Nyepi Esok Hari


Esok hari, waktu akan berjalan seperti biasa. Kami akan terjaga saat subuh karena gema adzan dari masjid kampung yang tak jauh dari rumah. Kami akan bangkit dari tempat tidur karena susulan adzan lain tak jauh di ujung lainnya. Adzan akan tetap sahut menyahut, sebagian merdu, sebagian lagi dengan lantunan yang datar berusaha mengumpulkan energi positif. Esok adalah hari biasa saja di sekitar rumah kami. Kehidupan akan berjalan normal.

Di rumah, kami bertiga akan berusaha menjadikan hari biasa itu istimewa dengan cara menyepi. Nyepi berarti tidak menyalakan api, terutama api di dalam diri yang berupa ego dan kemarahan. Nyepi berarti menjinakkan semua itu. Maka lantunan suara adzan di pagi buta akan terdengar lirih laksana kidung-kidung suci yang mendamaikan. Nyepi berarti tidak bepergian maka imajinasipun akan sejenak kami selimuti agar dia tidak lelah berjalan ke tempat-tempat yang jauh. Hasrat dan imajinasi akan kami istirahatkan untuk merawat dirinya sendiri yang nampaknya lelah berkelana setahun lamanya.

Nyepi berarti tidak bekerja karena hanya saat tubuh diam maka kontemplasi berjalan dengan alami. Otot dan otak akan kami istirahatkan dan membiarkannya berbicara pada dirinya sendiri untuk mengenal kesalahan-kesalahan yang telah diperbuatnya. Raga akan kami beri ruang untuk berdialog dengan ketiadaan gerak sehingga saling memahami dan terutama memaafkan kekhilafan yang pasti tak terhitung jumlahnya. Nyepi berarti tidak menikmati kesenangan yang berlebihan maka akan kami arahkan hati untuk bisa tersenyum dan bergembira hanya dengan cara diam. Maka godaan untuk menikmati hiruk pikuk sosial media yang mengundang tawa akan kami biarkan untuk dinikmati oleh para sahabat lain yang tidak merayakan Nyepi. Senyum dan kepuasan akan kami hadirkan dalam diam di tengah ketiadaan drama dari luar jendela. Karena demikianlah Nyepi, menjauhkan diri dari kesenangan berlebihan demi paripurnanya kontemplasi saat berjalan ke dalam diri.

Di siang hari, ketika doa-doa kami panjatkan di dalam hati dan tanpa kepul asap dupa, adzan tentu akan kembali menemani. Khusu’ silasana di depan Padmasana mungkin akan dilatari deru pesawat terbang yang membelah angkasa Jogja, atau deru mobil dan motor yang memindahkan raga-raga yang bergegas berjingkat menunaikan amanat. Semua itu tak akan mengganggu kami, itu pasti. Jikapun ada, satu-satunya yang mengganggu adalah perasaan yang kami biarkan terganggu. Seperti nasihat para bijak cendikia, suara dan kata-kata sesungguhnya tak melukai, kecuali jika kami mengizinkannya. Dan itu tak akan terjadi di hari Nyepi karena Nyepi adalah tentang perenungan diri, bukan tentang tuntutan kepada orang lain untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu.

Selamat menikmati sepi dalam keramaian dunia. Jika pernah kita berharap akan nasihat yang menggerakkan kita menuju kebajikan, saatnya sepi berkhotbah tanpa kata-kata. Saatnya kebijaksanaan itu hadir dari bisikan lirih angin senja atau cengkerama daun-daun kamboja yang berkelar dengan tikaman matahari di sore hari. Selamat menyambut Nyepi.

Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

4 thoughts on “Nyepi Esok Hari”

  1. Belajar dari nyepi adalah tentang mengistirahatkan pikiran, jiwa, dan raga untuk memikirkan diri dan apa yg telah diperbuat. Kadang kita butuh waktu waktu untuk memaafkan diri yg selalu diburu oleh perubahan jaman dan tuntutan pekerjaan. Terima kasih tulisannya pak..

  2. Mas Andi, saya jadi ingat kesamaan dalam agama saya, Islam, kami pun ada tradisi tafakur, mungkin sudah dibahasa Indonesiakan menjadi terpekur?
    bedanya ketika tafakur kami biasanya berjalan-jalan, melihat kebesaran Tuhan.
    ada juga istilah Mabit dan I’tikaf, yaitu menyendiri di masjid, mengevaluasi diri dan memperbanyak ibadah. nabi kami juga sering menyepi di Gua Hiro ketika sebelum diangkat menjadi Nabi, dan menyepi ke masjid ketika sudah menjadi Rasul.

    Selamat Menyepi mas 🙂

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s