Penghargaan Pak Menteri untuk Bapak dan Meme’


SMA 3 Denpasar, Juli 1993
Aku ditarik dari lapangan oleh seorang kakak kelas, meninggalkan teman-teman lain yang masih berlatih baris berbaris. Ada perasaan berdebar-debar karena tiba-tiba namaku dipanggil lewat pengeras suara. Suasana orientasi sekolah yang penuh dengan tidak kedisiplinan membuatku sangat mudah khawatir. Apa gerangan kesalahanku dan hukuman apa yang akan aku terima? Itu yang berkecamuk di pikiranku saat berjalan menuju sebuah ruangan.

Dengan ragu aku memasuki ruangan dan di sana terlihat seorang yang sudah berumur. Aku duga beliau adalah seorang guru. Kumisnya cukup tebal dan menghadirkan perasaan gentar padaku sebagai seorang murid baru. “Silakan masuk saja” kata seorang kakak kelas. Aku melangkah ragu dan mengambil tempat duduk di dekat guru itu. Sejurus kemudian, datang seorang lelaki seusiaku. Dari tampang dan perilakunya, aku duga dia juga murid baru. Benar saja, dia adalah teman seangkatanku. Wisnu namanya.

Aku perhatikan pak guru bercakap-cakap dengan kakak panitia yang ada di ruangan. Aku tidak tahu persis maknanya tapi sepertinya ini terkait dengan orang tua murid. “Kami akan mengundang orang tua murid dalam upacara penerimaan siswa baru” demikian salah satu penggal kalimat beliau yang aku ingat. Aku mencoba menerka-nerka, orang tuaku akan diundang untuk mewakili orang tua murid dalam sebuah acara penting. Terbayang betapa tidak mudahnya ini bagi kedua orang tuaku karena tampil di depan umum dalam acara resmi sangatlah jauh dari hidup keseharian mereka. Aku ada di situ karena nilai EBTANASku tertinggi di kelompok siswa laki-laki. Wisnu rupanya menduduki posisi tepat di bawahku untuk kategori yang sama.

“Orang tuamu tugas di mana?” tanya pak guru kepadaku. Pertanyaan inilah yang paling tidak mudah aku jawab. Ibuku hanya mengenyam pendidikan SD, itupun aku tidak pernah melihat ijazahnya. Sementara itu, Bapakku dengan meyakinkan tidak pernah menyelesaikan pendidikan sekolah dasar. Jika ditanya “tugas di mana?” mereka hanya bertugas di rumah. “Bapak ibu saya penjual pasir, Pak” kataku agak ragu. Beliaupun bertanya lebih lanjut, termasuk menanyakan pendidikan orang tuaku. Aku menceritakan apa adanya. Bapak guru itu terlihat paham, meskipun kini ada keraguan yang muncul di wajahnya. Sambil mengangguk-angguk penuh makna dia mengakhiri wawancaranya.

“Kalau kamu, orang tua kerja di mana?” Pak guru beralih bertanya kepada Wisnu, temanku. “Ibu saya perawat Pak” [atau bidan?] kata temanku ini mantap. Tidak banyak pertanyaan untuk Wisnu, pak guru mengangguk-angguk. Kini anggukannya mantap. Jauh lebih mantap dibandingkan anggukannya setelah mendengarkan penjelasanku tadi. Nampaknya perhelatan sudah selesai, aku tidak tahu apa yang terjadi dan apa yang diputuskan. Yang aku tahu, beberapa hari kemudian, ibunya Wisnu tampil di lapangan upacara SMA 3 Denpasar, secara simbolis menyerahkan kami semua ke pihak sekolah untuk dididik. Ada sesuatu yang berkecamuk dalam benakku. Dan aku tidak paham apa itu.

Taman Ismail Marzuki, Jakarta, 9 Agustus 2017
Aku termangu di deretan kursi paling depan. Mataku nanar memandang ke atas panggung. Di sana, bapak dan ibuku berdiri, menerima penghargaan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI. Beliau berdua dianggap orang tua hebat karena berhasil menemani putra putrinya untuk meraih pendidikan yang tinggi di tengah keterbatasan. Muncul lagi ingatan lama di Lapangan Upacara SMA 3 Denpasar. Tuhan memang tidak tidur. Cara kerjanya saja yang sangat misterius dan kadang terungkap maknanya setelah 24 tahun kemudian.

BapakMemeMendikbud

Kamus
Meme’ = Ibu dalam Bahasa Bali

Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s