Wyncent Halim: Teladan Gadjah Mada dari Pematangsiantar


“Kamu tidak menggambarkan anak UGM!” kata saya berkelakar dalam salah satu percakapan kami. Wyncent Halim, mahasiswa UGM yang saya ledek, hanya meringis lalu tertawa lebar. Dia paham apa yang saya maksud.

Sore itu saya kedatangan tamu, seorang pemuda 22 tahun yang nampak klimis dan bersih. Kepada Lita, anak saya, saya berkelakar kalau pemuda ini lebih mirip anggota Boy Band Korea. Lita mengiyakan meskipun dia mati-matian tidak setuju saat saya bilang pemuda ini mirip salah satu idolanya di grup BTS.

Atas undangan saya, Wyncent berkunjung ke rumah suatu sore. Alasan utamanya, saya ingin memberi selamat secara pribadi atas keberhasilannya meraih juara 1 mahasiswa berpretasi tingkat nasional. Baginya, ini tentu jadi pencapaian yang layak dicatat. Bagi UGM, almamaternya, ini adalah sejarah. Belum pernah selama ini UGM mengukir pretasi segemilang ini di ajang pemilihan mahasiswa berprestasi nasional. Maka dari itu, Wyncent rasanya pantas saya beri perlakuan khusus.

Anak UGM, dalam imajinasi saya sebagai alumni UGM dua dekade, tidaklah seperti Wyncent. Dia bersih, putih, rapi dan cenderung terawat. Saya dan Asti, isteri saya yang juga alumni UGM, sepakat dan bahkan kami menggoda Wyncent “tidak menggambarkan anak UGM”. Tentu saja ini adalah imajinasi generasi lama yang mengikuti opspek UGM sudah lebih dari dua dekade silam. Anak UGM yang kami ingat adalah mahasiswa ndeso, kucel, kumal, dekil dan kumuh. Betul, kami sebenarnya sedang mengingat diri sendiri belasan tahun silam.

Tell me more about you!” kata saya di salah satu penggal percakapan. Saya cukup terkejut mengetahui Wyncent ternyata lahir dan besar di Pematangsiantar. “Bapak mungkin tidak tahu di mana kota itu” katanya berkelakar karena dia merasa kota asalnya begitu terpencil. “Tapi sekolahnya di sekolah internasional kan?” tanya saya, demi mengetahui Bahasa Inggris oralnya yang lancar seperti air. “Tidak Pak. Saya selalu belajar di sekolah nasional” katanya mantap. Dia juga jelaskan bahwa Bahasa Inggris hanya diajarkan sebagai mata pelajaran, tidak dugunakan dalam percakapan sehari-hari. Ini sangat menarik.

“Lalu belajar Bahasa Inggris di mana? Pernah tinggal di luar negeri?” tanya saya mengejar karena penasaran. “Tidak Pak” katanya mantap sambil tertawa. Rupanya dia sudah terbiasa ditanya dengan nuansa setengah ‘menuduh’ seperti itu. Dari tampilannya, Wyncent memang pantas sekali mengaku tinggal atau bahkan lahir di negara berbahasa Inggris. Ternyata tuduhan itu tidak benar. Saya kian penasaran.

“Saya belajar Bahasa Inggris dari guru saya di Pematangsiantar. Umumnya mereka orang Batak dengan logat yang khas” katanya menjelaskan. “Orang tua saya sama sekali tidak mengerti Bahasa Inggris. Mereka hanya tamat SMA” lanjutnya lagi. Dia ceritakan, ayahnya kini bekerja di Batam dan Ibunya tinggal di Sumatera. Karena alasan mata pencaharian, ayahnya rela hidup berjauhan dari keluarga tercintanya. Ketika saya minta dia menggambarkan situasi keluarga, Wyncent tanpa ragu menjelaskan ayahnya yang berkerja di perusahaan konstruksi di Batam dan ibunya mendedikasikan hidupnya sebagai ibu rumah tangga di Sumatera. Lagi-lagi, saya cukup terkejut. Saya membayangkan keluarga Wyncent lebih mentereng dari yang diceritakannya.

Dari Wyncent saya mengetahui bahwa predikat mahasiswa berpretasi bisa diraih oleh seseorang karena proses yang lama. Yang dinilai bukanlah kinerja saat ini atau penampilan saat diuji tetapi akumulasi prestasi sejak bertahun-tahun sebelumnya. Seorang kandidat bisa saja tampil memukau dengan segala daya pikatnya saat presentasi di proses seleksi tetapi jika dia bukan termasuk yang berprestasi di tingkat daerah, nasional atau internasional maka kesempatannya bisa jadi lebih kecil dibandingkan kandidat lain yang tampil biasa saat presentasi tetapi sebenarnya menyimpan segudang prestasi sejak lama. Menjadi mapres memang bukan sesuatu yang instan. Mapres adalah akumulasi kerja keras dan perjuangan dalam waktu lama.

“Saya sudah semangat ikut berbagai lomba sejak SD, Pak” kata Wyncent menjelaskan. Rupanya dia sudah sering ikut lomba pidato dalam Bahasa Inggris sejak kecil dan terus mengasah kemampuannya itu hingga kini. “I prefer speech or story telling rather than debate” katanya ketika saya tanya soal preferensinya. Saya pernah satu panggung dengan Wyncent di sebuah acara dan saat itu saya sudah meyakini bahwa Wyncent memang seorang pembicara publik yang baik. Dia berhasil menggabungkan antara isi yang berbobot dengan penyampaian yang menarik. Komunikasinya juga sangat efektif dalam Bahasa Inggris.

Ketika saya tanya, dari mana dapat dana untuk mengikuti berbagai lomba dan bahkan sampai ke luar negeri, Wyncent menjelaskan beberapa sumber. Sebagian didukung oleh UGM, sebagian lain berhasil didapatkan dari sponsor yang biasanya berupa firma hukum. Wyncent pernah mendapat dukungan puluhan juta dari sebuah firma hukum tempatnya magang untuk mengikuti sebuah lomba di luar negeri. “Bagaimana jika tidak ada dukungan dari kampus atau sponsor?” Wyncent beruntung karena kerap dukungan itu datang dari orang tuanya. Tidak jarang, orang tua Wyncent bersedia membelikan tiket untuknya bisa lomba di luar kota atau bahkan luar negeri. Dukungan orang tua Wyncent memang total, meskipun dia kadang merasa tidak enak karena itu membebani orang tuanya. “Jika terlalu mahal, mereka pun tidak akan mampu, Pak. Jadi saya harus mempertimbangkan dengan matang sebelum meminta dukungan orang tua” katanya bijaksana.

Ditanya soal pendidikan, Wyncent punya cerita sendiri. Dia ternyata bersekolah di sekolah nasional dari TK hingga SMA di Pematangsiantar. Dengan kiprahnya di berbagai lomba dan ketertarikannya dengan Bahasa Internasional, Wyncent mantap untuk masuk Departemen Hubungan Internasional UGM. Kala itu, tahun 2013, dia masuk International Undergraduate Program untuk International Relation. Menjadi diplomat adalah sesuatu yang diimpikannya dan dia merasa itu profesi yang keren. Sayang sekali, Wyncent rupanya tidak menemukan apa yang dia imajinasikan sebelumnya. Ada hal yang sepertinya dia tidak antisipasi sehingga merasa kurang cocok. Di tahun berikutnya, dia pindah ke Fakultas Hukum, juga program internasional. Ketika ditanya soal respon orang tuanya, Wyncent menegaskan bahwa dia diminta untuk memikirkan ulang dan memutuskan dengan hati-hati. Setelah mengikuti nasihat orang tuanya, toh akhirnya Wyncent mengambil keputusan untuk pindah.

Menurut Wyncent, pindah ke Fakultas Hukum UGM adalah salah satu keputusan terbaik yang dilakukannya. Dia merasa menikmati dan menemukan passion-nya di sana. Meski demikian, secara bijaksana dia juga menegaskan bahwa dia tidak menganggap Fakutas Hukum lebih baik dari HI. Dia merasa itu soal passion pribadi. “Jika kita melakukan sesuatu dengan passion, usaha keraspun tidak terasa berat dan hasilnya tentu lebih baik” tegasnya mantap. Mungkin karena penjiwaannya belajar di fakultas hukum, kerja cerdas dan kerasnya selalu menghasilkan nilai baik. Indeks prestasi akumulatifnya tercatat 3,92, sebuah angka fantastis di sebuah fakultas bergengsi di UGM.

Wyncent senang berbagi. Itu juga yang mempertemukan kami untuk pertama kalinya di Prodi Teknik Industri Fakultas Teknik UGM ketika sama-sama jadi pembicara. Ketika ditanya oleh Asti soal perasaannya ketika berbagi, Wyncent menceritakan perasaan yang lega luar biasa ketika dia melihat wajah-wajah yang senang, apalagi tercerahkan setelah medengar pemaparannya. “Saya sering tegang ketika diminta berbagi karena saya biasanya menargetkan agar orang yang mendengar saya itu bisa paham dan jika perlu, tercerahkan. Saya paling tidak nyaman dan merasa gagal kalau melihat pendengar saya tidak antusias, apalagi sibuk bermain gadget sendiri saat saya bicara.” Seperti juga pembicara publik lainnya, Wyncent merasa mendapatkan energi dari pendengarnya. Hal ini juga yang membuatnya selalu bersiap dengan serius setiap kali diminta presentasi. “Saya mending tidak datang jika saya rasa audiens tidak akan mendapatkan apa-apa dari saya” katanya reflektif.

Saat saya tanya soal karir dan cita-cita, Wyncent ingin memulai karirnya di sebuah perusahaan swasta. “Kemungkinan besar saya mau kerja di Law Firm, Pak” katanya serius. “Saya akan mendapatkan banyak pengalaman tetapi tetap fleksibel untuk bisa memilih karir yang lain di masa depan. Saya juga tertarik untuk sekolah lagi setelah itu dan kemudian masuk ke institusi pemerintahan. Mungkin Bank Indonesia.” Nampaknya Wyncent tahu benar apa yang diimpikannya dan dia mengusahakan itu dengan sungguh-sungguh. “Tertarik jadi dosen?” tanya saya. “Belum Pak” katanya sambil tertawa. “Tapi saya suka berbagi dan saya rasa saya tetap bisa melakukan itu tanpa harus menjadi dosen secara formal” katanya buru-buru menyempurnakan jawabannya.

Percakapan kami berjalan cukup lama ternyata, meskipun tidak terasa. Dari pukul 18.00 kami ngobrol di taman dan berpindah ke ruang makan sampai pukul 21.30. Banyak hal yang saya pelajari dan sebagian saya simpan, mungkin untuk diceritakan di kesempatan lain. Bapak mertua saya yang alumni Teknik Sipil UGM juga sempat bercakap-cakap dengan Wyncent. “Anaknya cepat tanggap. Dia bisa bercerita cukup panjang saat dipancing dengan pertanyaan singkat” kata Bapak memuji setelah Wyncent pergi. Mengetahui sifat Bapak mertua saya yang kritis kepada anak muda, pujian itu sangat bermakna.

Saya mengingat lagi kelakar saya di awal percakapan kami yang ‘menuduh’ Wyncent tidak kelihatan seperti anak UGM. Tentu saja saya hanya bercanda. Wyncent mungkin memang tidak terlihat ndeso, dekil, kucel, dan kumal seperti layaknya saya dan teman-teman yang saya bayangkan 20 tahun lalu. Namun setelah bercakap-cakap lama dan menyelami kepribadiannya, ada nilai-nilai yang saya kenal baik pada dirinya. Kebaikan hati, kepedulian, kecintaan pada tanah air, ketekunan dalam berusaha, perjuangan dalam kondisi yang kadang terbatas, semua itu tentu saja melekat arat pada jiwa Padepokan Gadjah Mada. Melihat dan mengenalnya, saya teryakinkan, Wyncent memang layak menjadi Teladan Gadjah Mada dari Pematangsiantar.

I Made Andi Arsana, Ph.D
Dosen Teknik Geodesi, Kepala Kantor Urusan Internasional UGM

Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

4 thoughts on “Wyncent Halim: Teladan Gadjah Mada dari Pematangsiantar”

  1. Woww..Tulisan yang luar biasa menginspirasi Bli Andi..membaca judulnya sudah berhasil membuat saya terburu2 untuk membaca awal tulisan ini hingga tuntas. Mengapa? hehe..karena saya kebetulan juga dari Pematang Siantar pak. Siklus hidup yang hampir mirip dengan Wyncent dari SD-SMA di Siantar bedanya saya kuliah merantau ke Surabaya tepatnya menimba ilmu di Teknik Lingkungan ITS dan sekarang bertugas di Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. Besar harapan kami, warga Siantar, Wyncent bisa terus membawa harum nama keluarga, tempat lahir, bangsa bahkan negara atau dimanapun dia berada. Sukses terus melakukan perubahan ke arah lebih baik.
    Salam kenal Wyncent 🙂

  2. udah pinter ganteng lagi,jadi pengem 😂kemarin gue dua kali test masuk HI ugm,gagl semua,kadang gue harus sadar kalo gue goblok,padahal udah mainya udah di perpus terus buat belajar test masuk,tapi kadamg harus sadar kalo goblok 😐tapo gue masih gak bisa move on dri fisip ugm.😵

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s