Dilan Janiyar: Bukan tentang Kontroversi Tetapi soal Geodesi

Dilan Janiyar sedang viral. Dilan kini makin tenar. Sayangnya, kisah yang membuatnya tenar mungkin bukan kisah yang bersinar. Hatinya diiris sembilu yang pasti membuat hidupnya pilu. Saya berdoa dengan tulus untuk perjalanannya melewati kekalutan dengan mulus.


Dilan adalah mahasiswa saya ketika dia menjalani pendidikan di Teknik Geodesi UGM. Dilan masuk tahun 2018 dan menamatkan kuliahnya tahun 2023. Sebuah perjalanan panjang yang melelahkan. Dilan wisuda di tengah kehamilannya. Meski penuh drama, Dilan memastikan dirinya menjadi alumni Universitas Gadjah Mada. Alumni dengan ijazah.

Continue reading “Dilan Janiyar: Bukan tentang Kontroversi Tetapi soal Geodesi”

Jumbo

Saya sudah menonton film animasi Jumbo karya Ryan Adriandhy. Saya nonton bersama keluarga: Asti, Lita, dan Wulan. Pendapat saya: luar biasa! Menonton Jumbo membuat saya mengingat diri sebagai anak sekaligus sebagai ayah. Mengutip apa yang disampaikan Pandji Pragiwaksono, Jumbo dengan sempurna telah memeluk jiwa kanak-kanak, sekaligus menguatkan naluri orang tua dalam diri penontonnya.

Setiap orang biasanya ingin dikejutkan sekaligus dibenarkan ketika menonton film. Dikejutkan, artinya, kita ingin sesuatu yang baru atau sulit ditebak. Disisi lain, kita ingin juga diberi ruang kesempatan untuk benar dalam menduga dan menebak. Untuk hal kedua ini, kita ingin sesuatu yang cukup familier dalam jangkauan imajinasi. Jumbo dengan sangat apik menyajikan keduanya.

Continue reading “Jumbo”

BOLEHKAN PENERIMA BEASISWA LPDP TIDAK PULANG?

Saya tidak setuju bahwa lulusan LPDP dibebaskan untuk tidak pulang ke tanah air tapi kalau belum membaca semua tulisan ini sebaiknya tidak meneruskan dan tidak berkomentar terlebih dulu.

Pak Menteri Satryo Soemantri Brodjonegoro baru saja membuat pernyataan yang mengundang perhatian dan berpotensi kontroversial. Beliau mengatakan penerima beasiswa LPDP yang sekolah di luar negeri tidak harus pulang ke tanah air. Ada yang setuju, banyak yang tidak.

Continue reading “BOLEHKAN PENERIMA BEASISWA LPDP TIDAK PULANG?”

Penghargaan dari Ibu Menteri Luar Negeri

Saya dan Ibu Menlu Retno Marsudi

Ya, saya mendapatkan penghargaan dari Menteri luar Negeri, Ibu Retno Marsudi. Bagi saya ini istimewa. Mendapatkan apresiasi dari Menteri Luar Negeri bukan sesuatu yang saya bayangkan ketika mulai menekuni isu perbatasan. Waktu bekerja dengan cepat. Semesta bersekongkol mewujudkan semua itu dengan sigapnya. Bagi orang lain, bisa jadi, penghargaan ini tidak Istimewa tetapi bagi saya, beda ceritanya. Bagi saya, keluarga, dan terutama Ibu dan Bapak saya, cerita ini akan mewarnai obrolan mereka di warung-warung kopi, di balai banjar, di arisan komunitas, di pertemuan lansia dan di acara yoga masal yang akan menjadi kian meriah.

Saya diminta menjadi anggota Tim Pakar Tim Teknis Penetapan Batas Maritim RI sejak tahun 2015, setahun sejak pulang dari Australia untuk menyelesaikan S3. Bidang yang saya tekuni sejak S2 di University of New South Wales (UNSW) dan S3 di University of Wollongong (UoW) memang batas maritim. Saya mempelajari bidang ini dari segi teknis dan hukum, terutama geospasial, bidang yang saya pelajari di Teknik Geodesi UGM. Ini rupanya yang membuat saya diberi tugas ini.

Tugas saya sebagai tim pakar tim teknis adalah memberikan masukan kepada tim delegasi perundingan Indonesia sebelum melakukan negosiasi dengan negara tetangga. Tugas ini saya emban berdasarkan Keputusan Menteri Luar Negeri. Prosesnya sederhana saja. Saya kerap diundang rapat untuk membahas suatu isu terkait batas maritim. Pihak Kementerian Luar Negeri sebagai lembaga utama dalam perundingan batas maritim biasanya memaparkan padangan dan posisinya terkait suatu kasus. Sebagai anggota Tim Pakar, saya diminta memberi tanggapan dan masukan. Di kesempatan lain, kami diminta untuk melakukan kajian tertentu untuk dijadikan dasar bagi masukan untuk tim perunding batas maritim.

Selama bertugas, saya sepertinya lebih banyak mengambil peran untuk menjelaskan perihal teknis terkait batas maritim. Susunan orang dalam tim penetapan batas maritim ini berganti dengan cepat maka selalu diperlukan proses edukasi. Tak jarang saya memainkan peran itu. Maklum, dosen, tugasnya memang menjelaskan. Artinya, tugas saya kadang tidak untuk memberi nasihat agar delegasi Indonesia mengambil posisi khusus dalam menghadapi negara tertentu.

Saya kian yakin bahwa batas maritim adalah perkara multidisipliner. Tidak cukup hanya paham geodesi. Tidak cukup hanya mengerti hukum. Batas maritim adalah kombinasi dari banyak hal. Maka dari itu, tim pakar terdiri dari akademisi dan praktisi dengan latar belakang yang berbeda. Selain saya, ada Almarhumah Prof. Melda Kamil (FH UI), Dr. A. Gusman Siswandi (FH Unpad), Dr. Kresno Buntoro (TNI-AL), Dr. Trismadi (purnawirawan TNI AL), serta Dr. Benyamin Sapiie (Geologi ITB). Selain tim pakar, ada juga penasihat yaitu Dr. Hassan Wirajuda, Prof. Edy Pratomo (Duta Besar), Prof Sobar Sutisna, dan Prof. Himahanto Juwana. Secara kolaboratif, kami memberikan masukan untuk dipertimbangkan. Yang pasti, saya banyak belajar dari para pakar ini. Dalam kelompok itu, saya memang yang paling muda secara usia.

Sebenarnya, anggota Tim Pakar seperti Saya tidak terlibat dalam perundingan. Meski demikian, saya juga pernah menjadi pengamat dalam sebuah perundingan dengan Timor Leste. Dari situ saya jadi tahu suasana perundingan yang sebenarnya. Saya tahu bagaimana seseorang mengajukan pendapat, bagaimana menyanggah, dan bagaimana menyetujui. Sebagai seorang surveyor, saya belajar berkomunikasi dengan kata-kata, tidak lagi hanya dengan titik, garis, dan luasan yang tertuang dalam muka peta.

Berada di lingkungan yang multidisipliner membuat saya belajar menyampaikan gagasan secara sistematis dan sederhana. Itu juga yang memotivasi saya membuat banyak animasi untuk menjelaskan perihal hukum laut. Tugas-tugas dari Kementerian Luar Negeri ini memaksa saya melatih otot-otot kreativitas saya dalam menyajikan perkara hukum yang rumit dalam sajian audio visual yang lebih ‘ramah’. Saya menikmati peran ini. Semoga teman-teman lain yang menyimak saya juga demikian adanya.

Pengalaman hampir satu dekade ini begitu berharga. Selama sepuluh tahun ini, ada tiga perbatasan yang berhasil disepakati dengan negara tetangga. Ini pencapaian yang baik mengingat penetapan batas maritim bukan perihal yang mudah. Saya merasa senang menjadi bagian kecil dari pencapaian ini. Merasa bangga karena apa yang sering saya dongengkan di kelas memang ternyata bermakna bagi kehidupan nyata. Bahwa apa yang saya ajarkan adalah perihal yang relevan dan tengah dihadapi oleh bangsa ini. Sebagai guru, ini menabalkan rasa percaya diri dalam berbagi di ruang-ruang kelas.

Ibu Menlu Retno Marsudi telah dicukupkan tugasnya sebagai Menlu. Beliau segera akan mengambil peran yang lebih besar, menjadi Utusan Khusus Sekjen PBB untuk Urusan Air Dunia. Pemberian apresiasi kepada kami, para Tim Pakar, Tim Penasihat, dan Tim Teknis Penetapan Batas Maritim sekaligus adalah acara perpisahan beliau. Saya bisa merasakan, Bu Retno adalah orang yang disayang banyak orang. Sikapnya yang profesional sekaligus humble membuatnya mudah untuk disukai. Hal itu tampak jelas dari sikap dan pidatonya pada saat penganugerahan penghargaan.

Saya jadi ingat, pertemuan saya terjadi pertama kali di tahun 2013 di Amsterdam ketika beliau menjadi Duta Besar RI untuk Belanda. Ketika itu saya menjadi salah satu pemenang dalam lomba menulis PPI Belanda. Waktu memang cepat berlalu. Sebelas tahun kemudian, kami bertemu lagi, bersalaman lagi, dan berfoto lagi. Peran dan suasananya berbeda. Yang sama hanya satu: Indonesia kita!

Mengenang Teladan Sang Guru, Pak Prapto (sebuah obituari)

Satu per satu pelayat meninggalkan pemakaman Sawit Sari di Jogja. Suasana teduh berangsur hadir, menggantikan terik yang menyengat. Bapak Ir. Suprapto baru saja dikebumikan. Kini tersisa keluarga dekat yang menuntaskan rasa sedih dan kehilangan. Saya pun perlahan pergi.
Mengingat Pak Prapto adalah mengingat seorang guru. Saya tidak akan melupakan satu perkara tragedi di tahun 1998 silam ketika menjadi murid beliau di Teknik Geodesi UGM. Saya terlambat dan tidak bisa mengikuti ujian. Survey Pemetaan Lau adalah nama mata kuliah itu dan Pak Prapto adalah pengampunya.

Dengan takzim saya menghadap beliau dan menceritakan duduk perkaranya. Saya akui lalai dan tak ada hal lain yang patut disalahkan. Pak Prapto tersenyum tenang dan bertaya, “Mas Andi belum pernah nggak lulus mata kuliah ya?” dan saya menggeleng. “Mungkin ini adalah yang pertama kali” kata beliau sambil masih tersenyum tenang. Beliau tidak mau dan tidak bisa menolong. Menurut beliau, sebuah pelajaran harus diraskan sendiri oleh seorang pembelajar.

Saya melangkah gontai keluar dari ruangan beliau. Diam-diam saya berjanji. Jauh di dalam hati. Kelak ilmu ini, ilmu tentang laut, harus saya tekuni. Ada pesan emosi yang mendera kepala saya ketika itu. Sesal dan marah hadir di masa itu tetapi jauh di masa depan, pelajaran segera tiba dengan sempurna. Bahwa hanya dengan memberi konsekuensi yang semestinya, seseorang akan belajar dari kesalahannya. Pak Prapto mengajarkan itu dengan sempurna.

Ketika saya mengulang mata kuiah beliau, Pak Prapto menyempatkan diri untuk ‘mengumumkan’ hal penting kepada peserta yang mayoritas adalah adik tingkat. “Mas Andi ini mengulang, bukan karena tidak mampu. Waktunya tersita karena harus persiapan berangkat ke Korea Utara.” Entah dari mana hadir ide itu. Saya memang pernah menceritakan kesibukan itu meskipun tak banyak kaitannya dengan keterlambatan saya saat ujian. Semua itu adalah akibat keteledoran sendiri. Pak Prapto memilih untuk menunjukkan ‘pembelaan’. Sebuah pembelaan yang diniatkan dan dilakoni sendiri tanpa permohonan. Demikianlah seorag guru, semestinya.

Pak Prapto adalah bukti hidup tentang ajaran “belajar tidak mengenal batas usia”. Di usianya yang sudah 80an tahun, Pak Prapto memulai hobi baru: melukis. Lukisannya tidak bisa dibilang amatir atau iseng. Goresannya mantap dan memancarkan kebijaksanaan matang yang sarat akan pengalaman. Garis-garis yang ditorehkan di atas kanvas adalah nasihat kepada siapa saja yang ragu akan dirinya. Ragu untuk memulai sesuatu yang baru. Ragu untuk berpindah dari satu dunia ke dunia lainnya. Pak Prapto, lewat warna warni dan berbagai arsiran di lukisannya, mengajarakan kepada kita untuk tidak takut melihat sisi lain dari diri kita yang mungkin sering kita lupakan atau malah kita takuti.

Sore ini, ketika beliau dikebumikan, pelajaran itu hadir lagi. Tidak saja sekedar hadir tetapi tumbuh menguat karena disirami bukti-bukti dan jejak karya yang nyata. Hal itu disajikannya hingga akhir hayatnya. Konon, kepergian beliau menghadap Tuhan, terjadi dengan ‘sempurna’. Pak Prapto sedang berjalan kaki dari rumahnya menuju acara Persekutuan Doa. Beliau terjatuh di tangah perjalanan untuk memberikan pelayanan kepada Tuhan dan umat. Alam memang berkerja dengan sempurna. Kepergian beliau mengagetkan namun telah memberi akhir yang istimewa bagi beliau. Akhir yang sempurna tanpa derita. Semoga. Selamat jalan, Pak Prapto, guru kami.

Pemakaman Sawit Sari, 14 September 2024
Doa seorang murid, I Made Andi Arsana

Ketika mahasiswa tidak semangat, dosen lelah dan kuliah jam 1 siang

Dosen pasti pernah mengalami ini. Saya sudah mengajar lebih dari dua dekade dan sering mengalami hal ini. Ada banyak hal yang terjadi dalam hidup mahasiswa sehingga kadang mereka tidak ada dalam kodisi terbaiknya saat kuliah. Maka, wajah tidak bersemangat bisa nampak dengan jelas.


Dosen tidak jauh beda. Tidak selalu saya berenergi penuh ketika masuk kelas. Maka tampang lelah sulit disembunyikan. Lebih parah lagi, pembelajaran jam satu siang membuat semuanya jadi sempurna. Sempurna untuk tidak dilanjutkan. Apa yang harus dilakukan ketika ini terjadi?


Kemarin saya mengalaminya lagi. Tentu saja saya bisa memutuskan untuk menghentikan kelas lalu memberi tugas atau alasan lain yang bisa dibenarkan. Atau bisa melanjutkan dengan sekenanya, membiarkan suasana kelas yang tidak kondusif, yang penting selesai. Godaan untuk melakukan hal-hal mudah sering kali muncul. Godaan untuk menyerah dan tidak peduli, mudah datang di saat demikian.


Tentu saja, saya juga bisa juga memilih hal yang lain. Saya kadang menantang diri saya sendiri di saat seperti ini. Tidak untuk membuktikan kepada siapapun tetapi kepada diri sendiri. Bahwa mengajar adalah pilihan hidup saya maka tidak ada faktor luar yang bisa membuat saya menjadi lebih baik. Semua ada di dalam diri. Maka saya kumpulkan sisa energi dan ubah strategi.


Saya paksa diri untuk mengeluarkan seluruh energi. Fokus, serius, antusias. Tentu saja, di awalnya, semua itu adalah pura-pura dan hasil memaksakan diri. Tidak mudah untuk mengubah suasana kelas di jam-jam rawan seperti itu. Mahasiswa pun kadang merespon itu sebagai suatu ‘keanehan’ karena semangat ‘berlebihan’ itu kadang dirasa tidak tepat di situasi mereka yang ingin menyudahi pembelajaran.


Saya sebenarnya bisa menyerah tetapi bisa juga bertahan. Saya pilih bertahan. Suara saya atur sedemikian rupa. Tatapan mata saya jaga agar terjadi kontak dengan lebih banyak mahasiswa. Intonasi suara dipaksakan agar meyakinkan. Intermezzo juga lebih sering dimunculkan. Yang sangat penting, personal stories adalah andalan terbaik. Semua orang perlu mendengar sesuatu yang relatable. Cerita pribadi yang relevan adalah salah satunya.


Pelan-pelan, setelah sekitar 15 menit berjuang, suasana kelas berubah. Satu atau dua mahasiswa mulai ikut mengangguk. Ada yang tersenyum, ada juga yang mengernyitkan dahi. Nampaknya saya mulai berhasil. Saya dibuat percaya lagi, usaha memang tidak mengkhianati hasil. Di saat kritis dan genting, saya perlu kembali pada prinsip-prinsip dasar dan alasan fundamental mengapa saya memilih profesi ini.


Kelas saya tutup dengan cerita klasik, dialog saya dengan bapak saya di tahun 2002 yang akhirnya mengantarkan saya kepada pilihan menjadi dosen. Saya kisahkan kepada mahasiswa itu, pada akhirnya pertanyaannya bukanlah “apa pekerjaanmu saat ini?” tetapi “apakah yang kamu kerjakan saat ini adalah pilihanmu?”. Saya lihat wajah-wajah yang menyimak takzim. Energi positif itu menular. Niat baik juga. Di kelas “Ide Kreatif dan Kewirausahaan” saya yakin, hal ini sangat relevan.

Sopir Ojol Perempuan, Pemuda Jalanan, dan Jogja yang Istimewa

Malam itu saya mendapat sopir ojol Perempuan untuk perjalanan dari kampus ke rumah. Tidak aneh tetapi juga belum biasa. Dalam hidup, mungkin baru dua kali saya mendapatkannya. Sejujurnya, ada rasa rikuh dibonceng motor oleh seorang perempuan. Saya memilih untuk sesedikit mungkin berbicara.

Beliau orang yang ramah. Cukup lihai memulai komunikasi sehingga ada satu atau dua obrolan baik di sepanjang perjalanan yang macet. Gigih nian perjuangannya. Suaminya seorang satpam dan kini mereka menghidupi dua orang anak. Saya bertanya kisahnya menjadi sopir ojek online. Sejujurnya saya penasaran melihat seorang perempuan masih harus di jalanan Ketika hari cukup larut. Salut!

Continue reading “Sopir Ojol Perempuan, Pemuda Jalanan, dan Jogja yang Istimewa”

Nasib [punya] anak [yang] kos

Di suatu malam, Lita, anak kami, menelpon. Sesuatu yang tidak umum terjadi. Asti, ibunya, antusias menerima, ternyata terdengar suara setengah merintih. Lita sakit. Mendengar berita buruk dari anak yang memilih tinggal di kos tentu bukanlah hal yang menyenangkan. Saya sebenarnya panik. Ibunya tidak begitu panik. Kok bisa ya?

Continue reading “Nasib [punya] anak [yang] kos”

Mengapa saya memilih Teknik Geodesi UGM

Catatan terbuka untuk calon mahasiswa dan para orang tua
.
SMA 3 Denpasar, awal 1996
Saya dipanggil oleh kepala sekolah ke ruangan beliau. Pasalnya, saya tidak memilih Kedokteran UI untuk jalur masuk PMDK ketika itu. “Saya tidak berminat jadi dokter, Pak” demikian saya jawab. Saya juga sampaikan hasil penelusuran saya tentang SPP masuk UI dan biaya hidup di Jakarta. Angkanya membuat semua itu tidak mungkin bagi saya. Kepala sekolah melunak.
.
“Saya hanya mendaftar Teknik Geodesi UGM Pak” kata saya ketika ditanya berikutnya. Tidak berhenti di situ, beliau bertanya lagi “mengapa tidak memilih Kedokteran Udayana, Unair, Brawijaya, atau kedokteran lainnya?” Rupanya, menjadi dokter adalah hal teratas yang ada di pikiran beliau ketika itu, hingga lupa bahwa saya memang tidak berminat menjadi dokter. Lebih tepatnya, saya tidak merasa mampu menjadi dokter.
.
Kepala sekolah mungkin hanya berpegang pada nilai rapot saya ketika itu, maka beliau ngotot mendorong saya untuk masuk kedokteran. Di masa itu, dengan pemikiran beliau yang mapan, dan situasi masyarakat, bisa dimengerti mengapa dorongannya untuk menjadikan saya seorang dokter begitu kuat. “Saya memilih Teknik Geodesi UGM, Pak” demikian saya tegaskan dan tetap pada pendirian saya.
.
“Pilihan keduamu apa?” tanya beliau. Saya bilang “tidak ada, Pak” dan membuat beliau sedikit terkejut. “Kamu tidak punya pilihan lain? Kalau tidak diterima di UGM gimana?” tanya beliau dengan nada setengah penasaran. Dengan keyakinan seadanya, saya menjawab. Pertama, saya memang tidak punya greget untuk memilih bidang-bidang ilmu yang populer ketika itu. Kedua, saya ingat betul bahwa jika memilih PMDK (atau UGM menyebutnya PBUD), sebaiknya memilih satu saja agar kesempatan terbuka untuk lebih banyak orang. Ada bongkahan idealisme anak usia 18 tahun yang sulit diterjang.
.
Bapak kepala sekolah menatap saya. Saya yakin, ada banyak perkara yang berkecamuk di kepalanya. Beliau memahami saya. Mantan ketua OSIS SMA 3 ini mungkin terlalu keras kepala. Tak berbilang ‘perseteruan’ penuh pembelajaran yang telah kami alami dalam relasi sebagai kepala sekolah dan Ketua OSIS selama setahun sebelumnya. Meski keras, beliau orang yang bijaksana dan begitu visioner. Dengan pesan-pesan seorang bapak, beliau akhirnya melepas saya dari ruang kepala sekolah. Menerima pilihan saya dan mendoakan penuh seluruh.
.
Di rumah, saya tidak pernah berdebat dengan orang tua soal pilihan belajar. Bapak saya yang tidak lulus SD dan ibu yang hanya lulus SD tidak punya pendapat sistematis untuk mengarahkan, apalagi melarang saya. Yang ada hanya senyum dukungan. Saya adalah anak yang beruntung dengan segala kemewahan kepercayaan yang tumpah ruah dari orang tua. Itu adalah privilese yang tiada bandingannya. Itu yang membuat langkah saya ringan untuk memilih Teknik Geodesi UGM. Menjadi pilihan utama dan pertama serta satu-satunya.
.
Jika ditanya, saya pun tidak paham apa itu Teknik Geodesi. Tapi bukankah sama tidak pahamnya saya dengan bidang ilu lainnya. Ketika itu, saya membayangkan Teknik Mesin berhubungan dengan mesin dan oli. Teknik Elektro saya kaitkan dengan mereparasi TV dan Radio. Dokter saya pikir adalah orang yang nyuntik pasien. Semua itu tidak benar. Atau tidak sepenuhnya benar. Jadi, pilihannya adalah “merasa memahami tetapi sebenarnya tidak” atau “merasa tidak paham tetapi sebenarnya ada banyak yang yang diketahui”. Saya merasa tidak gentar hidup di salah satunya.
.
Tuhan maha baik. Saya dipertemukan dengan seorang dokter. Rupanya doa kepala sekolah terlalu kuat. Saya menikah dengan Bu Asti, seorang dokter. Dari beliau juga saya tahu dunia kedokteran. Tahu perilakunya, tahu kesibukan dan kiprahnya. Tahu baiknya. Paham juga buruknya. Kesimpulan saya tetap, saya tidak menyesal memilih Teknik Geodesi UGM. Di titik penting dalam kehidupan keluarga kami, Bu Asti memilih dengan sadar untuk tidak menjalani profesinya sebagai dokter. Ini mengingatkan saya kembali akan satu prinsip penting dalam menjalani profesi: panggilan.
.
Teknik Geodesi UGM pernah mengantarkan saya bekerja di Unilever. Hanya 11 orang yang diterima dari 4200an pelamar. Saya pernah bekerja di Astra sebagai programmer. Akhirnya, saya kembali pada cinta pertama saya, menjadi guru di Teknik Geodesi UGM. Pulang setelah mencicipi glamor dan manisnya dunia industri. Teknik Geodesi telah membawa saya menapaki lima benua untuk berbagi. Telah memaparkan gagasan di SD terpencil di Gunung Kidul hingga Gedung PBB di New York yang mentereng. Telah bergulat di panas terik matahari ketika memetakan selokan hingga berdiri meraih wibawa ketika memetakan kedaulatan.
.
Telah saya nasihati Presiden Somalia tetang batas maritim. Telah saya ‘uji’ calon presiden Indonesia dalam debat memperebutkan kursi. Telah saya damping anak bangsa negeri tetangga menjadi diplomat bagi negerinya dan berhadapan dengan gurunya di meja perundingan. Telah saya temani anak-anak muda yang runtuh percaya dirinya ketika skripsi menghadirkan depresi. Telah banyak yang terjadi. Pada akhirnya, pertanyaannya bukanlah “apa yang kamu lakukan saat ini?” tetapi “apakah yang kamu lakukan saat ini adalah pilihanmu?” Selamat memilih!
.
An option for you: ugm.id/geodetic

Reimagining Indonesia-China Relationship

I visited China for ten days from 18 to 27 April 2024. The journey covered three cities, two hi-tech companies, a number of government institutions, six academic institutions, various museums, and surely a lot of delicious food. For me, it was the longest working visit to a single country in the last decade or so. I have witnessed a lot and I have learnt a lot.

The visit was made possible due to a program organised by the Embassy of the People’s Republic of China in Jakarta. We, seven Indonesian scholars from different disciplines, took part in the program and each of us is left with deep impression. The journey has helped us understand China better by witnessing closely different events, places, traditions, and listening to different views from Chinese Scholars, government officials and ordinary people. Here is my short note.

China is about technology advancement. My visit to Chinese hi-tech companies such as Envision and Huawei enabled me to see far beyond sophisticated technology. China is a country with grand visions and insane level of persistence in realizing  those visions. China has apparently focussed on solving problems faced by the society, including problems that have yet to come. One good thing I have noticed during the visit was the commitment for the environment. It is certainly not only about profit but also people and planet.

In addition to technological advancement, China is insanely serious about preserving culture and values. A visit to Terracotta Mausoleum, for example, showed how much China cares about its ancient civilization. For China, preserving artefacts is not merely about protecting physical objects created thousands years ago. It is about keeping values and pride about how great China was in the past and, especially, giving young generation good foundation to maintain and carry with them the same spirit of being a great country.

My April visit to China was not the first one. I did visit Beijing for the first time in 1999. I saw how Chinese society has transformed into a modern one. To me, implementing advanced technology might be easy when a country is blessed with wealth but seeing how society has transformed its behaviour is a true sign of progress. It is simple! Cities are clean, people are in compliance with traffic regulation, and things are in order.

In general, I admire academic and education development in China. We visited or interacted with Fudan University, Shanghai Institute for International Studies, Xi’an Jiaotong University, Xi’an International Studies University, NIIS CASS, and Peking University.  I noticed how open Chinese academic institutions are to international community. I am particularly impressed by the fact that China has prominent Indonesian study centres with students focusing on learning Bahasa Indonesia. China is apparently preparing itself to better deal with Indonesia in the future.

One important note during the visit is about religious affairs. I heard quite a lot about religion in China and many of them were not inspiring. I am a Hindu, myself, but Indonesia is an Islam-predominantly country so I too have concern on how Islam is treated. We visited different mosques in China for our Muslim friends to pray. I was positively surprised. I enjoyed the ambience of all the mosques we visited. I saw my Muslim friends praying just like what they usually do in Indonesia. They do that without hesitation, probably knowing that their right for practicing religion is well protected. I was being sceptical and also had discussion with local people to dig deeper. Certainly, we have yet to discover every single issue about religious affairs in China but our short visit and interaction has left positive impressions.

Personally, I have learned the issue of South China Sea conflict for the last decade or two. I also brought this issue during my visit to China. I have read a lot of papers about the issue and understood how Chinese academia have their own views about the issue. My objective was to hear myself their candid and frank views about the issue. Having exchanged ideas about the South China Sea with some Chinese academia, I understand better Chinese position. It is certainly too early to judge and I was not there to solve any problem regarding the issue. At least I can see room for discussion and the first important step in solving a conflict is understanding other parties’ position. I know that the South China Sea issue will not be solved in anytime soon but at least I know that we will keep talking about it with good will and intention. I think, we will need to keep listening to each other, especially when we disagree.

In the future, Indonesia and China will keep the already good relationship. The visit of the President Elect, Prabowo Subianto, to China based on President Xi’s invitation is a positive sign of the good intention to maintain such relationship. We certainly will have differences along the way but I have no doubt that we will be able to talk about it. No matter how difficult the situation we face, we can never deny our geographical destiny that we are close to each other in the region. We cannot afford not to understand each other.

One of the best way to enhance understanding between Indonesia and China is education exchange. This should involve more students and professors from Indonesia and China. Our current stage is far from ideal. At Universitas Gadjah Mada, for example, we received more than 40 Chinese students in 2023 but sent only 4 Indonesian students to China. Such imbalance needs to be addressed. With increasing interdependencies between Indonesia and China, the need for collaboration has never been more pressing.

With improved understanding through regular exchanges of people and ideas, I am convinced that our two nations will not only get along well but will also play positive roles in the region.