru dari negara sebesar Indonesia, mengajar anak-anak muda di Baturaja harus sama semangatnya dengan mengajar para petinggi negara Asia Pasifik di Singapura. Jika saya bisa dengan senang hati mewakafkan waktu untuk berbagi dengan para mahasiswa cemerlang di sebuah perguruan tinggi swasta di Denpasar tanpa dibayar, hal yang sama juga bisa saya lakukan di sebuah negara kota seperti Singapura. Jika kita percaya bahwa perlu ada orang yang bersedekah ilmu kepada mereka yang membutuhkan maka sedekah itu tentu saja bisa diberikan oleh seorang warga sebuan negara yang presidennya duduk santai berkelakar dengan Donald Trump, Vladimir Putin, Justin Trudeau dan Xi Jinping sambil membicarakan nasib Planet Bumi.

Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

6 thoughts on “Ngajar di Singapura Tanpa Dibayar”

  1. Saya selalu senang membaca tulisan tulisan anda pak dosen.. 🙂
    semoga saya kelak bisa seperti anda, bisa berbagi ilmu kepada yang menginginkan..

  2. Luar Biasa, Bli! Melihat suatu keadaan dari perspektif yang lain. Hari ini belajar untuk bisa melihat Indonesia dari perspektif yang baik sehingga kebanggaan itu menjadi satu paket dari keberadaan diri dimanapun berada. Honestly, selama ini suka minder jika kebetulan berada satu forum dengan delegasi dari negara2 lain, ntah kenapa di alam bawah sadar kita selalu melihat mereka itu lebih OK dari kita padahal tidak sepenuhnya benar dan terbukti. I can’t wait for your next writing, Bli 🙂

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s