Penulis Perlu Sombong


Ketika membaca sebuah cerita di majalah anak-anak di akhir 1980an, reaksi pertama yang muncul adalah ‘aku bisa menulis seperti ini’. Cerita itu tentang seorang anak yang memelihara ayam yang kemudian bertelur. Judul tulisan cerpen itu adalah “Telor Si Blorok” yang mengisahkan kejadian-kejadian umum ketika seseorang memelihara ayam.

Saya yang tinggal di desa dan memang sedang memelihara ayam tentu bisa memahami cerita itu dengan baik. Tidak hanya memahami, saya bahkan bisa melihat kelemahan-kelemahan dalam cerita itu. Ada banyak kejadian yang seharusnya bisa disampaikan dalam cerita itu, jika penulisnya memang mengalami sendiri apa yang diceritakannya. Memang itu sebuah cerpen yang bersifat fiksi tetapi cerita fiksipun seharusnya berdasarkan pada kejadian-kejadian di sekitar kita. Anak kecil usia sebelasan tahun dengan sombongnya mengkritik tulisan di sebuah majalah terbita ibu kota. Berlebihan!

Kesombongan saya saat membaca cerpen di akhir tahun 1980an itu tidak berhenti pada titik protes atau kecewa. Saya menuliskan cerita dengan tema yang sama, seorang anak memelihara ayam. Dengan kesombongan itu saya menuliskan cerita yang menurut saya lebih dramatis. Ada adagegan melindungi induk ayam dari ayam jago, ada kisah tentang membuat sarang ayam (kami di desa di Bali menyebutnya bengbengan), ada cerita soal berbedaan masa bertelur dan masa mengerami, ada informasi ilmiah soal ayam yang mengeram telor selama 21 hari, dan yang menurut saya paling dramatis adalah sifat protektif induk ayam saat merawat anak-anaknya yang baru lahir. Di cerita saya itu, ada bagian yang mengisahkan saya diburu dan dipatuk ayam yang melindungi anak-anaknya. Intinya, cerita saya jauh labih heboh dibandingkan cerita di majalah ibu kota yang baru saja saya baca. Cerita itu saya beri judul “Telur si Cemani”.

Puluhan tahun berlalu, saya kadang geli mengenang kisah itu. Alangkah ‘absurd’ kesombongan itu. Setelah direnungkan, cerita saya itu sebenarnya hasil ‘contekan’ kelas berat yang pura-pura saya kemas dalam bentuk cerita tandingan. Cerita yang menurut saya lebih hebat dan berbeda itu sebenarnya cerita yang sangat mirip dan hasil menyalin lalu modifikasi. Gaya bahasanya sama, hanya kisah detilnya saja yang berbeda. Yang lebih mengenaskan, judulnya pun mirip sekali. Bagaimana mungkin saya bisa mengklaim itu cerita yang berbeda dan lebih baik jika judulnya saja nyontek 🙂 Benar-benar menggelikan.

Yogyakarta, Maret 2017
Saya sering sekali mendapati Lita menulis di HP atau tablet, meskipun dengan gaya santai sambil tiduran. Setiap kali saya tanya, dia akan menghindar dan melarang saya melihatnya “NO! Don’t you dare!” katanya setengah berkelakar sambil melindungi apa yang ditulisnya. Saya penasaran tetapi tidak saya paksa untuk melihatnya. Saya mengira dia sedang main game yang melibatkan tulis-menulis. Atau mungkin chatting dengan teman-temannya. Entahlah.

Hingga suatu saat, saya diberi kesempatan melihat apa yang telah ditulisnya. Saya pasti bias karena saya ayahnya. Apa yang dikerjakannya itu mengejutkan. Lita menulis sebuah cerita yang disebutnya sebagai warriors fan fiction. Selama beberapa minggu terakhir ini Lita memang membaca sebuah serial novel tentang Warrior Cats yang nampaknya betul-betul disukainya. Tidak berhenti hanya menjadi pengagum, Lita menulis cerita yang diinspirasi dari apa yang dibacanya. Ceritanya dalam Bahasa Inggris yang menurut saya sangat mengagumkan untuk ukuran anak usia 11 tahun. Bahasanya terkesan native dan gaya bertuturnya mengalir. Okay, ini memang sanjungan seorang ayah untuk anaknya. Memang berlebihan, tetapi saya juga seorang penulis. Rasanya saya sudah usahakan untuk menjadi sangat obyektif ketika melihat tulisannya.

Ini penggalan tulisannya:

At the clan camp, CloudStar, the leader of the clan was already perching on top of Highrock, about to have a clan meeting, SandPaw thought. ColdFur signaled her with his tail to put the prey in the fresh-kill pile. SandPaw nodded and tumbled over to the prey pile and dropped the mice then ran across the clearing to join the clan meeting. She stopped right next to her mentor and sat down comfortably. After spotting the two late cats, CloudStar stood up and heaved a sigh then spoke, “Good evening my clan members, I, the leader of BirchClan, stand in front of you all to start a clan meeting.” CloudStar paused a while as he licked one of his paws then continued, “I have received a prophecy from StarClan, I have discussed this with FernCreek -our medicine cat- and we agree to share this view with you all.”

Setelah membaca itu, saya menginterogasinya berlama-lama. Pertanyaan saya misalnya, apakah nama-nama dalam cerita itu diambil dari buku, ternyata tidak. Apakah kejadian dalam cerita itu sama dengan yang ada di buku, ternyata tidak juga. Apakah saat menulis cerita itu, Lita sambil membaca buku, ternyata juga tidak. Lalu dari mana mendapatkan cerita dan kata-kata itu? Dia bilang dari imajinasinya. Katanya dia terinspirasi dari cerita di buku dan membuat cerita yang bergaya sama. Katanya ada bagian dari tokoh di cerita itu yang ternyata terinspirasi dari tokoh di buku dan telah mati. Dia bilang “Lita mengabulkan doa seorang tokoh di buku itu agar anaknya kelak tumbuh besar dan berhasil, jadi Lita hidupkan tokoh itu dalam cerita Lita”. Hmm. “I also copied some of your words ayah.” “What do you mean?” “Yes, you usually use words like ‘manage’. I used it in my story.” What!!! “I also got some words from Bahasa Indonesia that I read and then I translated into English”. I am speechless.

Penulis memang perlu sombong. Kesombongan yang membuat seseorang tidak puas hanya dengan mengagumi karya orang lain tetapi juga menghasilkan karyanya sendiri. Jika saja di tahun 1980an itu saya merasa puas dengan mengagumi karya orang lain lalu merasa nyaman karena telah terhibur, mungkin blog ini tidak akan ada. Selamat menghidupkan dan [tentu saja] mengendalikan kesombongan.

Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

7 thoughts on “Penulis Perlu Sombong”

  1. Setelah ini saya akan belajar sombong pak 😀 Biasanya saya tidak berani menulis isi pikiran saya secara utuh, karena takut menyinggung atau merasa belum layak. Terimakasih masukannya, kalau bapak sempat, mampir ke blog saya yang masih belum rapi ini..

  2. Halo pak Andi… so long not reading your vignettes.

    Currently I’m in a struggle on learning how to write in English too. My Supervisor is an editor in a qualitative journal, and meeting his standards is such a challenge.

    I just need your thoughts… how do you think of a a lecturer who loves writing both non-fiction (academic papers, book chapters, etc) and fiction (story in a form of vignettes, flashfiction, or a novel )?

    best regards

    Kurniati/Kay

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s